Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Membuat rencana perjalanan liburan

Leave a comment

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Membuat rencana perjalanan (itinerary) liburan itu mudah. Bisa dikerjakan oleh siapapun, asalkan mengerti caranya. Dalam artikel kali ini, saya akan membagikan tips dan trik membuat itinerary berdasarkan pengalaman kami jalan-jalan di Eropa selama tiga tahun terakhir. Di akhir tulisan, saya telah menyertakan beberapa tautan untuk mengunduh beberapa contoh rencana perjalanan.

Pertanyaan paling mendasar? Mengapa harus membuat itinerary? Bukankah lebih menyenangkan kalau langsung datang ke destinasi wisata, duduk santai, dan menikmati liburan?

Ya, memang betul. Tapi kalau Anda liburannya ikut tur. Tinggal bayar kemudian mengikuti petunjuk. Kalau tidak mampu bayar tur, semua harus direncanakan sendiri. Mulai dari pesawat, jalur transportasi dalam kota, sampai beli makan, semua sendiri. Repot? Iya. Tapi menyenangkan. Kita pun bisa menyesuaikan rencana liburan sesuai keinginan dan minat kita tanpa tergantung ke orang lain.

Apakah itinerary itu penting? Mengapa tidak let it flows saja selama liburan nanti?

Sekarang begini. Kalau kita punya gaji bulanan, kemudian tidak membuat rencana alokasi keuangan, apa yang akan terjadi di akhir bulan? Kemungkinan besar adalah uang kita menjadi tak bersisa dan tidak tahu larinya kemana saja. Ujungnya bakal menyesal tidak bisa menabung. Liburan pun sama. Tanpa rencana perjalanan, kegiatan di tempat tujuan bakal tidak optimal. Bakal kurang maksimal manfaat dari uang yang telah kita bayar untuk liburan.

Sekarang sudah paham mengapa harus membuat itinerary? Oke, lalu bagaimana langkah-langkahnya?

1. Menentukan tujuan

Tentukan dulu Anda mau kemana. Apakah ingin melihat peninggalan Renaissance? Pergilah ke Italia. Kalau ingin melihat negara maju, bisa pergi ke Jerman. Ingin mengagumi sisa kekhalifahan Islam? Silakan ke Turki atau Spanyol bagian selatan.

Bisa juga memakai cara kedua, yang lebih sering saya pakai, pergi berlibur ke tempat yang tiketnya sedang murah. Terdengar kikir? Mengapa tidak. Namanya juga liburan semi backpacker, biaya murah adalah salah satu kriteria performansi utama. Lagipula, setelah dapat alternatif tujuan dengan tiket murah, kita masih evaluasi dulu. Kalau tempatnya tidak menarik, tidak perlu berangkat kesana.

Dengan cara ini, saya pernah dapat tiket pp ke Italia seharga 175 Euro (Rp 2,5 juta) untuk berdua. Pernah juga ke Turki bertiga dengan anak istri cukup bayar tiket pesawat 160 Euro (Rp 2,3 juta) saja.

Bagaimana caranya? Mudah kok. Saat ini sudah banyak website yang mencari tiket penerbangan murah. Salah satu yang paling sering kami gunakan adalah Skyscanner. Caranya, tentukan tempat berangkatnya. Misalnya Schiphol, atau pilih Netherlands untuk mengecek penerbangan murah dari semua bandara di Belanda. Tujuannya, pilih “Everywhere”. Waktu perjalanan, pilihlah “Cheapest month”, atau kalau ada preferensi bulan tertentu, bisa memilih “Whole month”.

Mencari penerbangan murah di Skyscanner.

Mencari penerbangan murah di Skyscanner.

Tinggal klik “Search flights”, kemudian akan muncul belasan opsi penerbangan murah. Tinggal dievaluasi dan dipilih.

2. Memilih moda transportasi

Pemilihan moda tidak kalah penting, karena berdampak ke kenyamanan dan efisiensi waktu/tenaga. Untuk perjalanan jauh (> 800 km) jelas paling enak adalah menggunakan pesawat. Namun untuk jarak menengah, situasinya cukup tricky apakah lewat udara atau darat (kereta/bis).

Sebagai contoh, Amsterdam-Paris dengan jarak sekitar 550 km. Ada tiga alternatif moda:

  • Pesawat, harga 100 Euro, durasi 1 jam.
  • Kereta, harga 100 Euro, durasi 3,5 jam.
  • Bis, harga 20 Euro, durasi 8 jam.

Manakah yang harus dipilih? Tergantung Anda. Kalau kriteria utama adalah biaya, pakailah bus. Karena perjalanannya panjang, pilih berangkat malam hari, supaya waktu jalan-jalan tidak terpotong.

