Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Tugas dosen

Leave a comment

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Saya termasuk dosen yang suka memberikan nasihat ke mahasiswa. Menurut saya, seorang akademisi, selain menciptakan hasil-hasil riset yang bermanfaat bagi masyarakat, sesungguhnya punya tugas lain yang tidak kalah pentingnya. Bahkan dalam tri dharma pendidikan tinggi menempati urutan pertama.

Dosen punya tugas untuk mendidik. Dalam kehidupan bernegara, kualitas SDM jauh lebih penting dibandingkan kemajuan teknologi. Orang boleh pintar atau cerdas setinggi langit. Namun kalau kualitas akhlaknya jelek, hancurlah negara itu. Dalam Al-Qur’an sudah banyak dikisahkan. Bangsa Tsamud, Aad dan Mesir pastilah memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Kalau tidak, mana mungkin mereka bisa membangun peradaban yang melampaui jamannya. Namun karena tindakannya serampangan, rusaklah sendi-sendi kehidupan mereka, sampai akhirnya dihancurkan oleh Tuhan, sebagai bentuk peringatan bagi manusia.

Menjadi tanggung jawab besar bagi saya dan rekan-rekan seprofesi untuk tidak hanya mendidik mahasiswa menjadi pintar, tetapi juga menjadi insan-insan yang sabar, bijaksana dan mampu menggunakan akal pikirannya dengan sehat untuk menyikapi segala macam permasalahan.

Tentunya dalam hal ini dosennya yang terlebih dahulu harus punya kualitas sifat-sifat baik tersebut. Manusia dalam belajar pada hakikatnya sama seperti bayi, paling mudah dengan diberi contoh.

Karena kelak saat lepas dari kampus, para mahasiswa adalah panutan masyarakat, yang tidak semuanya mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kalau yang paling teredukasi saja tidak bijak dalam menggunakan emosinya, bakal runtuhlah kepercayaan masyarakat.

Sebaliknya, kalau mereka bisa menjadi teladan, bola salju sebagai agen-agen kebaikan insya Allah membawa bangsa ini lebih maju.

Menjadi mimpi bagi saya untuk melihat anak-anak muda bisa seperti Hatta, Syahrir, dan Natsir. Mendidik dan memajukan masyarakat lewat pena.

Kalau saya bisa mendidik mahasiswa dengan baik, dan melihat kiprah positif mereka 20-30 tahun lagi, saya bakal amat puas.

Bandung, 12 April 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s