Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kartu Nama (cerpen)

Leave a comment

Tidak pernah kuduga kedatanganku ke kampung halaman kali ini bakal mempertemukanku dengan kejadian yang cukup luar biasa. Awalnya aku hanya mampir untuk menjenguk Ibu, setelah kebetulan kantor menugaskanku untuk menjalin kerjasama dengan universitas di J. Ibu yang setelah jadi janda bersikeras tidak mau ikut tinggal dengan anak-anaknya, sore itu tidak menyambutku dengan keriangannya yang biasa ia tunjukkan ketika bertemu dengan anak dan cucunya.

Aku khawatir isteriku sudah lapor ke Ibu perihal pertengkaran hebat kami beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka yang tidak bisa kutebak maknanya, Ibu bilang,

“Melayatlah ke Widi. Dhuhur tadi dia meninggal setelah minggu lalu ditembak polisi. Kau masih ingat bukan rumahnya dimana?”

Tidak perlu dijelaskan kekagetanku. Tentang Widi, Ibu sudah sering menyampaikan salam dari teman masa kecil itu. Setiap kali datang ke Desa S, Ibu tidak kenal bosan menegurku supaya menemuinya. Sebuah anjuran yang tidak pernah aku laksanakan, dengan alasan rasa lelah setelah perjalanan dari B, atau waktu yang habis untuk memenuhi rengekan anak-anak yang minta diantar jalan-jalan di J.

Telanjur malu dan menyesal karena tidak pernah sempat bertemu, aku bergegas pergi tanpa minta penjelasan lebih lanjut ke Ibu tentang tertembaknya Widi. Lagipula, aku tidak ingin mendengar lanjutan berita yang lebih mengguncangkan hati.

Kakiku melangkah cepat menyusuri pinggir sungai. Kulirik sekilas, rasa-rasanya airnya dua kali lebih pekat dibanding dua puluhan tahun yang lalu. Namun kerimbunan belukar di bantarannya tidak berkurang. Dulu saat berangkat sekolah aku sering bergelantungan di akar belukar yang agak kokoh. Satu tanganku yang bebas mencari ketam yang sedang naik ke darat. Sampai di rumah Widi, hasil buruan aku bagi dengannya. Di kelas kami bakal menaruhnya di bangku teman-teman perempuan. Manakala sudah bosan berbuat usil, binatang kaki sepuluh itu kami simpan baik-baik. Seusai sekolah, bakaran daun-daun kering yang habis disapu penjaga sekolah menjadi kuburan mereka. Rasanya gurih. Bakal makin nikmat kalau digarami.

Sampai di gang-gang sempit, aku tahu tujuanku sudah dekat. Sebetulnya di kampungku tidak lazim jika antar rumah saling berdesakan, karena masih banyak lahan kosong. Hanya ada satu permukiman padat. Orang menyebutnya “kamaran”. Belanda dulu membangunnya sebagai hunian buat pegawai rendah pabrik gula. Rumah Widi ada di tengah segerombolan rumah mungil yang dulu kami kenal sebagai kamar tikus.

Bendera kuning berkibar di depan rumahnya. Kulihat tembikar di teras tidak berubah dari jaman aku sering bermain disitu. Di dekat kandang kambing, para pemuda sibuk membuat usungan bambu. Binatang-binatang itu tidak berhenti mengembik. Seperti tahu kalau tuannya telah pergi.

Melewati kerumunan pelayat, mataku bertemu dengan Lik Nah, emak Widi. Dengan canggung dia terima salam ciumanku di tangannya.

“Begitu kebetulan kau sedang di S, Yon. Sudah begini gagah dirimu sekarang,” Lik Nah menegurku dengan senyum yang dipaksakan. Tampak jelas matanya masih lebam.

Aku hanya tersenyum dan menjawab sekenanya. Kupandangi raut mukanya yang menurutku jadi tampak sangat tua. Langsung aku tersadar kalau terakhir kali kemari adalah waktu Lebaran belasan tahun yang lalu. Saat itu juga mestinya aku kali terakhir bertemu Widi dan Emaknya.

Lik Nah mengantarkanku melihat jenazah Widi. Kupandangi wajahnya yang tampak tenang. Di antara dua alisnya tampak bekas luka dulu waktu pertandingan sepakbola antar sekolah. Sikutan pemain lawan membuatnya dapat empat jahitan. Bagaimanapun juga, Widi membangkitkan memoriku di masa kecil. Hanya yang tidak kumengerti, perasaanku datar. Tidak ada genangan air mata di pelupuk mataku.

