Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Pentingnya Zakat dan Shodaqoh

1 Comment

Pagi ini terjadi diskusi yang cukup seru tentang besaran zakat dan shodaqoh di grup BBM alumni SMP. Diskusi ini membuat saya jadi merenungkan beberapa hal.

Saya tidak bermaksud untuk riya’. Di keluarga, kami selalu diajarkan untuk membagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Mas Hari yang paling banyak mencontohkan (baca: Anak sulung yang ideal). Selayaknya orang Jawa, saya tidak pernah secara langsung diberitahu harus begini-begitu. Hikmah kehidupan diberikan secara implisit dan harus dipelajari sendiri. Dari kecil saya sering sekali melihat Mas Hari, Mbak Eni, dan orangtua datang ke saudara-saudara dan tetangga-tetangga yang tidak mampu. Mereka silaturahim sekaligus memberikan sedikit uang, sebagai bagian dari zakat dan shodaqoh.

Kejadian-kejadian itu terekam baik di otak saya. Ketika sudah besar, saya pun berusaha mencontoh. Penghasilan saya sebagai seorang dosen itu tidak menentu seperti pekerja kantoran yang lain. Selain gaji yang datang tiap bulan, kadang turun honor dari proyek konsultansi, riset penelitian, atau honor saat diundang menjadi narasumber di kantor pemerintah. Setiap kali dapat uang, saya langsung potong minimal 2,5%. Uang perjalanan (SPPD) pun saya potong. Tidak lupa juga saat investasi saya berupa sapi, kambing, ikan gurame, dan angkot menghasilkan uang, langsung saya sisihkan alokasi untuk zakat. Supaya tenang dan tidak tercecer.

Sekarang sudah banyak lembaga penampung zakat yang kredibel. Walaupun itu adalah opsi yang mudah, saya lebih sering menitipkan uang zakat dan shodaqoh ke Ibu, untuk diberikan ke saudara dan tetangga yang berhak. Bapak dan Mas Hari selalu mencontohkan, lebih baik membantu orang-orang terdekat dulu sebelum membantu orang lain. Manakala punya garapan sawah/kebun, Bapak akan menyuruh keponakan-keponakannya dulu. Kalau mereka tidak bisa, baru mencari buruh tani yang lain. Lagipula, Islam juga menganjurkan hal yang sama, bukan?!

Saudara-saudara kami di kampung (Semboro, Jember) itu banyak sekali. Beberapa dari mereka berhak menerima zakat. Kalau kebetulan sedang di Semboro, Ibu akan menyuruh saya untuk memberikan zakat secara langsung, sekaligus silaturahim ke saudara. Saya amat bersyukur punya orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan hal-hal sederhana semacam ini. Datang ke rumah mereka yang kurang mampu, bakal membuat kita lebih punya empati dengan lingkungan sekitar, sekaligus menyemangati untuk bekerja lebih giat, supaya bisa membantu lebih banyak lagi.

Potensi besar zakat

Soal zakat ini, saya jadi ingat salah satu episode di serial Omar. Saat Rasullah SAW wafat, suku-suku di jazirah Arabia imannya masih lemah, banyak di antara mereka yang secara terang-terangan tidak mau membayar zakat. Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq mengambil langkah berani, memerangi pengemplang zakat. Langkah Abu Bakar ditentang oleh beberapa sahabat, termasuk Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf, yang punya argumen bahwa walaupun tidak berzakat, mereka masih sholat. Abu Bakar dengan amat tegas bilang, “Zakat adalah sesuatu yang diwajibkan di Al-Qur’an. Posisinya sama pentingnya dengan sholat!”

