Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Tidak Enakan

5 Comments

Beberapa orang bilang kalau saya orangnya sangat blak-blakan. Saya tidak pernah sakit hati mendengar komentar ini, karena ibu dan istri saya sendiri juga bilang hal yang sama, hehe. Bahkan, ada teman yang bilang bahwa saya ini kurang cocok menjadi orang Jawa. Sifat saya lebih seperti orang bule.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa I am frank. Dari dulu saya punya prinsip, “I would rather hurt you honestly than mislead you with a lie”. Saya kurang suka berbasa-basi. Buat saya, kejujuran dan keterbukaan itu nomor satu. Seperti kata orang Jawa Timur, “abang ngomong abang, ijo ngomong ijo”. Arti harfiahnya, “merah bilang merah, hijau bilang hijau”. Kalau diselami maknanya, kira-kira, “bicaralah apa adanya”.

Sifat saya yang terbuka ini jelas menurun dari Bapak. Beliau juga sangat blak-blakan. Asal usul dan masa remaja yang dihabiskan di Jawa Timur juga sepertinya turut berkontribusi terhadap sifat terbuka ini. Seperti diketahui, orang Jawa Timur, terutama di daerah Arek (Surabaya dan Malang) dan Pandalungan (eks Karesidenan Besuki) relatif memiliki sifat yang egaliter. Blak-blakan menjadi salah satu ciri-cirinya. Beda dengan orang-orang Jawa Tengah yang masih dominan menggunakan bahasa halus (krama inggil) ke orang yang lebih tua/orang yang lebih tinggi posisinya, pada umumunya orang Jatim ekslusif menggunakan Jawa kasar (ngoko). Saya yakin ini ada hubungannya dengan sifat egaliterianisme. Kalau diamati, orang-orang di Pulau Sumatera juga tidak punya tingkatan bahasa, dan rata-rata mereka egaliter.

Blak-blakan = tidak tidak enakan?

Salah satu konsekuensi dari sifat terbuka adalah saya cenderung tidak menjadi orang yang tidak enakan. Kalau tidak sependapat dengan sesuatu hal, biasanya saya ungkapkan saja apa adanya. Saya tahu beberapa orang cenderung hold (menahan diri) jika kontra pendapat. Saya tidak pernah bisa seperti itu. Karena menurut saya, untuk apa juga, malah tidak menyelesaikan masalah. Lebih baik bicara jujur. Mungkin orang yang kontra pendapat dengan kita tidak suka dengan pernyataan kita. Tetapi itulah bagian dari proses negosiasi. Kalau kontra pendapat tidak diungkapkan dan diselesaikan, sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi kesepakatan.

Dari pengalaman, sifat tidak enakan itu lebih banyak mudharat-nya pada saat kita menjadi seorang pemimpin. Kenapa? Karena setiap keputusan yang kita ambil, itu sudah pasti tidak bisa memuaskan semua pihak. Kalau Anda selalu tidak enakan, kapan keputusan bisa diambil?

Saya selalu suka dengan filosofi pemodelan matematis. Setiap keputusan yang diambil itu tujuannya untuk memenuhi fungsi tujuan, entah itu maksimasi kepuasan, atau minimasi kerugian. Begitu pula dalam berorganisasi, tujuan utama adalah kemaslahatan bersama, bukan kepuasan setiap individu. Selama tujuan besar terpenehui, go ahead! Jangan tidak enakan kalau ada individu-individu yang tidak terpuaskan. Itu adalah riak-riak kehidupan yang normal. Tinggal bagaimana kita secara persuasif bisa meyakinkan mereka yang kontra pendapat dengan kita.

Tidak tidak enakan = punya prinsip

Menurut saya, kalau terlalu sering tidak enakan, patut dipertanyakan prinsip kita sendiri. Kenapa? Karena kalau Anda selalu tidak enakan, itu artinya selalu berusaha untuk mengakomodasi pendapat orang lain. Padahal setiap orang itu punya prinsip yang diyakini. Kalau prinsip sendiri saja tidak berani dijalankan, wah, bisa repot. Lihatlah serial “Omar“, disitu banyak dicontohkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab, r.a. adalah orang yang amat memegang prinsip, walaupun keputusannya mungkin membuat beberapa golongan tidak menyukainya.

