Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mensyukuri Persatuan

Leave a comment

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Belum lagi kalau bicara perbedaan agama. Lihatlah sekarang daerah Balkan yang morat-marit. Kalau yang suka sepakbola, pasti paham bagaimana dulu timnas Yugoslavia yang kuat, sekarang terpecah menjadi Serbia, Bosnia, Kroasia, Slovenia, Montenegro, Kosovo, dll.

Perbedaan di tanah air

Sementara di Indonesia, ada ratusan bahasa dan budaya, serta puluhan agama dan kepercayaan (walaupun yang resmi diakui hanya enam). Namun sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit, kita selalu mengidentifikasi diri sebagai Nusantara.

Dunia internasional pun mengakui kehebatan Indonesia. Di timur tengah, sama-sama berbahasa, berbangsa Arab dan beragama Islam, tapi terbagi ke dalam belasan negara.

Bayangkan kalau dulu di bulan Agustus 1945, Kalimantan dan Nusa Tenggara ingin berdiri sebagai negara sendiri. Apakah sekarang bisa Jakarta, Surabaya, dan Bandung semegah ini? Tanpa hasil tambang dan bumi dari saudara-saudara kita disana?

Setelah Proklamasi, Kasultanan Yogyakarta menyatakan diri bergabung dengan Indonesia. Padahal mereka sepenuhnya punya hak untuk independen. Bukankah ini adalah pertanda bahwa sejak dulu bangsa Indonesia punya sifat mulia untuk mengedepankan persatuan? Bangsa yang mementingkan kepentingan negara di atas kehendak pribadi.

Sekarang kalau misalnya dinas dari Bandung ke Semarang, alih-alih mempersoalkan bahasa dan budaya Sunda dan Jawa yang berbeda, saya akan bersyukur kita masih bersatu. Dengan waktu tempuh yang sama, saya bisa mencapai Paris dari Amsterdam. Sudah merupakan dua negara yang berbeda. Kalau di Eropa, dialek yang berbeda seperti Osing (Banyuwangi) dan Banyumasan mungkin sudah jadi negara yang berbeda.

Persatuan adalah modal yang besar untuk membangun negara yang besar. Dan itu tidak didapat dengan cuma-cuma. Ada usaha keras para pendahulu kita.

Bukan kemerdekaan yang gratis

Banyak sekali putera-puteri bangsa yang telah berjasa bagi tanah air Indonesia. Mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa dan agama. Namun tanpa pandang bulu dengan tulus ikhlas memberikan sumbangsih nyata berupa pemikiran, tenaga, bahkan nyawa.

K.H. Hasyim Asyarie dan K.H. Ahmad Dahlan adalah pemikir Islam yang utama. Beliau adalah pendiri NU dan Muhammadiyah, yang amat besar peranannya untuk kemerdekaan Indonesia. Ratusan tahun sebelumnya, Pangeran Diponegoro didukung ulama-ulama di Jawa mengobarkan semangat jihad yang membuat keuangan Kompeni terkuras habis.

Di Manado, ada Sam Ratulangi dan Wolter Monginsidi yang beragama Nasrani. Yang pertama adalah seorang pemikir ulung. Tahun 1919, di usianya yang baru 29 tahun, Sam Ratulangi memperoleh gelar doktor dari Universitas Zurich di bidang ilmu pasti (science). Kelak pemikiran-pemikiran beliau banyak dipakai oleh tim BPUPKI. Seorang scientist, Sam Ratulangi juga ahli dalam bidang hubungan internasional. Sementara Wolter, memimpin pasukan republik saat perang kemerdekaan melawan NICA. Keduanya meninggal dalam tawanan musuh. Robert Wolter baru berusia 24 tahun saat dieksekusi mati.

Ada juga Kolonel Daan Mogot, seorang Nasrani asal Manado yang meneruskan karir militernya yang cemerlang di Jakarta. Di jaman sekarang, di usia 30-an tahun pun mungkin kita malas untuk kerja bakti di kompleks. Saat memimpin pertempuran Lengkong, Kolonel Daan baru berusia 17 tahun. Sebanyak 36 orang gugur setelah dibantai dengan sadis oleh Jepang, termasuk beliau. Saat dimakamkan, konon tunangan Kolonel Daan memotong rambutnya yang panjang, dan setelahnya tidak pernah memanjangkan rambut itu lagi.

Tentu kita juga tidak lupa dengan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, seorang Hindu yang memimpin perang habis-habisan di Bali. Beliau juga gugur dalam usia muda, 29 tahun. Namanya sekarang diabadikan menjadi bandara internasional di Denpasar.

Masih banyak lagi kalau disebutkan. Laksamana John Lie, seorang keturunan Tionghoa yang menjadi penyelundup untuk menyelamatkan kas negara yang baru berdiri dan juga memadamkan pemberontakan PRRI. John Lie sampai mendapat sanjung puji dari Jenderal Nasution. Yos Sudarso dan Slamet Riyadi, keduanya adalah orang Jawa yang beragama Katolik, semua gugur untuk ibu pertiwi.

Refleksi

Urusan iman adalah persoalan masing-masing yang tidak bisa kita paksakan. Namun, fakta bahwa banyak orang dari berbagai macam latar belakang telah rela mengucurkan darahnya untuk tegaknya Indonesia, itu tidak boleh kita abaikan. Dan sebagai generasi yang cukup beruntung untuk tidak perlu mengalami jaman susah bersimbah darah, yang bisa kita lakukan adalah mensyukuri kemerdekaan. Sekaligus menghargai dan merawatnya, dengan ingat bahwa memang bangsa ini dibentuk oleh bermacam-macam suku, agama, dan kepercayaan.

Maka dari itu, sepatutnya kita selalu menghargai dan mensyukuri. Boleh berbeda bahasa, beda suku, beda agama, beda pendapat. Tapi tidak boleh putus persaudaraan.

Kalau saja kita tahu, untuk mempersatukan Indonesia yang multi etnis dan multi agama, Sukarno, Hatta dan bapak-ibu bangsa yang lain menghabiskan puluhan tahun hidup mereka di penjara dan pengasingan.

Kalau saja kita tahu, daerah Balkan yang luasnya hanya sedikit lebih besar dari Sumatera itu, sekarang terpecah menjadi belasan negara, karena masing-masing etnis tidak mampu menahan egonya.

Kalau saja kita tahu, dulu secara ideologis, M. Natsir (Masyumi) dan Aidit (PKI) selalu berseberangan dan debat keduanya di parlemen selalu panas. Tetapi seringkali setelah sidang, Aidit menawarkan kopi ke Natsir, yang diterima dengan tersenyum, dan Natsir menawarkan untuk membonceng Aidit pulang ke rumahnya.

Kalau saja kita tahu, persatuan yang kita nikmati sekarang ini bukanlah sesuatu yang didapat dengan cuma-cuma, melainkan atas korban jutaan nyawa pemuda dan pemudi Indonesia di masa perang kemerdekaan.

Kalau saja kita tahu dan memikirkan itu semua, mungkin kita bisa sedikit menahan ego atas segala perbedaan dan perdebatan.

Mungkin..

Bandung, 25 April 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s