Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

Leave a comment

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Kesadaran itu dituangkan dalam media tulisan melalui majalah “Indonesia Merdeka”, dimana Hatta menjadi pemimpin redaksinya. Lewan koran tersebut, anggota-anggota PI yang masih berusia dua puluhan tahun itu menyuarakan kritik untuk pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Jika sekarang Ketua PPI umumnya menyampaikan programnya tentang budaya, wisata dan kuliner, saat terpilih sebagai Ketua PI di tahun 1926, Hatta membacakan orasi ilmiahnya yang berjudul, “Struktur Ekonomi Dunia dan Konflik Kekuasaan”. Pidato itu makin menegaskan posisi PI yang tidak setengah-setengah dalam menuntut kemerdekaan, termasuk dengan prinsip non-kooperatifnya.

Corak perjuangan Hatta dan PI amat berbeda dengan yang selama ini dikenal Belanda. Alih-alih mengangkat senjata, PI mengkader anggotanya untuk menjadi calon-calon pemimpin dengan kualitas intelektual mumpuni. Rupanya Belanda sadar bahwa pena Hatta lebih tajam dibandingkan pedang Diponegoro maupun rencong Teuku Umar. Kalau Diponegoro atau Teuku Umar gugur, terbukti perang akan padam, kalaupun masih ada sifatnya hanya gerakan gerilya yang sporadis. Namun tidak masalah kalau Hatta mati di ujung bedil, karena kader-kadernya telah siap untuk terus melanjutkan pemikirannya.

Atas dasar inilah Hatta bersama beberapa petinggi PI ditangkap di tahun 1927. Berada di balik jeruji besi tidak membuat Hatta gentar. Justru itu adalah kesempatan yang baik untuk membuka mata dunia akan tidak adilnya kolonialisme di tanah air. Di depan pengadilan, Hatta membaca pidatonya yang terkenal dengan judul “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka). Sebuah pledoi yang kualitasnya setara dengan Indonesia Menggugat-nya Sukarno. Kelak pemikiran Hatta ini menjadi semacam buku putih bagi aktivis pergerakan di tanah air.

Berjuang dan Dibuang

Tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia setelah mendapatkan gelar doctorandus (lit. “the one who should be a doctor”). Dia telah menyelesaikan syarat untuk studi doktoral. Namun kesibukannya berorganisasi membuatnya tidak pernah sempat untuk menyelesaikan disertasi. Saat tiba di Tanjung Priuk, Hatta datang dengan sebelas peti berisi buku. Bagi pria sederhana itu, buku dan membaca adalah bukti kecintaannya akan pengetahuan.

Pemerintah Kolonial menawarkan jabatan tinggi baginya. Namun kecintaannya akan Indonesia terlalu dalam untuk ditukar dengan kemewahan. Hatta lebih memilih untuk aktif di PNI-baru, sebuah partai pecahan PNI-nya Sukarno.

Sejak awal Hatta memang tidak benar-benar sepaham dengan Sukarno. Setelah pendirinya dipenjara, PNI pecah menjadi dua kubu. Sukarno ingin menyatukannya kembali, karena menurutnya jika memilih satu kubu, kubu lainnya bisa kecewa. Sikap itu dikritik Hatta yang menilai Sukarno terlalu lambat, dan bahwa perbedaan dalam politik adalah suatu hal wajar yang harus dihadapi. Selain itu, lewat media asuhannya, Daulat Rakyat, Hatta juga mengkritik metode agitasi massa ala Partindo-nya Sukarno, yang dipandangnya tidak jauh beda dengan cara perjuangan tradisional sebelum jaman Budi Utomo.

Tulisan-tulisan Hatta di bidang politik dan ekonomi meresahkan Belanda. Tahun 1935, Hatta, Syahrir dan beberapa pemimpin PNI-baru dibuang ke Boven Digoel, sebuah daerah malaria di Papua. Sampai di pengasingan, dia ditawari untuk bekerja bagi pemerintah lokal dengan bayaran 40 sen gulden sehari, atau menjadi orang buangan yang menerima ransum makanan dalam jumlah terbatas, dan tanpa harapan untuk kembali mengirup kebebasan. Dengan tegas Hatta menjawab, “Kalau dulu saya menerima jabatan yang ditawarkan di Batavia, saya akan memperoleh gaji yang jauh lebih besar. Kalau itu memang tujuan saya, tidak perlu jauh-jauh saya pergi ke Boven Digoel untuk dibayar 40 sen sehari.”

Berada di pengasingan tidak menyurutkan semangat Hatta untuk membawa bangsanya lepas dari belenggu penjajahan. Dibawanya enam belas peti buku ke Digoel. Selain sebagai bacaan rutin, buku-buku ekonomi dan politik tersebut digunakannya untuk mengajari kawan-kawan sesama pengasingan. Tidak lupa Hatta terus mengirimkan artikel-artikelnya ke koran-koran di Batavia.

