Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Leave a comment

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Sejak kecil, Ibu selalu menanamkan ke anak-anaknya alasan di balik ritual yang mungkin aneh bagi sebagian orang ini. Mengapa tidak ke saudara dulu? Mengapa mendahulukan tetangga dibanding keluarga yang mempunyai pertalian darah dengan kita?

Menurut Ibu, tetangga adalah saudara terdekat, jika ada apa-apa, tetanggalah yang terlebih dahulu kita minta bantuan, bukan saudara. Maka wajar, jika sewaktu Lebaran tiba tetanggalah yang kita minta maafnya dulu, karena mereka yang seringkali kita repotkan.

Alasan itu valid. Dalam kehidupan desa yang komunal, dimana setiap orang saling mengenal dengan satu yang lain, hubungan antar personal menjadi amat dekat. Jika ada genteng bocor, ke tetanggalah kita minta bantuan. Jika beras habis karena kiriman dari suami di rantau belum tiba, orang desa akan meminjam ke tetangga. Dulu sewaktu telepon genggam belum semasif sekarang, tetangga-tetangga sering menumpang menerima telepon dari saudara-saudaranya dengan telepon rumah kami. Bahkan, sewaktu belum banyak yang mempunyai rekening bank, Ibu cukup sering menerima titipan uang bagi tetangga-tetangganya. Tentu saja semua itu dilakukan tanpa bayaran. Kalaupun ada yang berniat membayar, saya yakin Ibu akan menolak. Bahwa sebagian orang mungkin menganggap perbuatan tanpa pamrih adalah sebuah jargon usang, orang-orang kampung sampai sekarang masih melakukannya dengan tulus hati.

Tetangga adalah saudara terdekat

Bagaimana Islam memandang hal ini, saat silaturahmi lebaran ke tetangga lebih didahulukan dibanding ke saudara? Saya rasa, justru orang-orang desa itu telah mengamalkan ajaran agama dengan searif-arifnya.

Dalam Islam, yang disebut sebagai saudara bukan hanya mereka yang berhubungan darah. Jauh sebelum peradaban Barat meneriakkan humanisme, kaum Muslim telah sejak lama menerapkannya. Saat Islam turun, Nabi Muhammad SAW membuat geger kaum Arab Quraish. Penyebabnya bukan semata tuhan-tuhan mereka, Latta dan Uzza hendak digantikan dengan tauhid. Namun, datangnya Islam membuat para bangsawan Quraish terancam kehormatan darahnya.

Bayangkan, Walid bin Mughirah, orang super kaya yang selama bulan haji setiap hari menyembelih puluhan unta untuk sedekah itu, sekarang harus duduk sama rata dengan budak belian seperti Bilal bin Rabbah. Tak peduli seberapa kaya dan terhormat seseorang, harus bersedia mengakui budak sebagai saudaranya yang seiman. Mereka kini duduk sama rata, di hadapan Allah SWT, yang dinilai hanyalah kadar ketaqwaannya.

Dan itu semua terjadi empat belas abad yang lampau, dimana harga budak belian tidaklah lebih berharga dibanding sebuah barang. Jika tuannya ingin si budak jantungnya dicabik-cabik singa dalam sebuah pertunjukan, tidak ada hukum masa itu yang kuasa mencegah. Dengan penjelasan ini, bagaimana visionernya Islam dan Muhammad SAW tidaklah perlu dipertanyaakn lagi.

Jika seorang budak saja harus kita muliakan, apalagi tetangga. Nabi melarang kita untuk hanya membagi bau masakan ke tetangga. Orang-orang desa telah sejak lama mempraktikannya. Manakala ada makanan yang berlebih, akan dibagikan. Sampai sekarang pun, jika anak-anaknya pulang membawa oleh-oleh, Ibu tidak bersedia memakannya sendiri. Pembantu di rumah akan dimintanya untuk membagi jajanan itu ke dalam plastik-plastik kecil, kemudian diberikan ke tetangga-tetangga.

Dalam interaksi sosial masyarakat yang kering, dimana dua rumah yang berdempetan bisa jadi tidak saling kenal, dan setiap ada yang bertamu disambut dengan rasa curiga, contoh dari orang-orang desa itu laksana mata air yang menyejukkan. Jika diterapkan dalam kehidupan bernegara, alangkah indahnya.

Keluarga adalah pusat kehidupan

Terlebih dahulu lebaran ke tetangga bukan berarti lantas mengabaikan keluarga. Karena Bapak posisinya sebagai anak tertua kedua, orangtua kami hanya mengunjungi pakdhe. Setelahnya, adik, keponakan, dan saudara-saudara lainlah yang akan datang ke rumah.

Walaupun di rumah sudah salaman dengan saudara-saudara, sejak dulu Bapak dan Ibu tetap selalu memerintahkan anak-anaknya untuk balik mengunjungi saudara-saudara tersebut. Tentu saya tidak terlepas dari perintah itu. Dengan kakak saya ikut berlebaran ke rumah-rumah mereka. Jika kakak sedang tidak mudik lebaran, sejak akil baligh saya melakukannya sendiri. Keliling ke belasan rumah saudara, yang tersebar di berbagai kampung.

Layaknya anak-anak muda yang lain, tentu perintah itu saya lakukan dengan aras-arasen (malas-malasan). Tetapi Bapak dan Ibu selalu bilang, “Lebaran itu tidak hanya salaman. Apa artinya itu jika itu semata. Temuilah saudaramu, lihatlah rumahnya, kenalilah mereka. Ojo kepaten obor (jangan mematikan nyala obor persaudaraan).”

Setelah dewasa, barulah saya tahu maknanya. Lebaran tidak melulu sibuk menyiapkan baju baru yang bagus-bagus. Idul Fitri justru seharusnya menjadi ajang refleksi diri. Kita bangga memakai baju bagus, tetapi seharusnya juga berempati terhadap saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita. Mendengar ceritanya, mendengar kesederhanaan hidupnya, akan membuat kita banyak bersyukur, dan termotivasi untuk selalu bisa membantu.

Anak muda jaman sekarang terkadang mengalami anomali. Dengan temannya bisa begitu dekat, tetapi emotionally distant dengan keluarga. Memangnya kepada siapa mereka kembali jika mempunyai permasalahan besar. Apakah teman-temannya kah yang membiayai pendidikannya? Siapa yang membayar pengobatan jika ia sakit?

Dalam Islam, kita harus selalu menolong saudara, dan tidak mungkin menolong jika kita tidak mengenalnya. Begitu pula seorang pemimpin harus mengenal rakyatnya luar dalam.

Idul Fitri tahun ini saya dan keluarga tidaklah mudik. Tidak bisa mencium tangan kedua orang tua, kakak-kakak, adik, pakdhe, dan saudara-saudara yang saya cintai. Tidak pula sempat bersalaman dengan tetangga-tetangga yang saya hormati. Namun pelajaran hidup yang saya terima dari mereka semua, akan selalu tersimpan di hati.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Mohon maaf lahir dan batin

Bandung, 29 Ramadhan 1438 H

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s