Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

MRT dan Perencanaan Transportasi Publik yang Terlambat

Leave a comment

Kemacetan di Jakarta. Foto diambil di depan Mall Sunter, saat sore hari jam pulang kantor.

Kemacetan di Jakarta. Foto diambil di depan Mall Sunter, saat sore hari jam pulang kantor.

Berita bahwa pembangunan jalur dalam tanah angkutan massal cepat (MRT) di Jakarta masih sesuai dengan jadwal, semestinya kita sambut dengan sukacita. Presiden Jokowi sendiri yang menyatakan, bahwa proyek pembangunan MRT tersebut merupakan tonggak sejarah transportasi nasional.

Sebaiknya memang Jakarta MRT selesai pada tahun 2018, sesuai dengan yang sudah dijadwalkan, walaupun itu sebetulnya baru satu koridor Utara-Selatan. Mengingat sebetulnya Indonesia sudah sangat terlambat dalam merencanakan transportasi publik yang bagus, khususnya transportasi dalam kota.

Keterlambatan Perencanaan

Saat ini terdapat 191 kota di 60 negara yang memiliki MRT (World Metro Database). Sayangnya, Indonesia belum termasuk di antaranya. Jika dibandingkan dengan tahun mulai operasi MRT di negara-negara lain, akan terlihat bahwa pembangunan Jakarta MRT adalah sangat terlambat.

MRT pertama di dunia terdapat di London, yang mulai beroperasi pada tahun 1890. Kalau perbandingan dengan negara-negara maju dianggap terlalu jauh, komparasi dengan tetangga di lingkup regional pun tetap membuat miris. Manila adalah kota pertama di Asia Tenggara yang memiliki MRT pada tahun 1984. Selanjutnya, angkutan massal cepat di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok secara berturut-turut hadir pada tahun 1987, 1996, 1999. Jika dibandingkan dengan Jakarta, perencanaan transportasi kita telah tertinggal 20-30 tahun.

Terdapat karakteristik yang serupa dari kota-kota yang memiliki angkutan masal cepat, yaitu populasinya yang lebih dari satu juta jiwa. Karakteristik moda ini dengan frekuensi kedatangan angkutan yang sering dan kemudahannya untuk dijangkau dari berbagai tempat, membuat MRT mutlak dibutuhkan oleh warga urban dengan mobilitas tinggi.

Di Indonesia sendiri saat ini terdapat sebelas kota dengan populasi lebih dari satu juta jiwa (Sensus Penduduk 2010). Delapan kota ada di Pulau Jawa yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, Bekasi, Tangerang, Depok, Semarang, dan Tangerang Selatan. Tiga lainnya adalah Medan, Palembang, dan Makassar. Namun, jangankan ketersedian MRT, bahkan dari semua kota tersebut, kecuali Jakarta, belum ada yang memiliki perencanaan pembangunan angkutan massal cepat yang definitif.

Padahal mestinya dengan jumlah penduduk yang tinggi, ketersediaan layanan MRT menjadi sangat penting. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk saat ini, dalam 10-15 tahun, akan bertambah sekitar lima kota lagi dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, yaitu Bogor, Batam, Pekanbaru, Bandar Lampung, dan Malang. Mengingat waktu perencanaan dan pembangunannya, mestinya perencanaan pembangunan MRT sudah harus dilakukan untuk kota-kota tersebut.

Kerugian Produktivitas

Alih-alih sejak lama membangun MRT, kota-kota besar di Indonesia masih cukup nyaman untuk mengandalkan kendaraan pribadi dalam bertransportasi. Memang dalam beberapa tahun belakangan sudah cukup banyak kota-kota tersebut yang berusaha mengimplentasikan bus rapid transit (BRT) untuk memperbaiki transportasi umumnya. Namun, sebagaimana contoh Transjakarta, BRT terbukti belum mampu untuk memperbaiki kualitas transportasi publik dalam kota. Pada akhirnya, penduduk akan beralih ke angkutan kota (angkot) dan kendaraan pribadi yang tidak efisien.

Ketiadaan transportasi dalam kota yang berkualitas menimbulkan kerugian yang amat besar. Sebagai contoh, dalam sehari paling tidak separuh dari penduduk Jabodetabek melakukan mobilitas rutin. Jumlah ini adalah sekitar sembilan juta jiwa. Dengan kemacetan saat ini, para komuter tersebut rata-rata berangkat jam setengah enam pagi dan kembali ke rumah rumah pada jam delapan malam.

Bagi yang sudah terbiasa, hal itu mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Namun, dari sisi produktivitas, berapa banyak kerugian yang ditimbulkan? Jika saja tersedia MRT, orang akan bisa berangkat kerja jam tujuh pagi dan pulang jam setengah tujuh malam. Dalam sehari, penghematan waktu per orang adalah tiga jam. Dengan menggunakan pendapatan rata-rata, satu jam produktif bernilai sekitar Rp 25.000. Berarti, dalam sehari opportunity cost per orang yang terbuang adalah Rp 75.000. Untuk satu Jabodetabek, nilainya akan menjadi 675 miliar rupiah per hari. Maka, dalam setahun kerugian yang diderita Jabodetabek adalah sebesar 162 triliun rupiah.

Jam produktif sendiri adalah waktu yang bisa kita manfaatkan untuk kegiatan yang berguna. Jika para komuter tidak perlu mengalami macet di jalan, tiga jam tersebut bisa dimanfaatkan untuk bekerja dan belajar. Waktu produktif itu juga bisa dimanfaatkan untuk membentuk hubungan yang harmonis dalam keluarga. Entah itu berupa interaksi orang tua dan anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama, atau hal sederhana seperti makan malam bersama keluarga, yang sekarang sudah semakin jarang ditemui.

Estimasi kasar kerugian tahunan sebesar 162 triliun rupiah tersebut, membuat biaya pembangunan Jakarta MRT yang konon hanya sebesar belasan triliun rupiah, menjadi terasa kecil. Apalagi jika kerugian dari faktor lain, misal pemborosan energi akibat tinginya pemakaian kendaraan pribadi juga diperhitungkan. Bakal makin sadarlah kita bahwa ini adalah masalah yang sangat serius.

Pada akhirnya, menciptakan transportasi publik yang berkualitas memang bukan pekerjaan yang mudah. Namun, dengan usaha yang keras dari pemerintah dan juga kesadaran bersama, tujuan itu pasti akan bisa terelisasi. Transportasi publik bukan hanya masalah mobilitas manusia. Lebih dari itu, transportasi publik yang baik akan berimbas pada peningkatan kualitas kehidupan warga kota dan negara.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s