Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

ITB atau STAN?

5 Comments

Ada yang mengirim surel ke saya, menanyakan mana yang sebaiknya dipilih, ITB atau STAN. Saya yakin lulusan-lulusan SMA dari daerah, banyak yang memiliki kegalauan seperti ini. Untuk itu, mungkin ada baiknya jika saya bagikan di blog ini percakapan saya dengan si penanya. Pendapat saya ini tentu tidak selalu harus diikuti, dan tidak selalu benar. Setiap orang bebas berpendapat masing-masing. Semoga bermanfaat!

***

Wa’alaikum salam wr. wb.,

Sdr. XXX,

Saya senang sekali mendapat email semacam ini. Pertama, saya ucapkan selamat untuk Anda. Anda bisa diterima di ITB, Jepang, Turki, dan STAN, sudah jelas kalau Anda adalah siswa yang memiliki cukup kecerdasan. Janganlah terlalu merendah. Menjadi rendah hati itu harus, tetapi Anda juga perlu untuk percaya diri dengan kemampuan sendiri.

Kalau bisa saya simpulkan, Anda saat ini mempunyai problematika memilih antara ITB dan STAN, dimana ada tiga faktor utama yang mengganjal, yaitu finansial, apa yang dipelajari, dan pekerjaan setelah lulus. Baiknya saya bahas satu per satu.

Finansial

Tidak bisa dimungkiri, kuliah di ITB saat ini tidak murah. Saat ini ITB menerapkan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp 10 juta/semester. Selain itu, meskipun Anda tinggal di Bandung XXX, sepertinya tidak memungkinkan bagi Anda untuk pulang pergi rumah-kampus setiap hari. Maka, Anda perlu kos. Untuk biaya kos dan makan di sekitar ITB, setidaknya Anda butuh Rp 1-1,5 juta/bulan.

Saran saya, jangan terlalu khawatir soal biaya, karena:

  1. ITB tidak pernah men-DO mahasiswa karena alasan biaya. Kalau belum mampu bayar SPP, bisa ditangguhkan.
  2. UKT tidak bersifat mengikat. Nilainya bisa turun, bahkan bisa gratis. Tergantung bukti kemampuan ekonomi orangtua.
  3. Banyak sekali beasiswa yang tersedia di ITB untuk mahasiswa yang tidak mampu. Asal rajin cari informasi, insya Allah dapat. Jika kesulitan, saya bisa bantu carikan. Saya tidak bisa menjanjikan apapun, tetapi akan saya usahakan secara maksimal jika Anda membutuhkan.

Tidak perlu terlalu takut. Jika memang niat kuliah, Allah swt akan membukakan jalan. Adik-adik kelas saya dari Jember, banyak yang sangat tidak mampu. Bahkan ada yang harus berjalan kaki dari Stasiun Kiaracondong ke ITB karena tidak mampu membayar ongkos angkot. Tetapi berkat kerja keras dan doa, alhamdulillah mereka bisa kuliah dan saat ini mempunyai karir yang luar biasa. Cerita-cerita mereka dapat dibaca di blog senior saya dari Jember (dosen Metalurgi ITB) di tautan ini.

Sedangkan di STAN, ingat bahwa hanya biaya SPP yang gratis, silakan baca disini. Anda masih harus mengeluarkan biaya kos, makan, dll, yang mana biaya-biaya tersebut di Tangerang mirip besarannya dengan di Bandung. Artinya, selain SPP, biaya yang Anda keluarkan jika kuliah di STAN tidak jauh berbeda dengan di ITB. Karena di STAN beasiswa tidak sebanyak di ITB, saya yakin untuk mahasiswa yang tidak mampu, kuliah di ITB sebetulnya menjadi lebih murah biayanya.

Apa yang dipelajari

Jelas berbeda antara FTI-ITB dan STAN. Satu belajar teknologi, satu lagi belajar keuangan. Saya dulu juga didorong-dorong oleh guru dan keluarga untuk masuk STAN. Karena sama seperti Anda, saya juga berasal dari daerah, dimana pekerjaan sebagai PNS umumnya diidamkan banyak orang.

