Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Generasi Muda, Ayo Bertanggung Jawab!

4 Comments

Irama musik kendang kempul terus menghentak. Penyanyi yang bajunya tampak terlalu sempit itu tidak kenal lelah terus bergoyang, walaupun dengan suara yang tidak bagus-bagus amat. Di bawah panggung, ratusan penonton seolah tersihir untuk ikut berjoget dan berdesak-desakan. Sudah bisa dipastikan, keesokan harinya anak-anak kampung tidak bisa bermain bola. Lapangan menjadi lautan sampah, rumputnya pun tercerabut amburadul.

Di ujung sana, tampak seorang remaja pria mendekap pacarnya dengan mesra. Kena sorot temaram lampu petromaks dari gerobak tukang kacang goreng, wajah si perempuan tersipu malu. Setelah saling berbisik, keduanya bergandengan tangan menuju gedung temaram di seberang.

Gedung itu rupanya bekas sarana olahraga. Bekas kolam renang dengan menara loncat yang hampir ambruk ada di sisi kiri. Di sayap kanan, garis-garis samar menunjukkan kalau di situ dulu mestinya orang bermain bulutangkis. Mereka menuju ruang tengah yang bersekat-sekat. Mungkin bekas tempat tidur atau kamar mandi atlet. Makin mendekati tujuan, suara-suara yang bisa membuat jantung berdesir menandakan kalau bangunan itu tidaklah sepi. Bekas bungkus Durex, Fiesta, dan macam-macam merk lain berserakan di lantai. Kaki si pemuda tidak sengaja menendang sesuatu, rupanya bekas botol minuman. Suara botol kaca yang bergelontangan membuat ada yang melongok. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya kalau ia sedang berada dalam pengaruh alkohol. Di belakangnya terlihat kaki seorang perempuan. Dua orang pemuda itu hanya saling tersenyum setelah bersitatap, seolah telah paham maksud masing-masing.

***

Sepasang kekasih itu adalah teman-temanku sekolah, belasan tahun yang lalu. Pasangan-pasangan yang lain, meskipun bukan kawan bermain, bisa jadi aku kenal mukanya kalau bertemu di jalan, karena kampung kami memang kecil. Si perempuan, waktu kelas dua SMA hamil. Pacarnya ingin supaya kandungannya digugurkan. Selepas ashar, masih berpakaian seragam putih abu, dia terisak di boncengan sepeda motor. Di dalam tasnya ada mayat anaknya terbungkus plastik.

Peristiwa semacam itu, sudah terlalu sering didengar. Seorang siswi pernah membuat heboh orang sekampung. Di ritual malam minggu sebuah geng, perempuan itu menjadi joki, istilah untuk orang yang bertugas untuk menuangkan minuman keras. Tidak jarang, perempuan muda belia itu kemudian digilir. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Warga-warga senior pun gusar. Namun karena tidak pernah ada bukti, sulit untuk menindaknya.

***

Apakah kampungku sarang mesum? Tidak juga. Kampung itu merupakan basis NU yang kuat, sebuah pesantren dari dulu beroperasi di sana. Masjid dan mushola pun sedemikian banyaknya hingga kalau tiba waktu sholat, suara adzan yang bersahut-sahutan saling mengalahkan. Yang lebih penting lagi, perlu diingat bahwa tingkah laku yang tidak pantas semacam itu sebenarnya tidak banyak. Mungkin tidak sampai tiga puluh persen dari anak-anak yang berbuat sedemikian. Namun karena tergolong sebagai perbuatan yang tercela dan menghebohkan, sekalinya ada yang berbuat semacam ini, seolah seisi kampung terkena getahnya.

Tidak adakah kontrol sosial di kampung? Menurutku, warga kampung adalah orang-orang yang sangat peduli. Sejak dulu, orang-orang selalu menindak tindakan yang tidak senonoh. Tidak melalui sweeping ugal-ugalan seperti salah satu ormas berbasis agama itu, di desaku orang baru bertindak saat sudah ada kecurigaan. Misal dulu bapak sempat ikut “tim penggerebekan”. Pasalnya, setelah sekian lama, seorang pemuda sering sekali datang ke rumah seorang perempuan yang suaminya merantau ke luar negeri. Alasannya menjual beras. Namun menjual beras, apakah perlu dengan menutup korden? Saat disergap oleh warga, ternyata memang benar kalau mereka sedang mesum. Seperti seorang tikus, si tersangka pria bersembunyi di langit-langit rumah.

Walaupun tidak berpendidikan, orang-orang desa itu bijaksana. Tidak pernah tersangka yang baru tertangkap digelandang atau dihakimi di jalanan umum. Hukuman semacam itu, amatlah membekas bagi merosotnya harga diri. Biasanya tersangka langsung dibawa ke balai desa. Disitu diputuskan seperti apa hukumannya. Umumnya mereka disuruh untuk kerja sosial, misal mengeraskan jalan desa yang berlumpur (Jawa: nggrasak). Tidak hanya bijaksana, tapi juga adil. Pernah anak perempuan kepala desa tertangkap. Hukuman pun tetap diberikan tanpa terkecuali.

Usaha untuk membenahi moral pun tidak kurang-kurang. Sejak kecil, anak-anak dikirim mengaji ke surau selepas maghrib. Jarang ada remaja yang tidak pandai membaca kitab suci. Kiai-kiai pun tidak kurang-kurang memberikan berbagai wejangan dalam berbagai khutbahnya.

***

Dengan berbagai kontrol tersebut, kenapa perbuatan mesum tetap tumbuh subur? Kenapa tiap tahun ada saja ibu-ibu yang menggunjing kalau si A menikah dengan si B karena hamil duluan?

