Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kebetulan?

Leave a comment

Di sekitar saya saja, banyak sekali “kebetulan” yang terjadi.

Saya

Bulan September 2008, tugas akhir (TA) saya sudah selesai setelah dua bulan berkutat dengan notasi matematis dan Visual Basic. Saya sudah mendapat tanggal untuk sidang sarjana. Saat itu, saya sudah mempunyai beberapa alternatif setelah lulus:

  1. Bekerja di perusahaan Fast-moving consumer goods (FMCG) yang menjadi salah satu destinasi kerja favorit lulusan Teknik Industri (TI). Saya sudah melewati tahap wawancara akhir.
  2. Bekerja di salah satu perusahaan konsultan asing yang juga menjadi favorit anak TI. Saya masih harus wawancara dengan user.
  3. Bekerja di BUMN regulator pangan yang salah satu kasusnya menjadi topik TA saya. Saya malah sudah disodori kontrak lengkap dengan rincian gajinya.

Tidak disangka-sangka, tiga hari sebelum sidang saya sakit. Rupanya kerja terus-menerus sepanjang bulan Ramadhan ditambah pola hidup yang kurang baik selama kuliah membuat organ dalam bermasalah. Usus dan lambung saya pecah. Jadilah saya harus bed-rest selama empat bulan penuh.

Wisuda Oktober 2008 pun melayang. Setelah itu, hubungan dengan orang yang saya kira bakal menjadi pendamping hidup mulai merenggang. Akhirnya kami benar-benar berpisah jalan.

Saya baru bisa sidang di bulan Januari 2009 dan sebetulnya, dua dari tiga opsi pekerjaan di atas masih bersedia menunggu. Namun, saya jadi agak ragu dengan masa depan. Di saat seperti itu, seorang dosen yang cukup dekat dengan saya bertanya,

“Rul, kamu berminat jadi dosen?”

Setelah berpikir masak-masak, akhirnya saya mengiyakan. Saya mendaftar S-2 dengan beasiswa dari kampus. Selama studi magister saya bekerja sehingga alhamdulillah sama sekali tidak minta uang dari orang tua sepeser pun. Saat itu juga saya bertemu dengan Intan yang akhirnya saya nikahi di tahun 2012. Di tahun yang sama saya diterima menjadi PNS dosen dan beberapa bulan kemudian berangkat S-3 ke Belanda.

Karena sebuah “kebetulan” sakit parah, saya batal menjadi seorang eksekutif. Tetapi karena sebuah “kebetulan” juga saya menjadi seorang akademisi. Sebuah pekerjaan yang ternyata amat saya sukai dan cocok dengan passion. “Kebetulan” itu juga yang menuntun saya bertemu dengan jodoh dan membuat kami punya anak di Belanda. “Kebetulan”lah yang juga membuat Kinan mendapatkan perawatan optimal akan penyakitnya yang langka. (baca: “Kebetulan yang sudah diatur”).

Bapak dan Ibu

Sekitar tahun 1972, Bapak dan Ibu bercerai. Waktu itu mas Hari (kakak pertama) masih belum genap dua tahun. Bapak tetap di Semboro. Sedangkan Ibu yang terlalu malu untuk kembali ke Nganjuk, merantau dan bekerja di Surabaya.

Tahun 1973-1975, Bapak menikah lagi, mas Hari diasuh ibu tirinya. Selama itu, seorang senior di kampung yang cukup Bapak segani karena kealimannya, berkata kepadanya,

“Kamu tidak seperti dulu lagi. Sepertinya kamu tidak akan bahagia kalau tidak bersama Tarisah (nama Ibu). Saranku, jemputlah dia di Surabaya.”

Bapak dan Pakdhe pun menjemput Ibu di Surabaya. Ibu hanya mau rujuk kalau istri Bapak yang sekarang diceraikan. Tanpa disangka, Bapak mengiyakan. Mereka rujuk, tahun 1976 mbak Eni lahir. Sepuluh tahun kemudian saya lahir dan sembilan tahun kemudian giliran si bungsu Aan yang lahir.