Namun saya tidak mendaftar ke STAN, karena saya memang tidak tertarik dengan ilmu keuangan. Prinsip saya waktu itu, saya ingin kuliah dan bekerja di bidang yang saya sukai. Soal pekerjaan, saya pikirkan nanti saja. Kalau saya kuliah dengan rajin dan mendapatkan nilai yang bagus, peluang akan datang dengan sendirinya. Sedangkan orang yang tidak kuliah saja Allah swt. masih memberikan rezeki, mengapa kita yang berpendidikan tinggi takut mati kelaparan?

Mengenai kemampuan yang mendukung kuliah, jangan khawatir. Semua mahasiswa berangkat dari titik yang sama. Semua belajar dari awal. Siapa yang rajin, dia lah yang kelak berprestasi.

Pekerjaan

Memang ini adalah dilema yang dihadapi oleh seorang calon mahasiswa ITB yang juga diterima di STAN. Tahun 2004, teman baik saya semasa SMA sama-sama diterima di ITB. Waktu itu masuk ITB masih langsung ke jurusan. Dia diterima di Teknik Kimia, ketika itu passing grade nya lebih tinggi dari Teknik Industri. Wajar, teman saya ini adalah lulusan terbaik SMAN 1 Jember, dan setiap semester hampir selalu dia menyabet juara 1 paralel di sekolah.

Karena desakan keluarga, akhirnya dia memilih STAN. Karena memang dia anak yang pintar, di STAN pun prestasinya istimewa. Namun ketika bertemu saat kami sudah bekerja, dia bilang agak menyesal waktu itu memilih STAN. Penyesalannya itu karena pilihan karir di STAN terbatas, yaitu menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Selain itu, ingat bahwa anda lulus STAN “hanya” dengan gelar D-3. Seorang lulusan diploma memulai karirnya dari golongan II-C. Sedangkan kalau S-1, kita langsung III-A, beda dua golongan. Kalau setelah lulus dari STAN ingin jadi sarjana, Anda masih harus kuliah sekitar dua tahun lagi. Biaya siapa yang dipakai? Tentu Anda harus membiayai sendiri. Tidak gampang juga kuliah S-1 pada saat Anda di masa awal-awal kerja jadi PNS.

Tentang pekerjaan, seorang sarjana yang baru lulus dari ITB mendapatkan pekerjaan setelah menunggu selama 4-6 bulan (berdasarkan survei ITB). Tentu menunggu dalam periode waktu tersebut masih wajar. Perlu Anda ketahui, lulusan PTN di daerah atau di PTS, lumrah kalau menunggu pekerjaan lebih dari setahun. Hasil survei ITB saya lampirkan di email ini.

Berdasarkan survei yang sama, seorang lulusan TI-ITB yang sudah bekerja selama 2-3 tahun, rata-rata mendapatkan gaji+bonus sekitar Rp. 13 juta/bulan. Selengkapnya dapat dibaca di tulisan saya berikut ini. Alhamdulillah besarannya cukup lumayan, karena rata-rata alumni ITB bekerja di perusahaan-perusahaan besar; BUMN atau swasta asing. Malah jarang yang jadi PNS, hehehe.

Kesimpulan

Silakan dipikirkan dengan masak-masak apa yang ingin Anda pilih, ITB atau STAN. Apapun pilihan Anda kelak, satu pesan saya, sampaikanlah dengan baik ke orangtua. Boleh kita berbeda pendapat, tetapi jangan sampai menyakitkan hati orangtua.

Salah satu cara tambahan yang bisa dipakai untuk memilih kampus adalah melihat sebaran alumninya. Dari situ kita bisa melihat bagaimana alumni-alumni dapat berkembang.

