Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Saya tahu pedagang itu punya indra keenam sehingga mereka bisa mengerti apakah seorang calon pembeli punya niat serius untuk bertransaksi atau tidak. Saya pun begitu, setelah bertahun-tahun mengajar, di hari ujian saya bisa menebak dari gesture-nya, mahasiswa mana yang tidak belajar dengan baik.

Jadi mestinya bapak pemilik toko memang tahu saya tidak hendak membeli. Tapi yang nyebelin, sikapnya ke saya langsung sedingin kulkas, dan setelahnya dia ngacir ke belakang toko. Setelah merasa terhina karena dicuekin, saya pun pamit dan bilang “Pak, terima kasih, nanti kalau cocok, saya kemarin lagi”. Ajaibnya, bapak penjual tidak menjawab sepatah katapun juga dari belakang toko! Benar-benar sebuah tindakan seorang pedagang yang tidak etikal.

Masih membawa rasa kesal, saya pergi mencari toko lain, dan kebetulan kepunyaan seorang Tionghoa. Saya dilayani dengan ramah, ditunjukkan berbagai macam plastik. Keramahan itu tidak hilang walaupun saya tidak jadi membeli.

Kejadian kedua

Sekitar sebulan kemudian, saya bermaksud untuk membeli mobil. Saya dan istri pun berburu di internet, dan akhirnya jatuh pilihan ke Toyota Vios. Di hari yang sudah disepakati saya bertemu dengan penjual, yang ternyata berada di sebuah showroom mobil bekas. Lagi-lagi, tanpa disengaja si penjual adalah seorang pribumi.

Dari awal saya sudah tidak terlalu nyaman. Penjual terus-menerus menawarkan agar mobil dibeli dengan cara kredit, dengan alasan harga mobil akan jauh lebih murah. Saya tahu bahwa pembelian kredit akan memberikan bonus lebih bagi penjual. Tetapi dari awal saya sudah bilang ingin beli dengan harga kontan. Saya ini cuma pegawai negeri golongan III/b yang sadar berapa penghasilan bulanan. Selama ini saya dan isteri beli rumah, kendaraan, barang-barang elektronik, dll hanya berani dengan metode kontan, kalau sedang ada rejeki berlebih.

Walaupun demikian, karena kondisi Vios-nya memang bagus, saya tetap tertarik dan akhirnya memberikan uang 500 ribu rupiah sebagai tanda jadi. Penjual bilang bahwa uang tersebut bisa diambil lagi seratus persen kalau akhirnya batal membeli.

Di sepanjang jalan BKR dan Moch. Tota adalah kawasan showroom mobil bekas, saya pun berkeliling. Akhirnya kami ke showroom langganan mertua, kepunyaan seorang bapak Tionghoa dan kedua anaknya. Mereka melayani dengan bagus, sabar, dan memakai bahasa Sunda halus. Selama test drive, engkoh penjual menjelaskan nilai (value) dia dalam berdagang. Salah satunya adalah jangan sekali-kali membohongi pembeli.

Akhirnya Grand Livina yang sekarang saya naiki dibeli dari engkoh itu. Setelah deal, saya kembali ke showroom pertama untuk mengambil uang jadi. Tidak disangka, reaksi si penjual tidaklah baik. Dia ngomel-ngomel dan menunjukkan raut muka kurang senang. Ini sungguh aneh. Sudah jelas-jelas dia bilang uang jadi bisa diambil kalaupun saya batal membeli. Saya hanya ingin mengambil hak saya, dimanakah yang tidak fair.

Saya mendongkol, namun sebelum kesitu saya sudah meniatkan akan memberikan tip sebesar 50 ribu rupiah, paling tidak untuk mengganti ongkos lelah bapak penjual selama melayani saya tadi. Saya memberikan tip, dan tidak disangka-disangka, sikap sang penjual berbalik seratus delapan puluh derajat! Dia menjadi amat baik dan sopan. Saya bahkan masih ingat dia sedikit membungkukkan badan ke saya. Menurut saya ini memalukan, menunjukkan bahwa yang bersangkutan lebih tertarik dengan uang daripada kepuasan dalam melayani pelanggan.

Masalah mental

Sejak saat itu saya membenarkan hipotesis Bapak yang disampaikan di awal tulisan ini. Kesimpulan saya mungkin prematur, karena pasti ada juga Tionghoa yang nggedabrus, dan pribumi juga ada yang amanah. Namun, fakta di sekitar kerja membuktikan bahwa kaum Tionghoa pada umumnya memiliki etos kerja yang mumpuni.

Orang Tionghoa di Indonesia diperkirakan tidak lebih dari lima belas juta jiwa, atau 5% dari total populasi. Dengan jumlah sekecil itu (sebagai pembanding, orang Jawa ada sekitar serratus juta jiwa) mereka menguasai sektor ekonomi. Dari mulai level kampung, pasti ada satu toko milik Tionghoa yang maju. Sedangkan di level nasional, dari berbagai rilis tentang orang-orang terkaya di tanah air, 80% persennya adalah warga negara keturunan Tionghoa.

Bukanlah tanpa alasan jika banyak dari mereka yang sukses. Orang-orang bermata sipit dan berkulit kuning langsat itu kebanyakan bekerja dengan sungguh-sungguh. Orangtua saya punya toko peralatan mebel di Jember. Setiap satu atau dua minggu sekali Bapak atau Ibu kulakan ke distributornya di Pasuruan. Saya pernah beberapa kali ikut kulakan, dan di depan toko orang Tionghoa itu mengantri belasan truk dari seluruh penjuru Jawa Timur, termasuk kepunyaan Bapak, bisa dibayangkan omzet distributor itu. Tidak heran juga kalau dia mampu menyekolahkan anak-anaknya di Amerika Serikat.

