Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Lelaki dan Memasak

Leave a comment

Saya dan bebek yang beratnya hampir 4 kg. Lebih berat dari Kinan waktu baru lahir!

Saya dan bebek yang beratnya hampir 4 kg. Lebih berat dari Kinan waktu baru lahir!

Anda pasti tidak percaya kalau saya bisa masak. Jangankan Anda, saya sendiri juga tidak percaya kok, hihihi. Alkisah, dulu saya mengira kalau bikin ayam goreng itu tinggal potong ayam, dicuci, terus dicemplungin ke minyak panas. Atau setidaknya cukup dicelupin ke bumbu cair seperti kalau mau goreng tempe/tahu. Habisnya, waktu masih kuliah saya sebagai anak kos sering makan di warung pecel lele. Disitu saya lihat mas Topik hanya mengambil potongan ayam, dicemplungin ke minyak, dan 15 menit kemudian ayam goreng tersaji. Ternyata asumsi saya itu salah besar.

Gimana mau bisa masak? Dari kecil tidak pernah ke dapur. Untuk apa juga. Di rumah Ibu selalu masak. Waktu kuliah apa lagi, tinggal pilih mau makan apa.

Ketika datang ke Belanda di bulan Desember 2012, awalnya makan masih mengandalkan bekal dari Indonesia. Kerupuk paru, gorengan tempe, abon, dll. Saat persediaan mulai habis, barulah terpaksa harus masak. Memangnya tidak bisa beli makanan di warung? Ya bisa, kalau beasiswa/kiriman dari orang tua gede. Sekali makan di Belanda habis minimal 5 Euro (Rp 75.000). Sehari makan dua kali di warung saja bakal habis 300 Euro sebulan. Jelas tidak memungkinkan dengan sumber beasiswa dari DIKTI, hehehe.

Mulai dengan yang sederhana

Saat keadaan mendorong Anda untuk harus masak, itulah momen yang menentukan kemampuan masak-memasak Anda ke depannya. Berat banget bahasanya. Tapi beneran. Kalau Anda puas hanya makan dengan telor ceplok, nasi goreng, atau panggang ikan pangasius dari supermarket, ya tidak masalah. It’s totally fine. Enak malah, tidak perlu repot-repot setiap kali mau makan.

Bakso. Salah satu menu favorit.

Bakso. Salah satu menu favorit.

Sayangnya, saya orangnya bosenan, dan lidah saya masih masuk kategori “Indonesia banget”. Jadilah saya yang repot sendiri untuk menuruti selera makan. Modal bertanya ke isteri, mbak Eni, dan Googling, mulailah belajar masak.

Bagi yang baru belajar masak, saran saya, mulailah dengan menu tumis-tumisan. Selain gampang, juga murah dan banyak variasinya. Bisa disesuaikan dengan selera atau persediaan bahan makanan di kulkas. Bisa tumis kembang kol campur udang, buncis dan tempe, atau brokoli kombinasi jamur.

Selain itu, dengan menumis kita akan punya feel komposisi bawang putih dan bawang merah yang pas. Bakal tahu juga kapan irisan bumbu matang sebelum menjadi gosong. Skill ini penting. Banyak masakan yang bumbunya ditumis dulu. Contohnya nasi goreng, soto, balado, gulai, dll.

Setelah ahli menumis, kita bisa mencoba memakai bumbu instan. Lho, kok malah down grade? Tunggu dulu. Bumbu instannya kombinasikan dengan bumbu asli. Misal bumbu instan rendang tambahi dengan sedikit bawang putih, laos, serai, dan daun jeruk. Bumbu instan balado tambahi dengan cabai merah dan kemiri. Cari kombinasinya yang paling enak. Lagipula,kalau hanya dengan bumbu instan saja ya mana enak! Tidak sehat pula.

Cooking is science

Waktu masih kuliah sarjana, saya punya beberapa teman dari jurusan Farmasi. Hampir semua pandai memasak. Kebetulan yang berulang selalu ada sebabnya. Ketika itu saya punya satu dugaan. Mungkin karena terbiasa mencampur bahan dan obat di laboratorium, mereka jadi terampil juga untuk mengatur komposisi bumbu-bumbu masakan.

Sop buntut sapi.

Sop buntut sapi.

Saat sudah sering masak, saya merasa hipotesis itu ada benarnya. Bahkan kali ini ada tambahannya. Menurut saya, memasak itu bakal lebih mudah dipelajari oleh mereka dengan latar belakang engineering dan science, yang terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya eksak, saklek, dan terstruktur.

Lah, bukannya kalau menurut ibu-ibu memasak itu lebih dominan feeling? Malah sampai muncul istilah “kiralogi” untuk ini. Setiap kali mau memasak, jumlah bumbunya dikira-kira saja, hihihi.

