Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Potret Sosial dalam Novel “Atheis”

Leave a comment

Atheis cover

Sungguh tragis riwayat Hasan. Maksud mulia hendak mengislamkan kembali Rusli dan Kartini, dua orang yang disebutnya sebagai kafir-kafir modern, malah dirinya terjebak ke dalam pusaran hidup yang sungguh berlawanan arah. Tidak hanya gagal, Hasan justru terbawa hidup materialistis seperti dua kawannya yang atheis itu.

Rajin beribadah, namun tidak alim, karena sesungguhnya Hasan memang kurang berilmu agama. Dia adalah penganut tarekat yang taat. Hasan pernah mandi di sungai Cikapundung selama empat puluh kali dalam semalam. Pernah juga dia mengunci diri di kamar selama tiga hari dan tiga malam, tanpa makan, minum, dan tidur. Namun, amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad itu tidak pernah membangkitkan gairahnya untuk bertanya. Walaupun di masa itu termasuk sebagai golongan langka yang bisa mengenyam pendidikan Belanda, Hasan bukanlah seorang intelektual yang gemar mencari tahu jawaban akan alasan terjadinya suatu peristiwa. “Apa artinya kata-kata ”Arab” (?) itu sampai kini aku tidak tahu.” (Bagian Ketiga) Bahkan untuk hal yang mendasar seperti memahami makna dari bacaan doa yang dipanjatkannya setiap saat, sikapnya apatis.

Hasan beragama hanya karena terbiasa. Selain itu, ketakutan akan neraka mendorongnya untuk sangat patuh dalam menjalankan tarekatnya. Namun lagi-lagi pemahamannya akan neraka itu didapatkan hanya dari potongan-potongan dongeng masa kecil. Maka tidak heran, pondasi keimanannya itu seperti kaca. Tampak indah dan menyilaukan mata orang awam, namun sesungguhnya amat rentan dan tidak mampu menopang permasalahan hidupnya.

Pondasi kaca itu pun goyah ketika dihantam oleh Rusli, teman masa kecilnya yang terpelajar dan pandai bicara. Rusli adalah aktivis politik di masa pergerakan nasional yang sudah kenyang dengan berbagai teori-teori asing. Dia terpelajar, terbukti dengan banyak tulisannya yang tersebar di koran. Maka ketika Rusli bilang, “Tuhan tidak ada, Saudara!” (Bagian Keempat), dalil-dalil Hasan dengan mudah dipatahkan oleh argumen-argumen Rusli yang rasional. Tidak sulit bagi Rusli untuk menanamkan pemikirannya ke Hasan, yang sebelumnya tidak pernah tahu siapa itu Friedrich Engels dan Karl Marx. Hasan tersihir dengan cara penyampaian Rusli yang rasional dan merangsang akal untuk berpikir. Metode semacam itu baru dikenalnya. Jauh berbeda dengan khutbah kiai-kiai tradisional yang dogmatis (Bagian Keenam).

Keterikatan Hasan ke Rusli tidak akan sebegitu kuatnya tanpa hadirnya sosok Kartini yang sering menyertainya (Bagian Keenam). Sejak pertama kali bertemu, Kartini langsung mengingatkan Hasan akan Rukmini, perempuan yang telah mematahkan hatinya. Putusnya Hasan dengan Rukmini jugalah yang menjadi alasannya untuk menekuni tarekat, sebagai pelipur lara. Hasan jatuh cinta dengan Kartini. Pemuda yang dulu menganggap menonton film sebagai perbuatan yang hina, sekarang mengabaikan adzan maghrib untuk pergi berduaan ke bioskop dengan pujaan hatinya.

Pertemuan dengan Anwar, seorang nihilis-anarkhis, membuat pondasi kaca itu akhirnya benar-benar pecah berantakan. “Tuhan itu madat!” (Bagian Kelima) Hasan tidak pernah cocok dengan Anwar yang terlalu ekstrim. Anwar lah juga penyebab asal mula cekcok Hasan dengan orangtuanya, waktu dua pemuda itu berlibur ke kampung Hasan di Panyeredan. Merasa telah mendapatkan pencerahan (enlightenment), Hasan mengkonfrontasi kepercayaan bapaknya yang dianggapnya kuno. Percekcokan berlanjut ke soal Hasan yang ingin kawin dengan Kartini, yang dianggap kurang patut jika dibandingkan dengan Fatimah, sepupu Hasan, perempuan pilihan keluarganya.

