Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kritik Sosial dalam Film Warkop

4 Comments

Mat Solar minta saran dari Indro bagaimana cara bercakap yang paling baik dengan pamannya yang sedang dirawat rumah sakit. Indro pun memberikan beberapa skenario percakapan.

“Gimana keadaan Paman sekarang? Banyak kemajuan?”, tanya Mat Solar.

“Kemajuan apa? Kalau begini, satu dua minggu lagi mungkin aku akan mati!”

Mat Solar yang agak budek tidak dapat mendengar jawaban Pamannya yang di luar dugaan. Padahal dalam skenario awal Indro memprediksi, karena sudah cukup lama dirawat, Pamannya itu pasti bakal menjawab, “Yah, udah banyak kemajuan, tinggal nunggu sembuhnya aje”. Mat Solar pun dengan amat percaya diri dan sambil tersenyum lebar menyahut sesuai hapalannya.

“Sukur, saya doakan biar makin cepat.”

Tentu sang Paman amat kaget, Indro tidak terkecuali. Tetapi karena gagap, dia tidak dapat membetulkan temannya yang terus nyerocos. Sialnya, jawaban-jawaban Pamannya tidak ada yang cocok dengan hapalannya. Jadilah dua sekawan itu diusir oleh Paman.

Itu adalah sepenggal adegan dalam film “Dongkrak Antik” (1982). Sebuah satir yang dikemas dengan amat lucu oleh Warkop DKI. Indro dan Mat Solar adalah simbol dari keadaan sosial masyarakat Indonesia saat itu. Budaya hapalan mati tanpa paham esensi ada dimana-mana. Mat Solar adalah representasi siswa sekolah yang menjejali otaknya dengan berlembar-lembar buku pelajaran. Indro pun juga valid untuk mewakili pemerintah yang “memaksa” rakyatnya untuk ikut pengayaan Pancasila dan UUD 1945, tanpa mengerti sesungguhnya apa makna dari sila per sila.

Tidak hanya lucu, tetapi juga cerdas. Penokohan Indro yang gagap, menunjukkan bahwa di saat kebebalan hapalan murid justru berbenturan dengan aplikasi di dunia nyata, guru pun ternyata selama ini juga sama dungunya dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pudarnya makna terpelajar

Sebelumnya di pertengahan film, Kasino yang berpura-pura menjadi mbah dukun mengerjai Paulus. Bosnya ini sedang bersaing dengan Dono untuk memperebutkan cinta sekretaris hotel, Sri Anunya (diperankan oleh Meriam Bellina).

“Cucuku punya saingan? Maju terus jangan gentar! Karena itu nyanyikanlah lagu Maju Tak Gentar dengan semangat!”

Keesokan harinya, Paulus benar-benar melaksanakan saran dari mbah dukun. Di perempatan yang ramai, dia memakai mantel, topi, dan payung saat siang hari bolong yang panas. Dibawanya tiga buah jeruk bali sambil merapalkan mantra-mantra dari Kasino. Tentu tidak lupa Paulus bernyanyi.

“Maju tak gentar membela yang benar / Maju tak gentar hak kita diserang.”

Trio Warkop, Mat Solar dan Anunya yang mengintip dari kejauhan kontan terpingkal-pingkal. Jebakan mereka sukses besar. Padahal sebelumnya Dono sempat pesimis dengan rencana Indro yang menginformasikan dengan persuasif tentang makam keramat ke bosnya itu. Dono beranggapan bahwa seorang yang berpendidikan tinggi seperti Paulus tidak mungkin percaya dengan hal-hal semacam itu.

Nyatanya, Paulus tidak hanya menyambangi makam keramat, dia juga dengan amat patuh melaksanakan semua instruksi konyol dari mbah dukun Kasino. Sebuah tamparan keras untuk kaum terpelajar di Indonesia yang di awal tahun 80-an jumlahnya sedang naik dengan signifikan. Keterpelajaran belum bisa melepaskan kita dari tindakan-tindakan yang tidak rasional.

Irasionalitas ini luas dimensinya, tidak hanya sebatas percaya dengan hal-hal mistis. Budaya pergi ke dukun mencerminkan sifat masyarakat yang suka menempuh jalan pintas [1]. Jauh bertentangan dengan ciri kaum terdidik, yang dengan sadar diri rela untuk bertekun bertahun-tahun menggunakan ilmunya demi menempuh tujuan hidupnya.

Trio Warkop dan Mat Solar pun adalah potret nyata kebanggaan semu dari kaum terpelajar. Mereka berempat diceritakan adalah para mahasiswa yang sedang magang di hotel. Selain adegan hapalan yang sudah diceritakan di atas, coba simak adegan di awal film saat Dono melayani pesanan minuman di bar hotel. Dono dibisiki seorang tamu lelaki yang minta ia untuk menuangkan obat perangsang ke minuman pacar si lelaki. Sebagai seorang mahasiswa pastilah dia mengerti dampak buruk dari obat itu, tetapi Dono amat apatis dan pragmatis. Dia masa bodoh akan hal itu, dan tetap mengantarkan minuman. Walaupun sempat berputar-putar kebingungan dulu, karena di film dia digambarkan sebagai seorang yang pelupa.

