Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Makanan dan Tata Krama

Leave a comment

Makanan dan tata krama itu mirip-mirip. Tergantung selera dan daerah. Tidak bisa dipukul rata harus sama untuk semua orang. Serba relatif.

Orang Jogja berpendapat kalau gudeg yang manis itu nikmat. Buat orang Madura, belum tentu sama. Apakah salah kalau orang Madura tidak suka gudeg? Jelas tidak. Orang Madura, makan soto pun kadang masih ditambahi garam. Mereka suka asin, itulah yang mereka biasa dari kecil. Asin adalah bagian dari hidup mereka yang tidak terpisahkan.

Begitu juga dalam hal bertata-krama. Ada yang cium tangan sebagai bentuk penghormatan ke yang lebih tua. Tetapi ada juga yang hanya berjabat tangan. Bukannya tidak hormat, tetapi karena mereka terbiasa dengan budaya yang egaliter (sama rata). Ada bangsa yang suka berterus terang. Ada juga yang menganggap bahwa dibicarakan nanti setelah pertemuan resmi usai itu lebih bijak. Ada suku yang perempuan-perempuannya kalau ingin mobil langsung bilang ke suaminya, namun ada juga yang mintanya muter-muter dulu, walaupun intinya juga tetap ingin punya mobil.

Manakah yang lebih sopan? Manakah yang lebih baik? Tidak ada, semua serba relatif. Tergantung kebiasaan masing-masing yang telah mengendap bertahun-tahun. Bagi orang Aceh dan Makassar, makanan berempah amatlah lezat. Namun belum tentu gampang menanamkan keyakinan akan lezatnya rempah ke orang Sunda, yang sepanjang hidupnya, tiap kali makan memetik dedaunan mentah yang segar dari pekarangan rumahnya. Begitu pula dalam hal tata krama. Bagi kebanyakan orang Indonesia, memegang kepala orang lain itu tabu. Tetapi bagi orang Arab, untuk menunjukkan rasa hormat, kepala tidak hanya dipegang, tetapi juga dicium, janggut lawan bicara pun kadang dielus-elus.

Semua serba relatif. Jadi, tak perlu dipaksakan. Ada bagian dari kebiasaan yang tidak bisa kita ubah, dan ada baiknya kita mengerti.

Meskipun begitu, apapun macamnya, makanan tetap punya standar. Kita tak suka makanan basi. Tak mau juga kita dengan makanan yang beracun. Dalam bertatakrama pun sama. Boleh orang tak cium tangan, boleh juga orang tidak menatap lawan bicara, tetapi dasar-dasar dalam berinteraksi dengan orang lain tidak boleh kita lupakan. Apakah itu? Jujur, sopan, tanggung jawab, dan memegang janji. Ibarat makanan, ini justru yang lebih penting untuk diperhatikan. Makanan boleh diberi cita rasa rempah, segar, asin, manis; tetapi kalau basi dan beracun, tidaklah berguna.

Selain itu, meskipun orang Madura tidak suka manis, tentu tidak elok kalau mencela saat disuguhi makan oleh orang Jogja. Begitu pula saat sedang berada di kampung orang lain. Meskipun ada pernak-pernik tata krama yang tidak selalu cocok di hati, boleh tidak disetujui, namun tidak ada salahnya untuk dimengerti.

Bagaimana supaya mudah mengerti? Sama seperti makanan. Kalau hanya mencoba yang itu-itu saja, makin susahlah lidah kita menerima cita rasa yang baru. Namun kalau sering bepergian, sering melihat dunia yang baru, berusaha untuk menempatkan diri di posisi orang lain, maka proses untuk menjadi mengerti bakal lebih mudah.

Groningen, Juli 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s