Semoga saran saya ini dapat bermanfaat. Kelak misalnya jadi kuliah di ITB dan ingin silaturahim, silakan datang ke kantor saya di Gedung Teknik Industri ITB.

Salam,

Rully Tri Cahyono

***

Assalamualaikum wr. wb.

Salam kenal, pak. Saya sangat senang sekali bisa berjalan-jalan di blog bapak dan membaca beberapa artikel yang mencerahkan. Saya terdampar di blog bapak salah satunya, karena tulisan Teknik Industri ITB.

Sebelumnya, saya izin memperkenalkan diri. Saya adalah salah satu calon mahasiswa S1 tahun ini.

Sedikit latar belakang saya, saya adalah anak kampung (bandung XXX) yang memiliki riwayat pendidikan dan prestasi yang tidak “wah”. Saya begitu buta akan pendidikan tinggi karena selain selama ini menetap di kampung, hampir seluruh anggota keluarga, baik dari ayah maupun ibu, adalah aparat negara (TNI/POLRI).

Saat saya kelas 12, saya bingung hendak melangkahkan kaki. Saya menyukai banyak hal, baik itu rumpun sosial (bisnis, manajemen), eksakta (biologi, kimia, matematika), programming, bahkan olahraga. Tetapi, saya sekadar “menyukai”. Sampai sekarang, saya belum dapat mengetahui apa minat saya sebenarnya. Berhubung saya mengambil jurusan IPA saat SMA, saat kelas 12, saya menemukan jurusan yang menurut saya paling tepat, Teknik Industri. Saya rasa tepat karena bisa mengakomodasi semua yang saya suka.

Saya bertekad untuk bisa masuk FTI-Ganesa ITB. Usaha saya tidak main main karena sadar bahwa saya sekolah di sekolah yang “bokbrok”; menyontek sudah hal biasa, pengembangan diri sedikit dikekang, mau praktikum di lab pun jarang dan sulit, bahkan saat saya berminat untuk ikut olimpiade biologi, saya mencari guru sendiri dari luar sekolah (alhasil OSN tingkat kota-pun tidak lulus 😦 ).

Saya bertekad ingin berkembang. Selama ini saya selalu di kampung. hal itu membuat pikiran saya sempit. Ditambah keluarga yang PNS-sentrik, saya dihujani tekanan untuk masuk sekolah kedinasan, entah itu AKMIL, AKPOL, IPDN, STAN dan lain lain. Padahal, dunia luas. Saya ingin bisa kuliah di luar negeri (seperti bapak hehe), berkarier di perusahaan multinasional dan atau Perserikatan Bangsa Bangsa, berkontribusi pada dunia, merasakan nikmatnya berdiskusi dengan orang-orang yang visioner dan berkompeten dan lain lain.

Angan-angan itu terus memaksa saya untuk terus belajar (+ berdoa juga hehe) dan Alhamdulillah berbuah manis. Tahun ini, saya diterima di FTI Ganesa-ITB.

Diterima di ITB menggiring saya pada posisi dilematis; saya senang, juga khawatir. Senang karena kuliah di itb, setidaknya, membuka pintu saya menuju dunia yang lebih luas, merasakan atmosfer global, bertemu orang orang hebat, berdiskusi dengan menyenangkan. Ahh . . . Ini yang saya inginkan, yang tidak bisa aku dapatkan saat SD, SMP, bahkan SMA.

Di sisi lain, saya juga khawatir. Khawatir tidak mempunyai dasar yang kuat dari SMA, finansial yang tidak memadai, dan pekerjaan setelah lulus.

Belum selesai dilema ini berakhir, dilema yang baru datang menghampiri. Applikasi beasiswa Turki dan Jepang saya diterimal Dengan mempertimbangkan (dan sedikit paksaan) dari orang tua, saya mengundurkan diri dari keduanya. Belum selesai sampai disitu, saya pun sekarang diterima di PKN STAN (D3 Akuntansi). Inilah yang membawa saya pada titik kulminasi; titik tertinggi dilema saya.

