Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Diskusi Makan Siang

Leave a comment

Hari Senin saya janjian makan siang dengan Mas Ronny Prabowo di kantin Hanzehogeschool Groningen. Saya cukup sering makan siang dengan Mas Ronny sejak kami sama-sama menjadi Pengurus PPI Groningen tahun 2013/2014. Mungkin karena kami berdua sama-sama dosen, kami cukup senang berdiskusi tentang pernak-pernik pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) dan pendidikan tinggi (dikti). Siang hari itu pun, kami mendiskusikan beberapa hal berikut ini:

Poin 1

Sertifikasi guru apakah sudah efektif dalam meningkatkan kualitas dikdasmen? Para lulusan terbaik SMA masih lebih tertarik untuk masuk jurusan teknik, ekonomi dan hukum alih-alih kuliah di perguruan tinggi eks IKIP. Sepertinya “kebanggan” dengan menjadi seorang guru belum terlalu tinggi. Kalau memang ini akar masalahnya, mungkin Kemdikbud bisa belajar dari program “Indonesia Mengajar”, yang kebetulan juga diluncurkan oleh Mendikbud yang sekarang. Dengan remunerasi yang tidak jauh berbeda dengan guru konvensional, IM berhasil menarik para lulusan terbaik dari seluruh Indonesia. Perlu dicari tahu apa “kebanggaan” dari IM yang dapat dimplementasikan ke pengelolaan guru SD/SMP/SMA.

Poin 2

Banyak orang berpendapat bahwa Indonesia perlu menerapkan metode dikdasmen seperti di negara-negara maju; misalnya di Finlandia, dimana siswa lebih banyak mainnya dibandingkan belajarnya. Apakah ini bisa efektif? Orangtua dari anak-anak Finlandia sudah makmur. Jadi kalau punya waktu luang, mereka bisa memakainya untuk kegiatan positif, misal hobi. Di Indonesia, dengan rata-rata penghasilan yang pas-pasan, masih syukur kalau waktu luang dipakai untuk mencari penghasilan tambahan. Tetapi kalau malah dipakai untuk nongkrong atau kegiatan yang negatif?

Poin 3

Pak Anies Baswedan punya program untuk mengirimkan guru-guru SD studi banding ke Thailand, Filipina, Malaysia. Mengapa nanggung? Kualitas pendidikan dasar negara-negara Asia Tenggara masih biasa saja. Harusnya sekalian digarap dengan serius. Kumpulkan guru-guru terbaik dari seluruh Indonesia, walaupun jumlahnya hanya sedikit. Bebas tugaskan mereka selama 4 tahun. Dua tahun pertama untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa negara tujuan, dua tahun berikutnya kirim mereka untuk ikut mengajar di SD-SD di negara-negara Eropa barat dan Skandinavia yang pendidikan dasarnya maju. Pulang ke Indonesia, mereka bisa menjadi kepala sekolah atau pembuat kebijakan dikdasmen.

Poin 4

Kemampuan berbahasa orang Indonesia sangat kurang. Jangankan terbiasa menulis dengan kosakata yang kaya, dosen pun masih sering sering salah dalam menulis kata yang sepele, misal “disitu” atau “dari pada”. Di jaman sekolah Belanda, siswa SMA diwajibkan untuk menulis 180 artikel selama 3 tahun sekolah, atau rata-rata 5 artikel per bulan, dalam 4 bahasa (Belanda, Jerman, Inggris, Perancis). Wajar kalau Soekarno, Hatta, dan Syahrir kemampuan menulisnya tidak kalah dengan pengarang-pengarang di jaman sekarang. Sekarang, belum tentu siswa sekolah dapat tugas menulis 5 artikel berbahasa Indonesia dalam 1 semester. Akar permasalahan yang lain adalah juga rendahnya minat orang Indonesia untuk membaca.

Poin 5

Dalam ilmu ekonomi, investasi itu bisa untung, bisa juga rugi. Perhatian utama seorang penanam modal adalah pada return yang didapat, bukan pada besarnya dana yang diinvestasikan. Jadi seharusnya DIKTI/LPDP tidak perlu terlalu bangga sudah mengirimkan banyak karyasiswa (termasuk dosen) ke luar negeri. Belum ada analisisnya, apakah “investasi” DIKTI/LPDP itu bakal menguntungkan. Contoh, dosen yang kuliah di LN, apakah produktivitas menulisnya lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dosen yang kuliah di DN? Untuk karyasiswa LPDP, apakah nanti sudah ada program di Indonesia bagi para alumninya?

Poin 6

Sertifikasi dosen tentu memberikan dampak finansial yang positif untuk setiap dosen. Dari awalnya kaum “Oemar Bakrie” di PT hanya mendapatkan gaji pokok dan tunjangan fungsional, sekarang dosen juga mendapatkan serdos yang besarnya sama dengan gaji pokok. Namun secara kelembagaan, apakah ada dampaknya yang signifikan? Serupa dengan poin (5), apakah setelah diterapkannya serdos, kinerja pendidikan tinggi dan penelitian di Indonesia telah meningkat? Kalau tidak ada peningkatan yang signifikan, jangan-jangan pendapatan yang sudah mencukupi pun bukanlah solusi untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.

Poin 7

Penghasilan dosen di Indonesia itu belum tentu kurang seperti yang didengungkan selama ini. Selain gaji (termasuk serdos), masih ada honor penelitian, proyek konsultansi dengan BUMN/Kementerian/Pemda/swasta, dll. Di LN, gaji dosen memang besar, tetapi ingat, pajaknya tinggi, dan mereka juga tidak bisa menambah 1 Euro pun dari kegiatan-kegiatan sampingan seperti dosen di Indonesia. Apalagi, biaya hidup di LN tinggi. Mungkin “flat & fix remuneration” seperti di Eropa menarik untuk diterapkan di Indonesia.

Poin 8

Dosen pindah antaruniversitas seperti di US/Jepang/Eropa itu banyak manfaatnya. Diantaranya adalah distribusi expertise dosen dan budaya kampus yang lebih egaliter. Namun, untuk saat ini, hal itu amat sulit untuk diterapkan di Indonesia. Di tanah air, lowongan hanya ada untuk posisi “dosen”, tidak pernah misalnya ada lowongan untuk posisi “associate professor” atau “full professor”. Selain itu, di Eropa dosen gampang pindah karena meskipun mereka mengajar di PTN, statusnya bukanlah PNS.

Poin 9

Indonesia ingin meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan penelitiannya. Namun, mengapa pengelolaan ristekdikti di tanah air seolah tidak mau belajar dari negara-negara yang pendidikan tingginya maju? Sebagai contoh, penilaian jabatan fungsional dosen menggunakan sistem “kum”. Manakah di antara US, Kanada, Jepang, Eropa, dan Australia yang juga menggunakan sistem “kum”?

Groningen, Mei 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s