Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Resensi Buku: Totto-Chan: The Little Girl at the Window

2 Comments

Sumber: Wikipedia

Sumber: Wikipedia

Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having minds, but not perceiving truth; having hearts that are never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear, said the headmaster.

Buku ini sangat bagus. Itu resensi singkat yang dapat saya berikan. Penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi, yang saat masih kanak-kanak dipanggil dengan “Totto-Chan” menceritakan dengan amat berkesan memoir masa kecilnya saat menempuh sekolah dasar di Tomoe-Gakuen.

Sebagai seorang yang menghabiskan masa kecilnya di desa, walaupun tidak persis sama, kurang lebih saya bisa merasakan nostalgia tentang apa yang Totto-Chan dan teman-temannya alami di sekolahnya. Menyusuri kebun-kebun jeruk, mencari ikan-ikan kecil di sungai, berkunjung ke sawah dan mengobrol dengan petani. Itu semua juga saya alami waktu SD dulu, terutama saat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Memori semacam itu memang sungguh berkesan, melebihi kesan bahagia ketika dapat nilai 9 di raport. Namun, apa yang saya alami itu memang wajar terjadi di kampung. Sampai dengan saat ini, mestinya masih banyak siswa-siswa SD di pelosok Indonesia yang mengalami kejadian serupa.

Bermain sambil belajar, tidak membatasi potensi anak

Ada satu hal yang amat unik, sepertinya hanya terjadi di Tomoe-Gakuen. Guru-guru disana tidak mengikuti cara pengajaran sepertinya lazimnya di sekolah-sekolah umum. Setiap kali guru masuk kelas, siswa disana dibebaskan mengerjakan apapun yang disukainya. Entah itu mewarnai, belajar membaca, bahkan melakukan eksperimen Fisika.

Jika dibandingkan dengan kurikulum pendidikan dasar di Indonesia, dimana konon untuk bisa masuk SD, calon siswa dites membaca dan berhitung, tentu model pengajaran di Tomoe terbilang ekstrim. Namun, justru pada rentang usia 6-12 tahun, anak kecil sedang senang-senangnya bermain. Mereka yang sedang dalam tahap perkembangan usia emasnya, berusaha mengeksplor segala macam kejadian yang menarik panca indera mereka. Kalau Anda tahu, di negara maju seperti Belanda, siswa kelas 1-2 SD pelajarannya masih didominasi dengan kegiatan bermain. Kalau mereka belum bisa membaca atau berhitung, tidak menjadi masalah.

Bermain dan bermain, itulah yang dilakukan siswa-siswa di Tomoe-Gakuen. Tapi tidak kebablasan. Guru-guru selalu mengarahkan sesuai dengan minat siswa. Misal, untuk menumbuhkan minat membaca, semua siswa dibawa ke Perpustakaan, dan setelahnya, setiap anak diminta untuk menceritakan apa yang sudah mereka baca. Siswa diajari untuk berani berbicara, walaupun itu hanya satu-dua kalimat. Hal yang sama terjadi saat makan siang bersama, dimana setiap hari, seorang siswa diminta secara bergiliran untuk memberikan semacam pidato singkat. Semua juga diajari untuk mengapresiasi. Dari sini, pelan-pelan kepercayaan diri setiap anak akan timbul.

Pelajaran moral

Arsitek di balik pendidikan di Tomoe-Gakuen adalah Kepala Sekolahnya, Pak Sosaku Kobayashi. Beliau berhasil mentransformasikan apa yang mungkin sebenarnya adalah rutinitas harian yang biasa, menjadi sesuatu yang amat menarik dan menyenangkan di mata siswa-siswanya.

Saking senangnya bersekolah di Tomoe, Totto-Chan dan teman-temannya tidak ingin melewatkan sekolah di Tomoe-Gakuen satu hari pun, bahkan walaupun sedang sakit.

Saat anak-anak sudah sedemikian nyaman dengan sekolahnya, itulah tanda pendidikan dasar yang berhasil. Anak-anak adalah manusia yang jujur. Saat senang dengan sesuatu, mereka akan mengekspresikannya. Contoh, saat sedang asyik dengan permainannya, mereka bakal sulit sekali dilepaskan dari kegiatannya itu. Dikisahkan di buku ini, ada seorang siswa yang terpaksa harus pindah sekolah, tidak henti-hentinya ia menatap ke belakang dan menangis. Di gerbang sekolah, Pak Kobayashi juga menangisi seorang muridnya yang baru pergi.

Sekolah itu memang amat unik. Di hari pertamanya sekolah, Totto-Chan melihat bahwa kelas-kelas mereka berada di bekas gerbong kereta, lengkap dengan relnya! Di sebuah sekolah yang hanya punya 50 murid, dengan jelas Totto-Chan melihat bahwa teman-teman barunya banyak yang berbeda. Ada yang menderita polio, ada juga si Takahashi, yang mengidap kretinisme, sehingga badannya berhenti tumbuh.

