Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mengintip Pelayanan Kesehatan di Negeri Belanda

6 Comments

Kinan waktu tes pendengaran di KNO (THT) rumah sakit

Kinan waktu tes pendengaran di KNO (THT) rumah sakit

Setelah tiga tahun tinggal di Belanda, dan terutama setahun terakhir intensif ikhtiar mengobati ichthyosis yang diderita Kinan, saya mengamati bahwa terdapat perbedaan signifikan antara antara pelayanan kesehatan di Indonesia dengan negeri tanah rendah. Secara umum, tentu kualitas pelayanan kesehatan di Belanda lebih unggul.

Oiya, saya tidak punya latar belakang pendidikan dan pekerjaan di bidang kesehatan. Jadi, mohon maaf jika pembahasannya tidak mendalam dan banyak kesalahan.

Seperti galibnya negara maju, Belanda menyadari bahwa kesehatan adalah salah satu wujud pelayanan publik yang terpenting. Dua yang lain adalah pendidikan dan transportasi umum. Maka, negeri yang hanya seukuran Provinsi Jawa Timur ini berusaha dengan serius untuk dapat menjamin kualitas kesehatan yang tinggi bagi 16 juta jiwa penduduknya.

Sebagai buktinya, total dana kesehatan yang dialokasikan Belanda adalah sebesar 12,9% dari PDB [1]. Meskipun bukan yang terbesar di seluruh dunia, angka ini tetap fantastis. Bandingkan dengan Indonesia, hanya sebesar 3,1%. PDB Belanda dan Indonesia itu hampir sama. Namun, jumlah penduduk kita 15 kali lebih banyak dari Belanda. Jika dihitung secara kasar, rata-rata dana kesehatan setiap penduduk Indonesia hanya 1/60 dibandingkan dengan yang didapat penduduk Belanda! Geleng-geleng bukan melihat fakta ini?

Hasilnya, menurut survei dari Euro Health Consumer Index (EHCI), pelayanan kesehatan di Belanda adalah yang paling unggul di Eropa. Apakah kualitas dokter yang menyebabkan keunggulan ini? Rasanya tidak. Berdasarkan pengalaman saya, dokter-dokter di Indonesia juga banyak yang bagus. Malah, dari sisi pelayanan, kadang mereka lebih telaten dari dokter Belanda.

Jika faktor SDM bisa diabaikan, berarti mestinya kesalahan ada pada sistem. Dalam hal ini adalah bagaimana cara pemerintah mengatur sistem kesehatan di negaranya.

Kesehatan untuk semua

Ada idiom di Indonesia, orang miskin itu tidak boleh sekolah tinggi dan jatuh sakit. Kenapa? Karena biaya kuliah dan rumah sakit itu mahal! Kalau Anda fans Iwan Fals, tentu paham situasi ini dalam lagunya yang terkenal, “Ambulans Zig-zag”.

Pemerintah sudah meluncurkan program BPJS, salah satu tujuannya untuk menjamin kesehatan bagi masyarakat yang masuk golongan ekonomi lemah [2]. Meskipun belum sempurna, program ini adalah usaha yang harus diapresiasi.

Oke, asumsikan setiap warga Indonesia memiliki asuransi BPJS. Saya mengajukan sebuah premis,

  • Semua penduduk memiliki BPJS dan menerima perlindungan dasar kesehatan seperti yang diatur oleh BPJS.
  • Setiap penduduk yang ingin mendapatkan pelayanan melebihi perlindungan dasar kesehatan, bisa mendapatkannya atas usaha-usahanya sendiri.

Premis ini terpenuhi di Indonesia. Mereka yang mampu, bisa membayar asuransi partikelir [2], atau malah membayar secara tunai, sehingga bisa mendapatkan kelas pelayanan yang lebih baik.

Di Belanda tidak seperti itu. Sejauh yang saya tahu, disini tidak ada kelas-kelas pelayanan di rumah sakit. Semua sama, tetapi dengan pelayanan yang sudah memenuhi standar kelayakan. Hanya pelayanan standar yang ditanggung oleh asuransi. Mungkin bisa meminta pelayanan khusus, tetapi saya yakin biayanya akan sangat mahal.

Setiap penduduk di Belanda wajib memiliki asuransi kesehatan, disebut sebagai basisverzekering. Menariknya, pemerintah mewajibkan semua perusahaan asuransi untuk memberikan standar perlindungan minimal yang sama bagi kliennya. Maka, harga premi asuransi bersaing cukup ketat, sekitar 100 Euro (Rp 1,5 juta) per bulan. Mahal? Iya bagi pendapatan Indonesia. Bagi orang Belanda, yang mana sebuah keluarga pendapatan minimalnya (nett) sebesar 1620 Euro/bulan, saya yakin premi ini masih terjangkau.

