Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Toleransi Tanpa Medsos

2 Comments

Kampungku itu kecil saja, kira-kira terdiri dari sekitar 2.500 rumah tangga. Layaknya kampung-kampung lain di republik ini, ekonomi desa pas-pasan. Kebanyakan penduduk bekerja hanya untuk hari itu saja. Upah yang didapat seorang suami di sore hari, besok pagi sudah habis untuk belanja istri di pasar. Kalau ada sedikit sisa uang, bakal dengan cermat disimpan untuk uang seragam nanti di awal tahun ajaran baru.

Laki-laki dan perempuan, mayoritas bekerja sebagai petani. Lebih tepatnya buruh tani, karena selama puluhan tahun, yang memiliki sawah hanya beberapa keluarga yang itu-itu saja. Sebagian lagi menjadi pegawai pabrik gula yang usianya sudah hampir seabad. Asapnya yang bunyinya tut-tut warnanya hitam, sesuram produktivitasnya. Dari jaman aku suka mengambil tebu dua puluhan tahun yang lalu sampai saat ini, efisiensi pabrik warisan Belanda itu bakal membuat seorang insinyur geleng-geleng kepala.

Toleransi dan kerukunan

Walaupun miskin dan tidak berpendidikan tinggi, Sukarno dan Muhammad Yamin pasti amat bangga dengan desaku. Pasalnya, tanpa pernah diajari, kami selalu mengamalkan sila ketiga Pancasila. Puluhan tahun kenal dengan desaku, belum pernah kudengar ribut-ribut dikarenakan SARA. Justru, orang-orang selalu berusaha untuk dengan bijak menjunjung persatuan di tengah keberagamannya.

Ya. Tanah kelahiranku itu memang beragam. Umat Muslim menjadi mayoritas, tetapi semua umat agama lain ada disitu. Golongan minoritas yang terbesar adalah umat Nasrani. WNI keturunan Tionghoa hampir semua masuk ke golongan ini. Walaupun menguasai perekonomian, wong-wong Cino itu tidak pongah. Mereka berbahasa Jawa dan berbaur dengan masyarakat.

Salah satu kejadian besar di kampung adalah saat ada yang meninggal dunia. Ketika itu, warga desa bakal berbondong-bondong untuk melayat. Termasuk juga Koh Wan (bukan nama asli), salah satu orang yang terkaya di kampung. Tidak hanya takziah, dia seringkali membawakan bambu. Kalau dilihatnya orang-orang sedang sibuk, tanpa segan-segan bambu itu dipotongnya untuk kemudian dirakit menjadi usungan mayat. Padahal sehari-harinya pria itu punya puluhan anak buah yang bekerja di berbagai tokonya.

Sedangkan umat Nasrani yang dari suku Jawa, tanpa paksaan siapapun, sejak puluhan tahun yang lalu mendirikan perkampungan yang terpisah. Hanya di kampung itu mereka mendirikan gereja. Teman-teman sekolahku banyak yang berasal dari situ. Aku sering main ke rumah mereka, dan aku selalu berhati-hati dengan anjing-anjing piaraan mereka.

Karena amat membaurnya, tetangga-tetangga yang Nasrani bakal datang ke rumah saat kami merayakan Idul Fitri. Tetapi mereka tidak pernah mengundang kami saat Natal. Mungkin menghormati kami. Hanya sekali aku pernah dapat undangan Natal. Orangtua teman-teman sekolahku mengundang Natalan ke gereja. Aku yang masih bocah ingin datang. Namun Bapakku melarang, karena urusannya dengan akidah. Aku sampaikan itu, mereka bisa menerima dan tidak mempermasalahkan. Setelahnya kami tetap bermain bersama-sama.

Huru-hara medsos

Kerukunan di kampungku itu jelas tidak unik. Puluhan ribu desa di Nusantara pasti punya kearifan lokal yang serupa. Bukti empirisnya mudah. Negara yang relatif homogen saja, seperti Kerajaan Prusia dan Kerajaan Belanda-Belgia bisa terpecah belah. Jangan lupakan juga jazirah Arabia yang di jaman Nabi sudah disatukan, sekarang terpecah menjadi belasan negara. Padahal, mereka sama-sama orang Arab yang beragama Islam. Kalau tanah air tidak rukun, sudah sejak lama setiap daerah minta merdeka. Indonesia terdiri dari ribuan etnis dan enam agama, itu kita tidak boleh lupakan.

Dengan modal kerukunan yang amat kuat, sepatutnya kita heran mengapa justru sekarang orang-orang kurang mengapresiasinya. Memang tidak semua orang, hanya mereka “penduduk” media sosial. Saat ini bermunculan banyak ahli. Tanpa perlu membaca buku, hanya membaca satu artikel, sudah merasa menjadi seorang pakar. Kemudian tanpa konfirmasi lebih lanjut, berita disebarkan. Begitu seterusnya sampai berita menjadi viral dan tidak terkendali.

Masyarakat Indonesia yang budaya membacanya rendah, memanfaatkan medsos dengan kurang bijak. Medsos yang merupakan media tulisan dianggap seperti komunikasi lisan. Padahal, tanpa adanya tatap muka, komunikasi tertulis bisa misinterpretasi.

Menjadi arif

Kalau orang kampung aktif ber-medsos, mungkin Koh Wan yang rajin takziah dan orang-orang Nasrani yang silaturahim saat Lebaran bakal mendapatkan banyak komentar. Entah yang miring karena menduga mereka punya maksud tertentu, atau yang positif memuji toleransinya. Ah, itu semua untuk apa? Komentar negatif bisa berkembang liar tak terkendali. Koh Wan juga tidak perlu pujian untuk menjalankan aksinya. Tanpa pujian pun, orang-orang kampung sudah punya kearifannya sendiri, tanpa perlu ada yang mengajari atau mengomentari.

Oiya. Kalau tahu di kampungku itu warung-warung dari dulu selalu buka saat bulan Ramadhan, mungkin juga bakal ramai dibahas di medsos. Padahal belum tentu yang mengomentari itu tahu keadaannya seperti apa. Ulama di tempat kami dari dulu sudah berusaha. Tetapi, sangat sulit untuk melarang orang makan di warung, saat -maaf- masih banyak orang main ke pelacuran di bulan puasa.

Membenahi akhlak umat yang dari dulu dilakukan para pemuka agama di tempat kami, memang usaha itu belum berhasil. Setiap permasalahan mempunyai karakteristiknya masing-masing, dan memahami itu tidak semudah dengan membaca dan menganalisis satu artikel yang didapat di medsos.

Marilah kita bersikap bijak. Pikirkan dan renungkan baik-baik sebelum berkomunikasi di medsos. Kerukunan dan toleransi bukanlah sebuah kondisi yang kita dapat dengan cuma-cuma. Ada jerih payah dari generasi di atas kita. Tentu amat disayangkan kalau usaha itu kita sia-siakan hanya karena menuruti nafsu untuk ber-medsos.

Orang-orang kampung itu mengajari kita banyak hal tentang kerukunan dan toleransi. Menurutku seperti itu. Entah bagi orang lain.

Groningen, 26 Juni 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Toleransi Tanpa Medsos

  1. tulisan yang bijak. betul saya banyak membaca banyak tulisan mrk yg kelihatannya witty penuh kritik sosial, latar belakangnya juga kebanyakan dari luar negeri, tapi sayangnya kurang bijak melihat dari banyak sisi. hanya melihat apa yang ingin dilihat. kalau di medsos banyak yg sifatnya penggiringan opini…dari halus sampai frontal.

  2. Lagi-lagi yg perlu digaris bawahi adalah budaya membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s