Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Serba-Serbi Jurusan Teknik Industri

Leave a comment

Life at the Nano Technology Factory

Sumber: http://www.jantoo.com/cartoon/68138688, diakses 12 Maret 2016.

Teknik Industri (TI) adalah salah satu jurusan kuliah yang paling diminati siswa SMA di Indonesia. Waktu lulus SPMB (sekarang SBMPTN) tahun 2004, kabarnya passing grade jurusan TI ITB ketika itu sekitar 55-57%. Lebih dari satu dekade kemudian, saat saya sudah menjadi dosen di tempat yang sama, dimana mahasiswa baru diterima di fakultas dulu baru kemudian dijuruskan di semester 3, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB tetap memiliki passing grade yang tinggi.

Di perguruan-perguruan tinggi yang lain, fenomenanya kurang lebih sama. Biasanya syarat masuk TI hanya kalah tinggi dari Kedokteran, Teknik Informatika, Teknik Elektro, atau Teknik Kimia.

Banyaknya peminat TI kadang tidak diimbangi dengan informasi yang memadai. Hal ini mungkin disebabkan karena TI yang agak “berbeda” dengan jurusan teknik yang lain. Bisa juga karena biasanya yang roadshow dan presentasi ke adik-adik SMA adalah para mahasiswa TI yang masih di tingkat 1 dan 2. Padahal dari pengalaman saya, mahasiswa di jenjang itu justru masih sedang bingung-bingungnya dengan arah perkuliahan di TI.

Profil lulusan yang ingin dibentuk

Saat kuliah Proses Manufaktur di tahun 2005, salah satu dosen senior, Prof. Isa Setiasyah Toha, menyampaikan satu hal yang cukup berkesan.

Sarjana Teknik Industri itu, diberi selembar gambar teknik sebuah produk, maka harus bisa merancang pabriknya.”

Saya baru paham maksud beliau beberapa semester setelahnya. Apa yang Pak Isa ucapkan adalah ringkasan struktur pengajaran yang umum di jurusan TI di Indonesia.

Kira-kira begini. Ambil contoh sebuah produk yang semua orang pasti tahu, misal kursi. Kita pinjam kursi “Marius” dari IKEA. Di bawah ini bukanlah sebuah gambar teknik. Saya sengaja mencari contoh yang sederhana supaya bisa dipahami oleh pembaca awam.

Gambar rakitan kursi "Marius" dari IKEA.

Gambar rakitan kursi “Marius” dari IKEA.

Dengan berbekal gambar rakitan kursi “Marius”, Anda diharapkan untuk:

  • Memperkirakan seberapa banyak kursi “Marius” akan laku di pasaran.
  • Menentukan urutan dan proses pembuatan kursi.
  • Menentukan mesin-mesin yang dipakai, sekaligus menghitung jumlah mesin yang dibutuhkan.
  • Merancang cara kerja yang paling baik untuk teknisi mesin.
  • Menghitung jumlah kebutuhan sumber daya manusia (SDM), baik di pabrik maupun di kantor.
  • Merancang tata letak (layout) pabrik dan kantor.
  • Menghitung apakah secara finansial, pabrik kursi “Marius” bakal menguntungkan?

Sederhana? Iya, karena produknya hanya sebuah kursi. Tetapi bagaimana kalau kursi diganti dengan televisi, mobil, atau komponen pesawat terbang? Atau misalnya “produk” diganti dengan hal yang lebih abstrak dan kompleks seperti pengelolaan energi di suatu wilayah atau pengaturan arus keluar masuk peti kemas di pelabuhan?

TI adalah gabungan IPA dan IPS?

Ini adalah jebakan betmen bagi beberapa orang yang ingin masuk TI, termasuk saya dulu. Dikiranya karena ada beberapa kuliah dari ilmu sosial, seperti ekonomi, psikologi dan manajemen, TI adalah jurusan teknik yang IPS banget. Jadi tidak perlu bergelut dengan hitung-hitungan, mesin, dsb.

Padahal, seperti di bidang teknik yang lain, aspek utama yang diajarkan di TI adalah merancang (design). Objek yang dirancang adalah sistem, supaya bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam praktik, sistemnya bisa berupa apa pun, tergantung permasalahan yang dihadapi. Namun, di banyak jurusan TI di Indonesia, rata-rata mengambil sistem manufaktur sebagai obyek pembelajaran, dikarenakan sistem ini relatif lebih jelas dan terstruktur dibanding sistem yang lain, misal jasa. Alasan yang lain, TI berkembang dari salah satu sub-jurusan di Teknik Mesin, yaitu Teknik Produksi.

Maka tidak heran kalau di TI diajarkan hal-hal teknikal seperti Mekanika Teknik, Material Teknik, dan Rangkaian Elektrik yang diambil dari jurusan-jurusan lain. Dari TI sendiri, ada kuliah-kuliah Logika Pemrograman, Ergonomi, Perancangan Layout Pabrik, dan Statistika. Proses permesinan, gambar teknik, simulasi komputer, dll itu adalah skill yang digeluti selama jadi mahasiswa TI. Selengkapnya bisa dilihat di kurikulum.

