Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Hidup di Luar Negeri

Leave a comment

Setelah hampir tiga tahun tinggal di Belanda, menurut saya ada satu hal distinctive (pembeda) antara negara maju dengan negara berkembang.

Apakah itu pendapatan? Rasanya tidak. Pajak penghasilan disini progresif sadis. Bisa sampai 50%. Maka di Belanda, pendapatan setiap orang tidak jauh beda satu dengan yang lain. Sedangkan di Indonesia, lulusan perguruan tinggi ternama bisa dengan nyaman menikmati pendapatan tinggi. Contoh, menurut survei, alumni S1 salah satu PTN yang baru bekerja 2-3 tahun, rataan pendapatannya sudah 3 kali lipat pendapatan per kapita Indonesia.

Apakah itu kemewahan? Tidak juga. Di Eropa, sangat jarang orang punya pembantu, karena ongkos tenaga kerja mahal. Jadi, sekelas profesor pun pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Lumrah juga disini masang lemari, tambal ban sepeda, dll dilakukan sendiri. Sedangkan di Indonesia, kelas menengah mampu untuk membayar 1 pembantu per 1 anak. Pasang lemari, tinggal panggil tukang, ongkosnya murah.

Kalau begitu apa dong pembedanya? Menurut saya adalah kualitas hidup yang tinggi. Artinya, negara memberikan jaminan ke warganya untuk dapat menikmati kehidupan yang layak.

Contoh, pelayanan kesehatan bisa diakses oleh semua orang. Disini pendapatan saya masuk golongan minimum. Tetapi ketika anak saya lahir dalam keadaan sakit, pelayanan yang diberikan sangat prima. Langsung ditangani tim ahli (4 dokter spesialis), monitoring rutin per 2-4 minggu, rekam medis lengkap, tidak mengantri, dan sama sekali tidak mengurus administrasi yang panjang. Biayanya? Sampai sekarang sudah habis Euro 34.000 (Rp 500 juta). Semua ditanggung. Sistem dibuat supaya pasien tidak perlu takut memikirkan biaya yang tinggi, karena hidup sehat adalah hak setiap orang.

Dalam hal pendidikan pun sama. Pendidikan dasar dan menengah gratis. Hal yang lebih penting, kualitas antar sekolah tidak berbeda jauh. Sehingga orang tua tidak perlu repot mengirim anaknya ke sekolah yang jauh dari rumah, untuk mengejar mutu pendidikan. Tidak perlu juga les mata pelajaran sepulang sekolah, sehingga anak masih punya waktu bermain. Untuk pendidikan tinggi, biayanya terjangkau untuk semua kalangan. Sehingga semua orang yang memang ingin, bisa lanjut kuliah tanpa halangan.

Soal transportasi, boleh tidak punya mobil, karena pajaknya mahal. Tetapi pemerintah menyediakan transportasi umum yang berkualitas. Tentu tidak senyaman naik mobil sendiri, tetapi cukup handal untuk mengantarkan warga kemana-mana. Kendaraannya bagus, jalannya tertib, dan jadwal keberangkatan akurat.

Semua kemudahan itu membuat kehidupan warga tenang, walau tidak bisa sampai bermewah-mewah. Hal ini berimplikasi kepada kualitas hidup yang tinggi.

Di Indonesia kan juga bisa punya high quality of life kalau bekerja keras? Sehingga kita bisa memberikan pendidikan yang baik ke anak, tidak pusing kalau sakit, dan punya tabungan yang cukup. Betul, tetapi berapa persen warga yang seperti itu? Apakah negara sudah membikin sistem yang bisa menjamin bahwa tingginya kualitas hidup itu bisa didapat oleh semua orang?

Secara teori mudah membuat sistem yang teratur seperti di negara maju. Yah, semoga saja suatu saat Indonesia juga bisa seperti itu.

Groningen, 18 Nopember 2015, jam 16:23 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s