Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Perpustakaan Keluarga dan Budaya Literasi

Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu saya membuat basis data kecil-kecilan untuk mencatat buku saya, Intan, dan Kinan. Sebetulnya ini sudah dirintis sejak 2 tahunan yang lalu. Latar belakang proyek kecil ini cukup sederhana. Dulu waktu kecil, banyak buku dan komik saya yang hilang setelah dipinjam teman-teman. Jika tercatat dengan baik, hilangnya buku dapat diminimasi.

Basis data ini sederhana saja. Hanya berupa catatan menggunakan Google Spreadsheet. Berikut tautan dan contohnya.

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1RtkgDB8Z1q9y7lq11Im_PAVfliObQMM3swGQKhuWFrw/edit#gid=846508825

Basis data perpustakaan.

Basis data perpustakaan.

Jika ingin menemukan dengan cepat, bisa disaring “Kategori” di kolom F. Disitu bisa dipilih buku sesuai kategorinya yaitu Novel, Biografi, Sajak & Drama, Sejarah & Politik, Komik & Kartun, Children book, Agama, Psikologi, Parenting, Reference book, Travel guide, Bahasa, Akademik, dan Jurnal Akademik. Saya tahu ada pengelompokan yang baku menggunakan Dewey Decimal Classification. Tetapi untuk saat ini, saya putuskan belum terlalu sesuai dengan isi koleksi kami. Terutama dengan pertimbangan kemudahan penjelasan ke Kinan nanti saat dia sudah mulai diajari untuk mengelola koleksinya.

Ringkasan buku bisa dilihat di sheet “Statistik”. Saya menggunakan fungsi sederhana “COUNTIF”. Baru ada 315 buku di daftar ini. Berarti banyak juga yang belum semua terdata. Terutama buku-buku di kantor di Indonesia dan di rumah Bandung yang belum sempat tercatat. Makanya muncul kategori “Ada”, berarti belum jelas lokasinya dimana.

Dari statistiknya, buku-buku kami paling banyak berada di kategori “Komik & Kartun” (28,9%), “Novel” (16,5%), dan “Children book” (11,1%). Tentang penulis, di luar komik, saya paling banyak punya buku karangan Pramoedya Ananta Toer, sebanyak 14 buku.

Budaya membaca yang masih rendah

Saya memang ingin membiasakan Kinan untuk menyukai aktivitas membaca. Soalnya, menurut hasil penelitian, masyarakat Indonesia yang suka membaca itu tidak sampai 10%. Saya tidak mengira kalau angkanya sedramatis ini.

Menurut saya, akar masalahnya adalah di kebiasaan dan fasilitas. Waktu saya umur 2-3 tahun, kakak yang sudah jadi pelajar SMP sering membawakan Donal Bebek dan Bobo. Dari situ ketertarikan membaca mulai tumbuh. Mungkin karena capek membacakan, kakak mengajari saya membaca. Jadinya saya sudah bisa baca waktu umur 4 tahun. Walaupun saya baru lancar hitung-hitungan ketika kelas 3 SD (karena memang tidak tertarik).

Sampai sekarang, saya suka baca. Di luar komik, kartun, dan buku teks akademik, setahun saya baca belasan buku. Kalau Wikipedia, ini malah jadi candu, sehari biasanya saya baca sekitar 5 artikel. Ini belum apa-apa. Saya tahu ada beberapa teman (orang Indonesia) yang baca puluhan buku per tahun dan belasan artikel Wikipedia per hari.

Dari semua kenalan yang suka membaca, rata-rata memang terbiasa dengan buku sejak kecil. Memang membaca itu bukanlah bakat, tetapi harus dibiasakan sedini mungkin. Ini yang sulit. Buku anak yang berkualitas minimal seharga 50 ribu rupiah. Hanya keluarga kelas menengah yang dengan tanpa banyak pertimbangan bisa membelinya. Sedangkan perpustakaan daerah yang berkualitas, tidak tersedia di banyak tempat.