Sayang jenazahnya telah rapi dibungkus kafan. Walaupun dengan kasak-kusuk, tidak dapat kutemukan jejak tato atau pertanda kebadungan lain yang membuatnya layak ditembak polisi.

Seolah memahami isi pikiranku, pelayat-pelayat yang lain sedikit demi sedikit menjelaskan kejadiannya. Beberapa tidak lain adalah teman-teman sekolahku juga. Dengan kikuk seolah berbicara dengan orang yang baru dikenal, mereka bilang kalau Widi sudah setahun ini berjualan CD di Kota M. Cukup lumayan hasilnya, sampai gedek di dapur Emaknya bisa digantinya dengan tembok.

Malang tak dapat ditolak. Polisi menemukan narkotika di kedainya. Barang haram itu terselip di salah satu CD. Milik temannya yang dititipkan kepadanya. Temannya yang saat itu ada di kedai, kabur dikejar polisi. Mungkin atas dasar rasa setia kawan, Widi juga ikut berlari. Tanpa ampun, betis kirinya didor dengan timah panas.

Karena terbukti bukan miliknya, Widi bebas setelah tiga hari mendekam di penjara. Kemalangan kembali menimpanya. Tubuhnya yang lemah setelah tertembak rupanya membuat penyakit lamanya mudah menyerbu. Seolah meramalkan kematiannya sendiri, Widi pulang ke rumah Emaknya. Disitu dia meregang nyawa. Kawanku itu dari dulu punya bengek dan sakit liver.

Aku menarik nafas dalam mendengar kisah ini. Sebuah cerita tragis berbalut ketololan yang hampir saja aku kutuki di dalam hati, kalau saja Emak Widi tidak membuka pintu kamar di seberang tempatku duduk. Tanpa dikomando, orang-orang tampak berusaha sekuat tenaga untuk tidak menutup hidungnya.

“Inilah Mak barang yang engkau cari.”

Belum habis rasa penasaranku, karena sepertinya aku ingat dengan suara dari dalam kamar itu, Lik Nah menyodorkan benda kecil persegi panjang kepadaku. Kaget adalah diriku, karena ternyata itu kartu namaku sendiri.

“Widi selalu mengingatmu. Kartu nama dari Ibumu disimpannya dengan baik. Hanya, ia tidak berani menelponmu. Takut menganggumu.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada wajar, tetapi bagi pendengaranku, setiap tekanan katanya seperti sembilu yang disayatkan ke kulit. Tak kuat lagi menahan perasaan, hampir aku meloncat menuju kamar. Di atas dipan reyot tergolek perempuan menjelang usia empat puluh tahun. Kakinya lebih besar dari guling yang suka dipeluk anakku. Mukanya yang lebam di sana-sini tidak bisa menyembunyikan garis wajah milik Widi dan Emaknya. Dia tersenyum kepadaku.

“Apa kabar Yu Narti?”

Suaraku parau hampir tidak terdengar. Lik Nah sudah berdiri di belakangku. Malu-malu dia minta maaf, karena sibuknya mengurus jenazah Widi, ia tidak sempat membersihkan kencing dan berak gadisnya.

Bukan bau amonia yang membuat kepalaku berputaran. Di tembok kamar yang dekil seolah negatif film dokumenter sedang disorotkan. Aku lah yang jadi lakon antagonisnya.

Aku ingat dengan amat jelas asal-muasal kartu nama itu. Sekitar empat tahun silam, aku yang sudah berkemas-kemas untuk kembali ke B bilang,

“Tolong Ibu sampaikan maaf dan kartu nama ini ke Widi. Perkara yang ingin dia utarakan, jika memungkinkan, pasti akan kubantu.”

Mata Ibu menyiratkan keraguan. Aku yang seharian itu jengkel karena cutiku terus-menerus diganggu oleh telepon dari kantor, memilih untuk menyudahi percakapan. Sebagai koordinator beasiswa, aku cukup bisa beradaptasi dengan berbagai permintaan orang yang mengira aku ini adalah dewa penolong untuk segala macam bentuk kesusahan, yang sebenarnya tidak ada urusannya sama sekali dengan dunia perkuliahan.