Pelawak terpelajar

Grup lawak Warkop yang terdiri dari Dono, Kasino, dan Indro memang unik. Lawakan mereka cerdas dan bernas. Saya sudah menonton 34 film Warkop, dan sampai sekarang tidak pernah bosan untuk mengulangnya. Kalau Anda hobi menonton komedi, lawakan Warkop memang beda dengan pelawak-pelawak yang lain seperti Srimulat, Jayakarta Grup, apalagi almarhum Olga Syahputra.

Cerdasnya lawakan Warkop bisa dipahami. Dono dan Kasino lulusan Universitas Indonesia, sedangkan Indro lulusan Universitas Pancasila. Ingat loh, di jaman itu lulusan sarjana tentu tidak sebanyak saat ini. Bahwa ada sekelompok anak muda lulusan universitas top yang memutuskan untuk jadi pelawak, itu sudah luar biasa.

Bagi mereka yang keburu punya stigma bahwa Warkop hanya menjual artis-artis cantik berbikini, cobalah menonton karya-karya di awal karier mereka pada medio 1979-1983, kita akan disuguhi tontonan yang bermutu dari film-film semacam “Mana Tahan” atau “Gengsi Dong”. Film-film Warkop di periode itu kental dengan idealisme mereka dalam bentuk kritik sosial. Film “Dongkrak Antik” yang dibahas di tulisan ini hanya menampilkan satu pemeran wanita, Meriam Bellina yang waktu itu masih berusia 17 tahun. Sepanjang film dia mengenakan baju yang sopan.

Kritik sosial dari Warkop lebih kentara lagi dalam kaset-kaset lawakan mereka. Saya punya beberapa kalau Anda mau pinjam. Kaset itu sendiri adalah usaha Warkop untuk menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai, setelah sebelumnya mereka sering berurusan dengan aparat polisi karena lawakan panggungnya yang dianggap banyak menyindir pemerintah orde baru [1]. Betul-betul bermutu kaset lawakan mereka, Warkop memang menargetkannya untuk golongan masyarakat yang berpendidikan tinggi. Sedangkan untuk film yang ragam penontonnya lebih luas, Warkop menurunkan idealisme lawakannya, dan banyak menambahi dengan komedi-komedi slapstik.

Walaupun demikian, kritik sosial yang diselipkan di film-film mereka tetap bermutu. Indro yang menjadi reporter TV membahas kenapa Indonesia tidak produksi mobil. Salah satu jawabannya adalah karena industri mobil membutuhkan banyak besi. Padahal, sekarang sedang digalakkan pengumpulan besi tua untuk ekspor cangkul dan golok. Ini adalah sindiran yang amat berani di masa itu, mengingat ketatnya sensor Orde Baru. Tidak cukup sampai disini, siaran Indro itu dilakukan di “Stasiun TV swasta Tegal”, sindiran tajam kaum muda yang bosan dengan TVRI, yang digunakan oleh penguasa sebagai alat propaganda.

Warkop pun melek dengan perkembangan dunia internasional. Indro yang bercanda bahwa turis hotel adalah pengungsi dari Perang Malvinas, dan dukun Kasino yang terbatuk-batuk dengan dalih kena asap setelah ikut jambore di Lebanon, adalah beberapa buktinya.

Sebagai penutup, ternyata kritik-kritik sosial Warkop lebih dari tiga dekade yang lalu itu masih relevan sekarang. Di tahun 2016 ini, pendidikan kita pun masih didominasi metode hapalan mati. Sedangkan soal mistis, ah rasanya sekarang malah makin banyak calon peserta pilkada yang datang minta jimat kesuksesan ke kiai.

Kondisi sosial masyarakat yang membuat kita miris. Entah harus bersedih, atau malah mengumpat seperti Dono,

“Yes, very djampoet, Madam!”

Groningen, 23 April 2016

Referensi:

[1] Kritik Sosial dalam Film Komedi: Studi Khusus Tujuh Film Komedi Warung Kopi (1980-187)

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Kritik Sosial dalam Film Warkop

  1. saya setuju kalau lawakan mereka banyak yang cerdas, dibanding yang sekarang ya….
    sayang tertutup oleh fokus ke cewe-cewe berbikini hehehe…jadi imejnya kadang ya begitulah..

    • Halo. Salam kenal. Betul, Warkop sendiri mengakui kalau untuk film, idealisme itu sulit sepenuhnya diterapkan. Penonton bioskop yang beragam latar belakangnya membuat berbagai “tambahan” disisipkan. Salah satunya ya cewe-cewe berbikini itu.

      Makanya cuma sekitar 10 film pertama saja yang kritik sosialnya masih kental terasa. Setelahnya, hanya sebagai sisipan.

      Tetapi kalau dengerin kaset-kasetnya, masih terus idealis kok mereka sampai di ujung karirnya. Segmentasi kaset lawakan Warkop memang dikhususkan untuk mereka yang berpendidikan.

  2. Dulu waktu kecil nonton warkop ketawa2 aja tanpa tau maknanya. Pas udah gede nonton lagi, baru deh sadar kalau lawakan mereka cerdas dan dapet bgt kritik sosialnya.. 😀 Oya, salam kenal mas Rully.. Baru main ke blog ini.. 🙂

    • Salam kenal, Dita. Sayangnya di lebih dari setengah film terakhirnya, kritik-kritik sosial itu makin hilang, dan diganti dengan slapstick atau cewek2 berbikini 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s