Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Tidak (Perlu) Bangga Kuliah di ITB

7 Comments

Pertama kali masuk ITB, rasa bangga itu begitu mendalam. Apalagi datang dari daerah seperti saya. Rasanya “wow” sekali bisa diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Perasaan jumawa ini sebetulnya cukup masuk akal. Contoh, untuk bisa diterima di Teknik Industri ITB, seseorang harus ada di sekitar persentil 90 ujian masuk PTN. Artinya, kalau peserta ujian ada 300 ribu, berarti ada 270 ribu siswa SMA se-Indonesia yang nilainya ada di bawah mahasiswa baru TI ITB itu.

Beberapa tahun setelah lulus, setelah melihat dunia nyata, rasa bangga itu mulai memudar. Sebaiknya memang perasaan itu kita hilangkan sama sekali. Karena menurut saya, diterima di ITB (dan juga di PTN-PTN besar yang lain), itu lebih didominasi oleh faktor kesempatan dan lingkungan, alih-alih kemampuan pribadi kita.

Saya pernah membaca, menurut statistik, di Indonesia itu, dari semua lulusan SD, kelak hanya 30% yang melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Sebagian besar karena hambatan kemampuan ekonomi.

Kalau merenungi apa yang saya alami, saya yakin statistik itu valid. Enam tahun setelah lulus SD di tahun 1998, hanya 2 dari 25 teman seangkatan yang lanjut kuliah. Pertama adalah saya, anak seorang mandor bangunan. Kedua adalah anak seorang camat. Sisanya? Lanjut sampai jenjang SMA sudah syukur. Ada yang setelah SMP menjadi pekerja bangunan, asisten rumah tangga, atau kawin.

Dulu saya punya hipotesis semacam ini kenapa seseorang bisa masuk ke ITB,

  • Dia pintar.
  • Dia belajar lebih keras dibandingkan teman-temannya yang lain.

Hipotesis itu selalu betul, tetapi ada persyaratan berikutnya yang mendukung terjadinya kondisi di atas,

  • Keluarganya selalu menyemangati dia untuk bisa diterima di ITB.
  • Orang tuanya punya visi yang memadai dan keinginan yang teguh supaya anaknya bisa kuliah.
  • Kalau orang tuanya tidak punya visi dan keinginan yang cukup, ada orang lain yang bisa menyemangati dia.
  • Dia punya cukup waktu untuk belajar.
  • Orang tuanya punya dana untuk biaya bimbingan belajar persiapan ujian masuk PTN.
  • Orang tuanya punya cadangan atau proyeksi dana yang cukup untuk biaya kuliah selama empat tahun ke depan di Bandung.
  • Kalau orang tuanya tidak punya dana yang cukup, paling tidak orang tuanya yakin bahwa kelak di ITB tersedia banyak beasiswa yang cukup.
  • Kalau beasiswa tetap tidak cukup meyakinkan, paling tidak orang tuanya tidak takut kalau anaknya bondo (modal) nekat berangkat kuliah ke Bandung.

Teman saya yang anak camat, jangan ditanya. Latar belakang keluarganya membuat tidak ada yang mengherankan kalau dia bisa kuliah. Sedangkan saya, meskipun hanya anak seorang mandor yang dulu hidup melarat, tetapi masih terbantu dengan kondisi dimana kedua kakak saya sudah lulus sarjana. Saya tinggal mengikuti contoh mereka berdua. Saya tinggal menuruti semua nasehat dua orang itu. Lulus SMP, lanjut ke SMA yang bagus. Kalau mas dan mbak kuliah di PTN daerah, saya melakukan upgrading cita-cita dengan menetapkan tujuan ke ITB. Urusan biaya pun tidak jadi soal. Orang tua dan kedua kakak saya siap mendukung penuh.

Saya tinggal tekun belajar, fokus, dan selanjutnya gerbang ITB bisa dimasuki. Jalur yang saya tempuh sangat mudah. Ibaratnya, jika ingin berpergian ke kota sebelah, sudah tersedia jalan yang mulus dan mobil untuk dinaiki. Permasalahannya tinggal mengumpulkan kemauan untuk menyetir mobil tersebut. Kadang juga harus mengumpulkan tekad untuk menyalip kendaraan-kendaraan di depan, kalau kita ingin sampai lebih cepat.

