Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Menjadi A Full Time Mother

2 Comments

The love of my life

The love of my live

Sewaktu masih bujangan, saya pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Seperti sewajarnya obrolan para mahasiswa, cepat atau lambat topik diskusi menyerempet ke masalah perempuan. Tetapi ketika itu obrolan kami sedikit bermutu.

Teman saya bertanya, kriteria perempuan seperti apakah yang kelak ingin saya jadikan sebagai seorang istri? Waktu itu saya menjawab bahwa tentu kriteria utama adalah seiman, pemahaman agamanya baik, karakter dan perilakunya bagus, dan bersedia belajar bersama-sama untuk menjadi orang yang lebih baik. Kemudian, saya juga mencari calon yang berpendidikan tinggi, sebisa mungkin lulusan ITB, dan kalau lulus cum laude dapat poin tambahan. Itulah kriteria seorang mahasiswa ingusan yang waktu itu masih berusia 21 tahun.

Lima tahun kemudian, alhamdulillah apa yang saya harapkan itu terkabul. Istri saya berasal dari keluarga pesantren NU di Bandung. Dia lulusan ITB. Bonusnya, dia lulus cum laude. Bahkan kriteria terakhir ini adalah bonus besar, karena hanya 6% dari teman seangkatannya yang prestasi akademiknya lebih tinggi dari istri saya.

Menjelang pernikahan, saya teringat kembali diskusi dengan teman saya dulu itu. Setelah saya sebutkan kriteria calon istri idaman, teman saya itu bertanya lagi. “Wah, kamu memang achiever, istri pun harus pintar, supaya nanti bisa sama-sama punya karir yang bagus ya? Tapi memang enak sih kalau suami istri sama-sama berpenghasilan tinggi”. Saya menjawab, “Tidak. Kalau soal karir yang bagus, itu terserah istri nanti. Kalau soal ingin berpenghasilan tinggi, saya tidak akan mengandalkan istri saya kalau ingin hidup makmur. Saya akan berusaha mencapainya dengan usaha saya sendiri. Kita sebagai lelaki punya pride, toh”.

Teman saya manggut-manggut, tapi dia masih kembali bertanya, “Kalau begitu apa tujuan utamanya punya istri pintar”? Saya menjawab, “Supaya pendidikan anak-anak saya terjamin. Supaya kelak anak-anak saya bisa memperoleh pendidikan pertamanya dari orang yang kualitasnya tidak diragukan”.

Memang itulah alasannya. Dari dulu saya percaya bahwa pendidikan yang paling penting itu berada pada tataran keluarga. Sekolah formal bisa membuat kita pintar, tetapi karakter itu dibentuk dari rumah, dan itu sulit diubah. Untuk urusan pendidikan di rumah, seorang ibu lah yang memegang peranan utama. Hal ini sudah fitrahnya. Dari masa pre-natal, bayi selama sembilan bulan ada di perut ibunya. Bagaimana tingkah laku dan sikap ibu, pasti akan berpengaruh ke bayi. Kalau ibunya berjiwa besar, akan seperti itu pulalah bayinya kelak.

Setelah lahir, ibu lah yang dominan mendidik anak sehari-sehari. Wajar, karena tugas bapak adalah mencari nafkah di luar rumah. Coba kita pikirkan. Sedangkan film-film Hollywood yang kita tonton berulang-ulang hanya sebanyak 3-4 kali bisa menciptakan kesan yang mendalam, bagaimana dengan kesan yang ditinggalkan oleh seorang ibu yang setiap hari berinteraksi dengan anaknya minimal selama 12 jam? Bagaimana ibu berbicara, bersikap, dan mengajari anaknya, pasti akan terekam dengan baik di otak anak. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kualitas seorang calon istri itu harus dipastikan secermat mungkin sejak awal.

Mungkin cara berpikir saya ini dipengaruhi oleh latar belakang saya sendiri. Ibu saya orang kampung, hanya sempat sekolah sampai kelas 3 SD. Tanpa bekal pendidikan formal, Ibu pun full time mengasuh anak-anaknya, sementara Bapak yang juga hanya tamatan SD mencari nafkah. Ibu dengan tekun mendidik anak-anaknya supaya menjadi orang yang bekerja keras, sabar, dan tekun. Alhamdulillah dengan bekal itu, Bapak dan Ibu yang tidak punya modal apa-apa berhasil menyekolahkan semua anaknya di PTN dengan prestasi yang membanggakan.

Atas dasar pemikiran itu, sejak awal saya bilang ke Intan bahwa sebagai perempuan tidak perlu terlalu ngoyo. Kalau ingin berkarir, saya pun tidak pernah melarang, selama pendidikan anak oleh ibunya bisa terjamin.

