Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Desain rumah memanjang ke samping, cerita rumah pertama

7 Comments

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Sejak dua bulan yang lalu pembangunan rumah kami di Bandung telah dimulai. Ini adalah rumah pertama kami. Sebetulnya rencana awal adalah kami baru mulai menyicil rumah nanti setelah selesai S-3 dan kembali ke tanah air, berarti sekitar awal 2017. Sebelum berangkat ke Belanda di akhir tahun 2012, saya dan Intan menggunakan tabungan yang kami miliki untuk membeli dua unit angkutan kota (angkot). Angkot jurusan Ciwastra – Gasibu (no. 09) tersebut dikelola oleh Ibu mertua di Bandung yang memang sudah berpengalaman dalam bisnis ini. Daripada menyimpan uang di bank dan termakan inflasi, mending uang diinvestasikan. Bisa menghasilkan uang per bulan dengan jumlah lumayan, selain itu, angkot nanti juga bisa dijual kembali.

Rencana awal

Awalnya, dua unit angkot tersebut akan dijual nanti ketika saya lulus S-3 di akhir tahun 2016. Dana dari hasil penjualan ditambah dengan tabungan selama di Belanda akan dipakai sebagai uang muka (DP) rumah, syukur-syukur jika cukup untuk membeli rumah secara tunai. Rencana awal kami memang punya rumah yang tidak terlalu jauh dari kota, berhubung kantor saya di ITB yang lokasinya di Dago. Paling jauh rumah di Buah Batu, begitu pemikiran ketika itu.

Namun, ternyata keinginan itu sulit terlaksana. Pertama, harga rumah yang dekat dengan kota sudah sangat mahal. Kalaupun sanggup dengan DP nya, cicilan bulanannya bakal sangat berat buat saya yang seorang dosen. Kedua, kalau saya amati di beberapa situs penjual properti seperti http://www.rumah.com dan http://www.rumah123.com, pergerakan harga rumah di Bandung agak tidak wajar. Dalam setahun harga bisa naik 15-20%, jauh di atas inflasi.

Saya pun berpikir. Kalau menunggu nanti, bisa-bisa harganya sudah tidak terjangkau lagi oleh keuangan kami. Maka, setelah berdiskusi dengan istri, kami pun mengubah rencana. Mending uang yang ada sekarang dikumpulkan, termasuk juga angkot kalau perlu dijual. Kemudian, dana yang terkumpul mending dibelikan rumah secara tunai. Kami berpikir, yang penting punya rumah dulu, dimanapun lokasinya, daripada uangnya dipakai untuk mengontrak. Sebetulnya bisa tinggal dengan orang tua. Tetapi saya menghindari opsi itu. Menurut saya kalau sudah berkeluarga itu alangkah baiknya jika bisa mandiri.

Alasan pembelian tunai ini karena saya tidak mau terlilit cicilan bulanan. Selain itu juga untuk meminimasi interaksi dengan bank yang saya masih ragu soal halal/haramnya. Misalnya nanti dananya kurang, saya berencana untuk meminjam uang ke keluarga. Lebih baik pinjam uang ke keluarga sendiri daripada pinjam ke bank.

Ternyata eh ternyata, rencana itu pun tidak bisa terlaksana. Harga rumah di Bandung sudah sedemikian tingginya. Sehingga dengan dana yang kami miliki (plus proyeksi pinjaman dari keluarga), sulit mencari rumah yang layak untuk keluarga baru. Kami tidak terlalu masalah jika rumahnya di daerah pinggiran. Karena kami sadar akan terbatasnya dana. Tetapi ketika itu, setelah survei, alternatif rumah yang bisa kami dapatkan rata-rata kalau tidak masuknya jauh dari ujung komplek, lokasinya berada di daerah yang kurang aman. Kondisi itu membuat jadi bimbang.

Solusi tak terduga

Disaat seperti itu, datanglah rejeki yang tidak diduga-duga. Bapak mertua memberikan tanah kosong ke puterinya. Jadi, kami tinggal menyediakan biaya untuk membangun rumahnya. Tentu ini adalah pemberian yang sangat berarti. Tanah yang diberikan itu di daerah Ciwastra, dekat dengan rumah Intan. Memang jauh, tetapi tidak lebih jauh dari alternatif-alternatif kami sebelumnya. Selain itu, lokasinya juga tidak terlalu jauh dari jalan besar. Saya bilang ke Intan, yang penting punya rumah dulu. Nanti kalau ada rejeki, insha Allah kita bisa punya rumah lagi di lokasi yang lebih dekat ke kota.

Di daerah tersebut, harga tanah kosong sudah sekitar 3-4 juta rupiah/m2. Tanah tersebut ukurannya 15 x 7,5 m. Sebetulnya tidak murah juga untuk membangun rumah dengan ukuran tanah 112,5 m2. Di Bandung, biaya pembangunan rumah dengan kualitas menengah sudah sekitar 4-5 juta rupiah/m2. Bisa dibayangkan biayanya.

Tetapi kami tidak ngoyo. Kami bangun dulu dengan dana yang dimiliki, yang penting rumahnya tertutup dulu, dalam artian ada atapnya (itu pun tidak murah lho!). Nanti kalau punya dana lagi, pembangunan tahap berikutnya bisa dicicil. Maka dari itu kami jadi tidak perlu menjual angkot. Lebih baik angkot ditahan dulu. Uang yang dihasilkan per bulan masih bisa dipakai untuk hal-hal lain. Termasuk dikumpulkan untuk pembangunan rumah tahap berikutnya.

