Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

6 Comments

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Bukanlah suatu kebetulan jika “Indonesia Menggugat” dan “Indonesia Merdeka”, dua pledoi yang ditulis oleh proklamator negeri ini, Sukarno dan Hatta, ketinggian mutunya masih dibicarakan para ahli hingga kini. Cendekiawan yang lain di masa itu melahirkan banyak karya yang tak kalah pentingnya. Sutan Syahrir menulis “Perjuangan Kita” yang monumental di kala perang kemerdekaan. Bahkan seorang guru seperti Sam Ratulangi pun, memiliki kemampuan untuk menulis di luar bidangnya. Bukunya yang berjudul “Indonesia di Percaturan Pasifik” adalah karya visioner di bidang hubungan internasional yang melampaui jamannya. Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Ratulangi adalah anggota dari generasi yang gemar membaca.

Pentingnya membaca

Perpustakaan umum di Belanda. Seorang bayi dengan paket buku gratis dari pemerintah. Sumber: [2]

Perpustakaan umum di Belanda. Seorang bayi dengan paket buku gratis dari pemerintah. Sumber gambar: [2]

Apakah membaca itu penting? Penelitian yang memberikan jawaban positif atas pertanyaan ini sudah tak terhitung. Manfaat yang paling kasat mata adalah akumulasi pengetahuan. Buku adalah sumber ilmu. Berbeda dengan guru di kelas yang memiliki jadwal tertentu, belajar dari buku waktunya fleksibel. Selain itu, para ahli menyebutkan bahwa anak-anak yang terbiasa membaca sejak kecil, kelak saat dewasa akan lebih berani dan mandiri dalam mengemukakan pendapatnya. Hipotesis ini rasional. Membaca adalah sebuah aktivitas soliter dimana seseorang dapat mengeksplor daya pikirnya seluas mungkin tanpa takut ada yang menyalahkan.

Begitu pentingnya membaca sehingga negara-negara maju tidak main-main untuk menjamin kebutuhan baca penduduknya. Saya dan keluarga selama hampir empat tahun terakhir ini tinggal di Belanda. Kami melihat betapa pemerintah disini begitu serius untuk mendorong rakyatnya supaya gemar membaca sejak sedini mungkin. Sejak putera pertama kami berusia tiga bulan, pemerintah kota telah mengirimkan paket yang berisi buku-buku bayi ke rumah. Paket itu gratis dan merupakan program standar di setiap kota.

Pelaku Aksi
Keluarga Menanamkan kecintaan membaca di tingkat keluarga:

  • Menganggarkan pembelian buku dalam belanja bulanan keluarga.
  • Menyimpan dan mencatat buku dengan baik, contoh bisa dilihat disini.
  • Orangtua rutin membacakan cerita harian untuk anak sejak sekecil mungkin.
  • Orangtua rutin membaca, bisa dimulai dengan koran/majalah, baru kemudian buku jika sudah terbiasa.
  • Mengagendakan bincang-bincang buku di keluarga sebulan sekali, sambil minum teh.
Komunitas Menanamkan kecintaan membaca pada anak-anak dari golongan ekonomi lemah yang secara logika sulit untuk membeli buku:

  • Mulai dari orang-orang terdekat. Misal anak-anak ART atau saudara yang kurang mampu.
  • Menginformasikan fasilitas-fasilitas gratis yang bisa dimanfaatkan, misalnya perpustakaan daerah, perpustakaan gratis yang dikelola oleh komunitas, atau perpustakaan digital.
  • Menyumbangkan buku/majalah bekas, baik langsung ke individu, maupun ke perpustakaan komunitas.
  • Jika memiliki kelebihan rezeki, dapat juga menyumbangkan dana.
Pemerintah Pemerintah c.q. Kemdikbud dapat mewajibkan program baca rutin di sekolah-sekolah yang fasilitas perpustakaannya telah memadai, atau yang memiliki infrastruktur teknologi informasi, untuk mengakses pustaka digital gratis:

  • Setiap dua minggu sekali, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menentukan sebuah tema, dan siswa bebas memilih buku yang tersedia di perpustakaan (fisik/digital) untuk dibaca di rumah.
  • Setelah dua minggu, isi buku dibahas bersama-sama di kelas.
  • Program ini, sebaiknya tidak perlu mendapatkan penilaian dari guru seperti PR atau tugas sekolah.
  • Untuk siswa SD, tema berkisar penanaman budi pekerti dan moral, yang banyak tersedia di cerita-cerita rakyat.
  • Untuk siswa SMP dan SMA, tema berkisar tentang penalaran naratif untuk persoalan sosial masyarakat, sejarah, dan ideologi. Sumber bacaan dapat berasal dari karya sastra klasik tanah air.

