Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Rawa Indah, Kuliner Laut Segar di Bontang

Leave a comment

Lokasi                             : Pasar Rawa Indah, Bontang

Estimasi harga              : Rp 40.000 – 50.000 per porsi

Rawa Indah 1

Ikan dan seafood yang segar

Salah satu hal yang saya suka saat kembali ke Indonesia adalah perjalanan dinas. Sebagai umumnya dosen, kami sering ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia, baik terkait dengan kegiatan pendidikan maupun pengabdian kepada masyarakat. Perjalanan dinas berarti wisata dan kuliner gratis. Dari dulu hal ini selalu saya syukuri. Sebagai dosen PNS, tentu pendapatan kami tidak sebesar teman-teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta asing. Namun bisa lumayan sering pelesir, adalah suatu rejeki juga.

D awal tahun 2017 saya ditugaskan ke Bontang. Dulu di tahun 2009 s/d 2011 saya lima kali ke kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur ini. Bedanya, dulu saya selalu naik pesawat dari Balikpapan ke Bontang. Nyaman sekali, 30 menit di udara dengan ketingian terbang rendah sekitar 3.000-5000 kaki dengan pemandangan yang indah. Namun sekarang, karena beda klien, pesawat tidak bisa disediakan, sehingga untuk pertama kalinya saya naik darat.

Rawa Indah 2

Ikan bakar, sambal gami, lalapan

Perjalanan sekitar 200 kilometer ditempuh paling cepat dalam waktu lima setengah jam. Jangan bayangkan kondisi jalan seperti di Jawa. Naik turun dan berliku-liku, terutama dari Samarinda ke Bontang. Kalau tidak tahan, dijamin bisa muntah-muntah. Melihat hal ini jadi miris juga. Kaltim adalah salah satu provinsi dengan pendapatan asli daerah (PAD) di Indonesia. Namun kondisinya masih jauh jika dibandingkan dengan Pulau Jawa. Kemanakah uang dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas itu?

Saya ke Bontang bersama seorang kolega. Kami menyewa mobil dari bandara Sepinggan, dan sampai di Bontang sekitar jam delapan malam. Bontang adalah kota yang kecil dengan penduduk sekitar 170.000 jiwa, bahkan lebih kecil dari kota Groningen di Belanda. Tetapi sumber daya alamnya jangan ditanya. Cadangan gas di Bontang adalah salah satu yang terbesar di dunia. Sejak puluhan tahun yang lalu, PT Badak LNG beroperasi mengeruk gas dan sebagian besar dijual ke Jepang. Oleh negeri matahari terbit, gas tersebut digunakan untuk berbagai keperluan. Begitu pentingnya PT Badak bagi negeri sakura, konon setiap tahunnya Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia menyempatkan diri berkunjung ke Bontang.

Selain Badak, Pertamina Gas juga beroperasi di kota ini. Untuk keperluan domestik, gas dari Bontang dialirkan ke PT Pupuk Kalimatan Timur (PKT) sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk. Mengingat lokasinya yang terpencil, Badak dan PKT menyediakan fasilitas yang lengkap bagi pegawainya, termasuk sekolah berkualitas anak-anak mereka. Sejak dahulu, SMA Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Bontang terkenal sebagai salah satu sekolah top di Kalimantan. Teman-teman saya di ITB banyak yang berasal dari situ. Namun lagi-lagi, hal itu tidak berarti bahwa SDM di Kaltim telah maju. Nyatanya, hampir semua dari yang kuliah di Jawa adalah keturunan orang Jawa. Penduduk asli sendiri, tetap kesulitan terangkat kapasitasnya untuk mengakses pendidikan tinggi yang berkualitas.

Kuliner laut

Rawa Indah 3

Pedagang mencari rezeki. Ikannya sama-sama segar

Bontang terletak persis di tepi pantai. Oleh karena itu, kuliner laut jelas menjadi pilihan setiap kali berkunjung kemari. Dulu saya hampir selalu makan di Restoran Melati, tetapi sebelum berangkat, seorang kolega di kantor menyarankan untuk mencoba di Pujasera Rawa Indah. Lebih banyak pilihan katanya. Saya bertanya ke supir yang asli Bontang, dan dia membenarkan.

Sesampainya di tujuan, dapat dilihat pada gambar bahwa terdapat berbagai macam los penjual. Tempat ini adalah semacam pasar. Pak supir yang melihat saya dan Daniel kebingungan, memberitahu bahwa semua sama saja. “Sama segarnya ikanya, Pak, ikan-ikan ini dipasok dua kali sehari, langsung dari nelayan.”

Kami memilih warung yang terdekat, dan sebelumnya memilih-milih ikannya. Memang segar-segar! Warnanya masih cerah dengan mata yang bening segar. Jauh berlainan dengan ikan-ikan laut yang dijual di pasar-pasar Bandung. Memang tidak enaknya tinggal di Bandung adalah tiadanya hidangan laut yang nikmat. Bandung terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat. Baik dari laut Jawa maupun Samudera Hindia paling tidak perlu lima jam perjalanan. Ikan sudah kehilangan kesegarannya begitu sampai di kota kembang.

Kami memilih ikan kue dan ikan putihan, semuanya dibakar. Selain itu, cumi juga dipilih. Sambil menunggu proses pembakaran, saya berkeliling pasar, dan memang betul, semuanya segar-segar. Lamat-lamat terdengar dialek Jawa dari para penjual. Ternyata pelaku ekonomi pun tidak semua penduduk asli, pantas saja kalau Kaltim belum mencapai kemajuan yang diharapkan.

Setelah dua puluh menitan, hidangan datang. Ikan dibakar dengan bumbu minimalis. Tapi justru ini yang saya suka. Ikan yang segar, tanpa bumbu yang macam-macam pun terasa gurih dan manisnya. Lagipula saya memang tidak terlalu suka ikan yang dibumbu aneh-aneh, terutama kuah.

Rawa Indah 4

Disajikan juga sayur bayam bening

Ikannya memang nikmat. Jauh lebih enak dibanding ikan yang kami makan di dekat Bandara Sepinggan. Apalagi jika dibandingkan dengan waktu saya dan anak istri liburan di Pantai Papuma Jember. Waktu itu kami juga makan ikan putihan bakar. Tetapi rasanya tidak segar, seperti ikan kemarin.

Cumi menyusul datangnya, dan disajikan dengan sambal gami. Enak lho sambalnya! Kalau dari rasanya, sepertinya diberi sedikit terasi dan bawang merah. Uniknya, disajikan juga sayur bayam bening. Mungkin sebagai hidangan pembuka. Sayangnya nasi yang disajikan tidaklah nikmat, seperti nasi kemarin. Tapi tidak mengapa. Saya hanya mengambil sekitar tiga sendok nasi. Makan seafood yang nikmat haruslah dengan nasi sedikit.

Untuk semua hidangan itu, kami membayar Rp 180.000. Ikan disini dihargai secara kiloan. Dengan bahan baku yang sesegar itu, harga yang dibayar sangatlah pantas. Kami pun malam itu tidur dengan nyenyak untuk persiapan presentasi keesokan harinya.

Bontang, Februari 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s