Paket buku untuk bayi di Belanda. Latar belakang adalah perpustakaan umum. Sumber gambar: http://www.bibliotheekaandevliet.nl/diensten/boekstart.html

Paket buku untuk bayi di Belanda. Latar belakang adalah perpustakaan umum. Sumber gambar: http://www.bibliotheekaandevliet.nl/diensten/boekstart.html

Di Belanda, sejak umur 3 bulan, Kinan sudah dapat kiriman paket buku gratis dari pemerintah. Lengkap dengan kartu anggota perpustakaan. Di setiap wijk (mungkin setara dengan RW) ada perpustakaan yang difasilitasi negara. Buku-bukunya bagus. Koleksinya lengkap mulai umur bayi sampai remaja. Setiap anak bisa pinjam buku dengan gratis. Bisa dikembalikan ke sebarang perpus yang ada di seluruh penjuru kota. Di rumah, Kinan juga kami belikan buku-buku, dan dibiasakan dibacakan buku setiap harinya.

Wajar saja kalau orang-orang Belanda gemar membaca, karena terbiasa dari kecil, dan ada fasilitasnya. Kalau orang Indonesia suka main ponsel, lumrah ditemui orang-orang disini baca buku di kereta, menunggu antrian dokter, atau di bandara.

Belum lagi di sekolah-sekolah Belanda, juga ada tugas baca. Sedangkan anak-anak Indonesia jaman sekarang lebih suka menonton dan mendengarkan Youtube di gadget. Ini cukup memprihatinkan.

Manfaat membaca

Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas (AMS) sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk minimal membaca 25 novel, menulis puisi, dan membuat 180 artikel selama 3 tahun sekolah, atau 5 artikel setiap bulannya.

Beberapa koleksi buku Kinan.

Beberapa koleksi buku Kinan.

Dengan persyaratan seperti ini, wajar kalau para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi-bahasa yang mumpuni. Meskipun seorang arsitek, Sukarno terkenal sangat mahir berbahasa, termasuk ketika membuat pledoi saat dipenjara di Sukamiskin. Contoh lain, bacalah autobiografi Mohammad Hatta, “Untuk Negeriku”. Tulisannya sangat bagus dan terstruktur, menunjukkan kecerdasan verbal yang tinggi dari penulisnya. Gugatan Hatta semasa muda kepada Pemerintah Belanda pun kelak dibukukan dan dikenal dengan “Indonesia Free”. Konon, Sutan Syahrir, M. Natsir, Nazir Datuk Pamoentjak dll pun memiliki kemampuan berbahasa yang setara.

Saya punya usul kepada Ditjen Dikdasmen. Daripada pelajaran Bahasa Indonesia hanya diisi dengan teori, yang ujung-ujungnya bikin mengantuk, mending siswa diberi tugas baca buku-buku karya penulis Indonesia, misal Pramoedya, Ahmad Tohari, Ayu Utami, Hamka, dll. Tapi gurunya juga harus ikut baca ya. Setelah tempo 1-2 minggu, siswa presentasi isi buku di depan kelas, dan kemudian dibahas bersama-sama oleh gurunya.

Mestinya metode ini bakal lebih menarik. Siswa jadi tertarik untuk belajar menggali realita dan isu sosial-sejarah yang dipaparkan di buku. Sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi anak-anak Indonesia juga.

Membaca itu penting bagi kemajuan pola pikir kita. Wawasan terbuka seluas-luasnya. Menurut penelitian, anak yang suka membaca juga jadi lebih mandiri dan lebih berani dalam mengemukakan pendapatnya.

Mari kita belajar berbahasa yang baik. Mari kita tanamkan kecintaan membaca dan menulis kepada anak-anak kita. Bangsa yang unggul adalah mereka yang gemar membaca dan menulis.

Selamat membaca!

Groningen, 13 April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s