Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Berburu Kuliner di Medan

Leave a comment

7. Medan

Ucok Durian Medan.

Di awal tahun 2017 yang lalu saya diberi beberapa alternatif pilihan untuk dinas luar kota: Cikarang, Jakarta, Surabaya, Palembang, Bontang, dan Medan. Langsung saya memilih opsi yang terakhir, dengan pertimbangan dapat bertemu dengan kakak saya yang kedua, Mbak Eni. Kakak saya itu tinggal di Medan bersama suaminya, Mas Rai, mulai dari tahun 2001, sampai sekarang sudah dikaruniai tiga orang anak laki-laki, dua diantaranya kembar.

Sebetulnya acaranya di Pangkalan Brandan. Namun karena hanya dua jam perjalanan darat, saya memutuskan untuk menginap di Medan saja. Datang Jum’at malam, acara hari Senin, dan Selasa pagi kembali ke Bandung.

“Mau jalan-jalan kemana di Medan”, Tanya mbak Eni.

“Bebas, kuliner saja.”

Kudapan kerang tengah malam

2. Medan

Kerang rebus dan sambal nanas.

Saya sampai Medan sudah lewat jam sepuluh malam. Awalnya ingin mencoba kereta dari Bandara Kuala Namu ke pusat kota Medan. Namun karena tidak enak menolak, Mas Rai serombongan menjemput.

Saya dibawa ke warung kerang rebus. Ternyata ini adalah kudapan yang lazim di kota ini. Awalnya dalam hati agak segan. Maklum, kerang bukanlah seafood favorit saya. Apalagi direbus, takut berbau amis. Namun ternyata begitu datang, perasaan takut itu hilang. Dicocolkan ke sambal nanas yang khas, kerang terasa lezat di mulut.

Terdapat banyak pilihan kerang; darah, bambu, batu, dan  lain-lain yang saya tidak hapal. Tinggal bilang ke penjualnya, akan langsung diantarkan. Ternyata salah satu rahasia untuk menghilangkan bau amis, adalah dengan merebus bersama serai. Tentu Kota Medan yang dekat dengan laut turut membuat pasokan kerang segar terjamin. Dalam seni masakan laut, kesegaran bahan adalah kunci utama.

Pesta kapau

5. Medan

Gulai telur ikan, ikan bilis, daun pepaya.

Oiya, meskipun di televisi kita sering mengindentikkan orang Medan dengan logat Bataknya yang kental, sebetulnya di ibukota Sumatera Utara ini berbagai suku bangsa bercampur-baur secara cukup merata. Selain Batak, ada orang-orang Tionghoa dan Keling (India berkulit gelap). Suku Jawa pun cukup banyak, meskipun umumnya sudah keturunan generasi kedua atau ketiga dari para transmigran dulu. Kalau ditarik lebih jauh lagi, orang Jawa sudah datang ke Medan sejak jaman Belanda, sebagai buruh di perkebunan. Kaum Jawa ini sekarang dikenal sebagai Pujakesuma, alias Putera Jawa Kelahiran Sumatera. Kawan-kawan saya di ITB cukup banyak yang Pujakesuma.

Suku lain yang cukup dominan adalah Melayu. Mengingat jumlahnya yang cukup banyak, kultur Melayu cukup kental di Medan. Mas Rai pun menawarkan untuk mencicipi kuliner Melayu, tentu langsung saya iyakan.

Kami menuju Warung Hj. Uni Emi di Jalan Rotan. Begitu masuk, buseeet, meja-meja yang jumlahnya lebih dari dua puluh itu semua terisi penuh. Pelayanan di sini mirip dengan restoran padang. Kita tinggal duduk, pelayan akan mengantarkan aneka ragam makanan. Kita membayar apa yang kita makan.

6. Medan

Ikan mas arsik khas Batak.

Saya memilih menu-menu yang jarang dijumpai di Bandung; gulai telur ikan, ikan bilis, dan sayur daun papaya. Enak! Bedanya dengan masakan padang, rasa rempahnya tidak terlalu kental, menyisakan sensari kesegaran. Anehnya, ada juga urap sayur. Saya kira itu hanya ada di Jawa dan Sunda. Saya mencicipi, dan rasanya enak juga.

Mbak Eni menawarkan untuk mencoba gulai ikan mas arsik khas Batak. Lagi-lagi awalnya saya agak malas. Maklum, saya memang tidak terlalu suka menu ikan yang dibumbu macam-macam, takut beraroma anyir. Tetapi setelah diyakinkan, akhirnya saya mencoba. Toh sayang juga kalau tidak dicoba, kapan lagi.

Arsik yang kuning karena kunyit ini unik, sisiknya tidak dibuang. Saya comot dan setelah masuk mulut, ternyata memang lezat! Sama sekali tidak amis. Mungkin karena banyak memakai rempah, salah satunya adalah andaliman. Ikan mas dimasak tanpa digoreng terlebih dahulu. Untuk menambah citarasa, ditambahkan daun kecombrang.

Mabuk durian dan sirup

Hari Minggunya, saya diajak untuk makan durian. Sudah barang pasti tujuannya adalah Ucok durian yang terkenal itu. Di situ memang lebih mahal disbanding lapak yang lain, kalau tidak salah dua puluh ribu per buah. Namun garansinya paten. Jika tidak sesuai yang dijanjikan, akan langsung diganti tanpa dikenakan biaya. Saking larisnya, Konon Ucok ini adalah salah satu orang terkaya di Medan. Dugaan saya, kalau berjualan di Jawa, Bang Ucok bakal makin kelarisan. Sifat orang Jawa tidak enakan. Walaupun dalam hati nggrundel karena duriannya kurang enak, mungkin tetap sungkan untuk minta gantinya, hehehe.

Durian tersedian beraneka macam; plain, manis, dan pahit. Katanya, penikmat durian sejati paling suka yang pahit, makannya sambil minum kopi yang juga pahit. Waduh, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Saya sendiri bukan penikmat durian, jadi waktu itu cuma makan setengah. Kata Mas Rai, Bapak saya jika ke Ucok bisa makan sampai empat atau lima buah. Dia memang penggemar durian.

9. Medan

Aneka macam jus.

Sebelumnya di siang harinya, kami mampir ke Juice House Lie Lie, alamatnya di Jl. S. Parman Gang Pasir. Walaupun lokasinya sederhana, impresi yang saya dapatkan adalah bisnis ini tidaklah main-main. Bukan hanya karena ada foto si empunya toko dengan Wamen Perdagangan, tetapi lebih ke totalitasnya dalam melayani pelanggan.

Sebagaimana umumnya kaum Tionghoa dalam berbisnis, si Enci ini sungguh-sungguh. Dijelaskannya dengan sabar berbagai macam jus yang diproduksinya secara rumahan; ada mangga kweni, sirsak, pala, mangga muda, markisa, dan lain-lain. Pengunjung boleh mencicipi sesuka hati, dengan gelas yang mungil. Tidak ada kesan mengintimidasi dan terburu-buru.

Kakak saya yang baik itu membawakan beberapa botol jus sebagai oleh-oleh ke Bandung. Memang enak. Saya paling suka jus mangga muda dicampur susu segar. Tidak hanya itu, masih juga dia membekali pancake durian. Dinas lancar, hati senang, dan perut kenyang.

Medan, Februari 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s