Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

“The 30 Indonesian Traditional Culinary Icons” yang kurang representatif

Leave a comment

Baru tahu kalau di tahun 2013, Kementerian Pariwisata, waktu itu menterinya masih bu Marie Pangestu, pernah merilis video ini. Kalau saya tidak salah tangkap, ini ceritanya adalah 30 ragam kuliner yang menjadi ikon Indonesia. Untuk kuliner yang jadi simbol Nusantara, pilihan jatuh ke tumpeng. Cukup masuk akal. Dalam tumpeng terdapat aneka macam makanan. Selain itu, makna filosofisnya pun tinggi.

Daftar lengkap 30 makanan/minuman yang menjadi ikon tanah air adalah sebagai berikut. Penjelasan berikut resepnya dapat dilihat disini. Untuk yang ini saya salut, karena ternyata Pemerintah Indonesia cukup niat untuk membuat paparan formal tentang kekayanaan kuliner Nusantara.

  1. Asinan Jakarta.
  2. Tahu Telur Surabaya.
  3. Soto Ayam Lamongan.
  4. Rawon Surabaya.
  5. Gado-Gado Jakarta.
  6. Urap Sayuran Jogjakarta
  7. Orak Arik Buncis Solo.
  8. Sate Ayam Madura.
  9. Sate Maranggi Purwakarta.
  10. Sate Lilit Bali.
  11. Nasi Kuning Jogjakarta.
  12. Nasi Goreng Kampung.
  13. Nasi Liwet Solo.
  14. Ayam Panggang Bumbu Rujak Jogjakarta.
  15. Ayam Goreng Lengkuas Bandung.
  16. Asam Padeh Tongkol Padang.
  17. Pindang Patin Palembang.
  18. Rendang Padang.
  19. Sayur Kapau Padang.
  20. Laksa Bogor.
  21. Serabi Bandung.
  22. Kolak Pisang Ubi Bandung.
  23. Srikayo Minangkabau.
  24. Klappertaart Manado.
  25. Nagasari Jogjakarta.
  26. Kue Lumpur Jakarta.
  27. Lumpia Semarang.
  28. Es Dawet Ayu Banjarnegara.
  29. Bir Pletok Jakarta.
  30. Kunyit Asem Solo.

Menurut saya, pemilihan ragam kuliner yang masuk ke daftar ini menimbulkan tanda tanya. Ada beberapa poin:

  • Daerah asal kuliner terlalu didominasi dari Jawa. Coba lihat, 23 kuliner berasal dari Pulau Jawa. Bahkan kalau Madura juga dimasukkan, total ada 24 kuliner dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Hanya ada enam kuliner (20%) dari luar Jawa. Benar-benar masih terasa seperti jaman Orde Baru, hehe.
  • Kenapa harus memilih tiga jenis sate tetapi hanya satu jenis soto? Padahal soto adalah masakan berkuah (jenis sup) yang khas dari Indonesia. Di penjuru tanah air, terutama di luar Pulau Jawa, banyak sekali jenis soto yang layak masuk. Misalnya soto medan, coto makassar, soto banjar, bahkan soto ambon.
  • Ayam bumbu rujak & ayam lengkuas, rasanya biasa saja, dua2nya dari Pulau Jawa. Ayam betutu (Bali) dan ayam taliwang (NTB) malah tidak masuk, ini cukup mengherankan. Masih ada juga ayam tangkap dari Aceh yang nyaman ongguh kalau kata orang Madura.
  • Sepertinya tim pemilih memang kurang kreatif. Contoh, dari Bandung terdapat tiga kuliner yang masuk. Padahal, di Jawa Barat banyak sekali kuliner yang lezat dan tidak kalah ikonik, misalnya soto mie bogor, empal gentong cirebon, dan tahu sumedang.
  • Es dawet dan kolak pisang (dua-duanya dari Jawa) rasanya sama-sama manis. Kalau mencari yang manis, es pisang ijo atau es pallu butung (Sulsel) rasanya juga layak masuk.
  • Urap dan asinan memang enak. Tetapi apakah dari luar Jawa tidak ada menu sayuran yang juga enak? Lagipula urap adalah bagian dari nasi tumpeng, yang mana tumpeng sudah ditetapkan sebagai national dish of Indonesia oleh Kementerian Pariwisata.
  • Tahu telur surabaya memang enak, tetapi sebagai orang Jawa Timur asli, menu ini menurut saya tidak istimewa. Lagipula ada 3 menu dari Jatim, rawon, soto lamongan, tahu telur. Too much for one province.
  • Nagasari, kue lumpur, surabi. Semua memang enak. Tetapi lagi-lagi semua berasal dari Pulau Jawa. Apakah tidak ada kue manis yang lain dari luar Jawa? Atau, semua itu rasanya manis. Apa tidak ada lagi kue dengan citarasa non-manis yang layak masuk?
  • Pindang patin palembang memang enak. Tetapi kalau pempek tidak masuk, rasanya cukup aneh.
  • Sate madura dan sate maranggi menurut saya serumpun. Sate padang dengan citarasa lain rasanya layak dimasukkan.
  • Sama-sama berbahan dasar nangka, apakah sayur nangka lebih ikonik dari gudeg?
  • Ada 3 jenis kuliner dari satu kota (Solo) saja. Kalaupun ingin menonjolkan kuliner Jawa Tengah, apakah tidak ada kuliner dari kota Jateng lain yang layak masuk? Misal mendoan Purwokerto, biar tidak melulu cemilan yang manis-manis.
  • Orak-arik buncis Solo? Seperti makanan di warteg-warteg saja, hihi.

Di dua tautan yang saya berikan, tidak ada penjelasan dasar atau kriteria pemilihan 30 kuliner yang masuk daftar ini. Sehingga wajar kalau orang awam seperti saya bertanya-tanya. Menurut saya pemilihannya agak berbahaya, loh. Hanya 6 kuliner dari luar Jawa? Bisa marah nanti saudara-saudara kita merasa kurang dianggap. Kalau seperti ini kesannya hanya jadi pariwisata di Jawa saja yang ingin ditonjolkan. Padahal, seharusnya justru pariwisata di luar Jawa yang diakselerasi.

Sepertinya kalau saya yang di-hire jadi konsultan di Kementerian Pariwisata, daftarnya bakal lebih bagus deh :p

Groningen, 23 Februari 2016

Daftar lengkap dan resep the 30 Indonesian traditional culinary icons

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s