Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Anak sulung yang ideal

6 Comments

Bu. Uang yang saya keluarkan untuk biaya pendidikan adik-adik itu memang rejeki mereka. Hanya, Allah menitipkannya lewat saya.

Selain Rasullah SAW yang merupakan tokoh panutan abadi, saya ingin Kinan menjadi anak sulung seperti mas Hari, pakdhe-nya, kakak pertama saya.

Bapak dari dulu sering bilang, untuk bisa berhasil dalam mendidik anak, perlu syarat berupa tiga hal; orang tua yang punya visi, program pendidikan yang bagus (dan dana yang cukup), serta anak yang mau diajak bekerja sama (kooperatif). Bapak juga sering menekankan, bahwa dia dan Ibu beruntung memiliki mas Hari sebagai anak pertama. Tidak hanya berhasil meluluskan mas Hari sebagai seorang sarjana, tetapi dia sebagai anak sulung juga ikut membimbing adik-adiknya, sehingga kami semua bisa mengikuti jejaknya. Sebuah prestasi besar bagi Bapak dan Ibu, yang hanya lulusan SD dan tidak memiliki modal apa-apa. Baca: Pendidikan yang mengubah segalanya.

Saya tidak pernah iri dengan pujian itu, karena memang tidak berlebihan. Buat saya, mas Hari adalah sedikit manusia langka yang jejaknya patut dicontoh.

Mas Hari lahir di tahun keempat pernikahan Bapak dan Ibu. Sebetulnya dia adalah anak kedua, kalau mas Sugeng tidak meninggal saat masih berumur 3 bulan. Kondisi finansial Bapak dan Ibu ketika itu masih sangat memprihatinkan. Meskipun tidak berpendidikan, Bapak kami kemandiriannya tinggi. Tidak mau dia tinggal serumah dengan Kakek dan Nenek.

Bapak tidak ingin merepotkan orangtuanya yang sudah tua. Dia tahu, kalau masih tinggal dekat-dekat, mereka bakal sering mengirimi bahan makanan untuknya. Bapak pun lebih memilih untuk mendirikan gubuk bambu sederhananya di tanah milik saudara, yang lokasinya agak jauh dari orangtuanya. Keputusan semacam ini, sangat tidak lazim bagi keluarga Jawa di tahun 1960an. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kampung.

Di gubuk bambu itu mas Hari lahir. Tuhan memberinya kesehatan, walaupun asupan gizinya sangat minim. Jangankan susu formula, air tajin belum tentu bisa diberikan. Pasalnya, sampai lima tahunan usia pernikahannya, Bapak dan Ibu lebih sering mampu beli gaplek dibandingkan beras.

Berprestasi di sekolah

Kalau bukan karena karunia dari Allah SWT, tidak mungkin Mas Hari tumbuh menjadi anak yang pintar. Gizi tidak mencukupi, di rumah juga tidak ada yang mengajari. Bahkan TK pun dia tidak pernah. Namun nyatanya, sejak SD dia selalu menempati peringkat pertama. Tetapi layaknya orang desa, prestasi semacam ini tidak terlalu diapreasiasi. Awalnya Bapak hanya ingin mas Hari menjadi supir truk. Untungnya setelah merantau dan bertemu dengan banyak orang, pikirannya terbuka lebar. Bapak pun berencana untuk mengkuliahkan mas Hari. Sebuah keputusan yang luar biasa jika mempertimbangkan latar belakang Bapak. Baca: Cerita tentang Bapak.

Tidak hanya di bidang pelajaran, tangan mas Hari terampil, mestinya menurun dari Bapak. Sejak kelas 4-5 SD, dia sudah pandai membuat berbagai macam perangkat elektronik. Di rumah ada radio yang sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Radio itu dirakitnya dari scratch 32 tahun silam, saat dia kelas 1 SMP. Sampai sekarang pun, dia masih terampil bertukang, berkebun, mengecat dinding, dan membetulkan mesin mobil.

Melihat keterampilannya, dan setelah mendengar pidato Habibie soalnya kurangnya insinyur di Indonesia, Bapak berencana mengkuliahkan mas Hari ke Teknik Elektro. Gayung pun bersambut, Mas Hari lulus SMP dengan NEM kedua terbaik di Kabupaten Jember. Namun, rejekinya saat itu kurang baik. Dia ditolak masuk SMAN 1 Jember karena ada kebijakan rayonisasi.

