Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Bagaimana Belanda Memajukan Penelitiannya

Leave a comment

Seharusnya tidak ada perdebatan lagi bahwa kinerja penelitian kita memang masih memprihatinkan. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dari Kemristekdikti dan SCImago, sebanyak 5.000 makalah ilmiah telah diterbitkan di Indonesia pada tahun 2015. Indonesia memiliki sekitar 250.000 dosen. Dengan mengabaikan peneliti yang tersebar di berbagai lembaga penelitian dan Puslitbang Kementerian, maka rata-rata produktivitas menulis dosen hanyalah sebanyak 0,02 makalah per tahun.

Sebetulnya rendahnya produktivitas menulis ini cukup aneh. Selama studi doktoral di luar negeri, dosen-dosen kita rata-rata mampu untuk menghasilkan paling sedikit satu makalah ilmiah per tahun. Artinya, secara individual tidak ada yang salah dengan kapabilitas dosen Indonesia. Memang muncul beberapa pendapat bahwa rendahnya produktivitas menulis dikarenakan beban administrasi yang menumpuk. Namun kenyataannya, dosen-dosen senior yang tugas administrasinya relatif sudah berkurang, produktivitas artikel ilmiahnya pun tidak tinggi. Jika kemudian setelah kembali dari tugas belajar produktivitas menulis dosen menjadi mandek, kemungkinan kesalahan ada di sistem pengelolaan penelitian.

Sebagai kaum terdidik, dosen selalu bekerja berbasiskan metodologi. Artinya, jika semua tahapan diikuti dengan benar, hasil yang diharapkan bakal tidak terlalu jauh melenceng dengan yang diklaim oleh si pembuat metodologi. Begitu pula untuk kasus ini. Tulisan ini ditujukan untuk membahas sebuah “metodologi” pengelolaan penelitian yang mengacu kepada dunia pendidikan tinggi di negeri Belanda. Walaupun pasti ada variasinya, secara umum kaidah-kaidah pengelolaan penelitian di sana tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki budaya riset unggul.

Kriteria Belanda Indonesia
Durasi penelitian Jangka panjang, 2–5 tahun. Sebagian jangka panjang s/d 3 tahun. Sebagian terbatas di satu tahun anggaran.
Dana penelitian Euro 250 ribu – 1,5 juta (Rp 3,7 M – 22,5 M) per proposal. Rp 50 juta – 1 M per proposal.per tahun.
Keterlibatan mahasiswa S-3 Ya. Sebagai pekerja riset yang direkrut di awal mulainya penelitian. Gaji/beasiswa bulanan mahasiswa S-3 dibayarkan dari dana penelitian. Ya. Sebagai asisten riset yang mendapatkan sejumlah honor (bukan beasiswa bulanan) sesuai dengan ketentuan.
Honor bagi peneliti (dosen) Tidak termasuk dalam RAB. Tidak dimungkinkan diambil dari dana penelitian. Termasuk dalam RAB. Besarannya sesuai dengan ketentuan.
Kerjasama dengan institusi non-kampus (industri atau NGO) Sebagai prasyarat wajib di beberapa hibah. Industri atau NGO wajib memberikan dana atau kompensasi lain yang setara. Jarang ada prasyarat keterlibatan industri atau NGO dalam proyek penelitian.
Dana penelitian dari dengan institusi non-kampus (industri atau NGO) Cukup sering. Baik sebagai mitra yang menyokong sebagian dana penelitian, atau sebagai pemberi dana utama. Jarang. Biasanya industri atau NGO memberikan dana ke kampus sebagai kompensasi atas jasa proyek konsultansi/pelatihan yang telah diberikan dosen.

Penelitian jangka panjang

Semua kegiatan penelitian di Belanda berada di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan. Salah satu organ dari Kemdikbud Belanda adalah NWO (The Netherlands Organisation for Scientific Research). Setiap tahunnya, NWO menyalurkan sekitar 6 triliun rupiah dana riset bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Belanda.