Apalagi dalam dunia akademik. Seperti kolega saya di ITB bilang, bahwa seharusnya sebagai seorang scholar, sifat tidak enakan itu harus dibuang jauh-jauh. Di bidang akademik, benar salah itu bisa dibuktikan dengan methodological (ada buktinya). Tidak perlu tidak enakan untuk mengungkapkan prinsip dan pendapat kita. Walaupun itu bisa membuat telinga orang lain merah. Ingatlah bahwa kejujuran yang harus dijaga oleh seorang scholar.

Di Belanda, rata-rata orang-orangnya sangat blak-blakan. Saya beberapa kali kontra pendapat dengan pihak kampus karena ada kebijakan yang menurut saya merugikan para PhD bursary, yaitu mahasiswa S3 yang membawa uang beasiswa dari negaranya sendiri. Beberapa teman dari Indonesia menyarankan agar dalam berdiskusi sebaiknya pelan-pelan, karena tidak enak juga kalau terlalu blak-blakan, bagaimanapun kampus adalah tempat kita kuliah.

Saya jelas tidak setuju dengan pendapat itu. “Living in the West, you have to fight for your rights”, begitu kata supervisor saya. Memang betul, orang Belanda kalau dihadapi dengan lemah lembut, kita justru akan diinjak-injak. Saya selalu memilih opsi frank and straightforward dalam berdiskusi. Selama hak-hak yang diperjuangkan benar dan ada buktinya, tidak perlu takut. Alhamdulillah dengan cara seperti itu, hak-hak kami disini bisa diberikan sepenuhnya. Bagusnya orang Belanda juga, mereka tidak akan tersinggung kalau kita berdiskusi dengan terbuka sekalipun.

Tahu batas

Walaupun blak-blakan dan terbuka, tentu kita juga harus tahu batas. Contoh, kalau kita dijamu makan, kalau tidak cocok dengan makanannya ya jangan dibilang secara langsung. Tetaplah puji makanan dan orang yang menjamu Anda. Begitu yang diajarkan dalam Islam.

Selain itu, jangan agresif atau marah-marah saat berdiskusi. Jujur, runtun, paparkan semua bukti, itu sudah cukup. Tidak perlu ada emosi yang dibawa.

Satu hal yang paling penting, kalau berbeda pendapat, sudahi sampai disitu saja. Tidak perlu merembet sampai ke hal-hal lain. Konon, dulu Sukarno, Hatta, dan Syahrir juga sering sekali berbeda pendapat di forum diskusi. Namun di luar pekerjaan, mereka tetap berkawan akrab, tetap makan malam bersama dan mendiskusikan isi buku sastra.

Orang Jawa Timur punya satu idiom, “pedhote layangan, sing dadi paran, tapi ojok sampek pedhot seduluran”. Maknanya kira-kira, dalam hidup ini kita boleh berbeda pendapat, seperti analogi putusnya layangan yang merupakan sumber kesenangan hidup. Tetapi, apa pun perbedaannya, kita tidak pernah boleh untuk memutuskan tali persaudaraan.

Groningen, 22 Februari 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

5 thoughts on “Tidak Enakan

  1. haha.. ini seperti yg aku pengen tulisin, tp bingung nulisnya gmn, ttg enak-ga enakan. good job mas rully sdh dgn gamblang nulisnya.
    tapi smpe saat ini saya masih jadi org yg “ga enakan” padahal saya berdarah Sumatera yg juga suka blak2an

    • Mungkin karena kamu besarnya di Bandung dan banyak berinteraksi dengan lingkungan Sunda. Menurut pengamatan saya, orang Sunda juga sama gak enakannya seperti orang Jawa Tengah dan Yogya. Lihat saja, kalau sama orang ngomongnya selalu lemah lembut kan, hehe.

  2. Saya sangat setuju dengan cara sampeyan, klo orang Surabaya ngomong apa adanya dan setelah itu ya temenan lagi (Udah pernah idup di Surabaya 3 tahun). Klo menurutku, katakan dengan sejujurnya walaupun itu akan merugikan dirimu sendiri. Aku jg sama orang yg lebih tua omong apa adanya tp tetep pake kromo, klo kebangeten y ga pake…..😀

  3. Pingback: Kenapa sih harus ‘Gak Enakan’ | time capsule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s