Well, saya tidak sepenuhnya setuju. Memasak itu lebih mirip scientific methodology. Keren ya istilahnya? Hahaha. Padahal, maksudnya sederhana kok. Kalau metodologi (resep) itu kita ikuti dengan benar, hasil masakan kita bakal kurang lebih sama dengan yang diklaim di resep. Dalam ilmu statistika, “kurang lebih sama” ini berarti masih dalam acceptance level sesuai dengan signifikansi yang sudah ditentukan. Halah, kok malah jadi nggladrah? Haha. Kalau mau lebih paham, boleh japri ke saya. Sekalian minta dikasih trainingnya juga boleh :p

Back to topic. Contohnya begini, mau masak soto ayam. Di internet mungkin ada ribuan cara bikin soto, dan saya percaya semua enak, soalnya si penulis sudah percaya diri untuk share resepnya di media publik. Lalu mana yang bakal sampeyan pilih? Kalau saya, bakal milih resep yang penjelasannya paling rinci. Ada beberapa resep yang seperti itu, ini salah satunya.

Resep yang baik akan menjelaskan mulai dari bagaimana cara memotong ayam, mencucinya, menggosok dengan garam kalau ayamnya agak anyir, dsb. Itu baru persiapan bahan dasarnya. Belum lagi bakal ada petunjuk komposisi bumbu, cara menumis, bikin kuah yang pas, dll. Ribet? Sudah pasti, namanya juga ingin dapat hasil yang enak.

Tahu isi.

Tahu isi.

Kalau begitu bakal harus terus lihat resep dan makan waktu dong? Itulah bedanya antara novice dengan experienced. Ibaratnya kita baru belajar acceptance sampling. Ya pasti harus lihat textbook supaya bisa uji statistika dengan benar. Tetapi kalau sudah sering, lama-lama hafal di luar kepala. Begitu pula dengan memasak. Semakin lama jam terbang, Anda akan hafal segala tetek bengeknya. Inilah yang oleh ibu-ibu disebut sebagai “feeling”. Dulu saya bikin ungkep ayam bisa dua jam lebih. Sekarang, sejam pun cukup, sudah termasuk motong-motong ayamnya yang awalnya masih berbentuk utuh.

Dengan latihan, kita juga bisa belajar rasa bumbu. Ini juga ada logikanya, tidak ujug-ujug seorang pemasak dibekali feeling tentang ini. Misalnya, kita akan tahu kalau kemiri itu fungsinya untuk bikin gurih. Tetapi kombinasi yang tidak pas dengan bawang merah malah bikin rasa masakan buyar, karena dua bumbu itu saling mengalahkan. Begitu pula, lama-lama sampeyan akan tahu logika dibalik pemakaian jahe yang digeprek di banyak masakan yang memakai kecap. Masih banyak contoh lainnya, kapan-kapan saya tuliskan, kalau tidak malas. Hehehe.

Cowok kok masak?

Kenapa tidak? Ini adalah salah satu stereotip yang salah kaprah. Sejak Kinan lahir, memang saya yang lebih banyak memasak. Kami diberi anak yang spesial, sehingga pengurusannya cukup memakan waktu. Saya kasihan dengan isteri kalau masih harus repot masak. Meskipun kadang dia juga masak kalau sedang senggang.

Sebelum ada Kinan, kadang saya pun masak. Tidak pernah status kelelakian saya merasa terintimidasi. Sama saja dengan saya yang biasa saja ikut ganti popok, menyuapi anak makan, dll. Di Belanda, sangat umum ditemui suami yang membantu pekerjaan isterinya. Alhamdulillah bapak-bapak Indonesia disini juga mencontoh hal yang baik ini.

Mie ayam andalan.

Mie ayam andalan.

Saya enjoy masak. Tetapi saya juga fasih melakukan hal-hal yang dipandang “laki banget”. Misalnya betulin instalasi listrik di rumah, tambal ban sepeda, ganti ban mobil, bongkar pasang karburator motor, rakit furniture IKEA, dll. Itu semua tergantung cara pandang dan sikap kita masing-masing.

Nyatanya, chef-chef di TV juga kebanyakan lelaki, toh. Karena, memasak itu memang butuh kekuatan, bung. Angkat panci dan wajan yang berat. Setelahnya masih harus gosok-gosok bersihin kotoran yang menempel. Konon juga, kelebihan seorang chef pria adalah rasa masakan yang konsisten, karena katanya emosi kaum adam lebih stabil dibanding perempuan.

Jadi, mengapa tidak dicoba memasak kalau memang ada minat? Soal rasa, jangan khawatir. Kata Pak Asmoro –beliau ahli masak di Groningen– tidak akan ada yang protes kalau pun tidak enak, yang makan kan Anda sendiri. Hahaha.

Soal masakan saya, nanti bakal saya bagi resepnya. Tetapi jangan protes kalau ternyata tidak enak ya. Namanya juga masih belajar :p

Groningen, 17 Maret 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s