Selain buku, di dalam paket juga terdapat kartu anggota perpustakaan. Pemerintah Belanda telah menyediakan perpustakaan di setiap wijk (setara dengan gabungan beberapa RW). Buku-buku di perpustakaan umum bagus dan lengkap mulai kategori umur bayi sampai dewasa. Setiap orang bisa pinjam buku dengan gratis, dan bisa dikembalikan ke sebarang perpustakaan yang ada di seluruh penjuru kota.

Membangun fasilitas sedemikian masif jelas tidak murah, dan mungkin kita menganggapnya berlebihan. Namun coba pikirkan. Jika jasmani memerlukan penyegaran sehingga berbagai ruang publik untuk berolahraga dibangun, akal pikiran pun sama, otak kita perlu dilatih secara rutin supaya tidak kaku. Persis seperti slogan yang tertera di kartu perpustakaan, “lezen is dromen met je ogen open”, membaca adalah bermimpi dengan kedua matamu yang terbuka.

Keluarga membaca

Oke sekarang kita telah sepakat bahwa membaca itu penting. Lantas apakah Pemerintah Indonesia harus membuat fasilitas seperti di Belanda? Tentu idealnya begitu, tetapi untuk kondisi sekarang, itu tidak rasional. Indonesia tidak sekaya Belanda. Jangankan membagikan paket buku gratis untuk bayi yang baru lahir, untuk memperbaharui koleksi di perpustakaan daerah saja, anggarannya sering kurang.

Maka kita bisa menempuh cara yang lebih praktis, yaitu dengan menanamkan kecintaan membaca di masing-masing keluarga. Contohnya begini, awal tahun ini, saya dan isteri melakukan pendataan lebih dari tiga ratus buku koleksi keluarga kecil kami. Basis datanya sederhana saja, menggunakan Google Spreadsheet, tautannya dapat dilihat disini. Ini adalah usaha kami untuk belajar mencintai buku, dimana buku tidak hanya dibeli, tetapi juga harus dirawat dan dikelola dengan serius, dimana pencatatan adalah salah satu tahapannya. Dengan basis data juga dapat lihat statistik sebaran jenis/genre koleksi, sehingga dapat diputuskan buku jenis apa yang masih perlu dimiliki.

Selain mencatat, saya dan isteri juga rutin membacakan buku untuk putera kami yang sekarang berumur satu setengah tahun. Biasanya isteri membacakan di siang hari, dan giliran saya bercerita menjelang tidur. Kebiasaan itu dilakukan sejak putera kami berumur dua bulan. Anak kecil adalah makhluk yang paling mudah dibentuk. Karena sudah dibiasakan, Kinan sekarang sering meminta sendiri buku-buku yang ingin dibacakan.

Tidak hanya anak, orangtua juga harus berkomitmen. Jika membaca buku masih dirasa berat, bapak bisa mulai dengan membaca koran dan ibu membaca majalah keluarga. Harap dicatat hanya koran/majalah cetak, karena berita online banyak yang kualitasnya memprihatinkan. Tidak masalah mulai dengan koran/majalah. Kalau sudah terbiasa, setelah setahun bisa mulai untuk rutin membaca buku. Ada baiknya juga keluarga mengalokasikan sekali dalam sebulan untuk saling menceritakan buku-buku yang sudah dibaca. Sambil minum teh tentu menyenangkan. Berat? Tidak kok. Kalau membicarakan acara lawak di televisi bisa begitu bersemangat, kenapa tidak untuk mendiskusikan buku.

Komunitas membaca

Oke sekarang kita sepakat bahwa membaca itu penting. Katakanlah semua keluarga di Indonesia sekarang sudah berminat untuk rutin membaca. Namun perlu diingat, membaca itu perlu buku, sedangkan membeli buku membutuhkan uang. Disinilah masalahnya. Tidak semua keluarga mampu untuk membeli buku. Di republik ini masih terdapat puluhan juta keluarga yang pendapatannya kurang dari empat juta rupiah per bulan. Jadi manusiawi, jika orang lebih memilih untuk menghabiskan lima puluh ribu rupiah buat membeli lauk pauk dibandingkan sebuah buku.

