Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

“Quo Vadis” Penelitian

Leave a comment

Sumber: [1]

Sumber: [1]

Tahun lalu 250.000 dosen dan peneliti tanah air hanya menghasilkan 5.000 artikel ilmiah. Tidak perlu bermimpi untuk bersaing di tingkat internasional, Thailand saja publikasinya lebih dua kali lipat dari kita. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Jangan lupa juga bahwa sumber daya manusia negeri-negeri jiran tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Produktivitas tahunan sebesar 0,02 artikel ilmiah per peneliti ini mengecewakan, sekaligus mengherankan. Pasalnya, dosen-dosen kita umumnya mampu menghasilkan lebih dari lima makalah ilmiah selama studi doktoralnya di luar negeri. Namun, mengapa ketika sudah kembali bertugas di tanah air, menulis satu artikel per tahun pun terkadang amat sulit?

Kesalahan pengelolaan

Jika kapabilitas individu dosen sudah terbukti memadai, mungkin kesalahan ada pada sistem pengelolaan. Untuk itu, marilah kita coba menggali bagaimana seharusnya interaksi dibangun antara tiga institusi yang bisa menentukan kinerja penelitian sebuah negara; pemerintah, universitas, dan industri.

Peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan sangat krusial. Pemerintah seyogyanya menyadari pentingnya penelitian bagi negara. Di Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat yang pendidikan tingginya maju, pemerintahnya tidak hanya menggelontorkan dana dalam jumlah yang besar, namun juga telah memahami filosofi penelitian sebagai sebuah proses yang harus dilakukan dengan sabar, tekun dan teliti. Sebuah hibah riset disana umumnya berlaku selama tiga sampai lima tahun. Sedangkan di Indonesia, bagaimana bisa menghasilkan karya bermutu kalau waktu kerja efektif amatlah singkat? Dana hibah yang seringkali baru cair bulan April, enam bulan kemudian sudah harus ditulis laporan pertanggungjawabannya.

Bahwa dosen memiliki beban kerja administratif, negara-negara maju pun menyadari.  Universitas menyiasatinya dengan merekrut tenaga kerja tambahan. Dosen yang menerima hibah wajib merekrut mahasiswa program doktoral sejak awal proyek riset dimulai. Publikasi ilmiah yang menjadi syarat pendidikan mahasiswa S-3, menjadi jaminan bahwa makalah ilmiah bermutu pasti dihasilkan selama berlangsungnya proyek.

Publikasi seharusnya memang menjadi inti dari aktivitas penelitian. Berbeda dengan di Indonesia, di luar sana dosen tidak bisa mendapatkan honor sepeserpun dari dana hibah. Sistem ini membuat hibah riset tidak dipandang sebagai sumber pundi-pundi pemasukan tambahan. Justru mendapatkan hibah adalah sebuah tanggung jawab besar, karena dosen harus bertekun membimbing mahasiswa doktoral dan bersama-sama menghasilkan publikasi.

Riset di industri

Pemerintah dan universitas tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas kinerja penelitian nasional yang semenjana. Cobalah tengok data dari Bank Dunia (2015) tentang proporsi dana penelitian Indonesia terhadap produk domestik bruto, hanya 0,08%. Di negara-negara maju, angkanya sudah melebihi 1,5%, termasuk Singapura sebesar 2%.

Proporsi yang sangat kecil terhadap PDB menunjukkan bahwa kontribusi industri masih minimal dalam memajukan riset nasional. Negara-negara yang sudah mengatur kegiatan risetnya dengan baik, setiap kali membuka lowongan hibah, pemerintahnya mewajibkan industri atau LSM untuk berkontribusi minimal 10-15% dari dana riset yang diajukan oleh universitas. Skema ini cukup langka kita temui di tanah air. Industri kita memang banyak menjalin kerjasama dengan kampus-kampus ternama. Namun dalam bentuk proyek konsultansi, dimana dosen menerima sejumlah honor sebagai imbal jasa tenaga ahli. Bisa dipastikan, publikasi ilmiah tidak menjadi prasyarat dari model kerjasama jangka pendek semacam ini.

Menjalin kerjasama penelitian jangka panjang sulit dilakukan karena industri di tanah air memang belum paham pentingnya penelitian. Industri kelas dunia selalu mempunyai divisi litbang jempolan. Raksasa elektronik seperti Philips, salah satu sumber pendapatan terbesarnya adalah dari paten. Pencapaian itu tidak terjadi begitu saja. Philips mempunyai ratusan peneliti untuk mengerjakan riset jangka panjang, yang mungkin baru akan bermanfaat 15-20 tahun kemudian.

Profil di industri yang lain pun sama. Mereka memperkerjakan doktor-doktor sebagai pekerja riset. Di bidang sains dan rekayasa, alumni program doktor yang bekerja di industri bisa mencapai 70%. Fenomena ini yang tidak kita temui di Indonesia. Lihatlah perusahaan pelat merah kita. Dari semua BUMN yang total asetnya lebih dari 5.000 triliun rupiah itu, manakah yang telah mempunyai divisi litbang unggul? Berapa banyakkah peneliti dan paten yang mereka punya?

Bukanlah suatu kebetulan jika industri nasional tidak berjaya di negeri sendiri. Tanpa penelitian secara terus-menerus, kegiatan bisnis inti tidak akan pernah dikuasai dengan baik. BUMN yang bergerak di sektor-sektor strategis itu, terbukti tidak ada yang menjadi pemimpin pasar di bidangnya. Sektor sumber daya alam, energi dan transportasi nasional dikuasai oleh korporasi asing yang lebih menguasai teknologi mutakhir. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sabun dan sampo pun, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan perusahaan anak bangsa.

Alih-alih bergerak ke arah yang benar untuk menguasai bisnis inti, BUMN malah lebih repot membuka perguruan tinggi. Padahal, justru seharusnya kerjasama dengan universitas yang diinisiasi. Tanpa adanya upaya pemerintah untuk mendorong penelitian di industri, upaya untuk unggul di teknologi bakal terus menjadi mimpi.

Apakah kita juga lupa bahwa salah satu pioner riset negeri ini, B. J. Habibie, setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman, selama bertahun-tahun bekerja sebagai peneliti di industri. Saat kembali ke Indonesia, Habibie mencoba menerapkan pengalamannya untuk memajukan kerjasama penelitian antara pemerintah, universitas dan industri. Namun, usaha tersebut sejuah ini belum berhasil. Mungkin kita yang belum mengerti, tetapi semoga bukan tidak peduli.

Groningen, September 2016

Referensi:

  1. “Research Development Cartoons and Comics”, https://www.cartoonstock.com/directory/r/research__development.asp, diakses pada 16 September 2016.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s