Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kemana Posyandu Kita?

Leave a comment

Kinan di Consultatiebureau

Kinan di Consultatiebureau

Di negara maju seperti Belanda, yang mana pelayanan kesehatannya diganjar sebagai yang terbaik oleh Euro Health Consumer Index (EHCI), pemantauan tumbuh kembang anak adalah hal yang mudah, murah, dan menyenangkan bagi setiap orangtua. Di setiap wijk (setara dengan rukun warga), pemerintah telah menyediakan consultatiebureau (CB), sebuah lembaga yang secara fungsional mirip dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Beberapa hari setelah kelahiran, perawat dari CB akan datang ke rumah untuk melakukan wawancara. Selanjutnya anak akan secara otomatis dijadwalkan kontrol rutin di CB pada usia 4 minggu, 8 minggu, 3 bulan, dan seterusnya sampai usia 3 tahun 9 bulan. Setiap kali kontrol, dokter CB memantau perkembangan berat dan tinggi badan, kemampuan motorik, sampai dengan kemampuan bicara. Imunisasi juga dijadwalkan secara rutin di CB.

Posyandu sebagai penjamin mutu kesehatan anak

Tidak hanya itu. Hal-hal yang sepertinya “remeh” juga diperiksa dengan cermat. Misalnya pola tidur dan kedisiplinan bayi dalam makan. Jika pertemuan rutin dirasa tidak mencukupi, orangtua dipersilakan datang saat “walk-in-hours” (inloopspreekuur).

Manakala terjadi dugaan akan perkembangan bayi yang tidak mengikuti standar, anak akan langsung dirujuk ke dokter spesialis anak (DSA). Kondisi yang mungkin terjadi misalnya dugaan akan hip dysplasia, masalah pendengaran, atau perkembangan berat badan yang stagnan. Tidak langsung dengan obat atau makanan ekstrak, DSA akan mengupayakan dulu cara sealami mungkin untuk mengatasinya. Disini dituntut peran dan kesabaran orangtua untuk terlibat aktif dalam problem yang sedang dihadapi anaknya.

Berbeda dengan di Indonesia, DSA dan dokter-dokter spesialis di Belanda hanya ada di rumah sakit pemerintah. Tidak ada DSA yang membuka praktik sendiri.

Semua bentuk pelayanan itu tidak dipungut biaya. Bahkan membetulkan gigi anak yang di Indonesia dianggap sebagai kosmetik, ribuan Euro (puluhan juta rupiah) biayanya ditanggung penuh. Sampai umur 18 tahun, setiap anak di Belanda secara otomatis akan terdaftar ke polis asuransi orangtuanya. Jika perusahaan asuransi sudah tidak mampu membayar, negara akan mengambil alih tanggung jawab pembayaran biaya pengobatan anak.

Tidak hanya gratis, negara juga giat memastikan bahwa prosedur pemeriksaan anak ke CB ini bukanlah sebuah opsi, melainkan kewajiban yang harus ditaati. Asisten CB akan menelepon saat orangtua lalai dengan jadwal kontrol rutin. Kelalaian yang terus-menerus malah bisa membuat orangtua dihadapkan ke meja hukum, karena dianggap tidak memberikan hak yang seharusnya didapatkan oleh anaknya.

Peran serta negara

Sementara di Indonesia, saat ini yang jadi tren adalah membawa anak ke DSA partikelir untuk mengontrol perkembangannya. Konon, sekali imunisasi saja orangtua bisa mengeluarkan biaya sebesar lima ratus ribu rupiah. Sebetulnya ini bukanlah semata pertanda baik bahwa jumlah kelas ekonomi menengah di Indonesia sedang meningkat. Justru yang harus kita tanyakan, dimana peran pemerintah dalam memastikan kesehatan bagi bayi-bayi Indonesia?

Sikap orangtua yang mengambil langkah mandiri dalam memantau kesehatan bayinya tidak bisa disalahkan. Tidak perlu membahas problematika vaksin imunisasi yang belum tentu selalu tersedia, atau keterampilan relawan Posyandu yang bertugas paruh waktu. Bahkan, informasi sederhana seperti jam buka, atau dimana lokasi Posyandu, rasanya tidak semua orangtua mengetahuinya.

Posyandu yang pada masa Orde Baru menjadi kebanggaan kita, sekarang semakin dilupakan. Padahal, dulu pemerintah memprakarsainya sebagai bentuk campur tangan negara untuk membuat anak-anak sehat dan kuat.

Di Belanda, tanpa adanya rekomendasi dari dokter CB, orangtua tidak akan bisa membawa anaknya kontrol ke DSA, walaupun mereka punya uang banyak untuk membayar biaya dokter. Ini adalah bentuk campur tangan negara untuk mengontrol perkembangan anak-anak di negaranya. Semua harus diinisiasi oleh dokter CB, untuk menjamin standardisasi pelayanan. Dengan kondisi di tanah air sekarang, variasi pelayanan antar DSA bisa beragam. Secara teori, jelas standar kesehatan setiap anak tidak bisa dikontrol.

Harus kita sadari bahwa membangun Posyandu yang berkualitas tidaklah mudah. Sebagai contoh, dengan asumsi yang sembrono, dimana satu Posyandu yang memiliki tiga pegawai penuh waktu ditugaskan untuk melayani satu desa. Maka untuk satu kabupaten berukuran sedang dengan 250 desa, biaya yang dikeluarkan untuk gaji pegawai saja sudah memakan biaya lebih dari 14 milyar rupiah per tahun. Angka ini bisa mencapai sepuluh persen dari APBD satu Dinas Kesehatan di kabupaten. Belum lagi biaya vaksin, obat, dan gedung. Belum lagi juga kalau Posyandu dialokasikan di setiap RW, seperti di Belanda.

Dengan ilustrasi sederhana ini bisa dibayangkan besarnya biaya yang dikeluarkan Belanda untuk membuat CB-CB yang berkualitas. Memang harus diakui juga, Belanda mampu melakukannya karena mereka punya dana yang cukup. Namun, tetap saja ini adalah usaha keras yang patut diapreasiasi dan dijadikan hikmah.

Belanda dan banyak negara maju lainnya, paham betul bahwa kesehatan anak-anak itu sangatlah penting. Untuk itu mereka tidak segan berinvestasi besar-besaran. Tidak masalah jika tidak memiliki batubara, kayu, atau sumber daya alam lain sebanyak di Indonesia. Selama bisa memastikan bahwa anak-anak kecilnya bertumbuh kembang dengan sehat, mereka kelak bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul, yang mampu mengantarkan negaranya menuju gerbang kemakmuran.

Groningen, April 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s