Saya tidak malu diberi tanah oleh mertua. Kami tidak pernah meminta. Selain itu, tidak ada salahnya orang tua membantu anak dan menantunya. Islam pun mengajarkan hal tersebut. Lagipula, kami juga punya bagian dengan menyediakan biaya pembangunan rumah.

Desain rumah

Begitu ceritanya, hehe. Sekarang setelah tanah sudah siap dibangun, tentu harus ada desainnya. Kendala dari calon rumah kami ini adalah lokasinya yang ada di ujung jalan, sehingga posisi tanah memanjang ke samping. Bisa dibandingkan dari dimensinya. Lebar rumah 1/2 dari panjangnya. Idealnya, lebar tidak kurang dari 2/3 panjang. Tidak mudah ternyata mengakali tata letak bangunan dengan posisi seperti itu. Ada seorang arsitek yang membantu membuatkan desainnya. Namun kami kurang cocok dengan hasilnya. Ruang tamu menjadi seperti lorong dengan karakteristik sempit memanjang. Selain itu, saya juga kurang sreg dengan kamar tidur yang langsung bersambung ke garasi mobil.

Untungnya, dulu waktu kuliah di Teknik Industri kami mendapatkan kuliah Perancangan Tata Letak Pabrik. Berbekal ilmu dari kuliah yang legendaris itu, saya dan istri jadi bisa berdiskusi bagaimana kira-kira bagusnya rancangan rumah kami. Dalam kasus ini saya merasa ada untungnya punya istri yang sama-sama kuliah di TI, hehe. Saya pun menggambar denahnya. Setelah melalui beberapa kali diskusi dan revisi, beginilah hasil finalnya.

Desain rumah lantai 1

Desain rumah lantai 1

Ternyata filosofi mendesain rumah kurang lebih sama dengan ketika dulu merancang lay out pabrik. Kita harus punya prioritas ruang-ruang apa yang sebaiknya berdekatan/berjauhan. Selain itu, pergerakan manusia/barang di rumah juga harus se-smooth mungkin.

Untuk lantai 1, luas bangunan adalah 76,25 m2. Di lantai ini hanya ada satu kamar tidur, yang mana adalah kamar tidur utama saya dan Intan. Peletakan posisi kamar di sisi timur adalah supaya bisa terkena sinar matahari ketika pagi hari. Karena itu pula taman kami atur sedemikian rupa sehingga bisa dilihat dari kamar tidur utama. Soal taman ini saya memang agak ngotot. Di tengah-tengah Kota Bandung yang semakin padat, punya taman yang hijau di rumah, walaupun kecil, dapat menjadi obat stress.

Ruang keluarga dan ruang makan sengaja kami buat tanpa sekat, meniru rumah-rumah di Belanda. Namun, untuk dapur, sengaja kami beri sekat, karena dari pengalaman rumah di Belanda, dapur tanpa sekat membuat bau masakan kemana-mana. Buat bule yang masakannya kentang rebus mungkin tidak masalah. Tetapi buat orang Indonesia yang suka masak sate, asap yang berkeliaran bisa cukup mengganggu, hehe.

Desain rumah lantai 2

Desain rumah lantai 2

Sedangkan di lantai 2, luasnya hanya 46,5 m2. Tidak semua area kami bangun. Alasan utamanya adalah kami tidak butuh rumah yang terlalu besar. Selain itu, juga terdapat kendala biaya. Dengan desain seperti ini saja, luas rumah sudah 122,75 m2. Cukup mahal biaya untuk membangunnya sampai tuntas.

Terdapat dua kamar tidur di lantai atas yang akan diperuntukkan untuk tempat tidur anak-anak. Selebihnya hanya ada kamar mandi dan ruang kosong yang cukup besar. Ruang kosong ini bisa dipakai untuk ruang keluarga, atau bisa juga dipakai untuk menaruh meja kerja. Mungkin di pinggir-pinggir tembok ruang tersebut bisa saya taruh rak-rak untuk menyimpan buku-buku koleksi saya yang jumlahnya sekarang sudah sekitar 300 an buah. Ternyata juga dengan tidak membangun semua area lantai 2, kami jadi bisa memiliki balkon yang bisa digunakan untuk acara-acara santai.

Kira-kira itu cerita mengenai rumah pertama kami. Semoga kelak bisa menjadi rumah untuk mendidik putera-puteri kami menjadi generasi pembela Islam yang sholeh dan sholihah. Aamiin.

Groningen, 28 Juli 2015, jam 14:57 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

7 thoughts on “Desain rumah memanjang ke samping, cerita rumah pertama

  1. Bagus euy denahnya bisa jadi inspirasi buat saya
    Kalo boleh tau di share juga ya nanti hasilnya
    Nuhun

  2. Saya agak gimanaa gitu membaca cerita ini. Rumah dibangun sedangkan pemilik tidak berada di tempat. Salut !!
    Apakah semua dipercayakan sepenuhnya kepada kontraktor atau ada orang tua yang mengawasi?
    Tentunya ketika membuat rumah, memilah memilih bagian rumah secara detail tentunya menjadi bagian kepuasan tersendiri untuk pemilik. Mungkin Pak rully bisa share juga mengenai ini. Terimakasih

  3. Sy barusan membeli tanah 16 x 11, Bismillah insyaallah rumah kedua-pengennya satu lantai.Rumah pertama KPR ditengah kota dg harga selangit. Akhirnya sepakat dg suami buat rumah sendiri biar gak riba lagi yg lebih luas

  4. makasih bermanfaat sekali utk saya

  5. Gambar denahnya bagus ,…. sangat inspiratif sekali,
    tiap titik sudut pun tercatat dengan baik …. jadi penasaran hasil jadinya ……. bagaimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s