Secara luar biasa, Pak Kobayashi merancang sebuah kurikulum yang mengakomodasi kesamarataan semua anak, dan mengajari semua siswanya bahwa semua orang itu adalah sama, apapun kondisi mereka. Tidak hanya sampai disitu, beliau juga dengan brilian berhasil menanamkan rasa percaya diri bagi anak-anak yang “spesial”. Dikisahkan, dalam acara olahraga tahunan di Tomoe, perlombaan kreasi Pak Kobayashi sengaja dirancang supaya Takahashi yang menjadi juaranya. Puluhan tahun kemudian, ketika Kuroyanagi bertemu dengan Takahashi dewasa, dia bilang bahwa tanpa bersekolah di Tomoe, mungkin dia tidak akan pernah bisa punya rasa percaya diri yang sama di sepanjang hidupnya. Takahashi pada akhirnya menjadi seorang insinyur sukses, dan dia menikah dengan perempuan normal yang tidak pernah mempermasalahkan kondisi fisik suaminya.

Totto-Chan sendiri bukannya tanpa masalah. Ibunya memindahkannya ke Tomoe karena di sekolahnya yang lama, guru-gurunya menganggap dirinya terlalu aktif, banyak bertanya, dan sulit untuk fokus. Alih-alih menasehatinya, Pak Kobayashi dengan sabar dan tersenyum hanya mendengar celoteh Tetsuko kecil di hari pertama mereka berjumpa, selama 4 jam! Selama berinteraksi dengan Totto-Chan, sang Kepala Sekolah selalu menekankan kalimat, “You’re a good girl!”. Menurut banyak ahli psikologi, memang sebaiknya positive reinforcements yang harus kita berikan ke anak-anak.

Diakhiri oleh perang

Mempertimbangkan kisah di buku ini yang terjadi di awal tahun 1940-an, tentu makin membuat respek dengan idealisme Pak Kobayashi. Jepang di medio itu masih cukup tertutup. Mereka yang menyandang cacat dianggap aib, dan segala sesuatu yang kebarat-baratan disingkirkan jauh-jauh oleh negara. Bahwa siswa Takahashi bisa bersekolah di Tomoe, dan eurythmics, semacam pelajaran dari barat untuk mengkoordinasikan panca indera diajarkan disana, tentu membuat pembaca menduga-duga bahwa mestinya sang Kepala Sekolah adalah orang yang spesial.

Memang betul, Sosaku Kobayashi pernah mengenyam pendidikan di Eropa, satu hal yang langka bagi warga Jepang di masa itu. Dengan pemikirannya yang sudah terbuka, dia ingin menciptakan sebuah sekolah dasar yang menurutnya ideal. Dengan uangnya sendiri dia bangun Tomoe-Gakuen.

Walaupun dari hari ke hari anak-anak merasakan atmosfer lingkungan yang berbeda, mereka tetap dengan senang gembira bersekolah. Namun, Pak Kobayashi dan anak-anaknya akhirnya harus mengakhiri cerita indahnya. Ketika Perang Pasifik mulai berkecamuk dan bom mendarat di Tomoe. Tidak ada yang terluka. Tetapi Totto-Chan dan teman-temannya dievakuasi ke daerah lain. Sekolah itu tidak pernah terbangun lagi, dan sekitar 15 tahun kemudian, Pak Kobayashi meninggal dengan mimpi-mimpinya.

Sungguh berkesan pendidikan di Tomoe-Gakuen, sampai puluhan tahun kemudian, Tetsuko Kuroyanagi, yang di kemudian hari menjadi seorang Goodwill Ambassador UNICEF, secara rutin bertemu dengan teman-temannya setiap tahunnya. Mereka semua mempunyai kesan yang amat baik terhadap Tomoe, guru-gurunya, dan Pak Kobayashi.

Menurut saya, buku ini amat layak dibaca. Cerita setebal 208 halaman mengalir dengan mulus. Mungkin juga dikarenakan kualitas dari sang penerjemah, Dorothy Britton, yang menghabiskan masa kecilnya di Jepang. Bagi para orangtua, banyak nilai yang bisa diambil dalam mengasuh buah hati. Untuk para guru atau mereka yang bergelut di dunia pendidikan dasar, buku ini mengingatkan kita untuk mengembalikan anak kepada fitrahnya. Bermain, bercanda, dan bergembira.

Groningen, 29 Maret 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Resensi Buku: Totto-Chan: The Little Girl at the Window

  1. Saya sudah membaca buku ini, sudah membaca juga buku selajutnya, Tetsuko dewasa.
    Tapi paling terkesan memang buku Totto Chan kecil ini, banyak pembelajaran yang bisa diambil dari cerita-ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s