Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kapan sebaiknya lanjut S-2/S-3?

2 Comments

“Apakah setelah lulus S-1 sebaiknya saya bekerja dulu atau lanjut kuliah S-2?”

“Kapan waktu yang paling baik untuk kuliah lagi?”

“Apakah saya perlu untuk kuliah sampai S-3?”

Saya cukup sering menerima pertanyaan semacam ini. Biasanya dari teman, junior waktu kuliah, maupun mahasiswa. Saya yakin tidak ada jawaban yang baku, karena perbedaan kondisi setiap orang bisa amat beragam. Tetapi, saya selalu berusaha menjawab dengan rule of thumb yang saya bikin sendiri. Untuk menemukan jawabannya, Anda harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Q1: Apakah berencana untuk jadi dosen/peneliti?

Jika sudah yakin ingin berkarir menjadi dosen atau peneliti (researcher), sebaiknya Anda segera sekolah lagi begitu lulus S-1. Tidak hanya lanjut S-2. Niatkan dalam hati untuk langsung meneruskan ke jenjang S-3 begitu dapat gelar magister. Untuk menjadi seorang dosen atau peneliti, Anda harus memiliki kemampuan untuk melakukan riset independen. Kemampuan itu didapatkan dari pendidikan doktoral.

Jika Anda menjawab tidak, lanjut ke pertanyaan kedua.

Q2: Saya belum punya bayangan tentang karir, tetapi masih ingin sekolah lagi

Tentukan dulu Anda ingin menjadi apa! Karir adalah profil kita untuk 30-40 tahun ke depan. Kuliah S-2/S-3 hanyalah salah satu cara untuk membentuk dan menghias profil itu. Jangan takut atau menunda untuk memikirkan rencana masa depan Anda. Kuliah lanjut itu makan waktu dan tenaga. Jangan sampai kelak kurang manfaatnya bagi karir kita. Apalagi jika ingin bekerja di Indonesia, kesempatan karir untuk lulusan S-2 atau S-3 tidak seluas di negara-negara maju. Sebaiknya, bayangan tentang karir itu sudah mulai dibangun sejak semester 7 atau semester 8 kuliah S-1.

Q3: Apakah ingin menjadi praktisi?

Ya. Saya ingin kerja di industri atau menjadi pengusaha. Bekerja sebagai birokrat juga menarik minat saya. Satu hal yang pasti, saya tidak ingin jadi dosen/peneliti.

Kalau begitu, kenapa Anda tidak bekerja dulu? Bekerjalah di perusahaan besar, atau di instansi pemerintah bagi yang ingin jadi birokrat. Kerja dulu selama 2-4 tahun, baru lanjut sekolah lagi. Bakal banyak manfaat yang didapat.

Pertama, Anda bakal punya kesempatan untuk mempraktikkan teori yang didapat di bangku kuliah. Kedua, membangun networking dan tahu seperti apa dunia nyata. Ketiga, dapat imbalan berupa gaji. Keempat, siapa tahu setelah bekerja jadi terbuka minat kita akan bidang kuliah yang lain.

Sebagai contoh, seorang lulusan S-1 Teknik Industri jika langsung lanjut ke jenjang magister, bidang S-2 yang diambil tidak akan jauh-jauh dari TI. Tetapi kalau sempat bekerja dulu, misal di bidang pengembangan produk, mungkin malah bakal ambil S-2 Marketing, untuk menunjang karirnya ke depan.

Q4: Apakah bekerja lebih dulu tidak membuat malas untuk nanti kuliah lagi?

Alasan yang tidak masuk akal. Menuntut ilmu itu adalah kebutuhan bagi setiap orang yang terpelajar. Jika memang sudah niat, Anda akan tetap punya semangat untuk kuliah lagi. Jika bekerja dulu 2-4 tahun, umur Anda masih 24-26, masih sangat muda dan memiliki semangat yang penuh. Lagipula, jika berprestasi di tempat kerja, bisa jadi Anda akan diberikan izin untuk cuti di luar tanggungan kantor. Artinya, saat selesai S-2, bisa kembali bekerja di kantor kalau mau. Enak bukan? Tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan lagi.