Hasan mengambil jalan berpisah dengan orangtuanya. Meskipun sebetulnya hatinya bimbang. Kartini dikawininya. Namun pernikahan itu bagaikan neraka. Kartini terbiasa hidup bebas dan pergi dengan lelaki lain, membuat Hasan mudah tersulut amarah. Sebetulnya Kartini pun kesal ke suaminya karena sepucuk surat dari Bapak Hasan. Surat itu menjelek-jelekkan dirinya. Sampai di suatu hari, Kartini pulang dengan Anwar. Kartini dihajar oleh Hasan yang sudah terbakar api cemburu. Kartini pergi dari rumah. Di tengah jalan ia bertemu dengan Anwar yang mengantarnya ke hotel. Anwar yang sudah sejak lama menaruh hati ke Kartini bermaksud mengajaknya berbuat mesum. Namun nafsunya ini bertepuk sebelah tangan, Kartini lari meninggalkan hotel.

Setelah perceraian dengan Kartini, bapaknya sakit dan Hasan pulang ke Panyeredan. Di tengah-tengah proses meregang nyawa, Hasan diusir karena bapaknya tidak ingin ada sifat jahat yang menyertai saat akan kembali ke Sang Pencipta. Bapaknya pun meninggal dengan tenang setelah Hasan menunggu di luar dengan hati hancur berkeping-keping.

Merasa tidak punya pegangan lagi dalam hidupnya, Hasan kembali ke Bandung dalam kondisi didera kebimbangan. Kondisinya diperparah penyakit TBC yang menggerogotinya. Dia mengutuki teman-teman yang dianggapnya telah menjerumuskannya ke dalam kesesatan dan jauh dari jalan Tuhan yang benar. Bermaksud singgah di hotel untuk melepas penat, Hasan mengetahui bahwa Kartini dan Anwar telah menginap di hotel yang sama di hari isterinya kabur dari rumah itu. Merasa terhina, Hasan langsung bergegas mencari Anwar. Amarahnya begitu memuncak, sehingga saat terdengar ada kusyu keiho (serangan udara) tidak dihiraukannya. “Tar! Tar!” Peluru menembus tubuh Hasan. Di hembusan napas terakhirnya, dia berseru “Allahu Akbar!”.

Masyarakat dogmatis

Saat pertama kali terbit tahun 1949, novel “Atheis” menuai banyak reaksi. Baik dari kaum agama maupun Marxis cukup banyak yang tidak sependapat dengan penokohan Hasan dan Rusli yang dianggap kurang mewakili ideologi masing-masing. Padahal, dari cara membawakan ceritanya, Achdiat K. Mihardja memang tidak bermaksud untuk membahas secara mendalam perang ideologi antara kedua paham tersebut. Melalui perkembangan karakter tokoh yang berpusat pada Hasan, Achdiat justru ingin memotret kondisi sosial masyarakat Indonesia yang serba goyah.

Mengambil latar cerita saat menjelang berakhirnya tahun 1930-an, Achdiat merekam kondisi intelektual muda Indonesia yang banyak terpapar oleh ilmu-ilmu asing. Sosialisme adalah salah satu yang paling berpengaruh ketika itu. Meskipun tidak selalu berhubungan, banyak pemuda-pemuda sosialis yang mulai meragukan kebenaran Tuhan. Mereka yang baru pulang sekolah dari Eropa, melihat bahwa dunia barat bisa maju tanpa perlu datang ke gereja. Mengapa di tanah air orang masih membungkuk-bungkukkan badannya untuk menghormat kepada sesuatu yang tidak tampak dengan jelas pengaruhnya terhadap kemajuan peradaban?