Saya istikharah, berusaha bertanya ke orang-orang ahli, saudara, guru, dan menghasilkan jawaban yang hampir serupa: ikuti kata hati. Membantu, namun saran dan nasehatnya kurang mencerahkan.

Berbeda dengan orang-orang, ayah saya sangat menginginkan saya masuk STAN: pasti kerja, gratis, gaji yang menggiurkan. Itu semua begitu kemilau di matanya. Siapa sih orang tua yang tidak mau, apalagi latar belakang keluarga dari PNS. Perlahan, saya pun terpikat dengan kemilau STAN.

Tetapi, suara hati tidak bisa dibohongi; saya ingin masuk ITB. STAN? Entah kenapa kemilau STAN tidak menghilangkan keganjalan hati saya jika memilihnya. Saya selalu mengingat saat saya perjuangan dulu di sma yang mati-matian. Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, saya belajar mati matian. Dan ternyata, terbuang percuma jika kuliah di STAN.

Saya tidak mau menjadi pegawai negeri sipil abadi. Saya ingin bisa mengeksplor bidang yang saya sukai, berprestasi di bidangnya, bekerja di atmosfer global. Namun, saya tidak bisa memungkiri, uang pun sangatlah penting untuk kehidupan berkeluarga nanti.

Saya sangat berterima kasih jika bapa berkenan untuk memberikan wejangan, wawasan, pengalaman, pertimbangan kepada saya. Pencerahan dari bapak akan sangat membantu mengingat sebentar lagi daftar ulang.

Terima kasih saya ucapkan. Semoga Allah SWT memberikan berkah kepada bapak dan keluarga. Oh ya, semoga studi bapak dilancarkan dan dimudahkan. Semangat pak!

Wassalamualaikum

***
Lampiran:

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

5 thoughts on “ITB atau STAN?

  1. dari gaya bahasa emailnya saya yakin calon mhs tersebut adalah anak yang pintar dan cerdas. mengingat saat ini rasanya saya jaraaaang menemui anak2 seumuran mereka yg bisa bertutur serapi itu.

    ah, semoga segera diberikan kemudahan mengambil keputusan yg terbaik ya Pak…

    • Aamiin. Saya tidak sengaja melihat profilnya. Sepertinya dia sudah sempat satu tahun kuliah di UNS. Kemudian memutuskan untuk ikut ujian lagi untuk bisa masuk ke kampus yang menurut dia lebih baik.

      Setelah satu tahun penuh lika-liku, sepertinya si penulis memang sudah menjadi cukup dewasa dan bijaksana.

  2. Dear Mas Rully,

    Sy jadi terharu membaca tulisan Mas Rully dan sempat flash back 10 tahun yang lalu ketika saya keterima PMDK UI, saat itu sy tinggal di salah satu kota besar di Sulawesi. Ayah dan Ibu saya hanya PNS. Ayah saya sangat berharap saya keterima di Universitas Negri di kota saya dimana hal itu menjadi pilihan pribadi terakhir saya. Akhirnya ketika saya keterima di UI Ayah pun menjadi bimbang karena takut tidak bisa membiayai saya, apalagi saat itu di UI sudah mengenakan Uang pangkal yang cukup besar. Dengan modal tekad dan doa Akhirnya Ibu saya yang memberanikan diri untuk mengantar saya ke UI, dengan bermodalkan SK PNS yang digadai semua uang pangkal dan uang semester pertama bisa dibayarkan. Alhamdulillah rejeki buat saya dari Allah berlimpah, setelah 1 tahun pertama hidup sehari2 yang seadanya di tahun ke 2 kuliah, orang tua saya tidak pernah mengirimkan lagu uang kuliah sampai akhir, karena saya mendapatkan dua beasiswa yang cukup membayar SPP dan uang kos. Saat ini saya sudah mendapatkan beasiswa s2 dan masing ingin terus sekolah lebih tinggi lagi.

  3. Pingback: ITB atau PKN STAN? | lune74

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s