Jika baru S-2 di umur 24-26, ada kemungkinan saya sudah berkeluarga, apakah tidak merepotkan? Tergantung Anda, tidak juga kalau menurut saya. Selengkapnya, baca Mengapa Kuliah di Luar Negeri?

Q5: Apakah ingin sekolah hanya karena sedang ada kesempatan?

Kita tahu, sekarang sedang banyak sekali beasiswa S-2/S-3 yang tersedia (Baca: Ledakan beasiswa di Indonesia). Dari sebagian pelamar, mereka tertarik hanya karena sedang ada kesempatan, tanpa benar-benar tahu ingin jadi apa setelah lulus. Untuk kasus ekstrim, beberapa karena ingin sekali jalan-jalan ke luar negeri gratis. Menurut saya ini cukup disayangkan, penjelasannya ada di Q2 dan Q3.

Beberapa juga terkesan “menghindari” repotnya mencari pekerjaan dan menghadapi kenyataan di dunia kerja. Mari berpikir rasional. Pada akhirnya juga kita akan bekerja toh? Kerepotan itu memang harus dihadapi. Lagipula, banyak manfaat yang kita dapat dengan bekerja, seperti yang sudah dijelaskan di Q3.

Q6: Jika memang benar-benar ingin kuliah lanjut, apakah sudah dipikirkan segala konsekuensinya?

Oke. Anda benar-benar ingin segera lanjut S-2/S-3. Itu bagus, karena Anda punya niat yang menggebu-gebu. Kuliah lanjut juga pasti selalu ada manfaatnya. Saya mengajukan pertanyaan Q1 s/d Q5 hanya agar manfaat kuliah lanjut itu bisa seoptimal mungkin.

Namun di sisi lain, apakah sudah dipikirkan konsekuensinya? Salah satu hal mendasar, jika kuliah dengan beasiswa dari pemerintah (DIKTI, LPDP, SPIRIT, dll), sudah pasti Anda harus kembali ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu setelah selesai studi.

Pasalnya, mencari pekerjaan untuk fresh graduate dengan kualifikasi S-2 dan S-3 di Indonesia itu tidak selalu mudah. Apalagi untuk doktor. Kemungkinan yang ada adalah menjadi dosen atau peneliti di LIPI. Beda dengan di negara-negara maju, lulusan doktor banyak yang berkarir di industri. Sedangkan di Indonesia, masih langka industri yang punya lembaga riset berkualitas. Otomatis lulusan S-3 tidak bisa diterima dengan mudah di industri-industri nasional (Baca: Doktor LPDP dan Kerjasama DIKTI-BUMN).

Jadi jangan sampai karena di Indonesia kelak tidak mudah mencari pekerjaan, Anda jadi memutuskan untuk berkarir di luar negeri. Itu cukup konyol namanya. Mestinya kita tahu konsekuensi semacam ini sebelum memutuskan untuk studi lanjut.

Itu adalah sedikit panduan dari saya. Jika ada pertanyaan, saya akan dengan senang hati menjawab.

Groningen, 12 April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Kapan sebaiknya lanjut S-2/S-3?

  1. Halo, Kak Ruly. Saya Brenda, temennya Intan, hehe. Saya kebetulan lulusan geologi, Kak. Mungkin Kak Rully udah denger juga kabar industri migas dan tambang di Indo yg baru jatuh. Hasilnya banyak perusahaan yg release pegawai. Temen-temen saya cukup banyak yg kena release dan kebanyakan akhirnya lanjut sekolah lagi. Ada yg memang karena passion, ada juga yg karena terdesak kondisi karir migas di Indonesia yg amat sangat suram. Yg alasan ke-2 ini rata-rata mereka berharap saat nanti setelah selesai sekolah, keadaan di Indonesia sudah lebih baik sehingga mereka bisa bekerja lagi. Serba salah sih kami, Kak. Tetap kerja tapi akhirnya kena release, kalau nganggur ya sedih pasti, akhirnya sekolah lagi. Ini sebagai sudut pandang lain saja sih, Kak.

    • Halo Brenda. Betul, saya bisa bayangin kondisi teman-teman yang kerja di sektor migas. Kejadian khusus itu, force majeure. Jadi tidak ter-cover dalam rule of thumb yg saya tuliskan di artikel ini, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s