Dia ketika itu masih bekerja di perusahaan besar. Posisinya sudah permanen dan sedang dalam prospek besar untuk mendapat percepatan promosi karir. Tetapi dia harus menyusul saya ke Belanda. Saya bilang, “Tidak masalah, nanti di Belanda bisa coba cari sekolah S-2. Itu pun meningkatkan kapasitasmu. Saya akan bantu belajar persiapan TOEFL. Saya pun akan membantu mengoreksi motivation letter, pendaftaran beasiswa, dll”.

Dia bekerja keras untuk diterima S-2 dan mendapatkan beasiswa. Namun, ternyata oleh Yang Maha Kuasa diberi rejeki lain berupa kehamilan. Sayangnya jadwal sekolah dengan kelahiran bayi tidak cocok, sehingga harus sekolah harus ditunda. Saya bilang, “Tidak masalah, kita coba tunda tahun depan, semoga dibolehkan oleh lembaga pemberi beasiswanya”.

Ternyata lembaga pemberi beasiswa tidak mengizinkan untuk menunda S-2 ke tahun depan. Saya bilang, “Tidak masalah. Kalau memang rejeki, tahun depan bakal dapat beasiswa lagi. Kalau belum rejeki, maka ingatlah bahwa beasiswamu itu paling tinggi nilainya 500 juta rupiah. Anak kita nilainya pasti lebih dari itu, toh”.

Tahun depannya, Kinan, putera pertama kami lahir dengan kondisi yang spesial. Dia menderita penyakit yang sangat langka. Di saat yang bersamaan, istri tidak mendapatkan beasiswa pengganti. Saya bilang, “Tidak masalah. Rejeki Kinan untuk diasuh full time oleh ibunya. Tidak semua anak bisa mendapatkan privilege seperti itu”.

Apakah dalam prosesnya selalu mudah untuk meyakinkan istri dengan serangkaian kejadian tersebut? Ya tentu tidak. Kalau setiap orang sudah bisa dengan mudah untuk ikhlas akan semua kejadian, maka dunia ini akan damai.

Tugas seorang suami untuk selalu mendidik dan menyabarkan istrinya. Walaupun fitrahnya seorang istri untuk ikut suami, tidak bisa disalahkan kalau istri kadang juga punya argumen sendiri. Pertama, jalan pikiran orang tidak mesti sama. Kedua, istri yang ber-argumen menandakan kalau dia itu pintar. Kepintaran itu dia dapatkan dari pendidikannya yang dia tempuh bertahun-tahun dengan biaya ratusan juta. Ingat, biaya itu bukan Anda yang membayar, tetapi mertua Anda!

Saya pula yang menginginkan istri yang pintar, untuk menjamin pendidikan anak-anak saya. Maka saya yang harus terus mendidik dan menyabarkan istri, itu adalah harga yang harus saya bayar. Harga? Iya, harga. Meminta istri menjadi full time mother itu artinya Anda secara tidak langsung membayar orang untuk mendidik anak dengan bayaran yang seharusnya dia dapat kalau berkarir di luar. Dalam kasus istri saya, rata-rata penghasilan alumni Teknik Industri ITB yang seumuran istri saya itu sekitar Rp 15 juta/bulan. Bayaran tersebut mencerminkan kualitasnya. Lha, mana mampu kalau saya harus membayar orang untuk mendidik anak saya dengan bayaran sebesar itu?

Jadi, untuk Anda para suami, bersyukurlah kalau istri Anda itu rela menjadi full time mother. Anda itu beruntung, anak-anak Anda dididik penuh oleh ibu yang berkualitas, sementara sang ibu telah mengorbankan sejumlah opportunity cost. Jangan mengeluh kalau kadang-kadang kita mengingatkan istri. Memang itu adalah kewajiban seorang suami yang menjadi guru bagi istrinya. Lagipula, Anda itu sudah tidak perlu membayar belasan juta per bulan. Mana ada sih di dunia ini hal yang enak tetapi juga gratis. Tambahan lagi, saya percaya pasti istri itu bersedia penuh kok menjadi full time mother, itu sudah naluriah. Istri yang baik pasti akan selalu mengerti kalau dinasehati oleh suami.

Untuk Anda para istri yang menjadi full time mother, berbanggalah. Jangan minder karena tidak berkarir di luar seperti teman-teman Anda. Berbahagialah karena anak Anda dididik penuh oleh Anda yang value­-nya sebesar belasan atau puluhan juta rupiah per bulan. Tidak semua anak bisa mendapatkan pelayanan istimewa dari orang-orang berkualitas seperti Anda. Kelak kalau anak Anda sudah dewasa dan sukses, kredit pertama bakal jatuh ke Anda para full time mother.

Untuk Intan, terima kasih sudah menjadi istri yang hebat dan bunda yang luar biasa bagi Kinan.

I loved you

So I drew these tides of thousand thunders into my hands

And wrote my will across the sky in the stars

To earn you a glorious place at the majestic blue tapestry

The seven-pillared worthy house of a wonderful family

That your eyes might be shining for us

When we came

Groningen, menjelang ulang tahun Intan yang ke-26

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Menjadi A Full Time Mother

  1. inspiratif sekali ceritanya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s