Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kembali ke Selera Asal di Jember

Leave a comment

Nasi pecel

Tipikal penjual nasi pecel di Jember.

Saya punya kebiasaan untuk memberikan ‘star’ di Google Maps bagi kota-kota yang pernah saya kunjungi. Kriterianya, paling tidak saya ada urusan dinas, acara keluarga atau sengaja berlibur di kota tersebut. Jadi seperti transit atau sekedar singgah makan tidak dihitung.

Dan ternyata saya sudah pernah ke 76 kota di 14 negara. Di Indonesia sendiri, baru 12 provinsi yang pernah saya datangi.

Di setiap kota, hampir tidak pernah terlewat ritual untuk mencicipi kuliner khasnya. Salah satu cara untuk melihat budaya lokal adalah dengan melihat tradisi masakannya. Untungnya saya termasuk orang yang gemar mencoba hal baru dan lidah saya pun cukup mudah beradaptasi akan berbagai jenis citarasa.

Namun sebanyak apapun hidangan yang sudah pernah dicoba, tidak akan mampu menghapus kenangan masa kecil akan kuliner kampung halaman sendiri. Kalau kata orang jaman sekarang, ‘kembali ke selera asal’. Maka ketika pulang ke Jember di awal tahun 2017, tentu saja saya minta dibelikan macam-macam penganan khas Jember. Disini saya tidak membahas spesifik lokasi, lebih ke apa saja makanan yang umum dihidangkan di kota tembakau ini.

Nasi pecel dan rujak cingur

Orang Jawa Timur identik dengan pecel. Di awal masa perantauan di Bandung, saya dan teman-teman umumnya mengalami kendala yang sama, sulit mencari sarapan. Di Jember, mungkin dalam seminggu bisa tiga atau empat kali sarapan pecel. Tentu saja tidak pernah bosan, namanya juga sudah mendarah daging. Sementara di Bandung, orang-orang sarapan bubur ayam. Saya dulu agak anti dengan bubur. Bukan karena rasanya, lebih ke teksturnya yang lembek. Pasalnya, dari kecil saya tidak suka nasi kalau tidak dimasak agak pera.

Rujak cingur

Rujak cingur khas Pandalungan. Di daerah Surabaya atau Malang, rujaknya adalah versi matengan, dengan tambahan buah-buahan segar.

Saya dan keluarga paling suka membeli pecel di Bu Sayuti, tidak sampai 500 meter dari rumah. Ini langganan saya sejak masih TK. Saya masih ingat, dulu pagi-pagi sebelum sekolah beli pecel dulu. Saya berdiri di depan jendela warung. Di jaman itu harganya 750 rupiah kalau tidak salah.

Sampai sekarang Bu Sayuti masih ingat dengan saya, dan karena itulah saya selalu dapat prioritas di tengah-tengah antrian warungnya yang ramai, hehe. Pecel daerah Pandalungan (tapal kuda) khas, bumbu kacangnya gurih, tidak semanis misalnya pecel madiun. Dilengkapi dengan sayur lodeh tewel (nangka muda), tempe goreng, bakwan jagung, dan tentu saja peyek. Sekarang pun harganya masih murah, 5000 rupiah saja sebungkus.

Di sebelah Pecel Bu Sayuti, berjualanlah rujak cingur yang legendaris di Semboro, disebut orang-orang sebagai Rujak Mbok Rabun. Sebetulnya nama asli penjualnya bukanlah itu. Dari cerita-cerita yang saya dengar, entah suami atau bapak dari Ibu penjual matanya rabun, jadilah dipanggil seperti itu. Rujak cingurnya dibanderol dengan harga sepuluh ribu rupiah saja.

Bagi Anda yang belum tahu, rujak cingur ini amatlah khas Jawa Timur. Pecel masih mirip dengan lotek di Jawa Barat, di Minangkabau pun ada yang serupa. Namun rujak cingur, belum pernah saya temui varietasnya di seluruh penjuru tanah air yang sudah pernah saya datangi.

Nasi jagung

Nasi jagung.