Untuk anak-anak di bawah 18 tahun, tidak perlu membayar premi, bisa ikut ke asuransi orangtuanya. Sedangkan untuk perawatan jangka panjang, misal sewa kursi roda untuk kaum difabel, biayanya ditanggung oleh pemerintah [3]. Skemanya disebut sebagai Wet langdurige zorg (WLZ).

Tidak ada uang yang terlibat

Di Indonesia, umumnya begitu berurusan dengan dokter/rumah sakit, pertanyaan dari pasien adalah, “Berapa biayanya?” Di Belanda, biaya bisa dibilang berada di luar urusan pasien. Saat kita berobat, hampir tidak ada uang yang kita bayarkan. Termasuk juga tidak ada uang pendaftaran/biaya administrasi pada saat kita register ke klinik. Semua akan langsung dibayarkan oleh asuransi kita ke penyedia jasa kesehatan (dokter, klinik, rumah sakit). Kalau pun ada yang harus dibayar, pasien biasanya tidak diminta untuk bayar di tempat, melainkan dikirimi tagihan ke rumah. Pasien kemudian mengirim bukti pembayaran tagihan ke asuransi untuk meminta reimbursement.

Doktor yang menikmati uang banyak, sulit terjadi di Belanda. Sumber gambar dari [4].

Dokter yang menikmati uang banyak, sulit terjadi di Belanda. Sumber gambar dari [4].

Faktor tidak terlibatnya uang ini berpengaruh signifikan. Penyedia kesehatan di Belanda rata-rata adalah swasta. Pemerintah berperan dalam menentukan standar kualitas pelayanan, dan ini diawasi dengan ketat. Sepanjang yang saya tahu, terutama tenaga medis yang bekerja di rumah sakit, berapa banyak pun jumlah pasien yang ditangani, tidak akan menambah penghasilan dokter. Artinya, gajinya flat, sama dengan sistem penggajian dosen disini yang sudah pernah saya ceritakan. Akibatnya, dokter jadi fokus dalam menangani pasien. Kualitas pelayanan pun terjaga, karena dokter tidak mengejar jumlah praktek yang banyak seperti sebagian dokter di Indonesia, yang kadang buka praktek sampai larut malam.

Prioritas utama untuk anak-anak

Negara maju seperti Belanda paham betul bahwa anak yang sehat kelak perannya amat signifikan dalam menentukan kemajuan bangsa. Jadilah kesehatan anak-anak disini sangat diperhatikan. Sebagai gambaran, di Groningen saja cukup banyak saya temui anak-anak dari student Indonesia yang giginya dirombak habis. Alasannya, susunan gigi mereka tidak cukup bagus/rapi. Sedangkan bagi orang Belanda, gigi yang sehat itu penting. Nanti kalau sudah dewasa, sakit gigi bisa merembet kemana-mana dan biaya pengobatannya mahal. Maka, lebih baik diselesaikan saat masih kecil. Operasi gigi semacam ini biayanya bisa puluhan juta rupiah. Semua ditanggung seratus persen oleh asuransi.

Kalau gigi saja begitu diperhatikan, apalagi aspek dasar kesehatan anak. Di setiap kelurahan, terdapat consultatiebureau (CB), semacam posyandu kalau di Indonesia. Fasilitas CB bagus. Sampai umur 4 tahun, secara berkala setiap anak dijadwalkan untuk bertemu dengan dokter CB (beda dengan dokter anak/kinderarts) atau perawat. Mereka memantau perkembangan anak. Dari mulai imunisasi, kemampuan motorik, kemampuan bicara, berat dan tinggi badan, saran menu makanan yang baik untuk anak, dsb.

Kalau tidak cukup dengan pertemuan rutin, setiap orangtua boleh datang ke CB di jadwal yang sudah ditentukan, kalau di CB dekat rumah saya setiap hari Selasa atau Kamis. Kalau itu juga masih tidak cukup, bisa konsultasi lewat telepon setiap saat. Mereka akan dengan telaten melayani. Bahkan untuk pertanyaan seperti bagaimana cara melatih anak supaya tidur mandiri di boksnya sendiri.

Semua itu gratis! Makanya saya sempat heran ketika ibu mertua bilang kalau Devan (sepupu Kinan) harus bayar sekitar 500 ribu rupiah setiap kali imunisasi di Bandung.

Dokter CB disini amat berhati-hati dalam menangani anak. Contoh, dulu Kinan sempat screening secara intensif di KNO afdeling (THT), karena setelah beberapa kali tes pendengaran, hasilnya tidak memuaskan. Begitu pula waktu ada kelebihan lipatan di kaki kirinya, dia langsung dirujuk untuk rontgen ke bagian ortopedi anak. Karena dikhawatirkan bangun tulang kakinya tidak simetris. Alhamdulillah tidak ada apa-apa.

