Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Teladan dari Khalifah Umar

Leave a comment

Cerita I

Sewaktu menjadi khalifah, Umar bin Khattab menyediakan fasilitas publik berupa padang rumput yang untuk tempat penggembalaan ternak. Setiap rakyat Madinah bisa membawa ternaknya kesitu untuk diberi makan dan minum. Biaya pengelolaan padang rumput, termasuk gaji orang-orang yang bekerja disitu, dibayar dari Baitul Maal, yang mana sumber dana utamanya adalah dari zakat umat Muslim.

Saat sedang berkunjung ke padang rumput tersebut, Umar melihat bahwa ada seekor ternak yang lebih gemuk dari ternak-ternak yang lain. Umar pun memanggil petugas disitu.

Umar: Milik siapakah unta yang gemuk itu?

Petugas: Itulah unta milik putera Anda, Abdullah bin Umar

Umar: Panggil dia kesini

Beberapa saat kemudian, Abdullah bin Umar datang, Ayahnya pun bertanya kepadanya

Umar: Unta milikmu itu lebih gemuk dari unta-unta yang lain

Abdullah: Betul. Itu aku membelinya dengan halal. Aku gembalakan unta itu di padang rumput ini. Setelahnya, aku akan menjualnya di pasar

Umar: Aku khawatir unta tersebut lebih gemuk karena perhatian lebih yang diberikan oleh petugas-petugas disini. Karena engkau adalah anak seorang khalifah, perlakuan mereka terhadap unta itu beda dibanding dengan ternak-ternak yang lain

Abdullah: Demi Allah, engkau tahu aku tidak pernah meminta hal tersebut

Umar: Aku percaya. Tetapi aku tetap merasa bahwa unta yang gemuk itu bukanlah hakmu. Tidak semestinya engkau mendapatkan perlakuan yang berbeda hanya karena engkau anak seorang khalifah

Abdullah: Lalu bagaimana?

Umar: Juallah untamu di pasar. Uang seharga unta dengan ukuran yang sewajarnya, ambillah sebagai hakmu. Sedangkan kelebihannya, kembalikan uang tersebut ke Baitul Maal

Abdullah pun melaksanakan perintah Umar. Dari kisah ini, pelajaran yang bisa kita ambil adalah sebagai seorang pemimpin, sikap Umar sangat berhati-hati. Selain itu, Umar tidak mengistimewakan perlakuan untuk anggota keluarganya sendiri, semua kebijakan berlaku setara untuk seluruh rakyat. Menjadi pemimpin adalah sebuah tanggung jawab kepada seluruh umat. Bukan sebuah privilege yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga.

Cerita II

Pidato khalifah kedua, Umar bin Khattab di depan rakyatnya. Dari kandungan isi pidatonya, memang tampak beda sekali visi beliau dengan pemimpin-pemimpin di jaman sekarang. Pertama, Umar selalu meniatkan segala sesuatu karena Allah SWT. Kedua, beliau tampak sangat berhati-hati, bahkan cenderung “takut”, karena menjadi pemimpin adalah amanah yang besar tanggung jawabnya, bukanlah suatu prestise.

Jangan bayangkan kekhalifahan waktu itu sebagai negara kecil yang cuma sejarak Mekkah dan Madinah. Kekhalifahan Islam saat itu meliputi seluruh jazirah Arabia, Iran, Irak, Palestina, Syiria, sebagian Romawi Timur (sekarang Turki), dan Mesir. Luasnya sama dengan Benua Eropa yang membujur dari Paris ke Moscow dan melintang dari Berlin ke Roma.

Di bawah kepemimpinannya, Umar tidak melupakan pencapaian dunia. Orang Arab yang sebelumnya terkenal sebagai orang barbar, berhasil mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi dan tata pemerintahan. Kelak fondasi ini diteruskan dalam jaman keemasan Islam di kekhalifahan Abbasiyah. Di masa itu tidak hanya di bidang ekonomi, banyak juga bermunculan ilmuwan kelas wahid di bidangnya masing-masing.

Sayang sekali sejarah Islam tidak dibahas banyak di kurikulum pendidikan Indonesia. Padahal banyak sekali yang bisa dipelajari. Orang Eropa saja belajar banyak dari Islam di masa keemasannya, masa kita yang negara mayoritas penduduknya Muslim tidak?

Ini isi pidatonya. Bagi yang tidak paham Bahasa Inggris, bisa di copy ke Google Translate.

A ruler’s most important duty towards his people is to give priority to their duties towards God, as outlined in their religion representing His guidance.

It is our task to bid you to fulfill what God has commanded you as His obedient servants, and to refrain from sinful disobedience to Him.

We also have to implement God’s commandments as they apply equally to all people, in complete fulfillment of justice.

Is so doing, we provide a chance for the ignorant to learn the careless to take heed and the one seeking lead to follow suit.

To be a true believer is not achieved by wishful thinking, but by clear action.

The more diligent people are, the greater is their reward from God.

Jihad is the topmost duty of all.

The people who are truly engaged in jihad are those who abandon sinful practices and whoever indulges in them.

Some people claim to have participated in jihad, but true jihad for God’s cause is to steer away from sin.

Nothing is dearer to God Almighty and of greater benefit to mankind than a ruler’s kindness based on true knowledge and insight.

Nothing is more hateful to God than a ruler’s ignorance and stupidity.

By God, I do not appoint governors and officials in your provinces so that they will beat you up or take away your money.

I send them to you to instruct you in your faith and teach you the way the Prophet SAW has shown us.

Whoever is treated differently should put their complaints to me.

By God who holds my soul in His hand, I will ensure that justice is done to them.

If I fail to do so, I become a partner in such injustice.

It is much better for me to remove a governor every day than to leave a despot in his position for an hour longer.

To replace governors is much easier than to change to people.

If setting things right for a community requires replacing their governor, then it is certainly easy.

Therefore, whoever is in a position of authority in any area of people’s affairs must fear God in the way he treats his people.

To all these I say, do not beat people up to humiliate them.

Do not deny them their rights, showing them little care, and do not place them in hardship making them feel lost.

My people, when you have completed your pilgrimage rituals, let the people of different regions meet me together with their governors and officials. So that I can look into their situations.

I will consider their disputes and give my judgment, making sure that the weak are given their rights and justice is done to all.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s