Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Merindukan pelayanan kesehatan di Belanda

Leave a comment

Kinan di UMCG

Kinan di UMCG, salah satu rumah sakit di Groningen.

Empat tahun tinggal di negeri kincir angin, satu kalimat yang bisa mendeksripsikan pelayanan kesehatan disana adalah: “Pelayanan kesehatan di Belanda itu (strict) satu pintu.”

Karena selama di Belanda, anak saya Kinan hampir 100 kali bertemu dokter, saya cukup punya pengalaman untuk bercerita.

Di Belanda, seorang pasien tidak bisa serta merta datang ke dokter untuk diperiksa. Harus bikin janji dulu dengan dokter keluarga (huisarts/General Practitioner). GP ini kira-kira mirip dengan dokter umum, walaupun tidak setara, karena di Belanda, GP adalah salah satu jalur spesialis.

Tanpa adanya janji, pasien bakal ditolak dokter. Jangan kaget kalaupun Anda sudah berhari-hari meriang, batuk pilek, atau muntah-muntah, janji ketemu dokter baru dibikinkan 2-5 hari kemudian. Tapi kalau untuk penyakit yang gawat semisal stroke ringan, dehidrasi, janji akan dibikinkan di hari itu juga. Untuk bayi dan toddler juga dapat prioritas, bisa langsung di hari itu.

Repot bikin janji dan mau langsung periksa ke dokter spesialis? Itu adalah opsi yang mustahil! Di Belanda, dokter spesialis hanya praktek di rumah sakit. Dan untuk bisa diperiksa oleh DS di rumah sakit, harus ada rujukan dari GP. Kalau sudah ada rujukan, DS akan mengirimkan surat ke rumah, memberitahukan kapan dan jam berapa waktu periksa di RS.

Dengan adanya jadwal ini enak, waktu antrian bisa diprediksi. Tapi konsekuensinya, kalau tidak datang di waktu yang sudah dijanjikan, pasien bakal didenda, sekitar 60 Euro (Rp 800 ribu).

Awal-awal di Belanda, saya skeptis dengan sistem pelayanan kesehatan disana. “Kok ribet dan kaku banget sih?!” Namun setelah dijalankan, ternyata justru sangat nyaman. Dengan sistem satu pintu, hirarkinya jelas. Semua lewat GP dulu, dan setelahnya bakal otomatis diurus, pasien tidak perlu repot mencari dokter mana yang pas buat dirinya.

Selain itu, pelayanan kesehatan di Belanda tidak melibatkan uang, semua lewat asuransi. Oiya, berapapun jumlah pasien yang ditangani dokter, gajinya selalu tetap. Ini membuat dokter bisa fokus ke pekerjaannya, karena kebutuhan hidupnya sudah tercukupi.

Sementara dua minggu ini di Bandung, Kinan sering sakit karena masih adaptasi dengan lingkungan dan udara Indonesia yang tidak sebersih Belanda. Meski sudah ada BPJS yang coba meniru sistem di Belanda, masih terasa kurang nyaman, karena pelayanannya belum handal. Tidak adanya sistem satu pintu kadang membuat bingung, harus ke siapa dulu ini kalau sakit? Rindu dengan cara di Belanda yang prosedurnya sudah baku:

  • Telepon/bikin janji dengan GP.
  • Kalau sudah lewat jam kerja/weekend, telepon dokter 24 jam (dokterdienst), setelahnya tinggal ikuti instruksi.

Akhirnya disini kembali ke usaha mandiri, langsung mencari praktik dokter spesialis. Tidak hanya dari sisi pelayanan, ketiadaan sistem satu pintu secara logika membuat pencatatan rekam medis (medical records) menjadi tersebar. Contoh, Kinan kemarin ke 2 dokter anak yang berbeda rumah sakit dan 2 kali tes darah. Sudah pasti itu MR-nya tidak saling terintegrasi. Kalau di Belanda dengan kejadian seperti itu, karena semua bermuara dari GP, rekam medis dari DSA dan laboratorium akan ditembuskan ke GP (otomatis lewat sistem IT).

Yah, intinya saya yakin pelayanan kesehatan di Indonesia sedang berbenah ke arah yang lebih baik, tapi masih banyak sekali pekerjaan rumah kalau ingin seperti Belanda yang sistem kesehatannya nomor satu di Uni Eropa. Yang jelas, saya selalu yakin bahwa kesehatan (dan juga pendidikan) itu adalah prioritas yang lebih utama dari pembangunan teknologi, infrastruktur, dan ekonomi. Sehat (dan pintar) dulu, baru bisa punya SDM unggul untuk memakmurkan negara.

Bandung, cerita Desember 2016

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s