Bersekolah di SMAN 1 Tanggul yang baru setahun berdiri, membuatnya tidak betah. Dia pun pindah ke SMKN 2 Jember, yang membuat harapan Bapak untuk punya anak sarjana pupus seketika. Namun, mas Hari memang ulet. Dia belajar sendiri dan akhirnya bisa diterima di Teknik Elektro-Universitas Brawijaya (UB).

Bapak bilang, kalau saat itu bisa sekolah di SMAN 1 Jember, mas Hari pasti bisa kuliah di ITB. Saya setuju sepenuhnya. Prestasi sekolah saya tidak pernah sementereng kakak saya itu, nyatanya saya bisa diterima di ITB. Hanya karena kurikulum SMK kala itu yang beda jauh dengan SMA, dia “hanya” bisa diterima di UB.

Saat kuliah, prestasinya pun berlanjut. Dia lulus sebagai sarjana terbaik, IPK nya 3,8. Saat sedang skripsi, Bapak melihat hanya ada 2 SKS dengan nilai C di transkrip mas Hari. Bapak bertanya, kenapa kok tidak diulang saja? Mas Hari menjawab, “Biarlah, Pak. Sebagai penghias di transkrip saya, biar tidak melulu A.”

Menjadi bapak kedua

Tumbuh dalam masa kecil yang serba kekurangan, dan melewati jaman SMK dan kuliah yang jauh dari kata mewah, membuat mas Hari menjadi pribadi yang tangguh. Walaupun sudah berlubang, dia tidak akan minta dibelikan sepatu baru sampai dimarahin Bapak. Pakaian pun dipilihnya yang paling sederhana.

Mungkin juga didikan orangtua yang membuatnya tangguh. Orangtua kami keras dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya, tetapi selalu memperlakukan kami selayaknya orang dewasa. Tidak ada keputusan yang diambil tanpa melalui diskusi dengan anak. Sehingga saat melakukan kesalahan, kami tidak sakit hati kalau dinasehati/dimarahi orangtua.

Untungnya, Ibu adalah pihak yang lebih sering bertutur ke anaknya. Walaupun sama tegas dan disiplinnya, Ibu selalu bisa menyampaikannya dengan lembut. Kami berempat tidak ingat Ibu pernah mendaratkan satu cubitan pun ke anak-anaknya. Baca: cerita tentang Ibu.

Saat mas Hari sedang kuliah itulah Ibu banyak-banyak berpesan kepadanya. “Modal Bapak dan Ibu habis untuk pendidikanmu. Saat adik-adikmu dewasa, bisa jadi orangtuamu ini sudah payah. Janganlah telantarkan mereka.”

Kalau bukan karena telatennya Ibu mendidik, tidak mungkin mas Hari menjalankan amanah itu dengan amat baik. Secara berturut-turut, mbak Eni, saya, dan Aan dibiayai sekolahnya. Bukan hanya sekedar membantu biaya SPP atau uang buku, mas Hari membiayai kami secara penuh!

Ibu adalah Ibu. Baginya kejujuran adalah yang utama. Dia berpesan ke mas Hari supaya selalu terbuka ke isterinya. Alhamdulillah, mbak Utjik bisa menerimanya dengan ikhlas. Setelah sekarang sudah berkeluarga, saya bisa terbayang pengorbanan yang dilakukan kakak saya itu. Bayangkan, ratusan juta keluar untuk adik-adiknya. Walaupun punya uang, apakah mudah menjelaskannya bagi isteri yang baru dinikahi?

Saking amanahnya, mas Hari tetap menjalankan pesan Ibu, bahkan saat orangtua kami pun sebetulnya sudah mampu, mas Hari tetap bersikeras untuk membayar biaya pendidikan kami. Dia ingin Bapak dan Ibu menikmati masa tuanya.

Ibu pernah cerita ke saya. Dia bertanya, apa mas Hari tidak pernah merasa menyesal telah keluar banyak uang untuk biaya adik-adiknya?

Mas Hari menjawab, “Bu. Uang yang saya keluarkan untuk biaya pendidikan adik-adik itu memang rejeki mereka. Hanya, Allah menitipkannya lewat saya.”

Saya meneteskan air mata mendengar cerita ini.