Analisisnya bisa sangat beragam. Namun menurutku, yang amat kurang adalah rasa tanggung jawab. Anak-anak muda itu, tidak bisa berpikir jauh, bahwa di balik perbuatan mereka, ada tanggung jawab yang harus diemban. Dua orang temanku di awal cerita ini, menikah beberapa bulan setelah lulus SMA. Perempuan itu hamil lagi. Kali ini dia tidak mau lagi menggugurkan janinnya. Hanya dua bulan setelah si jabang bayi lahir, pasangan itu bercerai. Pernikahan dalam usia muda itu, tidak dilakukan setelah melalui proses berpikir yang dewasa. Dua orang itu, belum paham bahwa dalam pernikahan, buah dari perbuatannya, terselip tanggung jawab yang besar. Pacaran selama enam tahun pun kandas, seolah menunjukkan bahwa cinta kasih mereka selama ini semu belaka.

Tanpa sadar akan tanggung jawab, anak muda hanya berpikir enaknya saja. Padahal dampaknya mengerikan. Seorang temanku yang lain, hampir depresi setelah pacarnya yang sudah menodainya, minggat tak bertanggung jawab. Teman yang satu lagi, terkena penyakit kelamin karena terbiasa jajan. Menyedihkannya, jajan itu sudah dilakukannya sejak kelas tiga SMP!

Panutan yang serba barat juga menyesatkan. Kita berpikir bahwa hidup bebas ala bule itu menyenangkan. Sebagian dari kita mungkin beranggapan, dengan hidup yang tanpa sekat seperti itu pun, negara-negara barat bisa makmur. Padahal itu salah besar! Di Belanda yang aku tahu, siswa kelas 2 SMP memang sudah diajarkan untuk memasang kondom. Namun, orangtua boleh menolak kalau merasa anaknya belum siap. Selain itu, tanggung jawab selalu ditekankan kepada anak-anak yang masih muda belia itu.

Tidak hanya berupa nasehat guru, tanggung jawab itu diejawantahkan oleh pemerintah. Seorang anak yang lahir dari sebuah pasangan di luar nikah, harus dirawat dengan sungguh-sungguh oleh orangtuanya. Jika tidak, negara akan mengambil alih tanggung jawab pengasuhan itu. Namun tidak sesederhana itu. Orangtua yang tidak merawat anaknya dengan benar, bakal mendapat stigma negatif sepanjang hidupnya. Bagi orang barat, itu adalah cap yang amat memalukan. Maka dari itu, mereka berpikir seribu kali akan segala perbuatan yang bakal dilakukannnya, karena setiap aksi memiliki ekor berupa tanggung jawab.

***

Apakah tulisan ini mengajak kita supaya meniru cara barat yang bebas berbuat apa saja asal bertanggung jawab? Tentu tidak. Kita adalah orang timur. Kita pun punya tuntunan agama.

Tidak ada yang bisa mengendalikan seorang pemuda selain dirinya sendiri. Dalam urat nadi anak-anak umur belasan tahun, darah yang mengalir amatlah panasnya, sehingga mudah terpantik untuk melakukan segala sesuatu yang tampak menyenangkan. Selama bergaul dengan teman-teman, apakah tidak pernah terbersit dalam keinginanku untuk berbuat yang sama? Aku bukanlah nabi, tentu saja ada keinginan semacam itu. Namun masih bisa diproteksi dengan kesadaran akan tanggung jawab dalam diri ini.

Selain oleh guru-guru di sekolah dan mushola, wejangan-wejangan dari orangtua amatlah penting. Orangtua seringkali merasa canggung untuk membahas hal semacam ini dengan anaknya. Padahal, justru itulah kewajiban mereka. Aku masih ingat betul, saat aku sudah akil baligh, tidak bosan-bosannya Ibu mengulang-ulang nasihatnya. “Jangan pernah sekali-sekali kamu menodai perempuan!” Aku camkan betul-betul nasihat itu. Terbukti mempan. Selain itu, tentu sebagai manusia, walaupun masih muda remaja, kita dibekali akal pikiran. Kalau menghamili anak orang, bagaimanakah kelak menghidupinya? Kalau terkena penyakit kelamin, bagaimana masa depanku kelak? Kalau adik/kakak perempuan kita yang dinodai oleh seorang pria, relakah kita?

***

Usaha-usaha untuk menanamkan tanggung jawab harus senantiasa kita lakukan. Utamanya oleh pemuda-pemudi itu sendiri. Orangtua dan guru dalam hal ini hanya mengarahkan. Pemerintah, tentu bisa turut serta secara aktif. Misal menyediakan fasilitas dan yang bermanfaat untuk anak-anak muda. Contoh, kalau gedung tua di awal cerita ini dibenahi, mungkin pemuda-pemudi tidak terpikir untuk berbuat mesum di situ, mereka justru bisa berolahraga yang menyehatkan.

Pemuda dan pemudi harus sadar akan tanggung jawabnya. Sumber daya manusia yang unggul jauh lebih berharga dari emas dan minyak bumi. Namun sumber daya yang bobrok, dapat pula membawa sebuah bangsa menuju kehancuran. Tidak sampai dua puluh tahun lagi, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi berupa membludaknya penduduk dalam usia produktif. Sekarang tinggal pilihan kita. Pemuda-pemudi tanah air itu, bakal membawa negara kita menuju arah yang mana.

Groningen, Juli 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Generasi Muda, Ayo Bertanggung Jawab!

  1. ini kisah nyata?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s