Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Obrolan dengan Istri

1 Comment

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Saya ini penakut, makanya tidak suka berhutang. Lebih baik kendaraan dan rumah kita sederhana, tapi hidup tenang. Meskipun begitu, saya tidak ingin kamu hidup susah. Sudah fitrah setiap perempuan untuk hidup enak (asal tidak berlebihan), dan tanggung jawab suami untuk bekerja keras menyediakannya.

Kelak kalau anak-anak sudah besar, saya ingin mereka bangga dengan karakter dan isi otak orangtuanya, bukan semata dengan isi rumah dan tabungannya.

Andaikata kita nanti ada yang jadi pejabat, saya tidak mau kalau datang ke kawinan dapat jalur VIP dan skip antrian salaman ke pengantin. Menurut saya yang seperti itu adalah urusan personal, dan apa jeleknya toh mengantri dengan sabar barang 10-15 menit.

Kamu malu/rikuh dilihatin orang-orang ketika mengembalikan baki makanan ke tempatnya, saat makan di KFC/McD? Saya tidak. Di Belanda kita melakukan itu dengan senang hati, dan itu adalah kebiasaan yang baik. Kita tidak berhenti melakukan kebiasaan baik hanya karena lingkungan tidak melakukannya. Maka saya pun cuek saja dilihatin orang-orang setiap kali pergi berdua saja dengan Kinan. Apa salahnya seorang bapak mengasuh anaknya. Saya ingin kita menjadi keluarga yang tidak terlalu memikirkan omongan orang lain untuk hal-hal yang tidak esensial. Every family are for themselves.

Kita kasih nama tengah anak kita, “Zahid”, harus selalu diingat tujuannya. Boleh dia pintar, boleh dia berprestasi, tapi harus selalu rendah hati. Orang pintar banyak, tapi tidak semua rendah hati dan punya empati ke lingkungan sekitar.

Janganlah kamu mengurusi urusan orang lain. Banyak detail yang kita tidak tahu. Asumsi kita itu bisa saja salah.

Saya ini kalau ngomong blak-blakan, tapi tidak pernah saya bermaksud untuk menyakiti. Jadi kalau ada salah, mohon maaf dan silakan dikoreksi, saya akan terima. I’m no superman, masih perlu banyak belajar. Keluarga saya mendidik untuk memperlakukan isteri setara dengan suami. Semua keputusan diambil bersama dan didiskusikan.

Bandung, Juli 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Obrolan dengan Istri

  1. Beresin piring kotor smpe nyebokin anak seharusnya mmg hal yg wajar utk para suami. Smpe skrg msh ada yg heran kalo mas fajar gantian yg nyuci piring dan nyebokin runa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s