Tetapi tidak perlu patah semangat, masih ada jalan untuk menciptakan komunitas yang mencintai membaca. Saat ini sudah makin banyak yang peduli dan para sukarelawan itu menyediakan fasilitas perpustakaan gratis, beberapa contohnya adalah sebuah program dari Indonesia Mengajar dan program lain yang dapat dilihat disini. Masih banyak ratusan contoh lainnya. Selain itu, perpustakaan daerah bisa dimanfaatkan. Masih ada juga Pustaka Digital Telkom, dimana bukan hanya e­-book yang disediakan, tetapi juga Telkom telah membangun ratusan tempat di penjuru Indonesia, dimana warga yang tidak memiliki internet bisa menikmati pustaka. Saya telah mencoba PaDi Telkom dan memang cukup bagus. Konon, pustaka digital milik Perpusnas juga cukup baik, meskipun saya belum pernah mencobanya.

Kita dapat menginformasikan berbagai layanan gratis tersebut kepada mereka yang kurang mampu, sehingga hambatan finansial tidak sampai meredupkan semangat membaca. Dimulai dengan orang-orang terdekat, misal anak-anak ART atau saudara yang kurang mampu. Kalau memiliki uang lebih, tidak ada salahnya didonasikan untuk perpus-perpus gratis itu. Tiada uang, buku dan majalah bekas pun bolehlah disumbangkan. Buat kita, mungkin sudah tidak berarti. Namun percayalah, banyak anak-anak yang dapat majalah bekas pun amat kegirangan, dan dibacanya terus-menerus sampai hampir sobek. Saya dulu mengalami sendiri.

Korporasi juga bisa berpartisipasi. Misalnya TMMIN lewat program CSR menyediakan anggaran untuk membangun perpustakaan gratis, atau membagikan buku-buku ke daerah. Salah satu program CSR yang patut mendapatkan apresiasi adalah dari Telkom Indonesia. Tidak hanya meluncurkan platform pustaka digital dan membangun balai baca, Telkom menindaklanjutinya dengan lomba yang merangsang minat generasi muda untuk kembali menengok karya-karya sastra klasik tanah air. Ini merupakan langkah yang bagus, dan perusahaan-perusahaan lain yang berminat dapat bekerjasama, sehingga nanti terbentuk semacam konsorsium CSR yang memfasilitasi perpustakaan gratis. Bukankah ini adalah prospek yang menarik? Dengan kekuatan dana gabungan CSR yang besar, usaha untuk membuat komunitas membaca bisa seoptimal mungkin.

Prakarsa pemerintah

Usaha-usaha yang dilakukan di level keluarga dan komunitas, bakal kurang artinya tanpa prakarsa pemerintah. Minat baca kita yang rendah sebetulnya telah disadari. Sebagai contoh, kita sering membuat perbandingan, bangsa asing menunggu antrian sambil membaca, sementara kita lebih suka memainkan gawai (gadget). Namun, pernahkah kita berpikir kritis darimanakah perbedaan besar itu muncul? Apakah misalnya di Belanda, dengan adanya fasilitas perpustakaan yang megah, penduduk negeri kincir angin bakal otomatis gemar membaca?

Remaja yang sering bermain dengan gawai dan jarang membaca buku memiliki kemampuan penalaran naratif yang rendah. Sumber gambar: [3]

Remaja yang sering bermain dengan gawai dan jarang membaca buku memiliki kemampuan penalaran naratif yang rendah. Sumber gambar: [3]

Tidak sama sekali! Tanpa adanya program yang sistematis dari pemerintah, orang-orang Belanda juga akan sibuk dengan gawainya. Di negara maju budaya membaca bisa sebegitu tinggi karena pemerintah telah mendesain kurikulum sedemikian rupa, sehingga sejak masih di sekolah dasar, anak-anak sudah terbiasa akrab dengan buku.

Pemerintah Indonesia c.q. Kemdikbud bisa mencontohnya. Untuk sekolah-sekolah yang telah memiliki fasilitas perpustakaan yang baik atau perangkat teknologi informasi untuk mengakses pustaka digital, bisa diwajibkan untuk membuat program cinta baca. Guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat memberikan tugas baca setiap dua minggu sekali. Siswa bebas memilih buku sesuai minatnya, sepanjang masih sesuai dengan topik yang ditentukan. Selain membaca, siswa harus dilatih untuk menceritakan hasil bacaannya ke teman-teman sekelas. Melalui sesi berbagi ini, anak-anak dapat belajar percaya diri dan mengapreasiasi usaha orang lain.