Sesuai dengan filosofi riset yang merupakan sebuah proses bertekun dengan sabar dan teliti, NWO menetapkan bahwa penelitian dilakukan dalam jangka panjang, selama dua s/d lima tahun. Sebetulnya, DIKTI juga telah mengakomodasi penelitian multiyears, misalnya melalui skim PUSNAS dan RAPID. Walaupun untuk penelitian-penelitian desentralisasi, rata-rata masih terbatas dalam satu tahun anggaran.

Kita semua mafhum bahwa terbatasnya waktu penelitian adalah sebuah hambatan besar. Tidak hanya minimalisnya hasil yang didapat karena seringkali penelitian baru dimulai bulan April, terkadang dosen juga lebih sibuk mengurusi bon-bon pengeluaran dibandingkan penulisan makalah ilmiah.

Dibandingkan skim hibah DIKTI yang mencapai belasan, bisa dibilang NWO menganut pakem yang lebih sederhana. Hibah dikelompokkan sesuai dengan bidang ilmu. Selain itu, ada pembagian berdasarkan besaran dana. Veni untuk dosen yang baru lulus PhD alokasinya sekitar 3,7 M rupiah, Vidi untuk dosen dengan pengalaman menengah, dan Vici untuk para senior bisa mendapatkan gelontoran dana sampai dengan 22,5 M rupiah. Dana penelitian yang besar membuat NWO amat selektif dalam menyeleksi proposal. Kalau memang tidak ada proposal yang layak, grant tidak akan diberikan, walaupun NWO masih memiliki sisa anggaran.

Dari perspektif besarnya dana, sebetulnya DIKTI juga membiayai riset yang anggarannya sampai 1 M rupiah per tahun. Namun, masih ada juga skim dimana dana terbatas hanya sebesar 50 juta rupiah. Kecilnya dana membuat peneliti sulit untuk mengharapkan hasil riset yang optimal. Apalagi untuk bidang ilmu yang melibatkan banyak pembelian bahan yang diperlukan dalam percobaan ilmiah.

Honor & keterlibatan mahasiswa doktoral

Dua hal yang jelas menjadi pembeda antara pengelolaan penelitian di Belanda dan Indonesia adalah mengenai posisi mahasiswa S-3 dan pengaturan honor dalam hibah riset. Di Indonesia, dosen bisa memasukkan komponen honor peneliti di RAB hibah. Tidak ada yang salah dengan hal ini, karena memang ada aturan resminya dari DIKTI. Di Belanda, seorang dosen tidak bisa mendapatkan honor satu Euro pun walaupun dia mendapatkan grant Vici dari NWO sebesar 1,5 juta Euro. Umumnya di Eropa Barat dan Skandinavia, gaji dosen menganut sistem fixed-remuneration sebagaimana yang pernah dibahas di tulisan saya sebelumnya.

Penelitian

Interaksi antar pelaku penelitian di Belanda. Garis merah putus-putus menunjukkan hubungan yang dimaksud tidak terjadi di sistem pengelolaan penelitian di Indonesia.

Jika tidak bisa mendapatkan honor, lantas apa kompensasi yang didapatkan dari hibah riset yang diperoleh? Dosen bisa menggunakan anggaran hibah untuk membeli peralatan bagi laboratoriumnya, mendanai konferensi ilmiah, dan yang terpenting, merekrut mahasiswa doktoral sebagai pekerja riset.

Peraturan di Belanda menetapkan bahwa untuk setiap hibah (baik dari NWO maupun institusi lain), harus ada komponen gaji (full-time) untuk pekerja riset di RAB. Maka, saat hibah didapatkan, dosen akan membuka lowongan untuk posisi sebagai mahasiswa S-3 atau post-doc. Mereka bakal menjadi periset yang bekerja selama durasi penelitian. Gaji bulanannya sendiri dibayarkan dari RAB hibah. Gaji inilah yang kita sebut sebagai beasiswa. Mahasiswa S-3 dan post-doc juga mempunyai hak untuk membeli buku serta mengikuti konferensi internasional, anggarannya diambil dari dana hibah.

