Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Ayo Belajar Sejarah!

Leave a comment

Tidak tahu kenapa, saya dari kecil sampai sekarang suka sekali pelajaran sejarah. Sejak SD sampai SMA, rasanya kurang dari lima kali saya tidak dapat angka 9 di raport untuk mata pelajaran ini. Bahkan saya tidak sekonsisten ini di pelajaran matematika, yang juga saya sukai. Kalau bukan karena kakak-kakak saya yang insinyur, mungkin sekarang saya sudah menjadi peneliti di bidang sejarah, alih-alih menjadi seorang dosen teknik.

Sayangnya, sejarah bukanlah pelajaran favorit bagi siswa di Indonesia pada umumnya. Banyak teman yang membenci pelajaran ini. Karena kurang peminat, pada akhirnya sejarah kalah pamor dibanding bidang yang lain.

Menurut saya, kesalahan pengajarannya sendiri yang membuat sejarah tidak diminati. Lha wong kebanyakan tipikal pertanyaannya adalah hapalan mati. Contoh, “Kapan Perjanjian Renville ditandatangani? A. 16 Jan 1948, B. 17 Jan 1948.”

Jelas saja siswa-siswa jadi malas. Pertanyaannya saja tidak bermutu. Tidak merangsang daya nalar siswa. Akibatnya, begitu ketemu pelajaran sejarah, bawaannya mengantuk. Cerita yang diterangkan guru pun jadi tidak menarik.

Padahal, Mohammad Hatta bertutur dalam otobiografinya “Untuk Negeriku”, bahwa di jaman beliau sekolah, sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit para siswa. Di masa itu, yang diuji bukanlah kemampuan siswa untuk menghapalkan tempat dan tahun kejadian, tetapi adalah nalar dan pemahaman siswa atas rangkaian kejadian yang melatarbelakangi terjadinya suatu peristiwa sejarah.

Jadi, misalnya ditanya tentang Perjanjian Renville, tidak terlalu masalah kalau siswa menjawab tahun kejadiannya melenceng 5 tahun. Hal yang lebih penting adalah, siswa mampu menerangkan dengan logika yang runtun bahwa perjanjian itu terjadi dilatarbelakangi Belanda yang menganggap kemerdekaan Indonesia tidak sah, kemudian melancarkan Agresi Militer, terjadi campur tangan asing, Perjanjian Linggarjati, dst.

Dengan metode seperti ini, nalar siswa bakal terasah. Sejarah bukan lagi hapalan mati, tetapi menjadi cerita yang menarik hati. Meskipun tidak mudah juga pengajaran model begini. Soal ujian kemungkinan besar harus essay. Selain itu, gurunya juga harus pintar, logikanya jalan, dan menguasai betul materi yang dibawakan.

Sejarah itu penting loh. Contoh, dulu Hatta, Sjahrir, Nazir Dt. Pamoentjak dll sekolah ke Belanda dengan uang sendiri. Mereka bikin PPI yang isi kegiatannya sangat bermutu, dan juga setiap saat menghadapi ancaman penjara dari Pemerintah Belanda. Kalau kita tahu sejarahnya, kita akan lebih termotivasi begitu melihat besarnya pengorbanan para founding fathers.

Kalau tahu sejarahnya, kita akan bisa belajar mentalitas dan manajemen bangsa Arab di masa kejayannya. Bagaimana mereka dari awalnya yang merupakan kaum terbelakang mampu mengalahkan dua kekuatan besar di dunia saat itu, Romawi Timur dan Persia. Namun, juga tidak kehilangan sisi kemanusiaan dengan mengizinkan masuknya kaum Yahudi ke Jerusalem yang sebelumnya di-banned selama 500 tahun oleh Romawi.

Mari kita perbaiki metode pengajaran supaya sejarah menjadi pelajaran yang lebih menarik. Langkah pertama adalah, saya akan coba untuk menjadi guru sejarah yang baik bagi anak-anak saya 🙂

Groningen, 15 Desember 2015, jam 13:40 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s