Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Memaksimalkan Peran “Corporate University” BUMN

Leave a comment

Sudah hampir tiga tahun sejak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbondong-bondong membentuk “Corporate University” (Corpu). Beberapa yang telah membentuk Corpu adalah Telkom, Pertamina, PLN, Bank Mandiri, dan IPC.

Fenomena ini bagus, karena berarti BUMN semakin sadar akan pentingnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas bagi peningkatan kinerja. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita bisa membedah berbagai kemungkinan untuk lebih mengoptimalkan peran Corpu.

Riset di industri

Selain SDM yang unggul, hal yang tidak kalah pentingnya bagi peningkatan kinerja perusahaan adalah perbaikan yang berkelanjutan. Industri di negara-negara maju mengimplementasikan filosofi ini dalam bentuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Kegiatan ini tidaklah sederhana. Perusahaan menginvestasikan waktu dan dana yang besar untuk menjalankan fungsi ini. Para pekerja riset dengan kualifikasi doktor direkrut untuk menjalankan penelitian jangka panjang.

Mekanisme seperti ini belum lazim ditemui di perusahaan-perusahaan Indonesia, termasuk BUMN. Pengembangan yang selama ini kita kenal adalah pengembangan SDM dan inovasi dalam hal pemasaran. Sedangkan pengembangan produk, proses, dan jasa sangat jarang dilakukan oleh industri dalam negeri. Menilik ke BUMN, argumen ini pun terverifikasi dengan mudah. Berapa banyakkah BUMN yang mempunyai divisi khusus di bidang litbang? Kalau pun ada divisi yang menjalankan fungsi litbang, berapakah yang mengerjakan penelitian fundamental dan jangka panjang?

Hal ini patut disayangkan. BUMN seharusnya menjadi pionir industri nasional. Apalagi beberapa BUMN menangani bidang strategis. Contohnya adalah PLN, yang bergerak di bidang energi. Cukup miris melihat PLN masih kesulitan memenuhi kebutuhan energi nasional. Sementara di negara-negara maju, penelitian di bidang ini telah dilakukan oleh pelaku industri energi sejak tiga dekade yang lalu. Hasilnya, tidak hanya mereka mampu memenuhi kebutuhan energinya, bahkan energi bisa menjadi komoditas ekspor.

Maka dari itu, keberadaan Corpu bisa menjadi peluang agar BUMN mulai melirik aktivitas penelitian jangka panjang. Memang sekarang peran Corpu baru sebatas pada pengembangan SDM. Namun, jika diamati, sebetulnya Corpu banyak melibatkan unsur di luar BUMN. Hal ini didasari fakta bahwa meskipun kurikulum pelatihan SDM dirumuskan oleh Corpu, tidak mungkin semua materi bisa disediakan secara swadaya oleh Corpu.

Kerjasama dengan perguruan tinggi

Salah satu unsur luar tersebut berasal dari dosen perguruan tinggi. Hal bisa dimengerti, mengingat dosen memiliki kepakaran dalam masing-masing bidang keilmuannya. Selain itu, selama ini sudah jamak ditemui dosen yang menjadi konsultan di BUMN untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi perusahaan.

Dalam interaksinya, ide yang dibawa dosen ada yang menarik perhatian Corpu, sehingga terjalinlah kerjasama antara Corpu dengan perguruan tinggi (PT), umumnya dalam bentuk pelatihan dan penelitian. Hal ini bagus. Namun masih belum optimal karena pada umumnya penelitian masih bersifat jangka menengah, paling lama hanya untuk periode 1-2 tahun. Dengan periode sependek ini, bisa disimpulkan bahwa materi penelitian masih sama seperti kerjasama konsultansi yang selama ini dijalin BUMN dan PT, yaitu belum menyasar masalah penelitian fundamental.

Alangkah baik bila Corpu mulai melirik kerjasama penelitian fundamental dengan PT. Akan lebih baik lagi, jika Kemristekdikti turut dilibatkan dalam kegiatan ini, mengingat hal ini juga menjadi peluang besar bagi pemerintah untuk menggerakkan riset nasional dari sisi pelaku industri. BUMN dapat didorong untuk menjadi pelopor industri yang memiliki kegiatan penelitian yang handal. Di negara-negara maju pun, kegiatan penelitian bukan hanya tanggung jawab dari PT, melainkan juga dikerjakan bersama-sama oleh industri.

Corpu bisa menjalankan misi ini dengan duduk bersama PT untuk merumuskan penelitian jangka panjang yang akan dikerjakan. Kemudian, dana penelitian dapat diberikan kepada PT. Untuk menjamin bahwa hasil penelitian berkualitas, Corpu dapat mewajibkan PT untuk menggunakan dana tersebut untuk merekrut para mahasiswa doktor yang ikut mengerjakan penelitian tersebut. Melalui mekanisme seperti ini, semua pihak mendapatkan manfaat. Corpu mendapatkan hasil penelitian, PT bisa meluluskan doktor-doktor baru dengan dana non-pemerintah, PT bisa menambah jumlah publikasi ilmiah, serta dosen bisa terangkat kepakarannya dengan mengetahui praktik langsung di lapangan.

Di saat yang sama, Corpu dapat membuka lowongan bagi lulusan doktor untuk menjadi penelitinya. Doktor-doktor dari hasil kerjasama dengan PT, tentu juga potensial untuk direkrut menjadi peneliti.

Bisa jadi ide ini bakal membuat banyak pihak mengernyitkan dahi, meskipun sebenarnya mekanisme kerjasama ini sangat lumrah di negara-negara maju. Jika negara-negara maju bisa memetik hasil dari kerjasama semacam ini, kenapa kita tidak mencontohnya. Dari sisi pendanaan, kita optimis bahwa BUMN mempunyai sumber dana yang cukup. Tinggal masalah komitmen dari BUMN, PT, dan pemerintah. Perlu diingat bahwa tidak hanya SDM handal yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Melainkan juga perbaikan terus menerus dari produk, proses dan jasa mutlak dibutuhkan untuk dapat bersaing di lingkungan yang dinamis.

Groningen, April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s