Jadi, ada kuliah-kuliah IPS tidak? Ada, tetapi tidak lebih dari 20% dari total kuliah di TI. Selain itu, kerangkanya tetap dalam kaidah teknik, untuk mendukung design. Contoh, di kuliah Psikologi Industri, mahasiswa tidak diajarkan secara rinci bagaimana memahami psikologi manusia. Pengajarannya lebih ke bagaimana memahami karakter setiap orang, sehingga nanti berguna saat dipakai untuk merancang struktur organisasi pabrik yang sedang dirancang.

Bidang-bidang keilmuan di TI

Saya hanya ambil contoh dari TI ITB, dimana terdapat empat Kelompok Keahlian.

Pertama, Ergonomi, Rekayasa Kerja, dan Keselamatan Kerja. Ini adalah bidang TI yang paling mikro, berada di tingkat stasiun kerja (workstation). Misalnya ada seorang operator yang bekerja di beberapa mesin. Salah satu permasalahan yang timbul adalah bagaimana merancang metode kerja yang paling baik bagi si operator, baik dari posisi, beban kerja, maupun keselerasan pemakaian tangan kanan dan kirinya.

Kedua, Sistem Manufaktur. Obyeknya ada di tingkat lantai produksi, yang merupakan gabungan dari beberapa stasiun kerja. Dari sebuah gambar teknik sebuah produk, mahasiswa diajarkan proses pembuatan pembuatannya. Selanjutnya, bagaimana menjadwalkan produksi masing-masing komponen produk, dan juga perakitannya. Penjaminan kualitas produksi juga diajarkan disini.

Ketiga, Manajemen Industri. Meskipun analoginya tidak terlalu akurat, kira-kira obyeknya adalah gabungan dari beberapa lantai produksi, atau di level perusahaan. Bagaimana merancangan organisasi dan mengelola SDM menjadi obyek diskusi disini. Selain itu, analisis keuangan sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, juga merupakan kuliah yang amat menarik.

Keempat, Sistem Industri dan Tekno Ekonomi. Obyeknya adalah yang paling makro, gabungan dari beberapa perusahaan. Contoh, sistem logistik. Untuk merancang sistem yang kompleks dan abstrak, alatnya adalah pemodelan matematika. Statistika dan Penelitian Operasional adalah dasarnya. Selain itu, perancangan sistem informasi juga dibahas disini.

Pekerjaan lulusan TI

Salah satu cara paling mudah untuk mempelajari suatu jurusan adalah melihat bidang pekerjaan alumninya. Disini hanya akan disajikan paparan dari TI ITB, karena saya tidak punya data alumni untuk jurusan TI dari perguruan tinggi lain.

Berdasarkan hasil survei ITB, lima besar kategori usaha pekerjaan alumni TI angkatan 2007 adalah

  • Pertambangan dan penggalian (20%)
  • Industri manufaktur (15%)
  • Informasi dan komunikasi (11%)
  • Jasa keuangan dan asuransi (10%)
  • Jasa konsultansi (10%).

Mungkin ini masih belum terlalu terbayang. Angkatan saya, TI 2004, pernah melakukan survei kecil di tahun 2013. Hasilnya, dari 154 orang, yang terbanyak bekerja di Bank Mandiri sejumlah 11 orang. Posisi kedua ditempati mereka yang bekerja di Unilever, sebanyak 9 orang. Namun, jika ditambah dengan industri pengolahan yang lain seperti Danone, Sari Husada, Wardah, P&G, Pusri, Heinz, Toyota, Astra Honda Motor, Mitsubishi, dll, maka jumlahnya menjadi sangat banyak.

Alumni yang bekerja di industri telekomunikasi, paling banyak di Telkom dan Telkomsel. Sedangkan Pertamina, Total E&P, CNOOC, Antam, dan Schlumberger adalah beberapa perusahaan tempat kerja mereka yang berkarir di bidang pertambangan dan perminyakan.

Menurut teman-teman, biasanya mereka bekerja di bagian perencanaan produksi, supply/demand planning, distribusi, SDM, atau keuangan. Untuk yang ini saya juga tidak begitu tahu. Mungkin teman-teman yang bekerja di industri bisa menambahkan.

Mulai dari angkatan 2006, cukup banyak alumni TI ITB yang bekerja di IPC (Pelindo II) dan Bank Indonesia. Fenomena ini cukup membuktikan bahwa kemampuan berpikir sistem dari sarjana TI dapat diterapkan tidak hanya di sistem manufaktur, namun juga di sistem-sistem lainnya, contohnya logistik, bahkan regulator perbankan.

Masih menurut survei ITB, alumni TI yang sudah bekerja sekitar 2-3 tahun, rata-rata gajinya sekitar 10 juta rupiah per bulan, dan rata-rata bonus per tahun sekitar 39 juta. Sedangkan masa tunggu mencari pekerjaan sekitar 4 bulan setelah lulus.

Kira-kira begitu pemaparan singkat tentang jurusan TI. Tertarik mendaftar?

Groningen, 12 Maret 2016

Tautan-tautan yang bermanfaat:

Kurikulum TI – Institut Teknologi Bandung
Kurikulum TI – Universitas Indonesia
Kurikulum TI – Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kurikulum TI – Universitas Islam Indonesia
Kurikulum TI – Universitas Kristen Petra

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s