Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Antara Baik dan Buruk

Leave a comment

Sengsara cover

“Sengsara Membawa Nikmat” terbit pada tahun 1929, dan merupakan karya Tulis Sutan Sati yang paling terkenal. Cukup banyak orang yang mengetahui karya sastra ini, salah satu alasannya adalah karena diangkatnya novel ini ke layar kaca di tahun 1991. Ketika itu masyarakat mengenal serial “Si Midun” di TVRI, dimana Sandy Nayoan dan Desy Ratnasari didapuk sebagai protagonis utama.

Mengambil latar cerita yang sebagian besar terjadi di Sumatera Barat, SMN mengetengahkan permasalahan klasik yang berulangkali terjadi di dalam dunia ini, pertentangan antara baik dan buruk. Midun, seorang pemuda alim, mulia akhlaknya, dan pandai silat, harus menderita hidupnya karena Kacak, yang dengki dan iri hati.

Kacak merasa Midun telah menyerobot perhatian orang kampung yang seharusnya ditumpahkan kepadanya. Anak peladang seperti Midun tidak seharusnya menjadi bintang. Kacak adalah kemenakan Tuanku Laras, pembesar di kampung mereka. Dalam adat Minangkau yang matrilineal, penanggung jawab dari seseorang adalah paman dari pihak ibunya. Maka, Kacak pongah dan merasa bisa berbuat semaunya.

Dicari-carinya oleh Kacak perkara untuk mengganggu Midun. Kacak memfitnah Midun telah mencelakakan Pak Inuh, keluarga Tuanku Laras. Padahal tanpa Midun, Pak Inuh yang tidak sehat akal pikirnya hampir memakan korban jiwa saat dia mengamuk. Lolos dari hukuman kerja bakti yang tidak manusiawi, Midun berkelahi dengan Kacak, karena musuhnya itu tidak terima Midun menyelamatkan isterinya yang hampir mati tenggelam. Dalam persidangan kampung, Midun tetap dianggap bersalah dengan dalih menumpahkan dendam. Selama enam hari menjalani hukuman ronda, Midun terancam keselamatannya oleh sekelompok jagoan yang disewa oleh Kacak.

Bukannya insyaf, Kacak menjadi gelap mata setelah terus-menerus gagal. Dalam rasa frustrasinya, disewanya Lenggang, pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa musuhnya. Waktu sudah ditetapkan, yaitu saat pacuan kuda di Bukittinggi. Rencana itu gagal. Midun yang datang bersama sahabatnya Maun, dapat menyelamatkan nyawanya. Namun dalam perkelahian yang berujung menjadi huru-hara, Midun dan Lenggang digelandang oleh polisi. Dalam persidangan, keduanya dinyatakan bersalah.

Mendapatkan vonis empat bulan penjara, hancurlah hati Midun. Selain merasa telah dianiaya orang, dia harus menjalankan hukumannya di Padang. Setelah berpamitan dengan orangtua, adik-adik dan guru-gurunya, Midun pergi meninggalkan negerinya yang dicintai.

Dalam penjara, cobaan yang lain datang. Di neraka dunia itu, manusia dianggap laksana binatang. Sipir penjara saling mengadu antartahanan. Beruntung Midun adalah seorang ahli silat. Dapat dielakkannya segala marabahaya berkat kecakapannya. Selain itu, kedekatannya dengan Turigi, seorang tahanan senior, membuat dirinya makin disegani.

Titik balik hidupnya terjadi saat Midun berkenalan dengan Halimah, ketika dia sedang bertugas menyapu jalanan kota Padang. Tidak sengaja ditemukannya kalung berlian Halimah, dan dikembalikan barang berharga tersebut ke pemiliknya. Melihat kesopanan dan tutur katanya yang baik, Halimah tahu kalau Midun bukanlah tahanan biasa. Halimah pun meminta tolong Midun untuk menyelamatkan dirinya. Saat itu masa tahanan Midun hampir habis. Seolah sudah suratan takdir, dirinya enggan kembali ke kampungnya, karena Midun telah maklum bahwa selama masih ada Kacak, hidupnya tidak akan tenteram.

Tanpa menemui banyak rintangan, Midun berhasil menyelamatkan perempuan yang baru dikenalnya itu. Ternyata Halimah selama ini hidup dalam marabahaya, bapak tirinya yang peranakan Belanda bisa menerkamnya setiap saat. Merasa telah menemukan bintang penolong, Halimah mempercayakan sepenuhnya ke Midun untuk mengantarkan dirinya ke daerah asalnya, di Bogor.

Dua pasang muda-mudi itu menumpang kapal ke Batavia. Di Pelabuhan Teluk Bayur, Midun sentimental bakal berpisahan jauh dengan tanah tumpah darahnya. Namun tekadnya sudah bulat. Bakal dicarinya penghidupan, dimanapun juga.

Setelah beberapa saat tinggal bersama keluarga ayah kandung Halimah di Bogor, Midun memutuskan untuk mandiri, walaupun berat berpisah dari kekasihnya. Merantau ke Jakarta, Midun kembali terperosok. Pemodal Arab yang meminjamkannya uang mencoba memperalatnya untuk mendapatkan Halimah yang cantik.