Dari cerita Bapak, konsumen datang secara repetitif karena mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Bilang barang dengan spesifikasi A, maka A yang diberikan, kalau tidak cocok akan ditukar. Apalagi persoalan keuangan, tidak pernah terjadi.

Namun menurut saya lebih dari itu. Pemilik toko amat memanusiakan pelanggan. Seperti engkoh pemilik showroom, distributor toko itu berbicara bahasa Jawa halus (krama) dengan Bapak/Ibu yang sudah sepuh. Selain itu, semua pelanggan tetap yang datang ke toko dijamu makan. Toko itu memperkerjakan tiga orang tukang masak. Suasana guyub makin terasa karena si engkoh tidak membeda-bedakan, supir truk Bapak pun selalu diajak makan. Tidak hanya itu, setahun tiga kali Bapak dan Ibu selalu mendapat bonus dari distributor. Nilainya tidak besar, tapi menimbulkan ikatan psikologis yang bagus antara keduanya.

Bukti dari bagusnya pengelolaan usaha si Tionghoa itu tidak hanya pelanggan yang awet, tetapi juga pekerjanya betah bekerja disitu. Saya menemuhi ada seorang bapak tua yang bertugas menjadi penjaga gudang. Dia bilang bahwa anak dan cucunya sekarang juga bekerja di tempat yang sama. “Disini sudah seperti keluarga, Mas. Kalau sakit tidak cuma biayanya diurusin, tetapi juragan juga nyempetin nengok.”

Kesungguhan kaum Tionghoa tidak cuma berlaku untuk mereka yang berdagang. Semasa kuliah saya punya cukup banyak teman yang berasal dari etnis ini. Sebagian besar bersungguh-sungguh, mereka bilang seperti itulah value yang diajarkan di keluarga sejak kecil.

Menempatkan Tionghoa sebagai bagian kita

Kesungguhan dan kesuksesan kaum Tionghoa, sayangnya belum mendapatkan pengakuan yang setimpal. Dalam konteks kebhinekaan, telah cukup lama mereka menderita.

Pernahkah Anda melihat seorang teman Tionghoa yang hanya mempunyai satu nama? Ya, bahkan untuk memakai nama keluarganya pun mereka baru berani setelah etnis Tionghoa secara resmi diakui pemerintah sebagai salah satu suku di tanah air melalui UU No 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Sebelumnya selama puluhan tahun, kaum Tionghoa harus menghadapi hal-hal yang tidak enak, mulai dari pajak tambahan, larangan berpergian, sampai tuduhan menggelikan sebagai antek komunis. Bagaimana mungkin kaum pedagang menjalankan sebuah paham dimana menumpuk kekayaan sangat diharamkan.

Jangan lupakan juga pembantaian 1965 dan kerusuhan 1998. Luka mendalam itu, tidaklah mudah untuk dilupakan. Sayangnya, sekarang ini sentimen berbau rasialis itu kembali muncul. Lihatlah waktu Pemilu Presiden 2014, Jokowi ketika itu dituduh sebagai keturunan Tionghoa. Kenapa tidak dituduh sebagai Sunda, Batak, Manado, atau Minangkabau? Berarti masih ada perasaan dan cap bahwa semua yang berbau Tionghoa adalah jelek.

Sebagai seorang Muslim, saya diajar untuk selalu berbuat adil, dan harus kita akui bahwa banyak hutang kita “kaum pribumi” ke mereka. Sejarah mencatat suku Tionghoa memiliki peran signifikan dalam masa pergerakan, dari mulai yang mengangkat senjata sampai aktif di media melalui koran Sin Po. Dalam perekonomian, peranannya amat besar, puluhan juta pribumi bekerja di bisnis yang dimiliki orang-orang Tionghoa.

Bahwa kaum Tionghoa terkesan ekslusif, kita pun sebenarnya tidak berbeda. Semenjak kecil, anak seorang Muslim disekolahkan di sekolah Islam, apa bedanya dengan mereka yang belajar di sekolah miliki Yayasan Tionghoa. Dulu ketika hendak menikah, saya dianjurkan untuk kawin dengan perempuan dari suku Jawa. Maka orang Tionghoa yang punya preferensi dengan kaum sebangsanya, adalah tindakan yang amat manusiawi.

Bahwa mereka dituduh tidak ikut membangun negara karena peranannya yang kecil di pemerintahan, itulah salah kita sendiri. Bagaimana mungkin mereka bersedia masuk ke pemerintahan, kalau seorang atlet sekelas Susy Susanty pun masih harus mengurus surat kewarganegaraan khusus saat hendak menikah. Pastilah orang takut terlibat karena sejak akan masuk sudah dianggap berbeda.

Bahwa mereka jauh-jauh lebih kaya dari pribumi, inilah suatu keniscayaan orang-orang yang bekerja keras. Justru kita yang harus bertanya, apakah itu bentuk rasa cemburu. Sebaiknya kita memanusiakan saudara-saudara kita kaum Tionghoa. Mereka tidak ubahnya kita yang mencintai negara ini. Marilah kita rawat kebhinekaan, karena apa yang kita nikmati sekarang, adalah buah dari perjuangan yang kita tidak ikut lakukan.

Bandung, 9 April 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s