Aku duduk di amben mendekati Yu Narti. Kartu nama ada di tanganku, aku lirik huruf-hurufnya. Biasanya untuk beberapa saat mataku lekat dengan tiga singkatan di dalamnya. Sebagai pengingat akan kerja keras selama belasan tahun. Namun kali ini tiga singkatan itu seolah menari-menari penuh ejekan. Menertawai kepongahan diriku yang ternyata tidak terlalu pintar, walaupun sudah mendapatkan gelar akademis tertinggi.

Sungguh bodoh diriku. Ibuku sendiri segan meminta bantuan anaknya saat gagang kacamatanya patah. Apalagi Widi, yang tanpa sadar aku telah tidak bersedia menemuinya. Sungguh, aku tidak malu bertemu dengan teman lama seperti dirinya. Kesibukan adalah alibiku. Dengan bersandar atas darma dalam mendidik generasi muda dan mencarikan biaya pendidikan bagi mahasiswa miskin, mungkin aku telah merasa bahwa orang seperti Widi dan segala macam urusannya tidaklah terlalu penting untuk jadi perhatianku lagi.

“Yon, ikutkah kau ke kuburan?”

Aku mengangguk lemah. Lik Nah bangkit dari duduknya. Tanpa suara, air matanya terus berlinangan melihat keranda dinaikkan ke usungan bambu.

Aku memaksa untuk ikut menggotong usungan. Melewati bangunan pabrik gula, seorang lelaki menawarkan untuk mengganti tenagaku yang jelas tampak kepayahan.

Sepanjang jalan kulihat jajaran pohon asam berbaris rapi. Tidak pernah tergeser tempatnya, walaupun rumput dan ilalang di bawahnya telah ribuan kali berganti. Jalan itu dulu aku dan Widi sering bersepeda melewatinya untuk mencari kembang tebu. Jalan yang juga sering ditempuh Widi menuju MTS, sebuah sekolah yang dipilihnya, karena dulu waktu kelas satu, SMP ku masuk sore. Bapak Widi memintanya untuk membantu pekerjaannya setiap pulang sekolah. Bapak yang sama tidak datang di hari itu meski sudah ditunggu seharian. Dia pergi meninggalkan rumahnya menjelang Widi lulus MTS.

Aku melihat orang-orang yang bergantian mengusung keranda dan mengantar ke kuburan. Tanpa pamrih, tanpa prasangka yang macam-macam. Aku jadi merasa pohon-pohon asam itu punya mata-mata yang menatapku tajam sekali. Satu pohon asam tampak seperti almarhum Bapak. Dia dulu sering bilang, seorang terpelajar itu harus selalu berbuat adil, bahkan sejak dalam pikiran.

Aku telah berbuat tidak adil. Aku telah berprasangka kepada Widi. Padahal, mungkin ia hanya ingin bercerita tentang Yu Narti, atau malah ia hanya ingin minum kopi sambil mengingat berbagai macam permainan kami dulu. Oh ya, kakaknya itu juga bukankah dulu sering membuatkan kami ubi goreng? Walaupun dengan menyeret kakinya yang bengkak. Mengingat ketulusan semacam itu saja, aku tidak mampu. Kartu nama yang kuberikan ke Widi justru telah mencabutku dari lingkunganku sendiri.

Meskipun begitu, nyatanya Widi tetap bersih dari prasangka. Tidak bosan dia bertanya kabarku ke Ibu, serepot apa pun dia mencari rejeki untuk kakak dan Emaknya. Bukankah setiap kunjungannya ke rumah juga turut mengisi hari-hari tua Ibu yang sepi?

Ah, Widi. Engkaulah seadil-adilnya orang. Peluh dingin merembes di ketiakku mengingat itu semua. Menjelang diturunkan jasadnya ke liang lahat, aku lirik wajah sahabatku itu. Tenang, tanpa prasangka. Air mataku menetes karenanya. Orang-orang menatapku dengan heran.

Aku minta pamit untuk berdoa setelah orang-orang pulang. Kartu nama masih ada di genggamanku. Tiga singkatan di dalamnya menari-menari mengejekku. Kulemparkan ke aliran kecil air di samping makam Widi. Sisa kartu nama di dompet aku lemparkan semua. Untuk sesaat ketam-ketam berhamburan keluar dari liangnya. Hanya menengok sebentar, mereka pun tidak sudi mengerubungi kartu namaku.

Groningen, Mei 2016

*Cerpen ini masuk 30 besar cerpen terbaik Lomba Cerpen Forum Sastra Bumi Pertiwi 2016, dan akan dibukukan dalam buku antologi cerpen tahun ini.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s