Tahun 1936 Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Bandaneira, Maluku. Enam tahun kemudian mereka kembali dipindahkan ke Sukabumi. Ketika itu, Jepang datang ke tanah air. Sukarno dan Hatta merasa bahwa itu adalah saat yang tepat untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Dua orang pemimpin itu, dan juga KH Mas Mansur bersedia bekerjasama dengan Jepang, sekaligus untuk mempersiapkan kemerdekaan. Sementara Syahrir tetap membina kader lewat gerakan bawah tanahnya.

Bulan Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat ke Sekutu setelah kalah dalam Perang Pasifik. Setelah didesak oleh golongan muda, Sukarno dan Hatta bersedia untuk memproklamasikan kemerdekaan. Dalam malam penyusunan teks proklamasi, sebagaimana diceritakan dalam buku “Untuk Negeriku”, setelah semua menyepakati konsepnya, Sukarno berujar kepada panitia persiapan, “Baiknya Bung Hatta yang menyusun naskah proklamasi, karena diantara kita dialah yang kemampuan bahasanya paling baik.” Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, dalam upacara yang amat bersahaja, sebuah republik baru telah lahir di muka bumi ini. Sukarno dan Hatta terpilih sebagai presiden dan wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Manusia Berintegritas

Selain nasionalismenya yang tanpa batas, pelajaran terpenting dari Hatta adalah integritasnya yang tinggi. Tidak pernah ia bekerja untuk kepentingan pribadinya. Segala keputusannya adalah semata untuk kepentingan bangsa yang ia cintai. Termasuk beberapa keputusan yang tidak populer seperti rasionalisasi angkatan bersenjata saat masa perang kemerdekaan, dan bentuk konstitusi Republik Indonesia Serikat setelah Perundingan Meja Bundar di akhir tahun 1949.

Dunia internasional pun mengakui kualitas Hatta yang tidak gampang disetir. Dalam masa perang dingin dimana banyak negara saling memihak blok barat atau timur, tahun 1948 ia menyampaikan pidatonya yang berjudul “Mengayuh di Antara Dua Batu”. Kelak ini menjadi dasar bagi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Jabatan selamanya tidak pernah menjadi tujuan utama Hatta. Saat DPR dan Konsituante hasil Pemilu pertama terbetuk, sang Proklamator mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden di tahun 1956. Menurutnya negara telah membuang-buang uang dengan membayar gajinya, karena dalam kabinet parlementer, praktis posisi wapres hanya seremonial. Selain itu, di masa itu Hatta makin tidak cocok dengan Sukarno yang makin otoriter dan dekat dengan unsur komunis.

Pengunduran diri Hatta menimbulkan kehebohan besar. Tidak kurang pemberontakan PRRI di Sumatera menuntut kembalinya duumvirate Sukarno-Hatta. Namun Hatta bergeming. Dia pensiun dalam kesederhanaannya. Dia berujar ke keluarganya, “Kalau mau, banyak posisi komisaris yang ditawarkan ke saya. Tetapi saya sudah cukup mengantarkan bangsa ini ke kemerdekaan.” Dalam suatu kisah, saat masih menjadi wapres, isterinya mengeluh karena tabungannya tidak mencukupi lagi untuk membeli mesin jahit idamannya, setelah terjadi pemotongan Oeang Republik Indonesia (ORI).  Suaminya hanya menjawab bahwa tugas seorang abdi negara adalah memegang rahasia, dan meminta isterinya untuk bersabar. Sungguh sebuah integritas yang amat jarang ditemui saat ini.

Lepas dari posisi wapres, Hatta menjadi lebih terbuka dalam mengkritik Sukarno yang sedang larut dengan Demokrasi Terpimpinnya. Tidak kurang Hatta mengecamnya yang memenjarakan Syahrir.

Boleh berbeda dalam prinsip politik, namun hubungan sebagai dua orang insan tidaklah boleh cedera. Itu dipegang betul oleh Hatta. Di tahun 1970 dia adalah satu-satunya orang yang berani terang-terangan mengecam Pemerintah Orde Baru yang menurutnya tidak manusiawi dalam memperlakukan Sukarno sebagai tahanan politik. Dalam kesempatan terakhirnya, Hatta menangis melihat kondisi sahabatnya yang mengenaskan.

Setelah sepuluh tahun hidup dalam sepi dan jauh dari hingar bingar politik, Hatta yang telah berulang kali masuk rumah sakit berpulang tanggal 14 Maret 1980. Sang Proklamator tidak bersedia dimakamkan di taman makam pahlawan, karena ingin dekat dengan rakyatnya. Sesuai pesannya, ia dikubur di TPU Tanah Kusir.

Sama seperti mas kawinnya kepada Rahmi Rachim yang hanya berupa buku karangannya sendiri, isteri dan ketiga puterinya, Meutia, Gemala, dan Halida, tidak diwarisi harta yang berarti. Namun sesungguhnya bangsa ini telah ditinggalkannya dua buah warisan yang tidak ternilai; kemerdekaan dan teladan ketulusan yang tanpa pamrih untuk mengabdi bagi kemajuan bangsanya.

Terima kasih, Bung! Kami rindu orang-orang sepertimu.

Groningen, Agustus 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s