Bisa dibilang, komponen terbesar dari RAB hibah adalah untuk membayar gaji mahasiswa doktor dan postdoc. Mempertimbangkan bahwa dosen tidak mendapat honor, apakah sistem semacam ini menguntungkan? Tentu saja. Hal yang terpenting, gaji dosen di Belanda sudah mencukupi untuk hidup layak. Jadi tidak perlu mencari “tambahan” dari sumber lain. Selain itu, dengan dilibatkannya mahasiswa S-3, dosen bakal mempunyai peneliti yang bekerja penuh waktu. Otomatis, hasil riset bisa dijamin. Hasil ini penting, karena merupakan salah satu bahan evaluasi bagi dosen untuk mendapatkan tenure atau naik jabatan fungsional.

Sedangkan dalam hibah DIKTI, kompensasi yang didapatkan mahasiswa S-3 (pascasarjana) adalah honor sebagai asisten peneliti. Artinya, beasiswa mereka tidak dibayarkan dari dana hibah. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa keselarasan riset seorang dosen di Indonesia masih belum terlalu teratur. Di Belanda, dosen menulis proposal riset, mendapatkan hibah, baru kemudian merekrut mahasiswa untuk mengerjakan topik riset tersebut selama 3-5 tahun. Di Indonesia, yang lebih sering terjadi adalah mahasiswa S-3 sudah memiliki topik riset sendiri. Kemudian nanti saat mendapatkan hibah DIKTI, riset doktoral mahasiswa tersebut dicocok-cocokkan dengan topik hibah riset yang diperoleh pembimbingnya.

Baru-baru ini DIKTI meluncurkan sebuah skim khusus dimana seorang guru besar bisa mengajukan hibah yang digunakan untuk membiayai pendidikan dan riset beberapa mahasiswa doktoral, mirip dengan skim hibah di Belanda. Apakah semua hibah DIKTI bisa diarahkan kesini? Menurut saya tidak semudah itu. Sebagian besar dosen kita kualifikasi pendidikannya masih magister, bagaimana mungkin bisa membimbing mahasiswa S-3. Kalau pekerja riset diganti menjadi mahasiswa S-2 atau S-1 juga tidak mungkin. Sifat dari skripsi sarjana dan tesis magister bukanlah seperti disertasi doktoral yang dikerjakan dalam jangka waktu panjang, sehingga kualitas dan keberlanjutannya sulit dijamin.

Kerjasama dengan industri

Seperti layaknya di negara-negara maju, penelitian di Belanda lekat aplikasinya dengan praktik di lapangan. Beberapa hasil penelitian berhasil dikonversikan menjadi produk maupun kebijakan publik. Wujud dari eratnya dunia praktik dengan penelitian adalah investasi besar industri dan NGO untuk kegiatan R&D. Pada umumnya, lulusan S-3 di Belanda justru lebih banyak yang bekerja di industri daripada yang menjadi akademisi. Fenomena semacam ini belum ditemui di Indonesia. Sangat jarang industri di dalam negeri yang merekrut para doktor sebagai pekerja riset.

Jalinan kerjasama antara industri, NGO dan perguruan tinggi tidak datang begitu saja. Mayoritas lembaga pemberi hibah riset menetapkan prasyarat adanya kerjasama antara dosen pengusul dengan industri/NGO. Tidak hanya berupa kertas kesepakatan kerjasama, industri/NGO yang terlibat harus mau memberikan uang tunai atau cash-in sebesar minimal 10-15% dari total RAB yang diajukan. Tanpa bisa memenuhi syarat-syarat tersebut, NWO tidak akan memberikan hibah.

Syarat kerjasama dengan mitra ini luas implikasinya. Dosen harus bersedia untuk repot-repot menghubungi industri/NGO serta meyakinkan mereka untuk memberikan dana riset. Sebagai ilustrasi, untuk dana riset Veni, uang tunai/cash-in adalah sekitar 400 juta rupiah. Nominal ini jelas bukanlah angka yang sedikit. Untuk itu, dosen harus mampu mengedukasi industri akan pentingnya kegiatan riset bagi kemajuan bisnis mitranya tersebut.

Industri-industri di Belanda memang sudah berada pada tahap pemikiran yang maju. Tidak hanya berkontribusi sebagai mitra, mereka juga tidak jarang bertindak sebagai sponsor utama yang memberikan dana riset yang mencapai ratusan ribu Euro. Topik-topik “pesanan” industri bisa jadi adalah permasalahan yang baru dipredikasi akan muncul dalam dua puluh tahun dari sekarang.

