Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Orang Minangkabau di Masa Pergerakan Nasional

Leave a comment

Dengan jumlah penduduknya yang tidak sampai 5% dari penduduk Indonesia, peranan orang Minangkabau dari Sumatera Barat sangat signifikan dalam masa pergerakan nasional. Kita semua pasti akrab dengan tokoh-tokoh nasional seperti Agus Salim, M. Hatta, Sutan Syahrir, M. Natsir, M. Yamin, dan Tan Malaka. Belum lagi para intelektual yang tidak begitu terkenal seperti Datuk Djamin, Nazir Dt. Pamoentjak, Assaat, M. Djosan, dan M. Padang.

Dalam kabinet dan parlemen di jaman Orde Lama, jumlah politisi dari Minangkabau berimbang dengan orang Jawa, yang notabene populasinya 10-15 kali lipat lebih banyak.

Di bidang sastra, para pujangga dari Minangkabau malah hampir tidak terlawan. Terhitung dari Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Hamka, Roestam Effendi, Chairil Anwar, Idrus dan Asrul Sani, semua mendominasi dunia kepenulisan tanah air di jaman Balai Pustaka sampai angkatan 45. Tercatat hanya Achdiat K. Mihardja sebagai orang non-Minang yang cukup punya nama di masa itu.

Kenapa suku Minangkabau bisa melahirkan banyak cendekiawan? Mestinya ini menarik untuk dipelajari, dan kemudian diaplikasikan untuk dunia pendidikan di tanah air, sehingga kelak Indonesia bisa melahirkan generasi-generasi yang intelek.

Saya juga tidak tahu jawabannya, karena saya awam dalam bidang sosiologi. Tetapi saya percaya, sebuah kejadian yang terus-menerus berulang, tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Pasti ada alasan sistematisnya yang membuat banyak tokoh nasional muncul dari Sumatera Barat di masa tahun 1920-1950 an.

Mungkin salah satu alasannya adalah egaliterianisme (kesamarataan). Orang Minang, sebagaimana umumnya orang-orang Sumatera, tidak punya tingkatan bahasa seperti Jawa, Sunda, Madura, dan Bali. Ini membuat mereka lebih bebas dan terbuka dalam mengemukakan pendapat, termasuk ke orang-orang yang lebih tua. Akibatnya, budaya untuk berpikir kritis tumbuh. Konon, sampai dengan awal abad 20, anak-anak kecil di Sumatera Barat tidak punya kebiasaan untuk cium tangan ke orang-orang yang lebih tua seperti lazimnya di Pulau Jawa. Ini menunjukkan egaliternya mereka.

Dalam satu cerita, Hatta yang baru pulang dari Belanda menghadapi kenyataan bahwa PNI telah terbelah menjadi dua kubu saat Sukarno dipenjara. Sukarno yang orang Jawa, berhati-hati dalam menentukan sikap, karena menurutnya memilih satu kubu bisa menyakiti hati kubu yang lain. Hatta mengkritik pendapat Sukarno. Hatta mengambil sikap yang lebih terbuka. Menurutnya, jika ada kubu yang sakit hati karena tidak dipilih oleh pemimpinnya, itulah bagian dari dinamika politik yang harus dihadapi.

Selain egaliter, dukungan dari keluarga besar Minangkabau sangat kuat. Jika ada anggota keluarganya yang ingin maju, bakal dibantu semaksimal mungkin. Hatta, Syahrir dan teman-temannya yang sekolah di Belanda, bisa sampai ke negeri kincir angin karena dibiayai paman-pamannya. Semua dengan mudah mengeluarkan bantuan saat ada keponakannya yang berbakat. Tentu ini juga didukung fakta bahwa banyak orang Minang yang secara finansial mampu, karena mereka adalah saudagar-saudagar yang berhasil.

Orang-orang Minangkabau konon juga punya budaya menulis yang kuat. Terbukti dari banyaknya pujangga yang berasal dari Sumatera Barat. Meskipun dalam hal ini mereka juga diuntungkan, karena Bahasa Indonesia yang baru lahir berakar dari Bahasa Melayu, yang notabene satu rumpun dengan Bahasa Minangkabau.

Terakhir, orang Minangkabau punya budaya merantau. Siap merantau berarti sadar akan hidup susah. Orang yang besar di perantauan, dan jauh dari keluarga dan kampung halamannya, akan mandiri dan terbuka alam pikirannya.

Apakah itu benar? Wallahu alam. Satu hal yang jelas, apa-apa yang baik, bisa kita pelajari, kita ambil hikmahnya, dan kemudian kita aplikasikan untuk keadaan saat ini.

Groningen, Juli 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s