Begitu pula jalan yang Anda –sebagian besar mahasiswa ITB– tempuh. Sama mudahnya.

“Saya kan ketika menjelang SMA belajar keras dan begadang setiap malam. Sementara yang lain santai-santai. Wajar kalau saya yang diterima di ITB”.

“Setiap hari Minggu gue bela-belain ikut bimbel tambahan. Gak pernah lagi gue ikut main bareng anak-anak”.

Argumen semacam itu memang tidak salah. Tetapi, pernyataan itu benar karena dibandingkan dengan teman-teman Anda yang segolongan. Kelompok yang juga memiliki modal yang cukup dan jalur yang mudah. Cobalah berpikir lebih luas.

Teman SD saya, Juariah (bukan nama sebenarnya), adalah siswi yang pintar, beberapa kali ia ada dapat rangking di kelas. Yono (juga bukan nama asli) juga siswa yang berbakat. Dari pergaulan dulu semasa kami masih suka mengambil tebu di lori pabrik, dia adalah anak yang memiliki otak cemerlang.

Hampir mustahil kelompok seperti Juariah dan Yono lanjut ke pendidikan tinggi. Bapak si anak gadis adalah buruh tani, dengan pendapatan 40 ribu rupiah sehari, itu pun kalau ada yang sedang membutuhkan tenaganya. Yono pun tidak jauh beda. Bapaknya pekerja pabrik dan punya garapan sepetak sawah. Tetapi di lingkungan tempat tinggal dan keluarga besarnya, pakem yang diikuti adalah anak laki-laki itu bekerja membantu orangtuanya begitu selesai SMA.

Kalau ada kesempatan, sudah pasti Juariah dan Yono juga ingin kuliah. Kalau ada jalan yang lancar seperti saya dan Anda, sudah pasti mereka berdua tidak segan untuk bekerja keras sehingga bisa diterima di ITB. Siapa yang tidak ingin kelak bisa bekerja di kantor bonafit, punya tabungan yang cukup dan mobil bagus.

Tetapi jalan yang lancar itu tidak mereka miliki. Modal finansial tidak tersedia. Orangtua yang punya visi maju pun sulit diharapkan. Lha wong dulu katanya Bapaknya Juariah itu belum tentu setahun sekali ke kota kabupaten. Bagaimana dia punya cita-cita tinggi kalau yang selama ini dilihat hanyalah keseharian dan kesederhanaan di kampungnya.

Itulah mengapa menurut saya, Anda yang bisa kuliah di PTN besar itu didominasi oleh kondisi yang take it for granted. Juariah dan Yono tidak bisa memilih lahir dari orangtua dan lingkungan yang seperti itu. Bahkan kalau hanya dilokalisasi ke satu kampung, peluang seorang anak lahir dari orangtua tertentu itu tidak lebih dari 1:500. Hanya karena keberuntungan sebesar 0,2% yang membuat saya lahir dari keluarga yang memudahkan saya untuk bisa kuliah di ITB dan sekarang memiliki kehidupan yang layak untuk ukuran duniawi. Hanya karena “kesialan” sebesar 0,2% juga yang membuat Juariah dan Yono tidak bisa mengeyam pendidikan tinggi dan sekarang tetap dengan kesederhanaan di kampungnya.

Atau mungkin Anda tidak percaya, kalau orang-orang seperti Juariah dan Yono, jika memiliki kesempatan, bakal bisa masuk ITB seperti kita?

Keblinger jika Anda punya pikiran seperti itu. Saya berikan satu contoh. Di salah satu SMA di kecamatan di Jember, setelah tahun 2006, belasan lulusannya bisa tembus ke ITB secara konsisten setiap tahunnya. Usut punya usut, ternyata di tahun 2006 itu ada seorang alumni yang dengan rajin memberikan semangat dan visi bagi adik-adik kelasnya untuk bisa menempuh pendidikan tinggi.