Kalau harga tidak jadi masalah, memilih apakah hendak memakai pesawat atau kereta tergantung situasi. Kalau saya adalah solo traveler, mungkin akan pilih pesawat. Datang ke bandara satu jam sebelum lepas landas pun berani. Tetapi kalau sudah punya anak, naik pesawat itu cukup merepotkan. Barang bawaan lebih banyak, harus lipat-lipat stroller, dan di kabin pesawat pun tidak terlalu nyaman. Maka mungkin saya bakal lebih memilih kereta. Walaupun durasi perjalanan lebih lama, harus diingat kalau tidak ada waktu yang terbuang untuk check-in, boarding dan ambil bagasi. Selain itu, biasanya letak stasiun adalah di pusat kota.

Mungkin juga Anda memang ingin mencoba moda yang unik. Misalnya naik shuttle ferry dari Tallinn ke Helsinki pp, atau naik kapal selama belasan jam sambil menikmati langit malam Skandinavia di perjalanan Riga ke Stockholm. Semua alternatif bisa dipertimbangkan.

3. Menentukan rute perjalanan antar kota

Kalau tujuan kita hanyalah di satu kota (misal: Paris), maka tidak ada masalah. Namun kalau kita berencana ke banyak kota bakal ada pertanyaan tambahan. Contohnya adalah tur Eropa tengah ke Bratislava, Praha, Wina, Budapest; dan tur Italia ke Bologna, Roma, Milan, Venezia, Florence.

  • Manakah bandara kedatangan dan kepulangan?
  • Bagaimana urutan perjalanan antar kota?
  • Menggunakan moda apa untuk pindah antar kota?

Darimana kita harus mulai analisis? Paling mudah, lihatlah peta, tinggal buka Google Maps. Dari situ jelas terlihat bahwa dari posisi geografis, paling bijak adalah mengambil rute Budapest – Bratislava – Wina – Praha atau sebaliknya. Kalau memang sekalian ingin perjalanan panjang, bisa ditambah rute Dresden – Berlin yang secara posisi masih berdekatan.

Kalau sudah ketemu rutenya, berikutnya adalah menentukan arrival and departure cities. Caranya, evaluasi semua alternatif yang mungkin:

  • Alt 1, Belanda – Budapest; Prague – Belanda
    • Schiphol – Budapest: KLM; Schiphol – Budapest; easyJet; Rotterdam – Budapest: Transavia; Eindhoven – Budapest: Wizz Air.
    • Prague – Schiphol: KLM; Prague – Schiphol: Czech Airlines; Prague – Schiphol: easyJet; Prague – Eindhoven: Transavia.
  • Alt 2, Belanda – Prague; Budapest – Belanda
    • Schiphol – Prague: KLM; Schiphol – Prague: Czech Airlines; Schiphol – Prague: easyJet; Eindhoven – Prague: Transavia.
    • Budapest – Schiphol: KLM; Budapest – Schiphol: easyJet; Budapest – Rotterdam: Transavia; Budapest – Eindhoven: Wizz Air.

Evaluasi semua alternatif yang mungkin. Paling penting cek harga, jam penerbangan, jarak bandara dari kota asal, dan bagasi. Kalau sudah terbiasa, situs Skyscanner bisa dimanfaatkan untuk membuat keputusan ini.

Untuk kasus kami, waktu itu alternatif yang paling menguntungkan adalah:

  • Rotterdam – Budapest: Transavia.
  • Prague – Schiphol: Czech Airlines.

Sedangkan untuk pindah antar kota, kami menggunakan kereta karena jaraknya cukup dekat (lihat poin 2).

4. Memesan penginapan

Urusan transportasi sudah beres, selanjutnya adalah tempat menginap. Setelah seharian penuh jalan-jalan, tentu kita ingin beristirahat, sehingga besoknya kembali segar.

Alternatif tempat menginap ini banyak sekali. Bagaimana cara menentukannya? Untuk yang masih single, tidak terlalu sulit, karena tidur di dormitory dengan bunk-bed pun cukup nyaman. Opsi ini juga murah meriah, tetapi tidak cocok bagi yang sudah punya pasangan/anak.

Contoh apartemen Airbnb yang pernah kami tempati

Contoh apartemen Airbnb yang pernah kami tempati

Dulu waktu masih belum ada Kinan, saya dan isteri biasanya menginap di hotel. Pernah dapat yang bagus, yang jelek juga pernah. Maklum, budget cukup terbatas. Setelah punya anak, atas anjuran beberapa teman, kami mencoba menginap di apartemen. Ternyata worth it!

Dapat dilihat di foto, apartemen yang kami tempati fasilitasnya bagus. Tidak kalah pentingnya, pemilik apartemen menyediakan boks bayi (crib). Ini penting, karena Kinan sulit tidur kalau tidak di boks. Malah ada yang juga menyediakan kursi makan.

Apartemen tersebut adalah a separate unit. Artinya kami tidak share kamar/fasilitas dengan penghuni yang lain. Semua privat. Untuk semua fasilitas tersebut, kami membayar tidak lebih dari 50 Euro/apartemen/malam.

Kami menggunakan Airbnb dalam memilih apartemen. Menggunakannya sangat mudah, tinggal memasukkan kota tujuan, tanggal check-in/out, dan jumlah tamu. Setelahnya, Anda bisa memilih beberapa filter, kalau kami biasanya:

  • Entire home.
  • Amenities: Kitchen, Internet, Family/kid friendly.
  • Harga maksimal yang diinginkan.