Berbahan dasar lontong, sayuran rebus (kangkung, kacang panjang, tauge), tahu-tempe goreng, dan cingur, salad ala Jatim ini disiram dengan kuah yang merupakan paduan dari ulekan kacang tanah, cabai, petis dan air asam. Kunci dari kuliner ini terletak di petis dan cingur. Petis adalah pasta kental berwarna pekat yang berasal dari saripati ikan dan udang yang telah diberi rempah-rempah. Sedangkan cingur adalah hidung sapi. Ini yang membuat orang enggan untuk memakannya, termasuk istri saya. Padahal rasanya enak dan tidak berbau.

Nasi jagung

Kalau nasi pecel dan rujak cingur masih bisa dicari di Bandung. Walaupun tentu tidak seenak yang di Jember, masih bisa sebagai pengobat rindu. Namun, ada yang satu makanan yang benar-benar sulit mencari di kota kembang, itulah nasi jagung. Makanan yang identik dengan ndeso ini benar-benar menerbitkan rasa kangen.

Di Semboro pun sebetulnya sudah agak susah mencarinya. Menurut Ibu, langganan saya dulu semasa kecil sekarang sudah tidak lagi berjualan di pasar. Mungkin simbok memang sudah sepuh, atau bisa juga makin kekurangan peminat.

Mie Apong 1

Mie Apong Sampoerna Jember.

Nasi jagung sebetulnya khas Madura, namun banyak diadaptasi di berbagai daerah di Jawa Timur. Paling nikmat adalah yang murni nasi dari jagung yang ditumbuk halus, disebut sebagai sego ampok. Namun sekarang sudah amat jarang yang menjual, adanya nasi putih bercampur buliran-buliran halus jagung. Citra nasi jagung sebagai makanan orang kere ini ada muasalnya. Di masa lalu, saat gagal panen, orang-orang desa mencampur nasi putih dengan jagung, gaplek, singkong, atau apapun yang berharga murah. Padahal bagi orang Jawa, makan nasi putih yang tulen adalah kenikmatan yang tak tergantikan.

Berteman urap sayur, lodeh pepaya muda, ikan asin, peyek, dan sambal terasi, rasanya sungguhlah nikmat. Saya pun heran, dengan asupan makanan yang tidak bergizi ini, bagaimana dulu saya bisa diterima di ITB, hehehe. Soal harga, jangan ditanya. Hanya empat ribu rupiah! Jangankan istri, saya pun terkaget-kaget.

Mie pangsit

Mie Apong 2

Mie pangsit khas Jember.

Itu semua adalah makanan ala wong ndeso, di kampung saya yang letaknya 36 kilometer dari pusat kota. Saya juga mengajak Intan dan Kinan ke Kota Jember, supaya makin mengenal kampung halaman saya ini.

Intan mengajak membeli terang bulan, bakso, dan beberapa makanan lain yang menurut kawang-kawannya layak dicoba jika sedang berkunjung ke Jember. Semua saya penuhi, tetapi selalu saya bilang jika saya yakin bahwa semua yang dicobanya itu masih lebih enak yang di Bandung. Saya justru ingin membawanya mencoba kuliner khas Jember yang sulit dicari di daerah lain, itulah mie pangsit.

Bukankah mie pangsit banyak di daerah lain? Misal mie ayam solo atau mie yamin bandung. Mie pangsit jember tetap unik. Pertama, tekstur mienya tidak sekenyal mie ayam solo, namun juga tidak terlalu empuk sehingga mudah lumat. Paling khas menurut saya adalah mie yang disajikan dengan cukup berminyak. Minyaknya pun beda dengan minyak ayam yang dipakai di mie ayam solo. Minyak inilah yang membuat banyak pangsit di Jember diragukan kehalalannya. Termasuk mie apong yang kami kunjungi. Namun menurut kawan-kawan, sekarang mie apong yang berada di belakangan Matahari Jember ini sekarang sudah halal.

Ayam yang disajikan pun tidaklah berbumbu kecap. Dipotong kecil-kecil dan ditaburkan di atas mie, dilengkapi dengan irisan bawang daun yang banyak. Kuah disajikan terpisah dan ditambah dengan kerupuk bakwan. Itu adalah sajian mie pangsit yang standar, dengan harga 12.000 rupiah. Saya memilih Sok Mie, dengan tambahan siomay dan bakso, harganya 20.000 rupiah. Anak dan istri saya suka, bahkan Kinan cukup doyan.

Itulah beberapa kuliner khas dari Jember. Sebetulnya masih banyak lagi yang lain, akan saya tuliskan di lain kesempatan.

Jember, awal Januari 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s