Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Resensi Buku: To Kill a Mockingbird

4 Comments

To kill a mockingbird

“You never really understand a person until you consider things from his point of view. Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

Lewat penuturan seorang Jean-Louise “Scout” Finch yang berumur enam tahun, Harper Lee menceritakan dengan amat baik dua problematika yang mungkin tabu untuk dibicarakan secara terang-terangan oleh orang dewasa; rasialisme dan perkosaan. Mengambil setting di kota Maycomb tahun 1930-an saat terjadi “Great Depression” di Amerika Serikat, cerita berputar pada Scout, abangnya Jeremy “Jem” Finch, dan ayahnya yang seorang pengacara, Atticus Finch.

Melalui pemahaman Scout yang polos, pembaca akan disuguhi bagaimana mengerikannya kebencian antar ras (putih dan hitam) saat itu. Dengan mudahnya, berbagai macam prasangka (prejudice) dapat diajukan ke orang-orang Negro, walaupun itu belum tentu benar. Prasangka jugalah yang membuat warga Maycomb memberikan stigma negatif ke Atticus (paling kentara adalah sebutan “nigger-lover“), yang ditunjuk oleh pengadilan untuk membela Tom Robinson, seorang negro yang dituduh memperkosa Mayella Ewell, anak dari Bob Ewell, seorang pemabuk, yang selama ini dicap sebagai sampah masyarakat.

Hanya karena Keluarga Ewells berkulit putih, warga kota kehilangan rasionalitasnya. Walaupun di pengadilan Atticus secara heroik membuktikan bahwa Tom tidak bersalah, dan tuduhan the Ewells adalah tidak lebih dari sebuah upaya untuk menutupi kebobrokan keluarganya sendiri, juri tetap menjatuhkan hukuman mati. Semudah itu! Nasib seseorang sudah ditentukan karena dia lahir dengan warna kulit yang tidak sama dengan golongan yang sedang memegang kekuasaan. Getirnya rasialisme sampai membuat seorang Jem yang beranjak remaja, yang ingin meniru jejak karir ayahnya, kehilangan kepercayaan terhadap sebuah pengadilan. Sebuah ironi terjadi di sebuah institusi, yang oleh Atticus disebut sebagai tempat yang seharusnya, “all men are created equal.

Munculnya sang mockingbird

Di antara berbagai proses pengadilan Tom Robinson, Harper Lee dengan lancar menceritakan berbagai kejadian yang disaring oleh observasi Scout. Paling kentara adalah bagaimana Atticus yang bisa dibilang adalah seorang tokoh bapak yang ideal, mendidik Jem dan Scout untuk menjadi pribadi-pribadi yang adil yang bertanggung jawab. Atticus yang ditinggal mati istrinya, mengambil banyak hikmah dari berbagai kejadian sehari-hari di kehidupan mereka. Salah satu contohnya adalah bagaimana Jem yang benci setengah mati dengan Nyonya Dubose, malah disuruhnya membacakan buku cerita untuk orang tua yang sedang sekarat itu. Atticus ingin mengajarkan anaknya bahwa kemarahan bukanlah cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Selain itu, Scout yang tomboy karena besar tanpa figur seorang Ibu, juga harus berdamai dengan bibinya yang tukang mengatur, Alexandra Hancock, karena menurut Atticus, bagaimanapun keluarga adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Interaksi Scout dan Jem dengan beberapa tetangganya yang sudah dewasa pun disajikan dengan segar, namun tetap penuh dengan pesan moral. Paling kentara adalah “hubungan” antara dua anak itu, dan juga teman mereka, Dill Harris, dengan tetangganya Arthur “Boo” Radley, seorang yang terkenal sebagai anak cerdas di masa mudanya, namun setelah sebuah kenakalan remaja yang sebetulnya masih wajar, dia dengan sengaja mengucilkan diri (recluse) selama bertahun-tahun untuk alasan yang orang-orang tidak pernah mengetahuinya dengan pasti.  Begitu pentingnya posisi Boo, Harper Lee memberikannya porsi peran yang penting sejak awal cerita, walaupun dia tidak pernah menampakkan dirinya keluar rumah.

