Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Teladan dari Natsir dan Yamin

Leave a comment

Buku. M Natsir

Sumber: [1]

Baru-baru ini saya membaca biografi dua tokoh besar jaman pergerakan nasional, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Kebetulan keduanya berasal dari Minangkabau. Alih-alih menuliskan ringkasan kisah hidup mereka sesuai dengan tahun kejadian, saya lebih suka untuk menyarikan mutiara teladan kehidupan dari kedua bapak bangsa ini.

***

Tahun 1927, saat usianya 18 tahun, Mohammad Natsir pindah dari Padang ke Bandung. Di kota kembang dia bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS). Di masa sekarang AMS setara dengan SMA dan saat itu menjadi sekolah menengah kelas dua. Natsir yang hanya anak seorang juru tulis tidak dapat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi, diantaranya adalah Soekarno dan Tirto Adhi Suryo, yang dinovelkan Pram dalam Tetralogi Buru-nya itu.

Sehari-sehari Natsir bersekolah di Jalan Belitung, sekarang menjadi bangunan SMAN 3 Bandung. Di sore hari, tokoh pergerakan nasional yang kelak menjadi Ketua Partai Masyumi -partai Islam terbesar di dunia pada masanya- itu belajar di perpustakaan Gedung Sate.

Pendidikan SMA di masa itu lazim memberikan tugas baca dan tulis bagi siswanya. Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan AMS diwajibkan untuk minimal membaca 25 novel dan membuat risalahnya selama tiga tahun sekolah. Tugas ini bukanlah sambil lalu. Terbukti dari angka drop out di AMS dan HBS yang lebih dari 50%. Sebagian besar dikarenakan oleh tingginya standar kualitas akademis yang ditetapkan sebagai syarat kelulusan.

Sebagai contoh, di kelas V-A AMS (setara dengan kelas dua SMA) guru pelajaran ilmu ekonomi Natsir pernah memberikan murid-muridnya tugas untuk menulis makalah tentang pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa.

Gurunya memberi tenggat waktu dua minggu. Untuk menyelesaikannya, Natsir harus mencari berbagai macam literatur tentang pabrik gula, termasuk membaca jurnal-jurnal terbitan kaum pergerakan dan notula perdebatan di Volksraad (sekarang DPR). Tentu saja paper harus ditulis dan dipresentasikan dalam Bahasa Belanda.

Paper Natsir sendiri membahas bukti-bukti bahwa tidaklah benar Jawa menerima keuntungan dari pabrik gula di Jateng dan Jatim. Yang untung, menurut anak muda yang kelak menjadi Perdana Menteri itu, tetap saja kaum kapital dan pejabat bupati yang memaksa rakyat menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan harga rendah.

Hikmah dari cerita ini adalah, tingginya standar kualitas pendidikan di masa kolonial. Bayangkan, anak SMA berumur 18 tahun diminta menulis makalah dengan bobot sedemikian rupa. Tidak cuma bobotnya, prosesnya pun benar dengan terlebih dahulu menelaah berbagai literatur. Sedangkan mahasiswa saya (20-22 tahun) yang notabene adalah pemuda-pemudi yang termasuk terpandai di tanah air, jika diberi tugas kuliah, bisa dihitung dengan jari yang repot-repot mencari rujukan makalah ilmiah.

Tidak mengherankan jika the founding fathers memiliki kualitas intelektual yang mumpuni. Jika kita baca tulisan-tulisan mereka, sangatlah bernas. Di masa sekarang, sangat sedikit pemimpin-pemimpin partai politik yang mampu menulis artikel bermutu di media massa cetak. Tidak mengherankan jika proses persidangan di dewan, termasuk kualitas undang-undang yang dihasilkan, jauh dari harapan.

Kemampuan seperti itu tentu buah dari ketekunan membaca dan menulis yang dibiasakan oleh guru-guru Belanda sedari pendidikan dasar. Maka dari itu, marilah kita ajarkan anak-anak kita untuk akrab dengan buku yang merupakan jendela dunia. Kata orang Belanda, lezen is dromen met je ogen open, membaca adalah bermimpi dengan kedua matamu yang terbuka.

***

Buku. M Yamin

Sumber: [2]

Suatu ketika di tahun 1962, Muhammad Yamin, sastrawan, sejarawan, dan tokoh pendidikan kita itu bertikai di sidang Dewan Konstituante. Seterunya bukan sembarang orang. Buya Hamka, sang ulama dan sastrawan besar.

Pasalnya adalah dasar negara Indonesia. Yamin sebagai arsitek Pancasila, sudah tentu mendukung habis-habisan. Sedangkan Hamka bersama ulama-ulama lain menganggap syariat Islam lebih tepat untuk dasar negara.

Di sidang paripurna, Hamka menyampaikan, “Jika menggunakan dasar Pancasila sama saja menuju jalan neraka!”

Kalimat itu menggemparkan anggota sidang dan Yamin langsung keluar ruangan. Setelahnya, Yamin marah kepada Hamka.

Namun setelah kejadian itu, rupanya usia Yamin tidaklah lama. Di hari-hari terakhirnya, tanpa diduga Yamin meminta Hamka untuk menemui. Hamka tidak menolak. Dengan berlinang air mata, Yamin bertutur kepada lawan politik dan pengkritiknya itu, “Dampingi saya.”

Tidak berhenti sampai disitu, Hamka turut mengantarkan jenazah Yamin dari Jakarta ke Talawi, Sumatera Barat.

Di koran, Buya Hamka menulis, “Dalam sakitmu yang sangat, rona kebesaran masih terlukis di wajahmu. Bung mencintai tanah air dan saya pun mencintainya, cinta yang tidak terbelah lagi. Tetapi kadang-kadang ijtihad kita berbeda…”

Semoga kita dapat meneladani penggalan kisah ini. Berbeda ideologi, berbeda haluan politik, bahkan berbeda keyakinan bukanlah alasan untuk berhenti bersaudara.

Bandung, Juni 2017

Referensi:

  1. https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/biografi/17v4zf-jual-seri-buku-tempo-natsir-politik-santun-di-antara-dua-rezim-tempo.
  2. http://www.bukukita.com/Sejarah-dan-Budaya/Sejarah-Indonesia/142649-Seri-Tempo:-Muhammad-Yamin—Penggagas-Indonesia-Yang-Dihujat-Dan-Dipuji.html.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s