Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mudah mempercayai orang lain

Leave a comment

Dalam beberapa kesempatan, saya merasa orang Eropa itu tingkat kepercayaannya terhadap orang lain lebih tinggi dan lebih fleksibel dibandingkan orang Indonesia. Saya punya beberapa contoh kasus berdasarkan pengalaman pribadi.

Kasus pertama. Di kampus saya, mahasiswa PhD yang membawa keluarga dengan anak, atau istri yang sedang hamil berhak untuk mendapatkan subsidi tambahan. Jadi, waktu tahu kalau Intan hamil, saya segera lapor ke Fakultas. Karena sudah terbiasa dengan birokrasi di Indonesia, saya menyiapkan surat dari dokter sebagai bukti bahwa istri sedang hamil. Ternyata sampai sekarang Kinan sudah 5 bulan, surat itu dan bukti akte kelahiran anak tidak pernah diminta oleh fakultas. Subsidi dibayarkan lancar. Mereka percaya, padahal bisa saja saya berbohong, hehe.

Kasus kedua. Di grup saya, selama 1,5 – 2 tahun pertama, setiap PhD student wajib untuk lulus 27 ECTS semacam kuliah spesialis di Utrecht. Suatu ketika, saya menerima email dari sekretaris program tentang hasil satu kuliah. Nilai saya 8.5, tetapi dibilangnya saya tidak lulus karena jumlah kehadiran saya kurang. Dia menunjukkan buktinya bahwa di satu sesi tidak ada tanda tangan saya di presensi kelas. Baru saya ingat, di sesi tersebut saya tidur di sepanjang kuliah sampai lupa isi absen. Saya pun menjelaskan apa adanya. Saya bilang, “Saya tidak punya bukti saya hadir kuliah, tetapi Anda bisa tanyakan ke teman-teman saya kalau mau. Lagian, saya tahu kalau absen kurang, saya tidak bakal lulus kuliah. Untuk apa saya susah-susah mengerjakan homework kalau sudah sadar saya bakal tidak lulus”. Lima menit kemudian, dia menjawab, “Rully, I believe with your explanation. You pass the course. Attached is the revised certificate“.

Kasus ketiga. Saya pernah mengambil uang 20 Euro di geldautomaat (ATM). Saya tunggu 10 menit, uang tidak juga keluar. Saya pikir ATM nya rusak, jadi saya tinggal. Malamnya, saya cek di internet banking, ternyata saldo saya berkurang 20 Euro! Besoknya, saya ke bank. Saya jelaskan kronologisnya. Saya juga punya hipotesis bahwa mungkin setelah saya pergi, uang itu akhirnya keluar dan diambil orang lain. Pihak bank menanyakan apakah saya bukti transaksi? Saya jawab tidak. Memilih transaksi dengan/tanpa bon adalah opsional, dan adalah hak saya jika saya ketika itu memilih tanpa bon. Saya jelaskan juga bahwa adalah hak saya juga kalau saya cuma bersedia menunggu di ATM selama 10 menit, karena biasanya waktu tunggu paling lama adalah 5 menit. Setelah saya selesai menjelaskan, bank menjawab, “this is a difficult case, but we will try to solve it“. Sebenarnya waktu itu saya sudah tidak terlalu berharap. Selain karena tidak punya bukti valid, nominal uangnya juga kecil. Tetapi, beberapa minggu kemudian ada surat dari bank datang ke rumah. Isinya kira-kira, “Kami sudah mengecek bahwa di hari itu mesin ATM kami tidak rusak, dan sebenarnya Anda juga tidak memiliki bukti transaksi. Tetapi kami percaya dengan penjelasan Anda. Untuk itu, dalam beberapa hari ke depan, kami akan mentransfer 20 Euro ke rekening Anda”. Saya senang sekali, bukan karena 20 Euro-nya, tetapi kagum dengan kepercayaan orang Belanda.

Kasus keempat. Saya pernah membeli tiket kereta api untuk liburan ke Belgia. Ternyata saya salah membeli, jadwal yang saya pilih tidak pas. Waktu itu sebenarnya saya sedang mengantuk, makanya bisa salah, hehe. Nominalnya lumayan, 50an Euro kalau tidak salah. Tetapi saya punya argumen, ketika itu memang website SNCF (kereta Belgia) sedang down, itu juga mengakibatkan salahnya pilihan saya. Saya kirim email ke SNCF, saya jelaskan kronologisnya. Ternyata oleh mereka klaim saya itu dikabulkan. Tiket dibatalkan, uang pun ditransfer kembali ke kartu kredit. Saya senang, padahal ketika itu saya juga ada peran salahnya, hehe.

Memang saya rasakan disini orang-orangnya bisa mempertimbangkan argumen orang lain. Kalau memang argumen kita valid, maka mereka akan merevisi keputusannya. Makanya waktu itu sempat kecewa juga waktu mengurus persoalannya Intan dengan salah satu instansi di Indonesia. Ya ampun, seperti bukan dengan bangsa sendiri. Jangankan mendengar penjelasan orang lain, cara berkomunikasi ke orang pun menurut saya tidak elok.

Filosofi kepercayaan yang tinggi ini juga membuat pelayanan lebih cepat. Contoh, disini pindah alamat gampang sekali. Cukup bawa bukti kontrak rumah yang baru, selesai pindah alamat dalam 15 menit. Di Indonesia, pindah KTP itu usaha yang luar biasa, sampai orang malas melakukan. Pemohon harus lapor sana-sini ke berbagai instansi. Kenapa? Mungkin karena kita orangnya tidak mudah percaya, sehingga urusan pindah pun harus membutuhkan validasi dari banyak pihak.

Begitu pula waktu bikin akte lahir Kinan, 30 menit selesai. Kalau saya lihat, cepat karena yang menandatangani adalah cukup staf Gemeente (kantor kota). Di Indonesia, yagn bikin lama adalah karena perlu ditandatangani oleh pejabat dengan otorisasi yang lebih tinggi. Mungkin karena lagi-lagi kita orangnya tidak percayaan, sehingga hal semacam itu tidak cukup kalau hanya staf yang mengotorisasi.

Kalau kita tidak gampang percaya, bakal berujung ke kompleksnya birokrasi. Contoh adalah pengurusan jabatan fungsional dosen. Paper, tulisan di koran, bukti mengajar dll diminta melampirkan lagi. Untuk apa itu semua. Padahal tinggal mencantumkan CV beres. Kalau memang ingin mengecek apakah orang jujur atau tidak, googling saja secara acak paper yang ditulis di CV. Kalau tidak muncul di Google Scholar, kemungkinan besar patut dipertanyakan. Tetapi juga kalau sudah diberi kepercayaan, jangan lantas kita berbohong. Kalau itu namanya tidak tahu diri.

Yah, menurut saya kesimpulannya adalah hal-hal tersebut bisa kita tiru di Indonesia. Membiasakan percaya dan mendengarkan argumen orang lain itu baik. Kalau sudah tercipta trust-community, saya yakin semua bakal jadi lebih mudah.

Groningen, 2 Juli 2015, jam 15:32 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s