Contoh bagi adik-adiknya

Tidak hanya soal biaya. Kakak kami itu juga telaten mendidik adik-adiknya. Dulu waktu masih SD, kalau saya menyuruh Ibu untuk membelikan jajanan di warung, Mas Hari akan menegur saya. Menurutnya, saya harus mandiri untuk hal yang bisa saya lakukan sendiri.

Jika adik-adiknya bermewah-mewah, mas Hari akan menegur kami. Kesulitannya di masa lalu tidak membuat kami harus merasakannya juga. Tetapi menurutnya, kami harus selalu sadar bahwa kehormatan manusia itu letaknya bukan pada pakaian dan HP yang bagus. Tetapi karakter, kerja keras dan kejujuran yang selamanya melekat pada manusia. Sebuah sifat yang bertahan sampai sekarang umurnya 45 tahun. Dia tidak pernah malu “hanya” memakai mobil Avanza atau memakai HP Samsung murah. Walaupun sebenarnya kekayaannya sudah belasan milyar rupiah. Menurutnya semua itu hanya titipan dari Allah yang suatu saat akan diambil-Nya kembali.

Umur kami terpaut 16 tahun, dan sampai sekarang saya selalu segan dengan Mas Hari. Bukan karena takut, tetapi karena memang mas Hari adalah a man of his words.

Kalau dia bilang bahwa anak itu harus berbakti ke orangtua, dia dari dulu mengkoordinir adik-adiknya untuk selalu membantu orangtua, walaupun Bapak dan Ibu sudah lebih dari cukup. Entah itu biaya listrik, pulsa, atau apa pun. Mas Hari bilang bahwa dia tidak ingin kami dzolim ke orangtua dengan tetap membiarkan mereka bekerja di hari tuanya.

Kalau dia bilang bahwa orang miskin itu harus disantuni, dia selalu mencontohkan dengan perbuatan. Setiap kali ke Semboro, saudara-saudara kami yang miskin selalu diberinya sedekah. Saya juga tahu banyak anak-anak yatim yang dia bantu pendidikannya.

Kalau dia bilang bahwa manusia itu harus tidak berhenti belajar, Bapak bilang kalau mas Hari adalah orang yang paling teguh kemauannya yang pernah dia lihat. Sampai sekarang, dia masih rajin mengulik berbagai macam bahasa pemrograman, yang menjadi salah satu hobinya. Dia pun tidak segan untuk membuatkan aplikasi bagi bisnis pakaian istrinya.

Kalau dia bilang bahwa kami tidak boleh melalaikan ibadah, mas Hari tidak pernah tidak sholat berjamaah lima waktu di masjid. Saya tidak berlebihan. Dia memang ikut Jamaah Tabligh, sholat di masjid menjadi salah satu amalan mereka. Bapak bilang, waktu mas Hari berlibur 2 minggu di Semboro, tidak pernah sekalipun dia ketinggalan sholat berjamaah di masjid. Bahkan dalam usianya yang sudah kepala empat, mas Hari masih amat semangat untuk ikut program menghapalkan Al-Qur’an.

Kalau dia bilang bahwa akhlak itu penting, tidak pernah saya lihat mas Hari tidak berlaku lemah lembut ke orang. Bahkan saat saya sering menolak ajakannya untuk berjamaah di masjid, dia hanya tersenyum.

Karena itulah kami amat menghormatinya. Dan saya berharap kelak Kinan bisa seperti pakdhenya itu. Tidak hanya tumbuh menjadi anak yang pintar atau berprestasi, itu sudah biasa. Dia juga harus menjadi mercusuar yang menjadi panutan bagi adik-adiknya kelak.

Groningen, 11 April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

6 thoughts on “Anak sulung yang ideal

  1. baca tulisannnya mas rully membuat saya banyak merenung…hehe.sangat inspiratif sekali..
    terima kasih mas..

  2. sangat inspiratif tulisannnya mas…

  3. Google menuntun saya ke sini.
    Salam hormat untuk Mas Hari, Bapak, dan Ibu 🙂

  4. Sulung ….
    Dadi ileng karo masq …
    Maturnuwun masse ..

  5. Ceritanya inspiratif sekali. Saat membaca jadi teringat adik-adik di rumah. Terima kasih telah berbagi.

  6. saya jadi termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan dan berjuang melanjutkan pendidikan suami..

    Terima kasih sudah berbagi kisah ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s