Tidak ribet dan saling terkoneksi

Kadang yang bikin saya agak malas dengan rumah sakit di Indonesia adalah administrasinya yang redundan. Ganti rumah sakit atau pindah berobat ke dokter baru registrasi lagi. Selesai diperiksa, untuk membayar harus ke loket yang lain, dsb.

Awal tahun lalu, waktu istri saya hendak melahirkan, kejadiannya jam 3:30 dini hari. Begitu tiba di rumah sakit, kami ke resepsionis. Karena terbiasa dengan prosedur di Indonesia, saya mengira bakal harus mengisi form pendaftaran dulu. Ternyata petugasnya hanya menanyakan nama lengkap dan tanggal lahir Intan. Dua menit kemudian dia bilang, “Semua sudah diurus, Anda tinggal ke kamar periksa sekian”.

Begitu juga waktu Intan tes darah saat masih hamil. Saya bertanya ke dokter, apakah nanti hasil tesnya diambil dulu di laboratorium dan kemudian dibawa lagi ke dia? Ternyata tidak. Dokter bilang, nanti hasil tes lab akan langsung dikirim ke kantornya. Dia tinggal buka akunnya, dan kami akan diberitahu hasilnya. Bisa lewat telepon kalau kami mau.

Sesederhana itu. Disini memang prosedur dibuat mudah, jauh dari kata ribet. Karena hirarkinya jelas, semua data terekam baik. Setiap kali pasien berkunjung ke tenaga medis, walaupun beda institusi, data penyakit, perawatan, obat, dll bisa dilihat. Bagi mahasiswa Teknik Industri atau Sistem Informasi, kesinambungan antar institusi pelaksana kesehatan di Belanda adalah contoh pengejawantahan sistem informasi yang amat bagus.

Manfaat dari instansi yang saling terkoneksi adalah, rekam medis pasien tercatat dengan baik, hal yang masih sulit terjadi di Indonesia. Jadi misalnya saya sedang konsultasi tentang kesehatan Kinan, perawat di seberang telepon sudah punya gambaran bagaimana kondisi kesehatan anak saya itu di masa lalu.

Sehat bukan berarti manja!

Dengan pelayanannya yang nomor satu, bukan berarti pasien disini bisa bermanja-manja. Bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan kultur Belanda, kemungkinan akan menyimpulkan bahwa dokter disini itu pelit, kurang manusiawi, Afgan (sadis), dsb. Bagaimana tidak? Kalau cuma sakit flu, batuk, atau diare, kemudian kita dapat jadwal ketemu dokter dua hari kemudian, itu sudah untung! Bisa jadi malah, setelah berusaha konsultasi lewat telepon, Anda tidak dibuatkan janji dengan dokter, karena kondisi itu masih dianggap biasa saja. Apalagi berharap dibuatkan resep obat. Paling-paling kalau cuma sakit seperti itu, kita disuruh beli parasetamol sendiri.

Penanganan ke anak pun demikian. Kinan pernah panas sampai 40 derajat celcius. Setelah diperiksa, anak saya cuma diminta istirahat dan minum yang banyak. Dokter tidak bilang bahwa dia perlu untuk minum obat penurun panas.

Kinan di UMCG, rumah sakit pendidikan di Groningen.

Kinan di UMCG, rumah sakit pendidikan di Groningen.

Well, terdengar agak mengerikan? Saya pernah baca makalah ilmiah (sayang lupa judulnya). Disitu dibilang, bahwa metode semacam itu aman secara medis. Lagipula, dengan sistem “sekejam” ini, toh rataan hidup orang Belanda mencapai 81 tahun, jauh di atas Indonesia, hehehe.

Kalau di Indonesia, misalnya kita batuk tidak sembuh-sembuh, mungkin bagi yang mampu akan berobat ke dokter spesialis paru-paru. Di Belanda, tidak bisa sepert itu. Hirarkinya jelas. Pasien harus ke dokter umum/keluarga (huisarts) dulu. Kalau menurut huisarts perlu, baru kita pergi ke dokter spesialis di rumah sakit. Itu pun menunggunya bisa lama. Dulu Intan dijadwal bertemu dengan dokter spesialis mata harus menunggu dua bulan.

Tetapi kalau dipikir, bukankah sebetulnya agak aneh kalau pasien langsung ke dokter spesialis seperti di Indonesia? Karena yang bisa menjustifikasi kondisi pasien adalah dokter. Sedangkan kita pada umumnya tidak memiliki kemampuan itu. Contoh di kasus di atas. Siapa tahu batuk-batuknya bukan karena paru-parunya, tetapi organ dalamnya. Bisa saja toh? Sehingga sebetulnya malah kita harus ke dokter internis.