Di kubu yang berseberangan, Hasan adalah potret sebagian besar umat beragama di Indonesia. Mereka beragama semata karena meneruskan kebiasaan nenek moyangnya. Umat yang dogmatis dan menelan ajaran secara bulat-bulat, seperti yang dibilang Rusli. “Orang Indonesia bukan berbakat mistik, melainkan banyak yang merasa terpaksa dirinya mencari hiburan di dalam mistik, karena masyarakatnya terlalu bobrok.” (Bagian Kedelapan) Pemikiran-pemikiran kritis seperti kenapa dulu Islam mencapai kejayaan, lalu kemudian mundur, tidak pernah sampai di benak umat Muslim kebanyakan. Akibatnya, pemahaman mereka mudah goyah seperti Hasan.

Namun kaum materialis pun ternyata punya sisi dogmatis yang serupa. Di satu lakon dimana seorang propagandis bernama Bung Patra mengungkapkan pemikiran-pemikirannya, hadirin terdiam seperti tersihir, tanpa membantah. “Kenapa mereka sendiri pun tidak mau menyelidiki lebih kritis ucapan-ucapan lain seperti ucapan-ucapan Marx, Lenin, Stalin, dan lain-lain?” (Bagian Ketujuh). Ini merupakan kritik Achdiat kepada golongan intelektual yang terkadang juga hanya ikut-ikutan berbagai macam pemahaman luar negeri yang terlihat megah, padahal belum tentu cocok jika diterapkan di negeri sendiri. Hasan mewakili kelompok “abu-abu”. Dalam kekalutan pikiran setelah bercerai dengan Kartini dan ditinggal mati ayahnya, dia pun ternyata marah disebut sebagai seorang atheis. Dalam akalnya yang nyata jarang dipakai untuk berolah pikir, dirinya penuh kebimbangan ingin kembali ke jalan Tuhan.

Dalam banyak hal, “Atheis” adalah novel yang berhasil. Tidak kurang banyak sastrawan besar yang memberikan pujian, tidak terkecuali Pramoedya Ananta Toer. Kalau menurut Ahmad Tohari, “Atheis” adalah monumen karya sastra Indonesia.

Dari sisi cerita, “Atheis” menawarkan tema yang berlainan dengan karya-karya angkatan Balai Pustaka yang biasanya adalah seputar masalah adat, kawin paksa, cinta atau pertentangan dalam keluarga. Dari sisi penokohan, Achdiat begitu efisien. Dia tidak menulis dengan cara Pramoedya atau Tohari yang biasanya identik dengan pemaparan latar belakang tempat yang apik, sehingga pembaca seolah-olah ikut berada di tempat kejadian. Achdiat dengan amat baik fokus kepada perkembangan dan gejolak batin tokoh-tokohnya, dan ini adalah sesuatu yang unik di dunia kepenulisan kita.

Sebagai novel legendaris, “Atheis” menunjukkan bahwa sastra bukanlah melulu tentang romansa cinta atau fantasi yang memberikan kegembiraan bagi pembacanya, namun cepat dilupakan. Lebih dari itu, karya sastra adalah rekaman akan kondisi sosial masyarakat yang membuat kita sebagai insan yang beradab ikut berpikir. Kondisi Hasan sebagai orang beragama yang terombang-ambing pendiriannya, bukankah masih relevan hingga saat ini? Enam puluh tahun lebih setelah “Atheis” pertama kali terbit, ternyata potret semacam itu masih banyak dijumpai di tanah air. Umat beragama saling bertikai, karena pemahamannya yang dangkal. Hanya mengerti di permukaan, tanpa pernah berusaha untuk menyelami keadalaman ajarannya. Membuat mereka amat mudah untuk memandang rendah ke saudara-saudaranya yang berbeda pendapat. Sedangkan mengenai Rusli, bukankah di jaman konsumerisme sekarang penyembahan terhadap status-status materialistik makin kentara?

Memang tidak berlebihan jika membaca karya sastra itu sangatlah penting, untuk memperkaya akal budi. Di negara-negara maju, seorang siswa sekolah menengah diwajibkan membaca puluhan karya sastra selama masa studinya. Sayangnya hal semacam itu belum terjadi di kurikulum pendidikan tanah air. Maka, usaha Indonesia Book Club dan Telkom Indonesia untuk kembali mengenalkan karya-karya sastra terbaik tanah air, amatlah patut diapresiasi.

Groningen, Juli 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s