Nyatanya, anak kecil pun penuh dengan prasangka, tidak terkecuali Scout, Jem, dan Dill yang punya berbagai dugaan mengerikan terhadap Boo. Namun, tidak diduga-duga, justru Boo-lah yang menyelamatkan nyawa dua bersaudara Finches. Bob Ewell yang harga dirinya merosot drastis setelah kebohongannya ditelanjangi Atticus di ruang sidang, menjadi gelap mata. Untuk membalaskan dendamnya ke Atticus, dia ingin menghabisi Scout dan Jem seusai mereka berdua pulang dari acara Halloween di sekolah. Beruntung bagi dua anak itu, Boo datang di saat yang tepat, mereka bisa terselamatkan, dan dalam perkelahian, Bob mati tertusuk pisau yang sedianya bakal ditikamkan ke kedua korbannya.

Setelah Atticus berdikusi dengan sheriff (kepala polisi), akhirnya mereka memutuskan untuk mempercayai bahwa Bob tidak sengaja menusuk dirinya sendiri. Bukan hukuman yang mereka takutkan bakal diderita oleh Boo, justru apreasiasi warga kota akan kepahlawanan Boo yang Atticus dan sheriff khawatirkan. Boo yang sudah bertahun-tahun dalam pengasingannya, tentu akan kaget saat orang-orang berduyun-duyun menemuinya untuk memujinya atas keberaniannya. Atticus menganggap itu sebagai sebuah dosa untuk membunuh seorang mockingbird (semacam burung pipit) seperti Boo.

Saat mengantarkan Boo pulang ke rumahnya, untuk kemudian tidak pernah berjumpa lagi, Scout memahami maksud ayahnya. Seekor mockingbird tidak pernah mengganggu manusia, dia hanya ingin bersiul dan melakukan apa yang dia suka, untuk itu, seharusnya ia tidak diganggu. Setelah mencoba berpikir dari perspektif Boo, anak itu merasa bahwa sebenarnya selama ini pengasingan penyelamatnya itu tidaklah terlalu menyedihkan. Itulah pelajaran yang diterima Scout Finch, seperti yang disampaikan di dalam quote di awal tulisan ini. Bahwa apa pun yang orang lain lakukan, prasangka kita belum tentu benar, bisa jadi malah mereka yang kita beri prasangka, suatu saat menjadi bintang penolong kita. Untuk itu, tidak perlu terlalu mencampuri urusan orang lain.

Penutup

Sebagai penutup, buku ini amat saya rekomendasikan untuk dibaca. Sejak halaman pertama, saya tidak bisa untuk tidak mengalokasikan 1-2 jam di setiap hari untuk membaca lanjutannya. Sekitar 300 halaman saya habiskan selama 2 minggu, dan semuanya adalah page-turner.

Sejak pertama kali terbit di tahun 1960, “To Kill a Mockingbird” telah meraih banyak penghargaan, diantaranya adalah Pulitzer Prize yang prestigius itu. Selama puluhan tahun, buku ini telah menjadi bahan bacaan siswa-siswa sekolah di AS, walaupun juga muncul beberapa kritik, diantaranya adalah topik yang terlalu vulgar bagi anak-anak, seperti perkosaan dan ungkapan-ungkapan kebencian rasialis. Apapun itu, saya jamin Anda tidak akan menyesal jika membaca buku ini.

Groningen, 27 Mei 2015

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Resensi Buku: To Kill a Mockingbird

  1. ngantri minjeemm

  2. Buku yang menarik. Lbh baik yg bahasa inggris atau indo ya? Yg indo terjemahannya baguskah?

    • Saya ngga baca edisi bhs Indonesia-nya. Pasti lebih bagus dalam bahasa aslinya. Saya selalu baca buku dalam bahasa aslinya (Inggris) selama masih memungkinkan untuk dibeli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s