Hanya dengan modal semangat, dan tetap dengan modal finansial yang pas-pasan, anak-anak petani desa itu terbuka lebar-lebar peluangnya diterima di ITB. Hal Itu menunjukkan bahwa kemampuan dasar setiap orang itu sebetulnya ada. Itu baru dari sisi modal semangat. Jika modal finansial mereka kuat seperti Anda, apakah kita masih yakin persaingan untuk masuk ke kampus gajah tidak jadi lebih berat? Apa Anda masih percaya bahwa masuk ITB itu murni karena kemampuan Anda? Saya sih tidak.

Di Indonesia, akses untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi itu masih merupakan kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Untuk itu, ada tanggung jawab dari kita yang bisa kuliah. Jangan lupakan mereka yang tidak seberuntung kita. Jika tidak bisa dengan dukungan finansial, berikanlah semangat. Itu sudah sangat membantu.

Akhirnya, sekarang rasanya saya tidak perlu terlalu bangga bisa kuliah di ITB. Alih-alih bangga, lebih baik saya banyak-banyak bersyukur, dan bekerja sebaik mungkin supaya kelak di akhirat tidak ditanya apa wujud tanggung jawab saya terhadap privilege yang sudah Tuhan berikan. Bekerja sebaik mungkin juga supaya punya kesempatan untuk membantu mereka yang tidak seberuntung saya.

Saya harap Anda pun begitu. Menjadi pintar itu penting. Tetapi memiliki empati itu tidak kalah pentingnya.

Jakarta, 21 Oktober 2015

Penulis adalah dosen di ITB, tulisan ini adalah pendapat pribadi

Bisa dibaca di https://rullytricahyono.wordpress.com/

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

7 thoughts on “Tidak (Perlu) Bangga Kuliah di ITB

  1. Salam pak Rully,

    1. Akan lebih baik jika artikel ini dilengkapi dengan data statistik mahasiswa ITB yang menunjukkan latar belakang, kemampuan intelektual dan finansial. Di zaman saya masuk tahun 2000, saya setuju dengan pak Rully bahwa mahasiswa ITB mulai bisa masuk via saringan finansial, tak lagi melalui saringan intelektual saja. Ditambah lagi “gelagat” ITB yang ingin (atau sudah?) menjadikan ITB sebagai badan usaha yang berarti harus memungut dana dari mahasiswa. Pada titik ini saya mulai kehilangan kebanggaan karena yang “kaya tapi bodoh” bisa masuk, bersanding dengan si “cerdas tapi miskin”.

    2. Buat saya masuk PTN itu tetap adalah usaha,bukan previledge. Hal ini bisa dilibat pada rank UMPTN yang menunjukkan dimana posisi rank seorang calon mahasiswa ITB dibandingkan calon mahasiswa lain. Kecuali memang belakangan ini “gelagat” manajemen PTN yang mulai mengaburkan (atau meringankan?) usaha tersebut, sehingga seolah siapa saja bisa masuk dengan kompensasi dana.

    Bangga jadi mahasiswa ITB? Tentu bangga, karena di zaman saya, saringan intelektual di ITB masih lebih dihargai ketimbang saringan finansial.

    Salam,

    Benny
    15000118

  2. Saya suka belajar di ITB. Setelah jauh dari Bandung, merasa bangga karena pendidikan di Indonesia tak kalah dengan pendidikan di luar)

  3. Pak Benny dan Pak 3deggi, Kalau tentang bisa kuliah di insitusi ternama sebaik ITB, itu tentu saya juga bangga. Ini adalah tulisan satir yang menyindir supaya kita tidak terlalu besar kepala karena bisa kuliah di insitusi ternama. Selain itu, supaya kita juga bisa berempati terhadap mereka yang tidak seberuntung kita. Karena saya lihat, mahasiswa sekarang makin kurang punya empati ke lingkungan sekitar. Salam.

  4. Memandang dr sudut pandang yg lain, yg jarang terpikirkan. Terimakasih pak, luar biasa. Salam

  5. Tulisan yg bagus,membuat org besyukur dgn hidup ini

  6. Pingback: "Akhirnya, Anak ITB Itu Ada di Rumah Mamah" – lune74

  7. Nice Info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s