Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Road Map Penelitian Nasional: Sinkronisasi Kampus dan Industri

Leave a comment

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Banyak dari karyasiswa S-3 LPDP dan DIKTI yang topik penelitiannya berkaitan dengan Indonesia, tidak terkecuali saya.

Logikanya, semua riset doktoral itu pasti berkualitas, karena dikerjakan secara intensif selama 3-4 tahun, dan tersusun dari makalah-makalah yang telah teruji oleh proses review di jurnal-jurnal internasional.

Di negara-negara maju, hasil riset S-3 dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh negara. Sebagai contoh, berbagai kemajuan di sektor energi yang sekarang sedang dinikmati Eropa, adalah buah dari pemanfaatan riset di bidang itu yang sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Namun sebaliknya, jika tidak dimanfaatkan, sebagus apapun hasil riset bakal kurang dampaknya untuk kemajuan suatu negara.

Indonesia pun harusnya juga seperti itu. Setiap tahunnya ada ratusan karyasiswa LPDP & DIKTI yang diberangkatkan ke luar negeri untuk sekolah S-3. Riset-riset mereka adalah potensi yang amat besar. Mengapa tidak dimanfaatkan?

Kemristekdikti bisa menjadi semacam ketua tim penyusunan roadmap penelitian nasional. Setiap K/L diminta untuk membuat daftar singkat permasalahan yang dihadapi di bidangnya di masa yang akan datang. Daftar itu kemudian oleh Kemristekdikti dikompilasi menjadi sebuah road map penelitian. Topik-topik di roadmap tersebut yang diprioritaskan bagi karyasiswa LPDP & DIKTI.

***

Sekarang sebenarnya sudah ada prioritas, tapi masih terlalu umum; misal: kesehatan, maritim, energi. Kita perlu prioritas bidang yang lebih detail, yang siap menjadi topik penelitian untuk digarap selama studi S-3. Coba misalnya seperti ini, di bidang yang saya tahu. Kemristekdikti duduk bersama dengan Kemenhub dan Kemenko bidang Kemaritiman. Mengingat Pak Presiden getol ingin memajukan aspek maritim, pasti banyak hal yang perlu dikerjakan, dari mulai yang mikro sampai makro seperti:

  • Optimisasi operasi pelabuhan.
  • Metode desain pembangunan pelabuhan baru.
  • Analisis jaringan pelabuhan.

Begitu pula dengan bidang lain. Misal Kementerian ESDM bisa memunculkan topik tentang analisis regulasi pengelolaan energi di tanah air, atau riset tentang sumber energi terbarukan. Bidang-bidang sosial, walaupun saya awam disitu, saya yakin pasti juga banyak yang bisa dieksplor. Topik-topik yang sudah cukup detail itulah yang akan dibawa karyasiswa selama studi S-3 di LN.

***

Apakah ini mungkin? Jelas sangat mungkin. K/L rata-rata punya Balai Litbang. Salah satu kendala Balitbang K/L selama ini adalah mereka punya banyak ide, tapi kurang SDM. Sehingga bukannya meningkatkan kinerja K/L, Balitbang malah dianggap sebagai unit kerja medioker yang menghabiskan anggaran. Nah, ini SDM nya sekarang bejibun. Sudah begitu, riset-risetnya bakal dikerjakan dengan fasilitas yang bagus di universitas-universitas top di LN.

Tidak cuma K/L, Kemristekdikti juga bisa menggandeng industri dalam menyusun roadmap penelitian. Tentu yang diutamakan adalah BUMN sebagai industri pelat merah. Misal dalam contoh maritim tadi, implementasi hasil riset bisa diterapkan di BUMN operator pelabuhan. Untuk riset ESDM, bisa mengaplikasikan di Pertamina.

***

Manfaatnya apa membuat skema semacam ini? Banyak. Pertama, investasi pemerintah berupa program beasiswa ini dampaknya bisa semaksimal mungkin. Ingat loh. Seorang karyasiswa S-3 bisa makan biaya 1 M rupiah. Bisa mengirim ribuan anak bangsa sekolah ke LN itu masih belum dihitung sebagai kesuksesan. Investasi bisa gagal, bisa juga berhasil. Jor-joran beasiswa LPDP & DIKTI baru bisa dinilai sukses, kalau 20-30 tahun lagi terbukti karya-karya alumninya punya kontribusi signfikan terhadap kemajuan negara.

Sebagai kilas balik, “Beasiswa Habibie” di tahun 80-an dan 90-an dampaknya hanya ke peningkatan SDM di tingkat individu, karena pemerintah tidak menetapkan fokus, akan disuruh berbuat apa invididu-individu itu. Gampangnya, tidak ada proyek negara yang bisa dikerjakan karyasiswa Habibie ketika itu.

