Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Pelajaran dari Utara

Leave a comment

Photo 08-06-2017, 4 48 17 pmMungkin warna kulit kita tidaklah sama, norma yang kita anut beraneka rupa, bahkan Tuhan yang kita sembah pun berbeda. Namun, negara ini tidak berdiri atas dasar kesamaan lahiriah. Indonesia dilahirkan atas perasaan sebangsa, senasib dan sepenanggungan. Identifikasi itu sudah jelas terdefinisi sejak jaman Majapahit, Sriwijaya, yang kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda, hampir seratus tahun yang lalu.

***

Di saat tidak sampai seperlima pemuda-pemudi tanah air yang berkesempatan untuk mencicipi sehari pun bangku kuliah, saya cukup beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi lebih dari satu dekade. Namun, itu tidak boleh membuat saya besar kepala, merasa tahu segalanya, serta menganggap diri ini paling bijaksana. Terkadang, masyarakat akar rumput memiliki kearifannya sendiri yang tidak pernah diajarkan di kelas oleh guru-guru sekolah.

Dua minggu lalu saya dinas ke Bitung, Sulawesi Utara, sebagai bagian dari usaha ITB untuk mencetak SDM lokal yang unggul. Nantinya mereka diharapkan sebagai ujung tombak untuk mengendalikan aktivitas logistik di Bitung, salah satu dari dua pelabuhan yang kelak diharapkan menjadi hub di Indonesia.

Perjalanan dinas yang bisa datang sebulan dua kali punya potensi untuk menjadi rutinitas yang membosankan, dan hanya foto-foto makanan lokal yang enak sebagai penghibur. Itu bakal terjadi kalau tidak ada usaha dari kita untuk merekam, mencatat, dan mempelajari keunikan lokal dari daerah-daerah yang dikunjungi.

***

Singkat cerita, setelah acara usai, kami diundang oleh Wakil Walikota Bitung, Bapak Maurits Mantiri untuk buka puasa bersama masyarakat di sana. Setelah berbuka, Pak Maurits yang Kristiani ini meminta kolega senior saya untuk memberikan sedikit pidato.

Sembari mendengarkan, saya menebarkan pandangan dan mempelajari bahwa acara ini diselenggarakan oleh ormas yang disebut sebagai Forum Warkop. Seorang pria paruh baya yang duduk di sebelah kiri saya rupanya adalah ketua forum ini, dan dia menjelaskan.

“Ya, Pak. Acara buka bersama ini rutin kami adakan setiap tahunnya. Kami siapkan bersama-sama. Kami campur-campur di sini. Saya sendiri Kristen.”

“Oh, selalu ramai dan meriah seperti ini?”

“Ya. Di sini semua duduk bersama. Ketua fraksi dewan, walikota, polisi, masyarakat. Acara ini baru diadakan di hari keempat. Tiga hari pertama, sebaiknya anggota buka bersama dengan keluarganya, itu yang diutamakan.”

“Bagus sekali. Tidak ada ribut-ribut di sini?”

“Rukun kami, Pak. Kami punya kebiasaan. Saat Lebaran, orang-orang Kristen mengamankan. Sebaliknya saat Natal, giliran umat Muslim menjadi pengaman.”

“Ya. Saya percaya. Tiga hari di Bitung, saya melihat banyak masjid dan gereja berdiri cukup berdekatan, dan saya lihat baik-baik saja.”

“Soal agama, itu tidak bisa dipaksakan, Pak. Saya percaya, setiap agama selalu mengajarkan untuk berbuat baik.”

***

Kami tersenyum, dan setelahnya bersalaman berpamitan. Saya harus buru-buru ke Manado malam itu.

Di dalam mobil, saya kagum. Oke, tidak semua praktik yang dijelaskan Bapak itu saya sepenuhnya setuju. Namun yang terpenting, di tengah-tengah hiruk pikuk saat ini, ternyata di daerah nun jauh sana dari pusat kekuasaan, orang-orang masih sepenuhnya sadar untuk menjaga persatuan. Tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang memaksa. Semua dijalankan atas dasar nilai-nilai luhur yang mereka percayai sekian lama.

Dan saya pun yakin, di berbagai pelosok negeri, semangat untuk tetap bersatu itu masih terus dijaga. Sejarah membuktikan bahwa bersatu sudah mendarah daging bagi kawula Nusantara, dan itu tidak akan mudah untuk dicerai-beraikan.

***

Bahwa kita berbeda, itu adalah sebuah kepastian. Sedangkan saudara sekandung yang lahir dari rahim yang sama, memperoleh pendidikan yang seragam, terkadang masih ada cekcok. Apalagi dua ratus lima puluh juta kepala yang berasal dari ribuan kultur yang berbeda. Tetapi kembali, kalau melihat perbedaan, tidak akan ada habisnya. Persamaanlah yang harus dilihat terlebih dahulu.

Kalau mengedepankan perbedaan, niscaya bangsa ini sudah terpecah belah sejak dahulu. Nyatanya, tidak. Tahun 1928, orang Jawa yang merupakan mayoritas tidak berkeberatan saat bahasa Melayulah (kemudian disebut sebagai Bahasa Indonesia) yang dipilih sebagai bahasa persatuan. Alasannya pun mungkin di masa sekarang ini bisa berujung ke perdebatan sengit. Pasalnya, Muhammad Yamin yang notabene adalah orang Minangkabau (namun dia pandai berbahasa Jawa dan Sansekerta) menganggap Bahasa Jawa dengan tingkatan-tingkatannya adalah bahasa yang feodal. Sebuah nilai yang dianggap tidak cocok untuk menyongsong modernisme. Namun, pemuda-pemuda yang baru berumur dua puluhan tahun tersebut bisa berpikir dengan jernih.

Tahun 1945, saat kemerdekaan diproklamasikan, sebetulnya tidak ada kewajiban Yogyakarta untuk ikut bergabung dengan republik. Tanpa ada paksaan, Sultan Hamengku Buwono IX tidak hanya memilih Indonesia, namun juga menyumbangkan harta bendanya untuk kepentingan negeri yang masih bayi.

Contoh tidak mementingkan urusan sendiri kembali hadir di tahun 1950. Saat itu Belanda berusaha mengobrak-abrik republik dengan memecah Indonesia menjadi belasan negara serikat. Namun saat Natsir mengusulkan Mosi Integralnya yang terkenal itu, nyaris kembalinya RIS ke RI berjalan cukup lancar. Padalah menjadi negara serikat banyak untungnya. Kepala negara bagian tidak perlu bersusah payah, tinggal menerima gelontoran uang dari Kerajaan Belanda.

Contoh yang terus berjalan itu membuat saya percaya, dan seharusnya menyadarkan kita bahwa persatuan harus selalu dijaga. Tidak hanya dalam urusan bernegara, namun dimulai sejak dalam hubungan terkecil dalam masyarakat. Ajarkan anak-anak kita bahwa perbedaan dikesampingkan, persamaan diutamakan.

Hidup persatuan. Jayalah NKRI. Bhinneka tunggal ika. Walapun berbeda, berbeda-beda, tetap satu jua.

Bandung, awal Ramadhan 1438 H

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s