Kemudian akan muncul banyak opsi yang sesuai dengan kriteria. Supaya tidak pusing, biasanya saya hanya menyeleksi apartemen-apartemen dengan rating tinggi dengan minimal 30 jumlah reviews.

Setelah terpilih beberapa calon, saya melakukan penilaian berdasarkan beberapa kriteria:

  • Jarak dengan halte transportasi umum terdekat (penting!).
  • Jarak dengan pusat kota (atau bisa juga memakai stasiun utama sebagai patokan).
  • Jarak dengan supermarket.
  • Banyak/tidaknya tempat makan di sekitar apartemen.

Analisis sederhana tersebut bisa dilakukan dengan bantuan Google Maps. Kalau sudah terpilih calon apartemen yang paling oke, baru kita kontak pemiliknya. Biasanya saya juga akan bertanya apakah apakah dia punya crib dan kursi makan bayi. Jika sudah cocok semua, tinggal dipesan dan bayar (pakai kartu kredit).

Repot? Tidak kok. Bedanya dengan memesan hotel (misal lewat Booking.com) cuma di step terakhir (kontak pemilik). Selebihnya sama saja. Dari pengalaman, menginap di apartemen nilai value to money nya sangat tinggi.

5. Menentukan destinasi wisata di tiap kota

Oke. Tugas saya sudah selesai. Dua langkah selanjutnya, adalah tugas isteri. Meskipun hanya dua, tetapi sama repot dan esensialnya. Idenya tetap sama. Kalau setelah sampai di sebuah kota sudah tahu tujuan-tujuan yang ingin didatangi, tentu liburan menjadi lebih efisien.

Contoh apartemen yang lain

Contoh apartemen yang lain

Destinasi wisata bisa ditentukan dengan melihat peta wisata kota, yang banyak tersedia secara gratis di internet, contohnya adalah sebagai berikut. Dari situ kita bisa tentukan, tentunya sesuai selera. Apakah ingin melihat sejarah, tata kota, atau mungkin museum. Cari tahu juga apakah beberapa tempat memerlukan tiket masuk. Kalau misalnya ingin masuk museum, tentu alokasi waktunya menjadi lebih lama. Selain itu, dengan mengecek terlebih dahulu, biasanya kita bisa tahu apakah perlu beli tiket secara online atau tidak. Seringkali beli tiket online menguntungkan, hemat waktu mengantri, dan kadang lebih murah.

Selain tujuan dan alokasi waktu, informasi penting yang perlu dicatat adalah halte transportasi umum yang paling dekat dengan destinasi wisata. Tinggal cari di Google, banyak tersedia peta metro/tram. Informasi ini juga bisa menentukan apakah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan memakai kendaraan umum atau cukup berjalan kaki.

6. Packing

Kinan juga ikut dipak.

Kinan juga ikut dipak.

Tiket sudah dipesan, itinerary sudah beres. Sekarang saatnya berangkat. Tapi tunggu, perlu berkemas dulu. Nah, bagian ini saya hampir tidak pernah terlibat. Tapi secara umum, prinsip packing adalah bawa barang sesedikit mungkin. Contoh, handuk tidak perlu dibawa kalau sudah disediakan di apartemen. Begitu pula baju, tidak perlu bawa banyak-banyak kalau di apartemen ada mesin cuci/pengering. Jangan lupa juga untuk mengeprint itinerary, masukkan ke koper.

7. Tips

Dari enam langkah di atas, ada beberapa tips. Pertama, lakukan perencanaan jauh-jauh hari. Minimal satu bulan sebelum. Tiket pesawat/kereta/apartemen yang dipesan 2-3 bulan sebelum bakal jauh lebih murah.

Kedua, membaca peta adalah salah satu skill utama yang diperlukan, baik dalam membuat itinerary, atau nanti waktu jalan-jalan. Tidak bisa baca peta? Ah, dulu kita juga tidak bisa langsung memakai Ms. Word, toh. Kalau dibiasakan, pasti bisa.

Ketiga, catat pengeluaran harian selama liburan. Supaya bisa memperkirakan berapa sisa uang yang bisa dibelanjakan. Terakhir, meskipun sudah ada rencana, tetap harus fleksibel terhadap perubahan. Banyak hal yang terjadi di luar perkiraan kita; pesawat delay, anak rewel minta istirahat, hujan, dll. Nikmati saja, toh itu liburan kita sendiri.

Oke, sudah siap semua? Selamat liburan!

Groningen, Oktober 2016

Daftar itinerary:

  1. Itinerary Jerman bagian utara.
  2. Itinerary Paris.
  3. Itinerary Italia.
  4. Itinerary Polandia & Norwegia.
  5. Itinerary Turki.
  6. Itinerary Eropa tengah.
  7. Itinerary Belgia.
  8. Itinerary Belanda itinerary-den-haag-not-detail.
  9. Itinerary Baltik & Skandinavia.
  10. Itinerary Malaysia.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s