Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Andai

Leave a comment

Kalau Anda adalah orang terkaya di Indonesia dan punya kuasa untuk melakukan apa saja, bakal dipakai apa uang itu untuk memperbaiki Indonesia?

Kalau saya adalah orang terkaya di tanah air, maka saya punya sekitar 200 triliun rupiah, setara dengan keluarga Hartono. Banyak? Pasti. Tetapi jelas tidak akan cukup untuk membenahi Indonesia secara instan. Dengan APBN 2.000 triliun saja, setiap tahunnya ada jutaan rakyat kelaparan. Apalagi kalau diberikan sebagai bantuan langsung. Setiap orang memperoleh hanya sekitar sejuta rupiah. Bisa dipastikan bakal segera ludes dalam tempo kurang dari sebulan.

Lantas bisa diapakan uang itu sehingga dampaknya bisa maksimal? Saya akan untuk membenahi pendidikan dasar. Barangkali ini dianggap bukan prioritas utama. Sebagai seorang jutawan mungkin saya juga diharapkan untuk membuka lapangan pekerjaan, atau menyiapkan calon-calon pengusaha. Sehingga di negeri ini tidak ada lagi orang miskin.

Memang hipotesis itu ada benarnya. Tetapi sejak kecil, didikan di keluarga mengajarkan bahwa kaya (di dunia) itu bukanlah tujuan utama. Menjadi kaya tapi lupa mendidik hanya menjadikan kita semenjana. Kekhalifahan Ottoman punya segalanya di abad ke-16. Selama dua abad berikutnya, emas yang diangkut kapal-kapal Portugis dan Spanyol menyilaukan mata. Lihatlah jejaknya. Sampai sekarang, hampir semua negara di Amerika Tengah dan Amerika Latin berbahasa dan berbudaya Portugis dan Spanyol. Namun mereka lupa menyiapkan pendidikan untuk rakyatnya. Apa yang terjadi kemudian? Mantan tiga negara adidaya itu tenggelam dan tidak pernah bangkit lagi sampai sekarang.

Sebaliknya, lihatlah Jepang dan Korea Selatan. Kita memulai sejarah berbarengan dengan dua negara di utara itu. Korsel merdeka bahkan hanya selisih dua hari dari Indonesia. Saat Jepang diluluhlantakkan bom Sekutu, konon Kaisar Hirohito bertanya, “Berapakah guru-guru SD yang selamat?” Korsel pun sama, dengan tekun mereka membenahi pendidikan dasarnya.

Sekarang, siapakah yang tidak memakai mobil dan gawai (gadget) buatan Jepang dan Korsel? Apakah perlu pula diingatkan kalau tontonan kegemaran generasi muda kita pun diimpor dari sana? Begitu dahsyat kemajuan yang mereka capai dalam tujuh puluh tahun terakhir. Sementara, pendapatan per kapita kita tidak sampai sepersepuluhnya.

Pendidikan dasar dua negara itu adalah salah satu yang terbaik di dunia. Masihkah tidak percaya kalau pendidikan bisa menentukan nasib suatu bangsa?

Maka, uang 200 triliun itu akan saya pakai untuk membenahi SD-SD di seluruh penjuru tanah air. Saya taksir biaya yang dibutuhkan adalah satu miliar per sekolah per tahun. Maka kalau diberi tempo 15 tahun, bakal ada sekitar 13.000 SD yang terurus. Jumlah yang kurang lebih sama dengan SD kita saat ini.

Berbenah tidak difokuskan kepada bangunan fisik semata. Justru saya ingin meluruskan ruhnya. Apalah arti pendidikan tanpa mendidik? Untuk apa pendidikan yang hanya menjejali murid dengan rumus dan hapalan? Saat dewasa nanti, seperti kata Rendra, mereka hanya akan kikuk pulang ke daerahnya, serta merasa asing dan sepi. Buat apa menghapal pendidikan moral tetapi lupa menggali budi pekerti? Akhirnya saat ujian PKN pun tetap menyontek.

Saya ingin mengembalikan pendidikan seperti yang dirumuskan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan bukan semata pengajaran (onderwijs) tapi seharusnya juga mendidik (opvoeding). Pendidikan adalah tuntunan untuk anak-anak sehingga dapat mencapai kebahagian dalam hidupnya.

Untuk itu, kurikulum akan dibenahi, fasilitas diperbaiki, dan yang terpenting guru-guru harus diajari kembali. Kalau perlu orangtua harus dibuat mengerti. Karena dengan pendidikan yang hanya fokus pada nilai, orangtua lupa lupa menanamkan pekerti. Padahal, didikan mereka tak kalah pentingnya.

Kalau semua rencana ini sudah dijalani dengan konsisten, tinggal bersabar selama 15 tahun untuk menunggu hasilnya. Selama itu? Jepang dan Korsel pun baru mulai makmur di tahun 80-an. Tidak ada yang instan. Ingatlah, kalau bersabar, dalam 15 tahun kita akan punya 75 juta insan buah didikan luhur. Generasi bermental jujur dan tangguh itulah yang kita harapkan untuk membuat Indonesia makmur.

Pendidikan dasar adalah kunci untuk negeri yang sejahtera. Anak-anak yang pandai dan berpekerti, jauh lebih berharga dibandingkan berlimpahnya emas dan minyak bumi.

Itu kalau saya, kalau Anda?

Bandung, 11 April 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s