Roadmap penelitian nasional ini bisa menjadi proyek negara yang dimaksud. Ini adalah manfaat kedua dari skema ini. Hasil-hasil riset bisa dipakai K/L dan BUMN untuk memajukan bidangnya masing-masing. Asalkan sabar menunggu dan tidak terjebak romantisme keinginan sukses yang instan.

Ketiga, saat karyasiswa kembali ke Indonesia, sudah ada kejelasan apa yang akan mereka lakukan. Bisa secara langsung menjadi periset di K/L, BUMN, atau dosen. Bisa juga misalnya setelah melihat hasil-hasil riset, pemerintah membangun industri atau lembaga riset yang terkait, tentu mantan karyasiswa itu yang bakal jadi motornya. Soalnya terus terang sampai sekarang saya masih was-was. Mahasiswa S-3 yang belum punya ikatan itu, nanti mau diapakan. Pasar kerja lulusan doktor di Indonesia tidak seperti di LN. Kalau nanti mereka bekerja di LN hanya karena tidak ada yang bisa menampung di tanah air, sangat disayangkan.

Kalau skema semacam ini bisa dijalankan, saya yakin dampaknya akan sangat besar bagi majunya Indonesia di masa depan. Hasil-hasil riset itu kelak akan banyak faedahnya, karena salurannya sudah jelas. Karena pemerintah (Kemristekdikti) sudah punya roadmapnya.

***

Saya sendiri sudah menjalankan skema semacam ini. Walaupun terbatas untuk riset saya sendiri. Kalau ingin tahu detailnya silakan menghubungi ke kontak yang tersedia disini.

Sejak awal studi S-3, atas inisiatif sendiri saya menjalin kerjasama riset dengan sebuah industri di Indonesia. Latar belakang keilmuan di bidang rekayasa (teknik) membuat saya tidak ingin hasil riset kelak cuma tersimpan rapi di arsip perpustakaan. Saya bertekad riset itu harus ada manfaat riilnya untuk industri. Saya ingin membuktikan bahwa konsep kerjasama universitas, pemerintah dan industri itu bukanlah sekedar jargon semata.

Usaha ini memang melelahkan, karena harus mulai dari awal, tidak ada yang mencontohkan, dan industri di Indonesia belum terbiasa dengan aktivitas riset. Tapi saya senang, karena pertama, saya menjadi sadar bahwa memang kalau tidak intens mendekati industri (praktisi), kesenjangan antara riset dan aplikasi itu memang cukup besar. Jadilah pekerjaan kita bertahun-tahun tidak optimal aplikasinya.

Kedua, sekarang setelah selesai prototip hasil pekerjaan saya, saya punya satu keyakinan. Bahwa penelitian, kalau dikerjakan, dan dikelola dengan benar, bakal membawa manfaat yang signifikan. Sehingga nanti saat kembali ke kampus, model kerjasama ini bisa dilanjutkan dengan industri-industri yang lain, untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi negara.

Alasan ketiga adalah, dari eksperimen di industri, benar-benar bisa dilihat siklus sebuah riset dari mulai model matematika di atas kertas, prediksinya dengan simulasi Matlab, sampai meningkatnya efisiensi operasi alat-alat di terminal peti kemas.

Dalam bidang ilmu rekayasa (engineering) dan ilmu murni (science), menurut saya riset-risetnya harus tetap berorientasi pada aplikasi untuk kemajuan industri. Walaupun tentu untuk menunggu hasil nyatanya harus sabar menunggu belasan/puluhan tahun.

Untuk jangka pendek, selain meneruskan penelitian di bidang operasi terminal peti kemas, cita-cita saya adalah membuat model dan algoritma untuk masalah transportasi umum di Kota Bandung. Ingin meneliti bagaimana kalau angkutan kota yang sekarang operatornya jumlahnya ribuan itu, diubah ke single operator. Ingin tahu dampaknya ke kinerja transportasi publik di Bandung. Termasuk dampak finansial ke pemilik-pemilik angkot yang khawatir dengan skema single operator. Disimulasikan, dan tentu juga diuji di lapangan. Untuk yang ini, tidak dibayar pun saya mau. Asalkan mahasiswa saya diberi akses untuk mengumpulkan data.

Oiya. Alasan saya mencoba melakukan skema kerjasama dengan industri ini sebetulnya sederhana. Kalau tidak mulai dicoba sekarang, harus menunggu kapan lagi.

Groningen, Oktober 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s