Lepas dari tahanan di Glodok, Midun secara kebetulan menyelamatkan nyawa seorang sinyo Belanda. Sebagai ucapan terima kasih, bapak si anak menawarkan Midun untuk bekerja di kantornya. Midun yang rajin dengan cepat menanjak karirnya. Setelah beberapa waktu, Midun yang saat itu sudah menikah dengan Halimah mengajukan mutase ke Sumatera Barat Gayung pun bersambut. Midun diangkat menjadi asisten demang di negerinya sendiri.

Saat itu sudah enam tahun sejak Midun meninggalkan kampungnya. Seluruh keluarga menyambut dengan sukacita, kecuali bapaknya yang sudah tiada. Kacak, yang saat itu menjadi penghulu kepala, mati kutu melihat Midun telah menjadi seorang pejabat. Seperti tokoh jahat yang harus musnah, setelah beberapa saat Kacak menerima vonis hukuman karena penggelapan pajak. Sedangkan Midun, hidup bahagia dan berhasil memajukan negerinya.

Jejak Peradaban

Sebagai sebuah novel, SMN tidaklah istimewa. Jalan ceritanya linier dan mudah ditebak, sehingga kadang terasa hambar. Satu poin yang kritis, penokohan dalam kisah ini kurang kuat. Sifat-sifat Midun dan Kacak, yang menjadi wakil dari golongan putih dan hitam, seolah didikte oleh penulis, tanpa adanya perkembangan karakter yang signfikan dari tokoh-tokohnya. Seorang Midun, meskipun amat langka, mungkin ada insan yang sempurna dan luar biasa sabar seperti dirinya. Namun Kacak, meskipun jelas bahwa dia adalah seorang megalomania, adakah manusia yang memiliki sifat seburuk itu?

Namun sepertinya ini tidak menjadi masalah bagi Tulis Sutan Sati. Alih-alih mencoba menerangkan mengapa Kacak bisa bersifat demikian, sejak awal dimulai cerita dia dengan eksplisit menggunakan stereotyping. “Matanya juling, kemerah-merahan warnanya. Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal itu sudah menyatakan, bahwa ia seorang yang busuk hati.” Tidak hanya bagi Kacak, Midun pun diberinya stereotype, “Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.”

Tentu memberikan asosiasi semacam itu harus dipikirkan dengan hati-hati. Karya sastra juga berfungsi sebagai media pengajaran, sehingga pembaca bisa terjebak untuk selalu menganggap orang-orang yang memiliki ciri-ciri fisik seperti Kacak sudah pasti jahat. Tetapi masih bisa dimaklumi. Novel ini ditulis di tahun 1920-an. Di masa itu, novel “Sitti Nurbaya” yang legendaris itupun memberikan stereotip yang kurang lebih sama kepada tokoh antagonis Datuk Meringgih.

Selain itu, sepertinya penulis memang lebih fokus terhadap jalinan antar kejadian, dan inilah kekuatan dari novel ini. Pembaca diajak untuk merenungi, bahwa perbuatan yang buruk, walaupun diupayakan sekeras apapun, bakal kalah melawan niat yang tulus ikhlas. Walaupun lagi-lagi, rangkaian ceita itu tidak digarap secara mendalam dan terlalu banyak melibatkan unsur kebetulan. Membuat SMN kurang realistis. “Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak Kacak menjadi Tuanku Laras, Midun dan Kacak sudah bermusuhan. Ketika mereka masih kecil-kecil, acap kali terjadi pertengkaran, karena berlainan kemauan.” Seolah penulis mendikte bahwa permusuhan Kacak dan Midun sudah dari sananya.

Meskipun begitu, SMN tetaplah sebuah karya sastra tanah air yang berharga. Novel ini menampilkan latar belakang budaya Minangkabau yang apik. Mulai dari budaya matrilineal sampai etos berdagang orang Minang yang kental, ditunjukkan dalam sebuah cerita dimana Midun dan Maun yang ingin menonton pasar malam, memikirkan akan membawa barang dagangan apa yang bisa dijual disana.

Tulis Sutan Sati pun tidak segan menyelipkan dua kritiknya terhadap poligami, suatu hal yang cukup sensitif di masa itu. Pertama adalah saat Gempa Alam membawa Midun ke penjara Padang. Dikisahkannya belasan janda penghulu kampung yang merana hidupnya setelah diceraikan. Ini adalah sindiran yang amat tajam akan budaya matrilineal Minangkabau, dimana seorang perempuan yang sudah kawin tetap menjadi tanggungan keluarganya. Maka dari itu, seorang lelaki bangsawan pun bisa seenaknya kawin cerai tanpa ada beban. Kedua, saat berada di dalam kapal laut, Midun mempersoalkan bahwa poligami yang tidak dijalankan dengan adil, malah bisa menjadi runyam. “Bahkan yang banyak saya lihat, perempuan itu dipandangnya sebagai suatu barang untuk pemuaskan hawa nafsunya saja.” Kecemburuan yang timbul, bahkan bisa membawa seorang isteri saling bersaingan memberi pekasih dan guna-guna seperti yang dialami ibu Halimah.

Terlepas dari segala kekurangannya, SMN tetap meninggalkan jejak yang penting di dunia sastra tanah air. Sudah sepantasnya karya sastra ini dapat terus kita bahas dan gali kedalaman maknanya.

Groningen, Juli 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s