Supaya tidak menjadi sekedar formalitas bagi siswa, lebih baik program cinta baca tidak perlu mendapat penilaian seperti layaknya tugas sekolah yang lain, karena yang terpenting adalah nilai-nilai yang terambil dari buku. Cerita rakyat seperti Ande-Ande lumut, bukankah merupakan pelajaran budi pekerti bahwa tidak sepantasnya kita menilai seseorang dari penampilannya semata? Sedangkan siswa SMP dan SMA dapat membaca karya sastra klasik, misalnya seperti Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, dimana begitu banyak pelajaran tentang nasionalisme dan cinta tanah air yang dapat diambil dari tokoh Minke.

Seorang remaja perlu banyak membaca untuk membentuk karakter. Sekarang coba Anda bikin survei singkat ke mahasiswa-mahasiswa tingkat awal. Tidak perlu bertanya yang berat-berat seperti masalah nasionalisme, coba mintalah pendapat mereka tentang persoalan dimana amat banyak remaja lain seusia mereka yang tidak mampu untuk melanjutkan kuliah. Saya yakin sebagian besar akan kebingungan menyampaikan pendapatnya, atau bahkan apatis. Sebuah generasi yang alam pikirannya jarang terangsang untuk melakukan penalaran naratif, akan tumpul nuraninya. Padahal saat kemarin fenomena “awkarin” viral di media sosial, ribuan remaja dengan bersemangat membahas. Bukankah ini menyedihkan? Di pundak merekalah nasib bangsa ini digantungkan.

Membaca adalah membuka jendela dunia, dimana pengetahuan bisa digali melampaui batas-batas pelajaran sekolah. Bukan pekerjaan mudah untuk membuat rakyat Indonesia mencintai buku, tetapi itu juga bukan pekerjaan mustahil. Semua pihak; keluarga, komunitas, dan pemerintah tinggal melakukan tugasnya masing-masing. Kemudian konsisten dan bersabar, karena paling cepat dua tiga puluh tahun lagi, baru dapat kita lihat hasilnya. Dan bukankah saat itu negeri ini sedang menikmati bonus demografi, dimana jumlah anak-anak muda melimpah ruah? Akankah negeri ini ditopang oleh generasi yang di masa mudanya asyik dengan gawainya dan budaya yang serba instan? Atau generasi yang gemar membaca, berbudi pekerti mulia dan mengantarkan kita semua menuju Indonesia jaya? Tergantung kita sendiri untuk memilih yang mana.

Groningen, Agustus 2016

Sumber bacaan:

  1. “Visi Keluarga Transformatif – Visi yang Berpihak Pada Masyarakat”, http://proaktif-online.blogspot.nl/2015/08/opini-visi-keluarga-transformatif-visi.html, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  2. “BoekStart”, http://www.bibliotheekaandevliet.nl/diensten/boekstart.html, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  3. “Kebanyakan Main Smartphone Bikin Kita Gak Smart. Ini Sebabnya!” http://www.keepo.me/lifestyle-channel/kebanyakan-main-smartphone-bikin-kita-gak-smart-ini-sebabnya-2, diakses tanggal 12 Agustus 2016
  4. Perpustakaan Keluarga Cahyono, https://docs.google.com/spreadsheets/d/1RtkgDB8Z1q9y7lq11Im_PAVfliObQMM3swGQKhuWFrw/edit#gid=846508825, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  5. “90 persen orang Indonesia tak suka baca buku”, http://www.antaranews.com/berita/526116/90-persen-orang-indonesia-tak-suka-baca-buku, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  6. “Tentang Indonesia Menyala”, https://indonesiamengajar.org/tentang-indonesia-mengajar/indonesia_menyala/, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  7. “Membaca Sejarah Jakarta di Perpustakaan Gratis Kota Tua”, http://traveling.bisnis.com/read/20150328/224/416948/membaca-sejarah-jakarta-di-perpustakaan-gratis-kota-tua, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  8. Pustaka Digital Telkom, https://qbaca.com/, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  9. “Telkom Bangun Seribu Balai Pustaka Digital”, http://www.telkom.co.id/telkom-bangun-seribu-balai-pustaka-digital.html, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  10. e-Resources Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, http://e-resources.perpusnas.go.id/, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
  11. Yudi Latif, “Pendidikan Tanpa Mendidik”, Kompas, 4 Agustus 2016.

 

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

6 thoughts on “Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

  1. Tulisan yang membuat saya kembali membaca ahahaha, salut!

  2. Reblogged this on aku pikir aku ada and commented:
    Tulisan yang keren

  3. Pingback: Mari Singgah – Hiperkonjugasi

  4. Pingback: Mari Singgah |

  5. Pingback: Mari Singgah | A Garden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s