Untuk hibah DIKTI, walaupun belum menjadi mayoritas, beberapa skim hibah memang telah menetapkan prasyarat yang serupa. Namun, aktivitas penelitian memang belum menjadi sesuatu yang lazim di industri. Selain jarangnya industri yang memiliki fungsi R&D yang berorientasi jangka panjang, kita tidak bisa menutup mata bahwa mayoritas “kerjasama” antara dosen dengan industri masih berbentuk proyek konsultansi. Dosen diminta untuk menjadi tenaga ahli dalam masalah jangka pendek yang dihadapi oleh perusahaan. Jelas, aktivitas semacam ini walaupun menambah pengalaman (dan juga pendapatan) dosen, kontribusinya terhadap kemajuan penelitian tidak terlalu signifikan. Indikatornya yang paling mudah, artikel ilmiah yang berkualitas sulit diharapkan dari sebuah proyek konsultasi yang umumnya dikerjakan hanya dalam tempo 4-8 bulan.

Kesimpulan

Dengan sistem pengelolaan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, Belanda memiliki capaian yang amat mengagumkan. Di tahun 2015 saja, dosen-dosen Belanda yang sebanyak 10.000 orang itu telah menerbitkan 50.000 makalah ilmiah. Artinya, produktivitas mereka adalah lima artikel per dosen per tahun.

Meskipun terbukti sukses, sistem yang dianut negeri kincir angin tidak serta merta bisa diadopsi untuk mengelola penelitian di Indonesia, karena terhadap beberapa hambatan. Diantaranya telah disebutkan di atas, seperti kompetensi sumber daya manusia, keterlibatan mahasiswa doktoral, dan iklim riset di indusri. Hal-hal tersebut memerlukan pembahasan lebih lanjut.

Selain itu, perlu diketahui bahwa saat ini LPDP telah meluncurkan program Riset Inovatif Produktif (RISPRO) yang skemanya sangat mirip dengan skim riset NWO Belanda. RISPRO merupakan hibah penelitian multi-years, dana per proposal bisa mencapai dua miliar rupiah, dan melibatkan mitra industri. Hanya keterlibatan mahasiswa doktoral yang tidak menjadi atribut dari RISPRO. Beberapa dosen telah memanfaatkan RISPRO dan harus diakui bahwa ini merupakan angin segar bagi dunia penelitian di Indonesia. Patut kita tunggu bagaimana dampak skim ini bagi kinerja akademik nasional.

Pada akhirnya, usaha untuk memajukan penelitian di Indonesia perlu dilakukan oleh segala insan yang terlibat di urusan ini. Perlu kita ingat, kegiatan-kegiatan penelitian yang dikelola dengan baik dapat mengantarkan sebuah bangsa menuju kemakmuran.

Groningen, 8 Mei 2016

Rully Cahyono

Penulis adalah dosen di Institut Teknologi Bandung, sekaligus kandidat doktor di Universitas Groningen, Belanda. Tulisan adalah pendapat pribadi.

Referensi:

  1. Netherlands, Academic Career Structure, http://www.e889pui.eu/ProgrammesAndFellowships/AcademicCareersObservatory/AcademicCareersbyCountry/Netherlands.aspx, diakses 8 Mei 2016.
  2. The Dutch Academic Job Market for Americans and Other English Speakers, http://theprofessorisin.com/2013/05/13/the-dutch-academic-job-market-for-americans-and-other-english-speakers/, diakses 8 Mei 2016.
  3. Innovational Research Incentives Scheme, http://www.nwo.nl/en/funding/our-funding-instruments/nwo/innovational-research-incentives-scheme/index.html, diakses 8 Mei 2016.
  4. Program Hibah Dikti, http://www.lppm.itb.ac.id/?page_id=19, diakses 8 Mei 2016.
  5. Pedoman Riset Inovatif Produktif (RISPRO), http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/wp-content/uploads/2013/09/Pedoman-Riset-Inovatif-Produktif-RISPRO.pdf, diakses 8 Mei 2016.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s