Begitu pentingnya zakat, karena nanti bakal masuk ke baitul maal (kas negara). Dari baitul maal lah Kekhalifahan Islam mengatur APBN nya. Baitul maal lah juga sumber dari tunjangan-tunjangan yang diberikan negara Islam untuk anak yatim, istri yang ditinggal suaminya ke medan perang, bahkan bagi umat agama lain yang tidak mampu! Bukankah ini adalah konsep yang dicontoh oleh negara-negara di Eropa Barat yang maju itu? Dengan pajaknya yang tinggi, pemerintah Eropa mengalokasikannya kembali untuk kesejahteraan masyarakat. Transportasi umum yang baik dibangun, taman-taman ditata dengan indah, pendidikan berkualitas, serta pelayanan kesehatan yang prima bagi warganya (baca: kesehatan di Belanda). Sesungguhnya Islam sudah mencontohkan cara yang benar, sayangnya Indonesia sebagai negara Muslim terbesar malah belum mengadopsinya secara menyeluruh.

Di Semboro saja, saya bisa membuat analisis sederhana betapa powerful-nya zakat jika dikelola dengan benar. Kampung halaman saya itu perekonomiannya ditopang oleh sebuah pabrik gula warisan Belanda. Setiap tahunnya, Pabrik Gula Semboro membutuhkan pasokan tebu dari sekitar 5.000 hektar lahan. Hampir semua lahan tebu dikelola oleh petani perorangan. Sekarang mari kita hitung.

  • 1 ha lahan tebu menghasilkan profit bersih sekitar Rp 1.000.000/bulan. FYI, bisnis tebu ini menghasilkan, low risk, tapi banyak orang yang belum tahu. Lain kali akan saya ceritakan.
  • Berarti di Semboro, total laba bersih lahan tebu adalah 5 milyar rupiah per bulan.
  • Kalau setiap petani tertib membayar zakat dan juga shodaqoh, katakanlah kita asumsikan sebesar 5% saja per hektar lahan.
  • Maka setiap bulan didapatkan zakat dan shodaqoh dari lahan tebu sebesar 250 juta rupiah.
  • Di Semboro terdapat sekitar 12.000 jiwa, atau sama dengan 3.000 Kepala Keluarga (KK).
  • Jika 1 KK yang tidak mampu mendapatkan bantuan Rp 1.000.000/bulan, maka bakal ada 250 KK bisa dibantu.

Lumayan bukan? Dari lahan tebu saja sudah ada 250 keluarga yang mendapatkan bantuan. Itu sudah hampir 10% dari total keluarga yang ada di kampung halaman saya. Belum lagi jika memperhitungkan kebun jeruk yang juga banyak bertebaran dan tidak kalah menguntungkannya dari kebun tebu. Kalau diperhitungkan semua sumber, sawah padi, kebun sayur, pedagang, PNS, dll, saya yakin zakat dan shodaqoh yang dikumpulkan bakal cukup untuk memberikan tunjangan bagi 25-30% bagi keluarga yang tidak mampu. Sebuah angka yang amat signifikan.

Supaya manfaat zakat bisa maksimal, syaratnya ada dua. Pertama, mereka yang mampu harus sadar dan disiplin untuk selalu mengeluarkan zakatnya. Zakat yang pertama, bukan beli gadget dulu baru setelahnya bayar zakat. Syukur-syukur jika malah bisa terpicu untuk shodaqoh. Tentang manfaat zakat dan shodaqoh, rasanya tidak perlu saya jelaskan. Jelas bakal membuat kita banyak bersyukur, dan makin sadar bahwa apa yang kita punya di dunia ini tidak lain hanyalah titipan-Nya. Syarat kedua, pengelola zakat harus amanah, korupsi jelas tidak diperbolehkan. Selain itu juga harus bijaksana, alokasi mana yang sebaiknya didahulukan. Apakah membangun fasilitas publik dulu, atau memberikan bantuan langsung.

Saat ini di Indonesia pengelola zakat itu adalah pemerintah, dan saya tidak hendak mengomentari kinerja pemerintah dalam memungut dan mengelola pajak. Satu hal yang jelas, saya yakin bahwa cara yang dicontohkan oleh Islam itu benar dan sudah terbukti nyata. Semoga kelak negara kita dapat meneladaninya.

Groningen, 21 April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Pentingnya Zakat dan Shodaqoh

  1. Menunggu postingan tentang bisnis tebu. Soalnya di kampung saya juga banyak yang bertani tebu :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s