Wujud nyata dari upaya untuk membuat pasien tidak manja adalah adanya kebijakan risiko sendiri (eigen risico/own risk). Setiap pasien (kecuali <= 18 tahun) memiliki eigen risico sebesar 380 euro (hampir 6 juta rupiah) per tahun. Biaya pengobatan yang tidak ditanggung asuransi menjadi beban pasien sampai angka 380 euro itu. Jadi kalau dalam setahun kita cuma habis untuk aneka operasi (yang tidak ditanggung asuransi) sebesar 200 Euro, itu wajib kita bayar sendiri. Sebaliknya, kalau habis di atas itu, menjadi tanggung jawab asuransi.

Contoh, Intan tahun lalu habis sekitar 8.000 Euro, dia cuma perlu membayar 380 Euro. Sedangkan Kinan, habis lebih dari 40.000 Euro (600 juta rupiah), semua ditanggung asuransi, tanpa ada eigen risico.

Eigen risico membuat kita tidak manja untuk sebentar-sebentar ke dokter. Orang Belanda sendiri berusaha untuk bisa selalu sehat. Misal dengan olahraga. Banyak ditemui disini kakek nenek yang sehari-hari naik sepeda, atau orang-orang yang masih jogging saat hujan gerimis.

Sebagai penutup, tentu masih ada kekurangan dari sistem pelayanan kesehatan di Belanda. Tetapi kalau yang saya rasakan, terutama dari sisi keteraturan, kualitasnya memang jauh di atas Indonesia. Semoga kelak Pemerintah Indonesia dapat mencontohnya. Kesehatan itu amat penting, menentukan daya saing sebuah bangsa.

Groningen, 5 Maret 2016

Referensi:

  1. http://data.worldbank.org/indicator/SH.XPD.TOTL.ZS, diakses 21 Februari 2016.
  2. http://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2015/may/15/indonesias-universal-healthcare-insurance-verdict, diakses 24 Februari 2016.
  3. http://www.iamexpat.nl/expat-page/healthcare/dutch-healthcare-system-netherlands, diakses 5 Maret 2016.
  4. http://www.shutterstock.com/s/doctors+money/search.html, diakses 5 Maret 2016.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

6 thoughts on “Mengintip Pelayanan Kesehatan di Negeri Belanda

  1. Diare bukan cuma, om. Bisa menyebabkan kematian juga.

    Jangan salah, orang belanda sendiri banyak kok yang nggak puas dengan sistem dokter cuek kaya gini. Yang tau badan kita adalah kita sendiri. Ketika kita sekarat terus dokter cuma nyuruh pulang beli paracetamol sendiri tuh rasanya geregetan gimana gitu

    Orang belanda kalo ke dokter tuh udah kaya ke medan perang, harus siap ngotot dan adu argumen

    • Ya kalau ud sekarat, jelas di handle langsung 🙂 langsung direct ke UGD…
      Mungkin maksud penulis, buang2 air yang biasa, bukan diare yg sebenarnya. Ya kebetulan dalam obrolan kita, sering menyebut buang2 air itu diare… 🙂
      Untuk kondisi yg dianggap sudah serius atau urgent, biasanya bisa langsung ke UGD, saya yakin kalau di UGD langsung dihandle dan dicek dengan benar…
      Saya tidak tinggal di Belanda sih, dan belum pernah kesana,.. tp negara tempat saya tinggal di MidEast ini, kurang lebih seperti itu juga model pelayanannya… kalau konsultasi biasa, ya bikin schedule… kalau ngerasa ga kuat, atau darurat, tinggal telpon ambulan atau ke UGD langsung… bahkan sering juga paramedis ambulan ud bisa menangani, jadi tdk perlu dilanjutkan ke UGD, cukup di schedule konsultasi dokter umum/keluarga… 🙂

  2. hallo mas, salam kenal. kebetulan saya juga berniat menulis pelayanan kesehatan di belanda, sekarang saya di Leiden. kebetulan jumpa blog ini.. alhamdulliah jadi dapat beberapa referensi, terima kasih telah berbagi tulisan yang sangat menarik.

  3. Mas Rully, salam kenal. Saya saat ini sedang mencari health insurance yang cocok. Saya hanya menemani suami yang sedang belajar di rotterdam. Kalo bole tahu, istri dari Mas Rully student juga? menggunakan health insurance dari perusahaan apa? Terima kasih

    • Salam kenal, Imelda. Istri saya bukan student, jadi dia harus pakai basisverzekering (basic insurance). Dia pakai Menzis, sebulan sekitar 105 Euro. Pelayanannya bagus. Kalau student bisa pakai AON, lebih murah. Istri student juga bisa pakai AON, sebulan sekitar 65, tapi kalau punya anak juga bayar lagi.Kalau basisverzekering, anak gratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s