Mungkin Bapak jahat dengan menceraikan istrinya saat itu, karena toh sebetulnya dia adalah perempuan yang baik. Tetapi karena “kebetulan” saat itu Bapak “jahat”, mbak Eni, saya, dan Aan bisa lahir. Tanpa sebuah “kebetulan” itu juga, mas Hari bakal diasuh ibu tirinya, dan bisa jadi mas Hari tidak sesukses sekarang. Saya yakin, salah satu faktor penting yang membuat mas Hari dan adik-adiknya bisa sukses sekolah sampai pendidikan tinggi adalah karena didikan dari Ibu di rumah (baca: “Pendidikan yang mengubah segalanya” dan “Hadiah untuk Ibu”).

Kakek

Kakek saya namanya Djais, dia lahir sekitar tahun 1870 atau 1880. Waktu usianya sekitar 35 tahun, dia menikah dengan perempuan yang namanya Nyai Ti. Selisih usia mereka lebih dari 20 tahun. Di masa itu, wajar jika seorang perempuan yang masih berusia belasan tahun sudah dinikahkan.

Menurut cerita, Djais and Nyai Ti ini saling mengasihi, karena pada dasarnya sifat keduanya cocok. Bapak bilang kalau Kakek adalah orang yang amat sabar, begitu pula Nyai Ti.

Lebih dari dua puluh lima tahun mereka hidup saling menyayangi. Hanya sayangnya, mereka tidak punya anak. Kakek tahu kalau Nyai Ti lah yang mandul (mungkin di bawa ke dukun). Walaupun punya beberapa anak angkat, tetap saja fitrah seorang manusia membuat kerinduan untuk memiliki anak kandung tetap menggebu. Seperti menggebunya rasa rindu Nabi Zakariya a.s. akan hadirnya seorang putera, seperti yang dikisahkan di Surat Maryam.

Seperti Soekarno yang memberanikan diri untuk minta izin kawin dengan Fatmawati, karena Inggit Garnasih tidak kunjung memberinya keturunan, Kakek pun sama. Dia menyampaikan pikirannya ke Nyai Ti. Sama pula seperti Inggit, Nyai Ti dengan berlinang air mata tidak bersedia dimadu. Djais pun tidak kurang linangan air matanya, karena sebetulnya dia enggan berpisah dengan istrinya.

Akhirnya mereka pun berpisah. Kakek memberikan beberapa hektar sawah dan belasan ekor sapi, kerbau dan kambing untuk Nyai Ti. Djais yang saat itu sudah lewat 60 tahun usianya menikah dengan Supeni yang masih di awal umur 30 an. Beberapa tahun kemudian, Nyai Ti juga menikah lagi, tetapi tidak mempunyai anak sampai dia meninggal.

Tidak lama, Kakek dan istrinya yang baru mempunyai anak. Itulah Pakdhe. Jadi, Kakek baru punya momongan saat dia hampir 65 tahun. Tiga tahun berikutnya, Bapak lahir. Ketika Lik Dar (adik Bapak yang paling kecil) lahir, usia Kakek sudah lebih dari 80 tahun.

Kalau bukan karena “kebetulan” Kakek dan Nyai Ti yang sudah puluhan tahun saling mencintai berpisah, anak keturuannya tidak bakal lahir. Termasuk juga saya tidak akan ada di dunia ini.

Menyikapi kebetulan

Atas semua kebetulan-kebetulan itu, yang saya yakin juga banyak terjadi di sekitar Pembaca, sebaiknya kita berpikir. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga. Manusia terkadang malah sombong menganggap usahanya semata yang bakal menentukan nasibnya. Namun, sebagai insan yang beriman, kita percaya ada takdir Tuhan yang bisa membelokkan rencana kita. Tidak perlu bersedih hati saat harapan tidak menjadi kenyataan. Buruknya hasil hanya dari kacamata manusia, tetapi bagi Tuhan, itulah skenario yang terbaik. Buruknya hasil bisa jadi adalah ajang yang telah disediakan-Nya supaya kita dapat menempa diri menjadi lebih baik lagi.

Maka dari itu, sejak kecil Ibu selalu mengajari anak-anaknya berdo’a,

“Ya Tuhan kami. Sesungguhnya kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Apa yang kami inginkan belum tentu yang paling bermanfaat bagi kami, maka berikanlah apa yang Engkau anggap terbaik bagi kami. Dan ajarkanlah kami untuk menjadi orang-orang yang tawakkal dan berserah diri.”

Groningen, 17 Mei 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s